Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

SUFI : Penjaga Marwah Islam

T. Muhammad Jafar**

bola duniaIslam adalah sebuah agama yang akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, tapi ingat, bukan pada ajaran-ajaran pokoknya seperti yang termaktub dalam Quran dan Hadits, tapi pada praktek keagamaannya dan juga penafsiran-penafsiran terhadap teks. Mari kita lihat dalam aplikasinya, selama ini orang selalu mendengung-dengungkan Islam adalah agama rahmatan lil’alamin (rahmat bagi sekalian alam), Islam adalah segalanya, Islam adalah solusi, tapi lihatlah realitanya, yang dilakukan pertama adalah penghukuman-penghukuman moral (moral punishment) dengan pemaksaan. Bukan  kesadaran, kecintaan dan rasa memiliki terhadap ajaran Islam dulu yang dibangun.

Sehingga mendengar kata syariat saja, orang sudah “meledak” kepalanya, orang lari, orang ketakutan, karena takut dirazia, sehingga Islam yang  tadi seharusnya menyejukkan, orang merasa damai, tentram, tenang dengan ajaran Islam, berubah menjadi “momok” menakutkan. Mengapa ini terjadi ? karena yang dipraktekkan adalah Islam syariat, Islam hukum, padahal aspek hukum itu hanyalah satu bagian kecil saja dari Islam keseleuruhan yang lebih maha agung dan indah daripada hukuman itu sendiri, oleh karena itu, masih banyak sekali dalil-dalil syariat yang harus kita “rajam” dan kita cambuk, sebelum orang-orang dihukum karena syariat.

Baru-baru ini Walikota Lhokseumawe di Provinsi Aceh juga membuat peraturan yang melarang perempuan duduk ngangkang diatas kendaraan bermotor ketika berboncengan. Kita semakin heran dan tertawa, kenapa mesti ada peraturan seperti ini ketika Rasulullah berabad-abad yang lalu mengangkat harkat dan derajat perempuan menjadi mulia dan tinggi, kenapa direndahkan oleh peraturan yang dibuat manusia modern seperti Walikota tersebut ?. pertanyaan selanjutnya, apakah peraturan ini dibuat demi tegaknya syariat Islam ?. makin lama makin aneh saja tingkah pemimpin negeri syariat. Tanpa sadar bermaksud menegakkan syariat, demi marwah Islam, tapi justru semakin mencoreng wajah Islam dan menciptakan aib bagi Islam. Beginilah kalau Islam dibangun dengan peraturan-peraturan, peraturan ngawur, yang mengatas namakan agama, padahal ayat Tuhan dijual dengan murahnya, dengan sebuah peraturan yang justru sangat tidak Islami.

Di bagian lain, ketika mereka mempraktekkan hal-hal diatas, maka mereka dengan angkuhnya merasa merekalah pembela syariat sejati, merekalah penjaga marwah Islam. Lihatlah caranya menjaga marwah Islam : “Nahi Mungkar harus kita hilangkan dari bumi Allah, harus dengan kekerasan, “Allahu Akbar, mari kita serang bar, diskotik,  “Allahu Akbar”  mari kita hadang dan kita usir jamaat kristiani yang ingin beribadah, “Allahu akbar”, mari kita bumi hanguskan jamaah Ahmadiah, mari kita cambuk orang sebanyak-banyaknya “. Logika sehat dari data base mana yang bisa kita pakai untuk menilai bahwa tindakan-tindakan diatas adalah tindakan menjaga marwah Islam ?.

Dalam beragama, yang pertama harus disentuh, dibangun dan dipupuk senantiasa adalah cinta, agama akan bermakna, akan membumi, akan menjadi rahmat, akan terasa menyejukkan adalah ketika cinta ada. Karena dengan cinta akan lahir rasa memiliki, keikhlasan, kerelaan dan semangat penghambaan dan Islam sejatinya adalah agama Cinta. Dalam setiap aktifitas kita selalu dimulai dengan kalimat “dengan nama Allah yang maha pengasih dan Penyayang”, ini menandakan apa, inilah semangat Islam sejati, dengan semangat kasih dan sayang inilah Islam akan tersemai, subur dan Indah , dengan praktek kalimah inilah marwah Islam terjaga, bukan dengan kekerasan dan pemaksaan.

