Napak Tilas Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc

Riwayat hidup Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc berikut menurut saya sangat lengkap yang di tulis oleh Anwar Rangkayo Sati saksi hidup dan merupakan murid sekaligus menantu dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi dan di kemudian hari Beliau juga mengakui S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc sebagai guru nya . Ayahanda Guru merupakan panggilan dari murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Beliau dan Nenek Guru adalah panggilan murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc kepada Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi. Tulisan ini di tulis pada tanggal 08 Desember 1986, tentu saja semasa Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc masih hidup. Beliau berlindung kehadirat Allah pada tanggal 9 Mei 2001 dan di makam kan di Surau Qutubul Amin Arco, Jawa Barat.
Tulisan ini merupakan kiriman dari Saudara R.Darmawan <
rodhar76@gmail.com>, saya ucapkan terimakasih atas kemurahan hatinya dan tulisan ini pertama sekali disampaikan oleh Bapak Anwar Rangkayo Sati pada acara hari Guru ke-70. Tulisan ini telah saya sempurnakan setelah saya cocokkan dengan keterangan langsung dari Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc, Bapak Anwar Rangkayo Sati dan Bapak Zyauddin Sahib yang hadir pada hari Guru ke-70 tanggal 20 Juni 1987 di Surau Darul Amin Medan. Agar pembaca tidak bosan maka tulisan ini saya bagi menjadi dua bagian dan tulisan ini menurut saya merupakan tulisan terlengkap tentang sejarah ber guru Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc. Namun demikian jika ada kesalahan dan kekeliruan silahkan memberikan kritik di komentar atau kirim ke email : sufimuda@gmail.com.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk murid-murid Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc dan juga untuk seluruh pembaca Sufi Muda:
BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM
Dengan terlebih dahulu mengucapkan Astaghfirullah al’aziim yang sedalam-salamnya, serta membaca Al Fatihah dan Qulhu atau surat Al Ikhlas yang dihadiahkan kepada rohaniah silsilah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah serta diiringi pula dengan shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, maka saya beranikan diri untuk menulis risalah yang saya anggap sangat berharga ini, untuk memnuhi permintaan dari saudara-saudara seperamalan saja yang diberi judul NAPAK TILAS…
Dengan tidak melupakan sifat ’ubudiyah atau sifat kehambaan, hina, papa, daif dan lemah saya pandang diri saya sekecil-kecilnya sehingga menjadi nol kosong melompong yang menurut hemat kami tidaklah bernilai sebesar rambut dibelah tujuh pada sisi Allah SWT, Rasul dan Aulia-Nya. Sangat miskin hatinya daripada ilmu-ilmu dan amal dan jauh sekali daripada kesempurnaan adab yang menjadi pokok utama di dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Dikarenakan oleh hal-hal yang saya uraikan di atas dengan penuh kerendahan hati, terlebih dahulu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya keharibaan Ayahanda Guru, sekira tulisan kami ini tidak berkenan di hati Ayahanda Guru, tidak tepat sasarannya, kurang lengkap keterangannya dan lain sebagainya, karena maklumlah sesuai pula dengan pepatah orang tua kita ”Dek Lamo Lupo, Dek Banyak Ragu”
Sesuai dengan judul Risalah ini, maka saya mulailah menguraikan apa-apa yang langsung saya ketahui dan mendengarkan sebagai berikut:
Pada tahun 1947 yang bulan, hari dan tanggalnya tidak teringat lagi, Nenek Guru H.SS Muhammad Hasyim Al Khalidi bersama saya (Anwar Rangkayo Sati) sebagai murid atau Khadam beliau, berangkat dengan bus umum dari Sawah Lunto ke Bukit Tinggi dengan maksud dan tujuan menemui salah seorang murid beliau yang tergolong intelek yaitu Sdr. Zyauddin Sahib, jabatannya sebagai kepala kantor pos besar di Bukit Tinggi.
Bahwa Sdr. Zyauddin Sahib pada waktu itu mendapat musibah, mertua lelaki beliau meninggal dunia dan jenazahnya dibawa ke rumah tempat tinggalnya Sdr. Zyauddin Sahib di lorong Saudagar No. 46 A pasar Atas bukit tinggi. Jadi kedatangan YMM Nenek guru memperlihatkan hati yang duka, muka yang sabak turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa diri Sdr. Zyauddin Sahib.
Sdr. Zyauddin Sahib jauh sebelumnya telah lama berkenalan dengan Bp. Kadirun Yahya M.A, guru SPMA dan bertempat tinggal di Aur Tajungkang Bukit Tinggi. Di samping jabatan beliau sebagai guru SPMA, beliau pun merangkap sebagai perwira menengah dengan pangkat Mayor pada komandemen Divisi IX Banteng Sumatra bagian persenjataan dan kami melazimkan memanggil beliau waktu itu Pak Mayor. Diangkatnya beliau sebagai perwira menengah bagian persenjataan dikarenakan beliau adalah ahli kimia. Sekarang beliau telah memperoleh gelar dan untuk lebih lengkapnya disebut Prof. Dr. Haji Saidi Syekh Yahya Muhammad Amin. Dalam kesempatan beberapa hari Nenek guru berada di rumah Sdr. Zyauddin Sahib, beliau mengajak teman beliau yaitu Bp. Kadirun Yahya MA bertemu muka dengan Nenek Guru dan kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh beliau dan beliau berulangkali datang berbincang-bincang dan berceramah kaji tasawuf dengan Nenek Guru.
