-
Jemaah Ahmadiyah Tobat Masal di Monas
Taubat yang dilakukan oleh jemaah Ahmadiyah ini tergolong menarik sehingga mengundang perhatian orang banyak karena disamping dilakukan secara massal juga di tempat terbuka di lapangan Monas. Biasanya orang bertaubat itu di Mesjid, Rumah Allah, tempat yang suci sebagai symbol kembalinya sang pendosa dari kotor menjadi bersih, dari keliru menjadi benar. Tapi kenapa FPI cs membawa jamaah Ahmadiyah bertaubat di lapangan Monas, apakah ini benar-benar taubat atau hanya sekedar “sandiwara” layaknya sinetron religi yang sering kita tonton di TV, apakah FPI sebagai “pembimbing” ahmadiyah melakukannya pembinaan dengan ikhlas atau hanya sekedar ingin menunjukkan “power” atas tragedi di monas 1 juni 2008. Coba kita baca berita lengkapnya berikut ini:
-
Sebuah Teladan
Oleh : Jalaluddin Rakhmat Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani. Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.
-
Syahadat Saridin
Oleh : Ehma Ainun Najib Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid. Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat. Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum – hiasilah Qur’an dengan suaramu. Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin. Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes.…