Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Al-Hikam”

Tertinggal 1000 Tahun

Imam Al Ghazali pernah menyindir orang-orang yang terlalu terpaku dengan bacaan tanpa mau naik ke level berikutnya yaitu mempraktekkan apa yang telah dibaca. Beliau berkata, “Kitab ibarat tongkat untuk membantu engkau berjalan, ketika engkau telah pandai berjalan maka tongkat itu justru menghambat mu untuk melakukan perjalanan”. Ungkapan al Ghazali itu lebih khusus ditujukan kepada orang-orang yang mencari kebenaran lewat membaca apakah filsafat atau ilmu lainnya dan hanya bersandar kepada dalil-dalil dimana suatu saat dia sendiri akan ragu dengan dalil-dalil yang dimilikinya, seiring berjalannya waktu.

Kita harus akui bahwa puncak peradaban Islam ini berada pada saat 1000 tahun lalu, dimulai dengan kesempurnaan ilmu fiqh yang disusun oleh 4 mazhab besar (dari kalangan suni) dan juga fiqh di kalangan Syiah, kemudian dilanjutkan dengan ilmu Tauhid, ilmu Kalam dan kemudian juga melahirkan mazhab-mazhab tersendiri, ada yang bertahan sampai sekarang namun ada juga yang hilang di telan zaman.

Begitu sempurnanya ilmu fiqh yang digali oleh ulama-ulama yang hidup 1000 tahun lalu sehingga dizaman berikutnya hanya mengulang atau meng “copy paste” saja karya-karya tersebut untuk digunakan sesuai kebutuhan zaman. Ilmu Fiqh yang berisi hukum-hukum tentu saja lebih abadi sifatnya karena hukum bersifat mutlak. Hanya perlu sedikit saja modifikasi agar bisa menjawab tantangan zaman, tapi intinya fiqh itu bersifat statis.

Berbeda dengan Tasawuf yang merupakan ilmu praktek dan bersifat dinamis, benar-benar harus sesuai dengan perkembangan zaman. Karya-karya Ibnu Arabi di bidang tasawuf seperti Wahdatul Wujud dan beberapa ungkapan unik Beliau di zaman itu (lebih kurang 1000 tahun lalu) sangat relevan karena disaat itu merupakan puncak dari tasawuf, semua masyarakat mengamalkan dan apa yang Beliau tulis sangat sesuai dengan zamannya.

Begitu juga al-Hikam, sebuah karya Agung dari Ibnu Athaillah as-Sakandari, merupakan rujukan utama para pengamal tasawuf diseluruh dunia disamping kitab Ihya ‘Ulumuddin Karya Imam al-Ghazali.

Kitab-kitab yang dikarang oleh ulama 1000 tahun lalu tentu membawa suasana 1000 tahun lalu juga termasuk bahasa yang digunakan, dan akan sangat sulit dicerna oleh manusia yang hidup di zaman sangat modern sekarang ini.

Membaca kitab-kitab klasik itu secara sadar atau tidak sadar akan membawa si pembaca kepada kehidupan masa lalu nun jauh disana, 1000 tahun lampau yang tidak mungkin dijangkau lagi. Karena itu khusus Tasawuf harus bisa dijelaskan dengan ilmu-ilmu terkini agar bisa menjawab segala tantangan zaman.

Kita telah hidup dizaman sangat modern, teknologi mencapai puncak, manusia hidup dalam zaman serba cepat, tentu agama Islam khususnya Tasawuf harus bisa menyesuaikan, paling tidak perumpamaan-perumaaan untuk memudahkan manusia memahami harus juga sesuai dengan kondisi zaman.

Bagaimana cara agar kita tidak tertinggal 1000 tahun?

Tentu harus ada orang yang bisa mengilmiahkan ayat-ayat al Qur’an yang 1000 tahun lalu telah berhasil dijelaskan dengan memakai ilmu sosial, dan sekarang harus bisa dijelaskan dengan ilmu Teknologi pula karena kita hidup di zaman teknologi.

Allah SWT menciptakan alam ini bukan sekedar untuk alam, bukan juga hanya untuk manusia tapi tujuan tertinggi penciptaan alam adalah untuk Men-Tauhid-Kan asma-Nya. Listrik, TV, Satelit dan teknologi tertinggi hadir dizaman sekarang tentu saja untuk men-Tauhid-Kan Dia, itulah tujuan hakiki dari semua itu.

Di era serba cepat ini tidak mungkin semua orang memiliki waktu 7 tahun hanya untuk mengkaji satu kitab Tasawuf dan setelah dikaji pun belum tentu bisa dipraktekkan. Harus ada satu metode cepat sehingga siapapun manusia di muka bumi ini bisa bertasawuf, merasakan kehadiran Allah di dalam hatinya, tanpa harus terikat oleh tempat dan waktu.

Kitab yang di tulis 1000 tahun lalu itu walau bagaimana pun sempurna tetaplah sebuah bacaan, tidak menghasilkan apa-apa tanpa bimbingan Sang Master yang ahli di bidangnya. Seperti ucapan Imam al-Ghazali, “Membantu untuk berjalan”, tapi terkadang anehnya, banyak orang yang memakai tongkat sampai ajal menjelang, tidak pernah bisa berjalan sama sekali.

Tulisan ini adalah pembuka untuk tulisan-tulisan berikut setelah lama saya tidak menulis. Tulisan-tulisan saya di web tidak lagi saya share otomatis ke Facebook, siapa yang membagikan dipersilahkan. Saya tetap fokus menulis tentang tasawuf, tidak akan tergoda untuk menulis tentang politik dengan hiruk pikuk yang membuat hati jadi keruh.

Di akhir zaman ini, marilah kita memperbanyak dzikir mengingat Allah, karena hanya itu benteng kita dalam mengaruhi kehidupan akhri zaman yang penuh fitnah dan bala bencana ini.

sMoga Allah SWT melindungi kita semua…

Tafsir Al-Hikam Tentang Mengandalkan Amalan oleh Gus Mus

Marilah kita mulai dengan bersama-sama membacagusmus-tempo

Bismillahirrahmaanirrahiim!

Min ‘alaamatil i’timaadi ‘alal ‘amali Nuqshaanur rajaa-i ‘inda wujuudiz zalal

(Termasuk tanda pengandalan pada amal ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan)

Kita dituntut beramal, namun untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi kita, kita tidak boleh mengandalkan amal kita. Bahkan Rasulullah SAW sendiri ketika ditanya apakah seorang mukmin dapat masuk surga dengan mengandalkan amal-ibadahnya, beliau menjawab tegas: “Tidak”. Bahkan beliau juga menegaskan “Walaa anaa illa an yataghammadaniyaLlahu birahmatiHi wamaghfiratiHi” (Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan ampunanNya).

Baca selengkapnya…

Post Navigation