Ayahanda Masuk Tarekat
Pada suatu hari, kalau kami tak salah bertepatan dengan petang Kamis malam Jum’at Sdr. Zyauddin Sahib memohon kepada Nenek Guru berkenan mengadakan wirid tawajuh pada hari tersebut. Permintaan Sdr. Zyauddin Sahib diperkenankan oleh Nenek Guru. Lalu beliau dengan segera menemui teman-temannya mengajak datang ke rumahnya untuk ikut bertawajuh. Teman-teman yang ditemui:
1. Sdr. Ghulam Gaus yang menghubungkan Sdr. Zyauddin Sahib dengan Nenek Guru di rumah Ibu Saimah di Bukit Tinggi Apit No. 13 Bukit Tinggi
2. Bp. Kadirun yahya MA
Selesai shalat Isya’ yang langsung diimani oleh Nenek Guru, maka tawajuh pun segera akan dimulai. Sdr. Ghulam Gaus tidak lagi datang dan hadir hanya kami 4 (empat) orang, yaitu Nenek Guru, saya sendiri (Anwar Rangkayo Sati), Zyauddin Sahib dan Ayahanda Guru.
Anehnya Ayahanda Guru belum lagi dibaiat masuk Thariqat Naqsyabandiyah, telah diizinkan ikut bertawajuh dan sebelum tawajuh dimulai, saya bisikkanlah dahulu secara ringkas sekali kepada Ayahanda Guru apa yang akan diamalkan selama bertawajuh.
Selesai bertawajuh yang lamanya + setengah jam, lalu Ayahanda Guru menyampaikan perasaan atau pengalaman yang beliau alami selama bertawajuh tersebut kepada Nenek Guru, lalu Nenek Guru menjawab dengan singkat dan padat : ”Masuk Thariqat …!”.
Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati saya, mengapa Ayahanda Guru belum lagi dibaiat masuk Thariqat Naqsyabandiyah kok sudah diijinkan ikut tawajuh. Sedangkan selama ini belum pernah kejadian. Rupanya kasus pada Ayahanda Guru ada keistimewaan dari Nenek Guru. Tentu ada hikmah yang terkandung, bak pepatah mengatakan : ”Kalau tidak ada berada, tidaklah tempua bersarang rendah”.
Akan saya tanyakan langsung kepada Nenek Guru, saya takut kalau-kalau salah menurut adab, lalu saya tafakkur dan merenungkannya secara mendalam. Akhirul kalam … berkat syafaat Nenek Guru, terbukalah hijab saya dan saya bacalah yang tersiratnya, apa yang dibalik keistimewaan yang diberikan Nenek Guru kepada Ayahanda Guru. Nenek Guru berkata kepada Ayahanda Guru, ”Kapan saja anak datang untuk bersuluk akan saya layani walaupun Cuma satu orang” dan janji itu Beliau penuhi di kemudian hari ketika Ayahanda Guru pertama sekali ikut suluk
Kesimpulannya adalah sbb :
Kedatangan Nenek Guru ke Bukit Tinggi secara lahiriah menemui Sdr. Zyauddin Sahib yang sedang mendapat musibah, tetapi secara hakikinya bertemu dan menemui salah seorang yang bakal menjadi ulama intelek, ahli sufi, besar dan ulung, yang lengkap ilmu pengetahuannya baik dunia maupun akhirat yang akan menjadi penyambung, penerus, dan pewaris dari silsilah Tharikatullah ’Ubudiyah Naksyabandiyah Khalidiyah yang berpusat di Jabbal Qubaisy Mekkah yang cocok pula dengan jamannya, yaitu zaman mutakhir, zaman teknologi modern yang akan menjadi ikutan bagi para mahasiswa, para sarjana, para intelektuil, para pejabat pemerintah baik sipil maupun ABRI, dan lain-lain. Orang tersebut tak lain adalah Ayahanda Guru Prof. Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, Msc, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi Medan.
Tidaklah berkelebihan rasanya saya sampaikan dalam risalah singkat ini, keistimewaan-keistimewaan lainnya yang diberikan oleh Nenek Guru kepada Ayahanda Guru, untuk lebih menguatkan hasil renungan saya tersebut di atas, dan keistimewaan-keistimewaan lainnya tersebut akan menyusul pada lanjutan risalah ini.