Agama cinta adalah agama yang dipraktekkan para Sufi. Mereka selalu memulai segala sesuatu dengan cinta dan mengakhiri juga dengan cinta. Mereka selalu menisbahkan diri sebagai awan, yang senantiasa menaungi siapa saja, dan sebagai rumput, yang di injak oleh siapa saja (ini menandakan rahmat semesta), jadi  sangat universal, sangat visioner, sangat humanis. Sufi tak pernah mendeklarasikan diri “kamilah pahlawan Islam, kamilah penjaga marwah Islam”, yang mereka terus kerjakan hanyalah, menyebar, menyemai dan terus memupuk cinta dalam qalbu setiap Insan, dalam semangat manusia universal, tanpa batas.

Kaum Sufi masih menjaga agama autentik, agama orisinil Islam yaitu agama kasih dan sayang, bukan agama penafsiran yang hanya ditujukan untuk kepentingan tertentu, sufi juga tidak mempraktekkan hukuman-hukuman moral dalam beragama. Ajaran sufi adalah melakukan segala praktek keagamaan dengan cinta dan kerelaan, tidak dengan pemaksaan. Sehingga ketika hati tersentuh, maka otomatis akan dipraktekkan, lalu tersebarlah Islam sebagai agama cinta, mengikis dan menghancurkan  Islam sebagai agama kekerasan dan agama hukuman seperti yang dipraktekkan selama ini, endingnya adalah wajah Islam terselamatkan, dari agama kekerasan menjadi agama santun dan lemah lembut,  jadi siapakah yang sebenarnya menjaga marwah Islam ?

Tuntutan kehidupan masa depan, tidak akan pernah bisa dibangun dengan kebencian, dan semangat “menghukum” moral, mengatur-ngatur moral masyarakat dan mengatur kebebasan berfikir masyarakat. Hari ini saja kita lihat, orang-orang semakin “banal” (bandel) dan semakin tidak mengindahkan ajaran-ajaran agama, lihat saja berapa banyak fatwa yang dikeluarkan, mengharamkan pluralisme, sekularisme, liberalism, tapi apa yang terjadi, terbitnya buku-buku tentang itu semakin menggunung, melebihi gedung MUI Pusat, dimana-mana orang mendiskusikan itu, fatwa larangan merayakan tahun baru dengan hura-hura, bakar petasan karena masuk kategori  haram di Aceh, namun apa yang terjadi, ribuan orang tumpah ruah kejalan, dimana marwah MUI, dimana marwah MPU Aceh ?. masyarakat sendiri yang mendelegitmasi (melunturkan) fatwa-fatwa tersebut secara terang-terangan, sekali lagi secara terang-terangan. Apakah ini tidak bisa menjadi mirror (cermin) bagi punggawa-punggawa agama dan pemimpin negeri ini, bahwa pendekatan selama ini kepada masyarakat harus dirubah, bahwa pendekatan selama ini bermasalah, karena yang dibangun bukanlah agama cinta, tapi agama hukuman, agama larangan, kalau ini terus dipraktekkan dan tidak dirubah, saya sangat yakin semua orang akan seperti Nietsze nanti, “mari bakar kitab” karena tidak ada gunanya lagi beragama , agama hanya membuat orang menderita dan agama Islam akan semakin dilecehkan  oleh umatnya sendiri, ingat OLEH UMATNYA SENDIRI !.