Pada tahun 1947 itu juga setelah Nenek Guru kembali ke Sawah Lunto, datanglah Ayahanda Guru ke rumah Ibu Saimah di Bukit Apit No. 13 Bukit Tinggu untuk masuk thariqat. Ibu Saimah sekarang sudah almarhum (wafat tgl. 21-12-1985) adalah keponakan kandung Nenek Guru. Pada waktu sebelum Nenek Guru naik haji ke Mekkah tahun 1918 dan dibuang ke Boven Digoel tahun 1928-1932, almarhumah Ibu Saimah selalu berada di samping Nenek Guru dan ke mana saja Nenek Guru bepergian selalu dibawa dan beliau bertemu dengan Ompung Hutapungkut (Maulana H. SS Sulaiman) Guru Nenek Muhammad Hasyim dan Ayah Nenek Syekh Muhammad Baqi. Ayahanda Guru masuk thariqat dipimpin langsung oleh kalifah Nenek Guru, yaitu Inyiak Gadang (Almarhum). Alm Inyiak Gadang semasa hayat beliau, di samping sebagai khalifah Nenek Guru, juga sebagai seorang pendekar ulung yang sangat ditakuti dan disegani oleh masyarakat pada waktu itu, karena Nenek Guru juga seorang pendekar ulung, jago silat kawakan yang tak ada tolok bandingnya.
Setelah selesai Ayahanda Guru masuk thariqat, sesuai pula dengan situasi keamanan waktu itu, dengan bercokolnya pemerintah kolonial Belanda di kota Padang dan membunuh wali kota Padang Bagindo Aziz Chan, di samping kesibukan Ayahanda Guru dengan tugas-tugas Beliau utama sekali sebagai perwira menengah bagian persenjataan maka secara zahir Beliau boleh dikatakan belum dapat berulang menemui Nenek Guru ke Sawah Lunto.
Pada waktu itu Pemerintah Kolonial Belanda menduduki kota Padang dan sesuai dengan perjanjian Linggarjati, daerah pendudukannya hanya sampai dekat lintasan kereta api di Tabing + 7 km dari pusat kota Padang. Kemudian Belanda mengkhianati perjanjian Linggarjati dan bulan Juli 1947 dibunuhnya walikota Padang Bagindo Aziz Chan dan mereka melakukan serangan lagi sampai diadakannya pula perjanjian yang kedua yang disebut perjanjian Renville dan daerah pendudukannya berbatas di Batang Tapakis Kec. Lubuk Alung Kab. Padang / Pariaman.
Karena Belanda sangat berhasrat sekali hendak mengulangi kembali penjajahannya di bumi persada Indonesia yang kita cintai ini, maka kembali Belanda berkhianat melakukan serangan terhadap RI yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 yang disebut pada waktu itu Agresi Belanda Kedua yang dimulai pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 dan Belanda waktu itu telah mendarat dengan pesawat Catalina di Danau Singkarak.
Pada hari Kamis tanggal 23-12-1948 dengan mengambil langkah pada 08.30 pagi WSU (sekarang jam 09.00) mulailah Nenek Guru meninggalkan kota Sawah Lunto bersama anak-anak dan istri dan salah seorang di antaranya termasuk saya, berdarurat ke daerah pedalaman RI yaitu ke Nagari Lunto Kecamatan Sawah Lunto Kabupaten Sawah Lunto (Sijunjung). Di negeri ini banyak pengikut Nenek Guru, di antaranya yang telah dituakan :
1. Khalifah Jini Gelar Lenggang
2. Khalifah Bakar Gelar Karib Sutan
3. Khalifah H. Abd. Rauf
Ketiga Khalifah tersebut kenal baik dengan Ayahanda Guru dan sama-sama suluk pada suluk pertama Ayahanda Guru dengan Nenek Guru di Alkah Nenek Guru di Kubang Sirakuk Sawah Lunto tahun 1950.
Ayahanda Guru beserta keluarga meninggalkan kota Bukit Tinggi berdarurat ke daerah pedalaman RI dalam daerah Kabutapaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Tanah Datar.
Menurut cerita yang saya dengar langsung dari Ayahanda Guru, bahwa Beliau selama berdarurat selalu suluk-suluk saja atau berkhalwat dan setiap tentara-tentara Belanda sampai ke tempat Ayahanda Guru, mereka hanya melihat hutan belukar saja. Begitu juga dari Nenek Guru saya dengar pula kalau tentara Belanda sudah sampai ke Pondok Nenek Guru, mereka melihat lautan yang sangat luas.
Memperhatikan kejadian-kejadian tersebut di atas, jelas bagi kita bahwa kedua Beliau-Beliau tersebut di atas adalah ahli/kekasih Allah SWT yang selalu dilindungi dan mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Kuasa, Maha akbar, Maha Agung, dan Maha Suci, begitu juga bagi mereka yang selalu berhampiran dan selalu kontak dengan Beliau akan selalu dilindungi dan mendapatkan perlindungan sesuai dengan fatwa Nenek Guru ”Barang dihampiri diperoleh”.
Selama tidak berjumpa dengan Nenek Guru, Ayahanda Guru sangat rajin mengamalkan zikir ismu zat karena memang hanya zikir itulah yang beliau terima dari Nenek Guru. Suatu saat Ayahanda Guru sampai ke sebuah surau tua dan disitu beliau beramal dalam waktu lama. Kebetulan juga di surau itu ada seorang syekh beserta 12 muridnya ikut berzikir disitu. Syekh tersebut berzikir di kubah sedangkan Ayahanda Guru berzikir di samping surau.
Kemudian Syekh tersebut meminta Ayahanda Guru memimpin suluk, tentu saja tawaran tersebut Beliau tolak secara halus karena memang saat itu Beliau tidak mengerti sama sekali tentang ilmu suluk. Ayahanda Guru berkata, ”Saya tidak berani, silahkan tuan musyawarahkan dengan Guru saya (syekh Hasyim) kalau Beliau mengizinkan maka saya berani melaksanakannya”. Kemudian Syekh tersebut berkomunikasi secara rohani dengan Nenek Guru, 3 hari kemudian syekh tersebut datang dan berkata, ”udah boleh engku mudo, udah boleh!”
Dalam suluk Syekh tersebut berkata, ”Hai engku mudo tolong tawajuhkan murid den ko (Hai anak muda tolong tawajuhkan murid aku ini)”. Pada waktu itu Ayahanda Guru belum lagi diangkat jadi khalifah bahkan suluk pun belum pernah sehingga Beliau bingung bagaimana harus melaksanakan sesuatu yang belum diajarkan. Akhirnya Ayahanda Guru menawajuhkan murid-murid Syekh tersebut namun karena seluruh energi zikir ditumpahkan maka seluruh yang ditawajuhkan itu pingsan. Selesai tawajuh Ayahanda Guru orang yang pingsan, ajaibnya seluruh yang pingsan sadar kembali. Pada waktu itu Ayahanda Guru masih berumur 33 tahun. Penomena ini sangat luar biasa, belum khalifah sudah menawajuhkan.
Kemudian rombongan syekh beserta murid-murid nya pindah ke kampung lain termasuk Ayahanda Guru ikut juga dan tersiarlah kabar akan diadakan suluk lagi, kebetulan saat itu datang bulan puasa maka berbondong-bondong orang kampung ikut suluk. Masyarakat kampung meminta Ayahanda Guru untuk menyulukkan mereka namun Ayahanda Guru tidak menerima permintaan itu dan Ayahanda Guru tinggal disebuah surau dan zikr sendiri. Kemudian orang kampung datang kembali kepada Beliau meminta untuk ikut suluk akhirnya Beliau penuhi dan pada saat itu banyak pula syekh-syekh yang datang ikut suluk dengan Beliau dan Para Syekh mengakui bahwa suluk yang dipimpin oleh Ayahanda Guru sangat luar biasa.
Bersambung…..
142 Comments
ESTI SISWANDARI
Assalamu’allaikum SUFI MUDA terima kasih telah menulis banyak tentang Ayahanda Guru. Benar- benar mengharukan. Semoga Allah merahmati SUFI MUDA. Amin
Ayahanda benar2 Wali Kutub yang luar biasa, tapi banyak orang tidak mengetahui beliau, apalagi jasa2 beliau untuk seluruh muka bumi ini.
sufimuda
Wa’alaikum salam…
Terimakasih atas kunjungan dan do’anya…
Semoga Tulisan di atas dapat membuka hijab orang-orang yang membacanya, amien
Pingback:
Don Ruri
Makin mantab pembahasan di SUFI MUDA, semoga semakin langgeng Blog ini
Siti
Alhamdulillah. Amin..
siluettana
the eternal of BLOG…
we are hero to wish YOU…
insya Allah
sufi baru
merinding dan langsung bergetar tubuh ini (marqobah) ketika mmbaca kembali napak tilas maulana diatas..tak terasa air mata ini menetes haru…KERINDUAN yang mendalam segera hadir…
Ibarat sebait penggalan lagu dari sam bimbo :
RINDU KAMI PADAMU YA RASUL
RINDU TIADA TERKIRA
BERABAD JARAK DARIMU YA RASUL
SERASA DIKAU DI HATI…
Salam buat abangda sufi muda…
Cut Nanda Keumala
Di tunggu kelanjutannya…
Yuan dianto
Ass
Alhamdullilah saya dapat membaca tulisan ini dari sufi muda kalau boleh usul buatlah Otobiografi Ayahanda Guru biar nanti anak cucu kita bisa mengenal siapa sesungguhnya Ayahanda Guru.
Salam
sufi gaul
Nenek GURU YMM Prof.DR. H SS Kadirun Yahya Muhammad Amin, Msc. adalah sosok ulaman akhir zaman yang telah di gariskan oleh nabi Muhammad sebagai pewaris ilmu rasulullah sesuai dengan hadist yang berbunyi “jangan dulu ada kiamat sebelum ada orang yang bisa mengilmiahkan Al-qur’an, namaKu sama dengan namaNya Muhammad Amin, nama ibuKu sama dengan nama ibuNya Sitti Aminah nama ayahKu sama dengan nama ayahnya Abdullah”
salah satu karya nyata beliau semasa beliau masih hidup adalah Beliau pernah menghidupkan kembali orang yang sudah di vonis Mati, selain itu beliau juga pernah meredam gunung meletus yakni Gunung GALUNGGUNG.
ilmu yang beliau miliki tetap diwariskan sampai sekarang, dan tidak akan putus… karna kalaulah ilmu itu sudah putus maka dunia ini pasti sudah kiamat…
sesuai dengan hadist yang berbunyi “andai kata kami (ALLAH) telah menetapkan untuk mengkiamatkan dunia ini akan tetapi dilihatnya masih ada satu orang lagi yang berzikir menyebut asma Allah..Allah… (yang sama dengan metodenya Nabi Muhammad) maka akan kami tunda 40 tahun lagi untuk mngkiamatkan dunia ini…
semua Nabi-Nabi dan Wali-Wali Allah itu tidak ada yang mati tetapi mereka tetap hidup sepanjang jaman dan mereka hanya berlindung kehadirat Allah s.w.t.