Akhirnya semakin negara mengedepankan penghukuman moral, semakin setiap gerak kehidupan manusia sampai detail diatur oleh hukum-hukum syariat negara melalui Dinas Syariat Islam, MPU, MUI maka akan semakin menebar kebencian terhadap ajaran  Islam sendiri,. Menginginkan orang beragama demi tegakknya Islam tapi dengan cara kekerasan, pemaksaan maka itu bukanlah menjaga marwah Islam, tapi semakin melecehkan Islam, semakin melakukan penodaan terhadap  ajaran Islam yang sejatinya adalah agama cinta, agama kasih dan sayang. Jadi, siapakah yang selama ini melakukan penodaan terhadap Islam dan siapakah penjaga marwah Islam sebenarnya ?. berenanglah ke lautan tasawuf, mandilah didalam air makrifatnya maka akan terpancar marwah Islam sebenarnya.

 

**Penulis adalah Mahasiswa Pemikiran Islam Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry dan Pegiat di Sufi Institute

Single Post Navigation

18 thoughts on “SUFI : Penjaga Marwah Islam

  1. Saya menyukai pesan pesan makna yg ada dalam tulisan ini,,,,,,sipppp,,bang SM

  2. maaf sy sedikit mengomentari hal ………”fatwa larangan merayakan tahun baru dengan hura-hura, bakar petasan karena masuk kategori haram di Aceh, namun apa yang terjadi, ribuan orang tumpah ruah kejalan, dimana marwah MUI, dimana marwah MPU Aceh ?. ……..” apakah penulis setuju dgn perayaan tahun baru yang ” terkesan ” bebasnya maksiat ? hotel2 penuh dgn pasangan non muhrim …..pedagang miras laris manis ……penari pengumbar erotis kebanjiran job ….. apakah hal ini tidak dilihat sang Maha Raja alam semesta apakah dgn alasan ” cinta ” kasih sayang dalam Islam hal ini boleh ….? maaf mohon pencerahan ….nuwun .

    • Mungkin yg dimaksud penulis adalah mengajak umat manusia hidup secara islami. Karena selama ini yg kita temui orang orang islam yg justru sangat tidak islami….berasa islam sendiri tapi hakikat kebenaran dalam agama yg suci ini sama sekali tidak dipahami.

      Wajar saja rasul kita mnganjurkan umatnya untuk mempelajari islam secara total (kaffa)

      Jangan separuh separuh, seperti kisah orang buta yg mencoba meraba dan menterjemahkan bentuk dari seekor gajah.

      Tentunya akan muncul deskripsi berbeda beda yang masing masing tidak ada yg keliru namun sayang kurang tepat karena, tiap individu tadi tidak meraba gajah secara utuh.

      • terimakasih jawabnya saya hanya ingin meluruskan pemahaman pribadi thd penulis apa iya ajaran para sufi dgn menyetujui hal hal tsb dr koment saya sebab penulis menyatakan apa yang dia tulis dgn “kurang meyetujui ” pada fatwa MUI /MPU aceh …….and lalu kok penulis nggak memberikan solusi ya bagaimana mensikapi para muslimin dalam perayaan tahun baru menurut syariat islam …….??? maaf hanya komentar dungu ……

  3. ajipamuji /must mudzi on said:

    Assalamua’laikum
    Sy sangat setuju dengan “berenanglah ke lautan tasawuf, mandilah didalam air ma’rifatnya maka akan terpancar marwah Islam Ÿª♌g sebenarnya, (tentunya seperti tulisan sebelumnya bahwa tasawuf tanpa tariqat Nol.)
    Dengan metodologi / tariqat akan makan akan terbentuk manusia manusia Чάπƍ Cinta kasih terhadap sesama Dan manusia Чάπƍ menemukan kebahagiaan hakiki..
    hura2, maksiat Dan lain sebagainya adalah pencarian kebahagiaan semu Чάπƍ merupakan pelarian dari kehidupan Чάπƍ tidak menemukan tidak terbimbing oleh ajaran Чάπƍ hura2, maksiat Dan lain sebagainya adalah pencarian kebahagiaan semu Чάπƍ merupakan pelarian dari kehidupan Чάπƍ tidak menemukan tidak terbimbing oleh ajaran Чάπƍ hura2, maksiat Dan lain sebagainya adalah pencarian kebahagiaan semu Чάπƍ merupakan pelarian dari kehidupan Чάπƍ tidak men

  4. ajipamuji /must mudzi on said:

    Assalamu’alaikum
    Saya sangat setuju dengan “berenanglah ke lautan tasawuf, mandilah didalam air ma’rifatnya maka akan terpancar marwah Islam Чάπƍ sebenarnya (tentunya seperti tulisan sebelumnya bahwa tasawuf tanpa tariqat Nol)
    Dengan metodologi / tariqat maka akan terbentuk manusia Чάπƍ cinta kasih terhadap sesama. Dan manusia Чάπƍ menemukan kebahagiaan Чάπƍ hakiki.
    Hura2, maksiat Dan sebagainya adalah pencarian manusia terhadap kebahagiaan Чάπƍ sebenernya semu.. Merupakan pelarian dari kehidupan Чάπƍ belum terbimbing oleh ajaran Чάπƍ sesungguhnya alias ajaran Чάπƍ semu pula alias kulit dari ajaran Чάπƍ ϑΐ yakini..
    Saya menghayalkan seandainya seluruh umat berenang ke lautan tasawuf dengan menerapkan metodologi/tariqat sehingga dapat mandi ϑΐ air ma’rifat, alangkah indahnya dunia ΐηΐ.. Dimana kedamaian akan terwujud dalam balutan Cinta kasih sesama..
    Salam abangku sufi muda,semoga senantiasa dalam lindunganNya sehingga dapat terus memberikan pencerahan.. آمِيّنْ Ɣª اَللّهُ..
    Wassalam..

  5. Sungguh bagi saya pribad islam yang dimaksud itu lebih daripada agama,melainkan tuntunan hidup. Semua larangan dan semua anjuran yang adA dalam agama ini jelas jelas membawA manfaat besar bagi yang mau meyakininya.

    Keberadaan islam saat ini sudah dipolitisir, penuh muatan kepentingan kepentingan, yang membuat pelakunya menyimpang dari kaidah kaidah hakikat tuntunan yg diharapkan. Kasarnya ke iklashan beragama itu sdh ditinggalkan.

    Justru kalo diperhatikan banyak mereka mereka yang tidak ber ktp islam yang menjalankan kaida kaidah tuntunan islam dengan sempurna. Sehingga wajar bagi mereka untuk merasakan buah yang manis dari pola hidup islam ini.

    Tampa maksud untuk menjadikan paham pluralis, ataupun sekuler bagi teman teman sekalian. Saya cuma bisa menganalogikan tuntunan hidup bernama islam ini seperti cahaya matahari pagi yg menyehatkan, terserah kita untuk memilihnya apakah mau sejenak berjemur agar kulit dan tulang semakin sehat atau pilih menghindarinya.

    Maka dari itu pemahaman terhadap manfaat sinar matahari pagi ini(islam) perlu di kaji lebih dulu agar kesan anjuran dan larangan yg ada dalam islamtidak merupakan beban kewajiban semata, lebih dari itu semua akan menjadi semacam kebutuhan yang terasa sangat besar manfaatnya dalam mengarungi kehidupan ini.

  6. Semua sdh ketetapan,berjalan pada peredarannya masing-masing maka tetapkanlah hati supaya tidak berbolak balik, tentukan pilihan hanya dengan melihat ,tentukan pilihan tanpa berkata,karena semua berjalan pada aturan dibuat Nya,tuk membuat kita semakin merasakan kehadiran dan keberadaan Nya,disetiap langkah,disetiap kata dan disetiap denyut serta desahan nafas kita,…berserah dalam ikhlasnya atau bergerak dalam kebesara Nya

  7. saya kira saya sepakat dengan tulisan diatas yang menyatakan bahwa agama islam itu adalah “agama cinta, agama kasih dan sayang”.

    semua ajaran yang diajarkan didalam islam itu hendak nya ditransfer dengan cinta dan kasih sayang bukan dengan kekerasan.

    “Tidak ada Paksaan dalam islam”.
    kalo sudah main paksa saya kira itu bukan lagi ajaran islam, melainkan hafsu belaka.