Nenek Guru memang Ulama yang hebat dan sangat keramat, akan tetapi apakah kita ada hubungan dengan beliau,…….
ibaratkan sebuah mobil, ambil contoh Mobil Mercedez-benz yang harganya mahal cantik bentuknya, enak dikendarainya, kita pergi sebarkan ke pada orang lain bahwa mercy itu mobil yang bagus,….
akan tetapi timbul suatu pertanyaan apakah hubunganmu dengan mobil mercy tadi…?
kalau ga ada hubungan ya percuma…..
karna beliau adalah GURU yang hebat pasti telah mencetak murid yang hebat juga..
dan ilmuNya pasti telah diturunkan kepada Murid yang paling dikasihinya….
bagi yang mau mencari dipersilahkan, pintu terbuka lebar-lebar…..
bagi yang tidak terserah,…..
bagi yang tidak setuju,…..
tidak dibutuhkan persetujuanMu………………
Tuhan butuh kita masuk surga? atau kita yang butuh masuk surga?…
Tuhan tidak butuh kita untuk masuk ke surga, kita yang butuh masuk surga,…
oleh karenanya tuhan kasi aturan, silahkan ikuti aturan itu…
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
kawulo
subhanallaaaaaaaaaaaah
Sufi Gila
salam cinta dan damai saudaraku
sekedar tambahan bagi saudara2 yang seajaran ….. bahwa kisah atau sejarah seorang ulama kita baca untuk meneladani dan mengenal mereka yang telah berlindung … supaya terjaga segala kisahnya dan akan sambung sinambung sampai silsilah yang terakhir …. dan foto para Aulia tersebut sebagai tolok ukur apabila kita bersua di alam keabadian ….
kita bangga pada Guru itu baik tapi jangan arogan … kakek Guru Syekh Muhammad Hasyim berkata pada Ayahanda …. ” pada masaku akan turun belasan wali tapi pada masa anak mayor akan turun ribuan wali ”
apa maknanya bahwa akan terlahir belasan Syekh dari rahim Kakek Hasyim dan akan terlahir ribuan Syekh dari rahim Ayahanda …. dan itulah tanda kemuliaan beliau …. seorang Guru Besar akan melahirkan ribuan Guru Besar juga … dan terbukti telah turun ribuan ijazah dari sisi Ayahanda … masalahnya sarjana yang baik adalah yang diakui almamaternya dan masyarakat … maka kembalilah dalam tugasmu wahai para khalifah dan para syekh Ayahanda
513
Dan ikuti Statuta Nya biar tak putus talinya .jangan yang lain dari Titah Nya
Sufi Gila
carilah ilmu prakteknya pada yang telah lama merisetnya … yaitu yang tua tua yang telah nampak ubudiyahnya …. kalian semua telah disyahkan oleh Allah melalui pengesahan sang Wali …. tapi pembelajaran belum selesai …. maka selesaikanlah pembelajaran itu …. bertanyalah pada yang tua tua …. mumpung mereka masih berkenan untuk membimbing …. janganlah sekedar menjadi sarjana yang tiada bermanfaat …. ajarkan walau secuil ilmu yang telah engkau peroleh wahai para Khalifah dan Syekh …. semoga anda semua sadar dengan tugas yang telah di amanatkan di pundakmu …
fatwa Ayahanda : ” bagi yang belajar carilah Guru yang benar dan bagi yang mengajar carilah murid yang shiddiq “
hakimi
puisi 35
AKU SEMAKIN TAKUT
seribu lagu selaksa nada seketi syair sejuta madah
telah kutulis pada air pada api pada angin pada tanah
pada pasir pada alun pada gelombang
meski sudah sebanyak itu bimbangku tak pernah kurang
dengan sejuta warna bumi kubalut
gunung laut kubalut
tapi aku semakin takut
dan aku semakin takut
aku berlari mengejarmu dalam terang dalam gelap
dan engkau datang menghilangkan semua yang pengap
kulihat engkau senyum di pelaminan
ketika mempelai sembunyi-sembunyi meremas jemari
kulihat engkau senyum di jalanan
pada wajah-wajah kering terbakar mentari
dalam sejuta galau
aku melukis tentang engkau
2008
sufimuda
@hakimi
Salam kenal
Puisi nan indah, kalau ada puisi lain di kirim aja ke email sy biar di posting di bagian puisi,
Makasih udah mampir disini
AQJ
Syukuri yg kita dpt,jgn bertekak krn yg kita peroleh
ANTI(Y.Dharma)
AYAH…AYAH…AYAH….
Terima kasih tak terhingga untuk mendampingi dan menemukan anti pada hakekat hidup sebenarnya, sekalipun tidak bersua jasad tp dari semua tulisan tentang AYAH yang anti dapatkan adalah sebuah ketenangan…keyakinan…dan kebenaran untuk bisa mengimani sepenuhnya setiap ajaran yang AYAH berikan buat anti lewat KEKASIHMU yang saat ini mendampingi kami semua…..WE LOVE U AYAH….
Dul
Assalamu’alaikum Warahmatulloohi Wabarakaatuh,
Bang Sufi Muda, mana kelanjutan Napak Tilas Maulana S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc?
Semoga Blog Sufi Muda semakin bersinar.
Wassalam,
Dul
Moemal
Assalamu ‘alaikum war.wab
Bang,
Izinkan saya untuk mentautkan blog abang di blog yang baru saya buat http://www.ayahanda-guru.blogspot.com
Wassalam,
513
kl saya pastilah akan Sangat sangat takut,untuk membuat bog seperti ini
wassalam
padimuda
Waah bang Moemal, blog yang bagus.
Semoga Ridha dan syafaatNya senantiasa tercurah pada pembuat dan pembaca blog ini dan blog anda.
Mudah2an dengan begitu akan semakin banyak yang membuat blog2 tasawuf di dunia maya ini. Dan semakin banyak pula insan2 yang trbimbing oleh Guru Mursyid yang kammil mukamil dalam menggapai ridha Allah SWT.
Amiin
teruterubozu-298.blog.friendster.com
Trus….sambungannya mana bang SufiMuda??
Didiet
Subhanallah……..
Alhamdulillahirabbal alamin
Sungguh terharunya hati saya menatap wajah teduh almarhum Ayahanda Guru saya yang sangat sayas cintai……
Terima kasih yang tak terhingga Sufi Muda atas dimuatnya artikel Guru Besar kami Yang Mulia……….
Salam kenal
Murid Beliau diatas
hasyim
Kapan diteruskan tulisan mengenai napak tilas beliau……saya sudah tak sabar Wassalam…
arya
ajaran sesat,,,,,aq pnh dengerin di cd alm pakde quw yg sudah meninggal,,,masak ayahanda guru dadanya di masukin al-quran,,,mengkhayal bgt tuh orang,,,penjahad berkedok ulama,,
eko
Assalamualaikum…
Semoga kita selalu mendapatkan HIDAYAH ALLAH SWT.
Amin ya rabbal alamin
Sungguh tidak sembarang orang yang dapat masuk ke ruangan PRESIDEN yang begitu MEWAHNYA. Apalagi memasuk alam HIDAYAH ALLAH yang MAHA MEWAH.
Bersyukurlah dan menangislah…
Bisa kah kita bertemu langsung dengan PRESIDEN…?
Atau bahkan bercerita-cerita kepadanya TANPA IZINNYA…?
Semoga kita mendapatkan HIDAYAH ALLAH untuk bertemu dan berpulang kembali KEPADANYA.
Amin
Mohon maaf lahir dan bathin
Wasalam
eko di choyo_07@ritc.or.id
513
jika saudaraku tdk paham tentang sesuatu itu ,ada baiknya mempertimbangkan apa apa yang akan dikemukakan, apalagi yang berkenaan tentang Ke Tuhanan ,bagaimana kl yang kita anggap jelek itu ,sebenarnya itulah yang ALLAH Rhido’i,dan sebelum bertaubat ajal menjemput
arya
bodoh bgt kalian,,,,hanya di suguhin bualan2,,,sholad dan dzikir gag pake perantara ayahanda guru sbg guru mursyid,,,lebih bermanfaat,,,drpd niat sholad yg d bygkan ayahanda guru,,,brarti kalian anngep ayahanda guru perantara ALLAH,,,ALLAH gag buka calo tiket buat masukin surganya,,,lebihh baeg kalian nurut keyakinan hati nurani kalian,,,bukan meng-kultus kan sosok ayahanda guru tersebut,,,alm.pakde quw meninggalnya susah gr2 jd pengikud ayahanda guru,,,insyaflah kalian,,,
513
setidaknya,jika saudaraku ini seorang mukmin yang benar, syareatnya sajalah !!! ,pastilah tidak akan berkalimat saeperti itu.
gotengs
Mngkn dah nyusul pkdenya skr ,tapi entah ketemu apa enggak si arya ini
Didiet513
Ass wr wb
Ada betulnya kata mas arya, sungguh bodoh kami ini sebenarnya kalo shalat dan berdzikir pake perantara ayahanda guru kami. Memang kami tidak memakai beliau sebagai perantara, jadi kalo anda protes beliau sebagai sebagai perantara itu tidak salah. Tapi tentunya tentunya tidak hanya sebatas itu saja……….. sebagai seorang mursyid tentu saja beliau mempunyai sesuatu yang istimewa sehingga beliau mampu membimbing muridnya untuk sujud kepada Sang Khalik. Mas Arya mungkin masih bingung dan bertanya-tanya, apalagi maksudnya ini? Kami sebagai murid beliau pada dasarnya tidaklah seperti yang Mas Arya sangkakan seperti mengkultuskan beliau, membayangkan beliau saat shalat ataupun menjadikan belau sebagai calo tiket kesyurga.
Mas Arya……… kita beragama juga ga bisa hanya dengan mengikuti keyakinan hati nurani. Tapi kalau dipaksa untuk mengatakan seperti itu maka kamipun bisa mengatakan bahwa kami berkeyakinan 1000% bahwa Ayahanda Guru kami adalah seorang ulama yang lurus. Sekali lagi, tapi itupun tidak cukup karena kamipun harus membuktikannya secara nyata fakta dan realita berdasarkan petunjuk atau bimbingan syariah agama…….
Masih bingung, ya………..
kalo masih belum mengerti baiknya jangan diteruskan nanti makin kabur pemahamannya dan malah bisa jadi gelap……….. jadi susah jalannya (meraba2)…..
Wass wr wb
Anshornya Mursyid
@arya
Sebelumnya mohon maaf buat arya.saya hanya memperbaiki pengertian anda tentang Mursyid. MURSYID ITU BUKAN PERANTARA, tetapi hanyalah seorang Imam yang membimbing rohani kita kehadirat Allah SWT. Sebagai ilustrasi:
Mursyid itu yang nemenin kita untuk kerumah Allah. kalau seperti itu kan bukan perantara namanya. Toh Rasulullah sendiri juga berMursyid. Siapa Mursyid beliau, yaitu Jibril. Untuk pertama kalinya Rasulullah berjumpa dengan Allah SWT, itu juga dengan bantuan jibril sebagai Mursyidnya. Begitulah kira-kira berMursyid itu. kita hanya berimam. Bukankah yang berimam itu lebih baik dari pada yang sendiri sendiri. Orang shalat aja dianjurkan lebih baik berimam dari pada sendiri
NN
@mas Arya
sebelumnya aku minta maaf.. aku juga orang bodoh yg tak tau apa-apa…tapi ada bagusnya kita bagi pengalamannnn…
yg aku tau “mursyid” itu bukan orang….hanya berada pada orang yg mendapat safaat-NYA…….
ajak-ajak
Kasian yah si arya ini. Mudah2an dia sejak menulis komentar diatas, akan lebih hati2 di setiap ucapan, tindakan dan pikirannya.
Mbok yo sekolah sek toh Guuss, guss.
deny
Mas Arya, yang anda katakan itu adalah sangat tidak baik, mohon maaf sebelumnya, anda jangan berkomentar dulu sebelum anda merasakan betapa nikmatnya berzikir dengan dengan dibimbing oleh guru kami yang mursyd, kalo anda tidak menguasai dan memahaminya jangan menulis sembarangan mas, anda telah berdosa dengan berkata sesat sedangkan anda sendiri tdk tahu dan tdk merasakan nikmatnya berzikir..mohon maaf apakah pak de anda saat hidupnya mengikuti ajaran guru kami yang luhur dan baik, ini dengan benar dan istiqamah? jangan salahkan ajarannya mas,.. tolong dicek lagi latar belakang kehidupan pak de anda saat masa hidupnya (banyak juga murid2 YMM Ayahanda Guru yang meninggal dengan husnul khatimah, salah satunya saya saksi atas meninggalnya saudara abangan kami bang Anwar, yang meninggal dengan damai dan tenang ) sudah begitu banyak bukti yang diperbuat oleh YMM Ayahanda Guru kami terhadap murid2nya maupun masyarakat umum yang telah diperbuat oleh beliau (memang kalo dengar ceritanya seperti bualan TAPI BUKAN BUALAN NAMUN KENYATAANNYA ada dan REALITA.. terserah mau percaya atau tidak) seperti menghidupkan orang yang sudah meninggal (banyak saksi yang masih hidup sampai sekarang) dan sembuh dari sakit keras (salah satunya ibu saya sendiri, hanya dengan meminum air yang sudah didoakan, seketika sembuh) pada hakekatnya kami bukan mengkultuskan beliau namun kami menganggap beliau sebagai ulama pewaris nabi ( Waliam mursyidana, insan kamil mukamil )yang HAQ DAN TERBUKTI dan didukung oleh alquran dan hadis …Bila anda marah dan kesal atas tulisan ini, saya mohon maaf, saya hanya membela dengan hak atas Guru saya yang saya cintai ini, semoga anda hati2 dengan tulisan anda… terima kasih,,deny
kafi
Ayah…
Maafkan kami yang terkadang lupa merasa BODO
sehingga kami mengatakan sesuatu yang tidak semestinya..
Ampuni kami Ayah..atas pemahaman GOBLOK kami yang kami tidak menyadarinya..
kafi
Abang Deny…
percuma kita habisin oksigen buat manusia yang merasa pandai tetapi sebenarnya BODO n GOBLOK….
akhmad syafuan
Kalo seorang wali, nabi dan rasul (menurut islam), tentu lebih tinggi derajatnya dibanding dewa (Kultus individu) lha bung arya itu islam atau hindu budha, ingatlah budha matrya sesungguhnya agama (dari langit ) itu adalah islam asal mula saripatinya maka haruslah ada manusia yang memiliki tingkat rokhani yang setinggi tingginya selain nabi dan rasul tentunya disuatu masa untuk menyelamatkan dunia ini termasuk bung arya sendiri dan kita smua serta alam semesta yang menjadi saluran dari sang pencipta . sah sah saja kan pendapat ini. janganlah menganggap manusia lain bodoh dan bung arya sendirian pintar.
SufiMuda
Ingat cerita Guru tentang air bersih, si kerbau mati-matian mempertahankan pendapatnya bahwa air bersih itu adalah air lumpur atau air kubangan sementara menurut manusia air bersih itu air sumur, air PAM dan air mineral. Jangan mengajari kerbau nanti bisa di tanduk kita 🙂
Gita Kamila
Memangnya suka ada kebo nyang suka nyasar disini ya……..??
gotengs
Kalo “suka” nya diilangin jadi kebo doong yang nyasar disini..
Peace love…
yaya
benar kata Alquran begitu manusia mempunyai sedikit pengetahuan tiba mereka saling berdebat…..hebat2 Al-quran ,rasa2nya terlalu banyak manusia yg merasa sudah sangat2 mengerti apa yg sudah di kerjakan padahal masih jauh,hal dzikir saja mereka blum tau yg namanya sebenar2nya dzikir itu yg seperti apa,mursid yg diridhoi itu yg bagaimana,jangan ikut2an kalau blum ada pengetahuan tentangnya …
Helmy hermawan
ingin menanggis jika mengingat ayahanda.
MAS O
Asslm wr wb
orang jawa bilang ” ilmu iku angel le yen durung ketemu,Ngelmu iku lelakon ne kanthi laku ( ilmu itu susuahnya kalau belum ketemu/didapat,ngelmu itu didapatkan dengan riadhoh ) bagi orang yang belum pernah merasakan madu itu manis,maka walaupun dijelaskan dengan diskripsi apapun rasa manis tidaklah akan tau sebelum ia merasai madu itu. banyak orang menilai hanya dari kulit luar sehingga banyak salah…….Smoga qt smua tdk termasuk orang yang salah atau mensalah dan senantiasa mendapat petunjuk. Amien 3 Amien Ya mujibassailin
Aquariusta
Mana tanggapan saya, kok dihapus? Sufi Muda gak bisa jawab ya?
Mengapa ajaran Thariqat Naqsyabandiyah Kadirun Yahya harus dirahasiakan? Saya sempat ditawari untuk masuk ke sini dan saya bertanya ajarannya seperti apa? Dan dijawab oleh orang tersebut : masuk dulu, baru nanti di kasi tau. Menurut saya ini aneh, bukankah seharusnya dikenalkan dulu baru jadi anggota?
Mohon dibaca link tentang “Kesesatan Tarekat Kadirun Yahya Oleh H.M. Amin Djamaluddin, Ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)” di bawah ini.
http://swaramuslim.com/ebook/html/016/index.htm
Mukhlis Malik
Sdr.Aquariusta,ini sanggahan dari buku tersebut yang ditulis oleh ketua umum MUI Bengkulu Prof.Dr.K.H Djamaan Nur, membantah tulisan M.Amin Djamaluddin yang nggak jelas latar belakang pendidikan keagamaannya.
http://www.ziddu.com/download/7827138/TanggapanThdM.AminDjamaluddin.pdf.html
anna
Saudara ku sepeguruan,
Senang rasanya membaca profil YMM Ayahanda, dapat mengobati rasa rindu yang tak pernah pupus. Memang buat kita yang sudah pernah menikmati manisnya berguru, ini adalah obat. Bagi yang belum dapat merasakan terasa aneh, dan bahkan cenderung negatif berpikirnya. Aku pikir tak pantas dan tak layak kita menghujat sesuatu yg belum pernah kita alami, janganlah mendiskriminasikan sesuatu bila memang kita belum tau persisnya. Karena sebuah ke YAKINAN seseorang tidak layak untuk diperdebatkan. Semua manusia mengalami proses dalam hidupnya, proses menjadi dewasa dalam berpikir, proses menyikapi hidup secara bijak. Dalam proses itulah kita tidak patut berkomentar. Nikmati hidup ini dan bersyukurlah kita masih diberi kesempatan untuk intropeksi diri kita sendiri.
awam
Yth saudaraku muslim
apa fungsi bai’at dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah?
apakah sama kedudukannya dengan syahadat?
apa hukumnya saya yang sudah syahadat tapi tidak dibai’at Thariqat Naqsyabandiyah?
Apa hukumnya muslim yang sudah mati tapi tidak dibaiat?
Ruslianto
Al Qur’an :
Liman sya’a minkum ay yastaqim
(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus…………..(QS: Suraah At Takwir-28)
Wa ma tasya’ una illa ay yasya’allahu rabbul-‘alamin.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam……(QS:At Takwir-29)