  8. Ping-balik: Islam Modern « Marsoedi Oetomo

  9. gak usah heran. sufi dan tarekat memang prilakunya kontradiktif. kadang2 mirip dgn gusdurian dan JIL. yang dipentingkan cinta kasih dan damai sesama umat. eh kok malah mirip ajaran sebelah. rupanya sudah kesusup dgn ajaran pluralisme. maklumi saja. lihat saja si TS mulai kelihatan belan nya.

  10. Bacalah surat Al-kafirun, pastikan potongan ayat berikut,
    “Lakum dinukum waliyadin”
    yg artinya, bagimu agamamu, bagiku pula agamaku,
    ini mnjelaskan agar kita jgn saling menyalahkan, semua orang punya keyakinan masing”. Adapun resiku akan di tanggung diri sendiri.

  11. Al Qur’an Surah Al Isra’ ayat 72 :
    Wa man kaana fi haazihi a’ma fahuwa fil akhiraati a’ma wa adallu sabiila (n).
    Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).

  12. AWAN BAGHDAD on said:

    AWAN BAGDAD ‘ direct to HERA KERA ‘negeri ini haus dengan cinta kasih sedangkan JIL udah kenyang dengan dana dari luar maka yang di dapatkan materi MATI DENGAN HISTERI ‘jikalau tidak ada seorang sufi semua ibadah itu ibarat bisnis ( pahala ) sedikit dikit murka allah ‘padahal kita sendiri yang membuat murka sang pemuter jagat ( sang hyang widi ) dengan menyebut nama allah yang maha pemurah lagi maha penyayang

    • Aris Munandar on said:

      begitu seramkah potret islam di negeri ini ???
      masih banyak kabar gembira yang lain bagi umat islam. tak perlu terlalu takut, cemas akan hakikat islam. hanya pemberitaan dalam media saja yang begitu berlebihan untuk mencoreng islam. yang penting berusaha sesuai dangan apa yang ditinggalkan Rosul (Al-Qur’an dan As-Sunnah)

  13. Aris Munandar on said:

    Apakah ALLAH itu adil ?????
    Anda yakin dengan jawaban anda ? Mengapa ?

    sebuah persoalan :
    saya bersyukur dilahirkan dalam keluarga muslim. namum bagaimana jika saya dilahirkan dalam keadaan non muslim (kafir). apakan saya harus masuk neraka ? jika YA kanapa harus seperti itu ? tidak adil dong jika saya harus masuk neraka karena persolalan tempat lahirku di keluarga nonmuslim. dimana letak keadilan Allah sekarang !!!

    • Ruslianto on said:

      Allah Sesungguhnya Maha Adil,…. sedangkan ISLAM itu (sendiri) adalah Fitrah,…. Anda tidak bisa mencari atau membuktikan kebenaran yang hakiki itu “hanya” dibawah kasur (tempat tidur) Anda, … Apa Agama Nabi Muhammad s.a.w sebelum datangnya Fitrah pada Diri Beliau ? Mau tau ? Nabi Muhammad s.a.w pergi meninggalkan rumahnya,.. jauh mendaki bukit dan ber-thahanuts di Gua Hira.
      Agama itu fitrah,… (dari dalam diri anda, sendiri) keluar-lah anda dari dogma (agama nenek moyang).
      Sesungguh Allah redho Islam menjadi agama di akhir zaman (ini).

      Seharusnya “Mereka” , saatnya sadar bahwa mereka bukan lagi hidup dizaman keledai mengangkat barang. dan ini zaman jendela dunia telah terbuka, (informasi ada dimana-mana) pergunakan akal jasmani dan akal bathin, terus berupaya mencari petunjuk dan redho Allah SWT.

      Buat Sdr.Aris Munandar : Jangan ada pikiran yg terlintas, bahwa Allah itu tdk adil, (awas virus berbahaya sedang menggrogoti iman anda),..
      Wass.

    • Orang islam belum tentu juga masuk islam mas…
      ketika seseorang benar-benar menjadi kebenaran agama secara objektif, semoga Tuhan berkenan memberikan hidayah kepadanya amien 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: