Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Dialog Ibn Athaillah dengan Ibnu Taymiyah

Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.

(Ibn Arabi)


Bismillahi ar rahmani ar rahiim

Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulsi karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.

Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif: sebagai “cendekiawan ilmu lahiriyah”.1 Halaman berikut ini merupakan terjemahan Inggris pertama atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.

Naskah Dialog :

Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar. Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf: Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”: Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).

Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah

Syaikh Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.

Ibn Athaillah: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”

Ibn Taymiyah: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”

Ibn Athaillah: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?
Ibn Taymiyah : Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?
Ibn Athaillah: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.
Ibn Taymiyah: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (q.s. Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.

Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.
Ibn Athaillah : Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda,” Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”

” Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah? Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?

Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al quran yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawasul atau mengambil perantara, atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.

Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.

(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini).

Lalu Ibn Athaillah melanjutkan: “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika syaikh al islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?”

Ibn Taymiyah: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

Ibn Athaillah: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan?
Ibn Tayniyah: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

Ibn Athaillah: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang msayarakat di jalan.
Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami hal ini?

Ibn Taymiyah: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “papa”.

Ibn Athaillah: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?
Ibn Taymiyah: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”

Ibn Athaillah: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.
Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).
Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.
Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasulNYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.
Ibn Taymiyah: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir”.

Ibn Athaillah: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama sama apa-apa yang tersembunyi. Agara anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.
Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.
Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.

Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.
Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” “Adakah pernyataan yang seindah ini?”
Ibn Taymiyah : “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.”

*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.


Sumber : http://mevlanasufi.blogspot.com

Single Post Navigation

78 thoughts on “Dialog Ibn Athaillah dengan Ibnu Taymiyah

Navigasi komentar

  1. ibn taymiyah,ibn taymiyah,..
    memanglah hidayah itu tok,semata2 dr ALLAH. mau berdebat 7 hari 7 malam pun kalau tidak dibukakan hijab tetap aja ga mau terima kebenaran. sesuai hadist ‘barangsiapa terdapat sedzarrahpun ‘hijab’ dihatinya, tidak akan mencium bau surga’ eh, salah ya? hehehehe hijab apa sombong ya?
    wallaahu ‘alam bisshawab 🙂

    • tanggapan yang ilmiyah, sufi itu sesat menyesatkan, banyak memalsukan hadist dan banyak membuat syatiat tanpa ada bimbingand dari al quran dan assunnah, kata rasulullah barang siapa beramal yang tidak ada tuntunan dariku maka tertolak. baca di hadist arbain nawawihadist ang ke 7

      • Yang saya tahu, hanya orang orientalis yang memalsukan hadist sedangkan kaum sufi mengamalkan hadist2 shahih dan lebih khusus lagi mereka menerima jalur hadist itu dari orang2 yg dipercaya.

        Musuh2 Islam mememang tidak menyenangi Tasawuf yang menjadi sumber api Islam. Mereka berhasil menghasut sebagian kecil ummat Islam untuk memusuhi tasawuf. Ya tentu salah satu nya anda sendiri.

  2. prince_tega on said:

    bukannya mau bela ibn taimiyah.agama islam (quran,hadits,etc) buat orang yang berakal.bukankah diskusi/debat/apapun namanya adalah bagian dari memfungsikan akal?karena akal bagian dari kesempurnaan?pun rasul jg sebenarnya the most genius man walau ga bs baca tulis hehehehe.persoalan penggunaan istilah sufi ato etc harusnya dihentikan krn hanya bawa kesombongan menurutku.islam ya islam jgn dikelas-kelas dong….bukankah bagian syahadat itu hanya allah dan rasulnya?kan udah jelas ijab kabulnya?btw rasul saw mrpk panutan yang sempurna,kalo anda bs contoh nabi dari yang lahir ampe batin maka anda bs jadi khalifatullah di muka bumi.yang tau ya anda dan allah titik.wallaahu ‘alam bisshawab

    • Setanjail on said:

      islam dibuat kelas2? kok baru kali ini saya dengar ada islam berkelas kelas…. yang ada itu tingkatan islam om…. (maaf kalo salah), bahkan syurga aja ada tingkatannya, emangnya kalau islamnya kayak sampean sudah pas kalo masuk syurga firdaus? hahahah? mimpi kaleeeeee??? bagaimana dengan jannatunna’im? bahkan neraka pun ada tingkatannya….

      Memang syahadat itu pernyataan kesaksian seseorang kepada Allah dan Rosulnya… namun apakah kualitas syahadat sampeyan sama dengan kualitas syahadat nya kyai SARIDIN? kalau boleh saya tanya “anda kok bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan, sedangkan anda sendiri belum pernah lihat Allah?” dan bagaimana dalam sebuah sidang dikatakan sebagai saksi sedangkan saksinya sendiri tidak mengalami atau pernah tahu atas kejadian tersebut? berarti itu saksi palsu.

      Dan saran saya kepada anda….. kalau anda mengatakan rosul panutan yang sempurna, bahkan yang the best di dunia, saya sepakat, namun sekarang saya menantang anda untuk meniru 100% seperti yang anda sarankan barusan misalnya:
      1. sholat mulai umur 40 tahu
      2.menikah lah umur 25 tahun
      3. menikahlah dengan janda umur 40 tahun
      4.panjangkan jenggot (kalau anda yaqin bahwa jenggot juga bagian dari sunnah rosul)
      5. Makanlah daging domba (termasuk orang2 yang kena penyakit kolesterol dan darah tinggi).

      semua yang dilakukan rosul memang baik, namun seberapa mampu anda mengikuti nya? apakah anda yaqin bahwa dengan mencontoh nabi dari lahir ampe batin sudah pasti menjadi kholifatullah? saya menduga anda mempunya imam yang sedang bermimpi untuk membangun negara khilafah….. mana ada jaman sekarang khilafah? adanya khilafiyah…

  3. Ibnu Taiymiyah tidak perlu dibela, setiap manusia punya kesempatan untuk berbuat keliru disamping kesempatan untuk berbuat benar.
    Cuma kaum wahaby yang teralu mengagungkan ibnu Taymiyah, itu yang keliru
    “Islam itu Ilmiah dan amaliah” artinya agama harus berjalan sesuai dengan akal.

    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
    pun rasul jg sebenarnya the most genius man walau ga bs baca tulis hehehehe
    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
    Makna ummy bukan tidak bisa tulis baca, saya kok tidak begitu senang kalau nabi saya di tuduh tidak bisa tulis baca.
    Nabi Muhammad di utus kepada “kaum ummy” artinya kepada kaum yang belum mendapat kitab. Bangsa Arab khususnya kaum qurays adalah bangsa yang belum pernah mendapat kitab sebagaimana bangsa Israel.
    Saya curiga cerita bahwa nabi Muhammad tidak bisa tulis baca adalah propagranda Muawiyah untuk merendahkan kedudukan Nabi.
    Kalau Nabi tidak bisa tulis baca, bagaimana Beliau bisa menilai Isi surat yang dikirim kepada Raja-raja zaman itu?
    Bagaimana pula Beliau bisa membaca isi perjanjian hudaybiyah?
    Bagaimana Beliau bisa menghapus kata “Utusan Allah” dan menyuruh mengganti dengan “Bin Abdullah” pada perjanjian hudaibiyah.
    Nabi tidak bisa tulis baca harus diselidiki lagi, apa benar demikian?
    300 tahun Islam berada dibawah kekuasaan Bani Umayah, seluruh hadist disensor, disetiap khutbah Jumat diwajibkan untuk mencaci keluarga nabi, bagaimana kita bisa tahu kebenarannya?

    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
    persoalan penggunaan istilah sufi ato etc harusnya dihentikan krn hanya bawa kesombongan menurutku.islam ya islam jgn dikelas-kelas dong
    ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
    bagaimana dengan istilah wahabi, salafi, Muhammadiyah, NU, Ahlul sunnah waljama’ah, Syiah, apa anda hapus juga?
    Senang atau tidak senang Islam punya tingkatan,
    Mulai dari awam sampai Ulama.
    Saya bukan orang sufi jadi tidak bisa menomentari banyak tentang Tasawuf.
    cuma menurut saya, membuang istilah sufi dalam Islam sama dengan membuang istilah Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tauhid, kesemua istilah itu memperkayah khazanah pemikiran Islam.
    Kalau istilah2 itu dibuang, Islam yang bagaimana yang anda harapkan?
    wallaahu “alam

    • Anda ingin mengatakan Rasulullah bisa baca coba kembali ke kejadian di gua saat malaikat jibril menyuruh membaca namun jawabannya saya tidak bisa baca….. akan tetapi perlu kita ingat rasulullah manusia yang cerdas tekun,.. dan apa yang dikehendaki Allah tak ada yg menghalangi,…demikian juga halnya dengan rosul jika Allah menghendaki dia bisa baca siapa yg menghalangi..:)

  4. @prince_tega

    salam kenal buat prience_tega tasauf dulu baru comment di situs ini pasti enak koq?

    @sufi muda
    teruslah berkarya aq dukung Bos!!! untuk memasyarakatkan pemahaman sufi

    • salam kenal buat prience_tega,
      pakailah rasa/ batin, jangan pakai lahir/dzahir
      Hidupkanlah RASA, jangan meRASAkan hidup, klo gak begitu, isinyanya cuma fitnah karena hanya mengandalkan AKAL SEHAT yang gak sehat. tasauf dulu. teruskan perjuanganmu @sufi muda

  5. ada dua hijab, hijab karena dosa dan hijab karena ilmu. Yang paling susah itu hijab karena ilmu atau hijab nur. Karena merasa terang dalam kegelapan. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari yang seperti itu walaupun sekarang pun kita terhijab oleh dosa-dosa kita.

  6. Benar mas Bisri, hijab yang paling tebal itu adalah hijab karena ilmu. Semakin kita mempelajari ilmu terkadang membuat kita menjadi semakin sombong dan merasa benar.
    Maka saya meng istilahkan Hamba Baca, untuk membedakan antara orang yang mempelajari Ilmu setelah Ber Makrifat kepada Allah dengan mempelajari ilmu sebelum ber makrifat kepada Allah
    Mudah2an Allah SWT membukakan hijab kita agar dapat memandang keindahan wajah-Nya.
    Seorang sufi hendaknya harus merasa dirinya berdosa, maka kita dianjurkan untuk memperbanyak istiqhfar.

    Trimakasih atas komentarnya

  7. SEMOGA KITA YANG MUSLIM MASUK SORGA SEMUA…..

  8. NYUYUWUN NGAPUNTEN KULO WAU NGAMBIL DIALOG NIKI. TRUS KULO EKSPOS DI BLOG KULO. MATURSUWUN KANG SUFI MUDA

  9. Salam

    Ibn Arabi, Ibn Taymiyah, Ibn Athaillah, Al Ghazali atau para alim ulama Islam lainnya di seluruh dunia, kalau tidak berwilayah kepada para Imam dari Ahlulbait Nabi saw. Sepertinya hidayah Allah swt belum sampai secara lahiriah dan bathiniah (masih tertutup hijabnya). Karena seperti uraian saya terdahulu bahwa bahwa garis kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah saw wafat dalam setiap zaman sudah ditentukan Allah swt dalam nash Al Qur’an dan hadist Nabi saw.(QS Al-Maidah 67, hadist Ats-Tsaqalain, hadist Ghadir Khum dll).

    Wassalam

    • QS. Al-Maidah 67 bunyi tafsirnya begini (tafsir depag ri) “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” kok g nyambung sama apa yg kang asep tulis ya…

  10. Bariosmangore on said:

    “maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan ALLAH membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya…”45:23.

    Gw bingung mesti ngomong ape ye…sama ibnu taimiyah pujaan hatinya wahhaby,salafi en the gank…gw akuiin pengetahuan agamanye bagus tp akhlaknye kok ga ada ye…gampang banget ng-kafir-in orang…

  11. Semoga Allah Subhanahuwata’ala selalu memberi hidayah kpd kita semua…menuntun langkah kita dalam meniti kehidupan ini…..

  12. agung setiawan on said:

    aku sangat suka dengan ibnu tha’ilah

  13. jagoanneon on said:

    Gua juga gak percaya kalo nabi itu nggak bisa baca tulis, la wong pedagang yg jujur pastinya bisa lah perhitungan, membuat perjanjian, dsb,dsb.

    Lagian ya mosok nggak belajar ?? Kalo nggak belajar ntar dikira emang harus begitu (nggak boleh belajar baca tulis) trus dijadikan sunnah, dan akhirnya umatnya pada nggak bisa baca tulis.

    Salam
    Love this site 🙂 nice

  14. ada sisi yang tidak pernah digali oleh saudara salafi, yaitu sisi batin. seolah sisi batin haram disentuh karena dia tidak dapat dilihat. Padahal Allah adalah yang lahir dan yang batin. Iman itu lebih dominan batin. Allah kita yakini bukan karena nampaknya tapi karena batin kita mengiyakan. Namun setelah iman masuk, mengapa kita sering tertipu hal yang lahir?

    • ummu umar on said:

      bismillah…salafi adalah orang-orang yang senantiasa berpegang pada alqur’an dan sunnah..salafi seimbang dalam lahir dan bathinnya

  15. maulanagunawan on said:

    semua akan mengerti jika telah tiba waktunya… didasari oleh niat yg baik, budi pekerti yg luhur dlm mendalami sesuatu, sehingga dpt menilai sesuatu secara proporsional, bijak…

    semua mengaku mengambil dari sumber yg sama, namun pemahamannya yg sering berbeda, bahkan pengambilan dari Ulama Salafnya pun sama, namun kadang berbeda tangkapan pahamnya…

    oleh karena itu mesti dikembalikan ke Alloh lagi segala urusan, hanya dia tempat bergantung, Pembimbing org yg tulus menuju-Nya.
    yakin…. karena Alloh Maha Pemberi Petunjuk. Jadilah salah satu dari org2 yg mendpt petunjuk.

  16. Salah satu tanda manusia blm mengenal Allah adalah …terlalu mudah mengkafirkan orang.

  17. abu izzat on said:

    Rosulullah adalah suri teladan yg utama,cukuplah beliau yyg jadi tuntunan kita,tak perlu jadi sufi yg kebablasan.Islam ini agama dunia akhirat, bukan agama bagi orang yg suka berhalusinasi.

    • SantriGendeng on said:

      jadilah orang waras , tapi org waras tidak pernah menggembar gemborkan kewarasannya.

      belajarlah memahami org gila.
      org gila setiap ditanya ttg gilanya ,pasti dia [org gila] mengaku WARAS.
      itulah bahan renungan , utk menambah kearifan kita , sehingga hati -hati dlm melihat org lain, sekaligus bahan intropeksi diri, utk meningkatkan kesadaran kita padaNYA.

    • @abu izzat
      Rosulullah sendiri seorang sufi, yang dimaksud kebablasan yang bagaimana, belajar lagi yang rajin yach. “Orang berilmu akan senantiasa belajar, ketika merasa pandai maka saat itulah ia bodoh”

  18. orang yang sedikit Ilmu on said:

    Aslkm.. Klo menurut saya, argument yg di berikan oleh Ibn Taymiyah mengenai kekafirran adalah benar..bukan maksud untuk menghakimi orang itu kafir atau tidak.. ttp segala hal yang di luar Al Quran dan Hadist dan sunnah nabi itu adlah bid’ah..
    karena sebaik2ny umat adalah umat di zaman Rasulullah dan sebaik2nya manusia adalah Rasullullah..jd buat apa kita harus menciptakn hukum2 yg baru klo sebenarnya berjuta2 ibadah yg anda kerja kan tidak akan bisa menyamai pahala nabi Muhammad SAW.. jd kerjakaan lah semua yg Rasul kerjakan. klo sufi terlalu menitik beratkan kepada ibadah.. sedangkan Nabi kita pun melakukan perniagaan dan menjadi orang sukses dalam berdagang(donatur perang no 1 dalm menegakan agama)..
    klo Imam Al Ghazali bukan murni seorang Ulama..karena didalam kitabnya keshahihan hadist kurang terjaga..tp patut di acungkan jempol mengenai analogi dan syair2 indah penganggungan Allah SWT..
    Cat : Jgn membrikan dalil klo keshahihan Hadist blum pasti..pelajari referensi dan literatur dg cermat.. wslm

    • mamo cemani gombong on said:

      belajar dulu mas baru komentar

    • Ada yang berkata bahwa selain ilmu Al-Quran dan Hadist itu hukumnya BID’AH !
      Menurut saya Al-Quran dan Hadist itu adalah Pokok bahasan .
      Kita ditekankan untuk berpikir lebih .
      Sebagai contoh : carilah ilmu sampai ke negri cina .
      Apakah anda tahu bagaimana cara mencari ilmu?
      Mencari ilmu itu menulis apa yang sedang dibahas menggunakan buku dan pensil .
      Lalu apakah buku dan pensil bisa diterkena hukum BID’AH?

  19. Sesungguhnya lahir tidak bisa melihat batin, tapi BATIN bisa MENGAWASI perbuatan LAHIR, mkn itulah mengapa batin menjadi sangat penting bagi orang sufi, wujud penempaan batiniah yang terlihat adalah amalan lahiriah sesuai dengan Al Quran dan sunnah, maka seorang sufi adalah pelaksana syariat yang ketat….tapi apa perlu ditunjukkan?

  20. hanya allah yg tahu,semoga kita termasuk mahluknya mana jalan yg terbaik diantara semua jalan yg baik.

  21. Udah jangan pd ribet, tuh pda baca ktb Syawahidul Haq an Nabhani, biar kt tau kdudukan ulama’. Gw pengagum Ibnu Athoillah tp gw jg hormat ama Ibnu Taimiyah.

  22. Ping-balik: Dialog Para Ulama « Hikmah Bagi Siapa yang Menghendaki

  23. Bismillah….Syahadat..sholawat….Saudara2ku…. baik buruk, salah benar, berdosa tidak, semua HAK MILIK ALLAH…manusia tidak secuilpun berhak untuk menilainya apalagi menyatakan dirinya yang paling benar….jalankan aja Al Qur’an & Hadist…jika ada perbedaan pemahaman diskusi bukan untuk mencari sapa yang benar tapi untuk menambah wawasan biar ALLAH yang menentukan…intinya kita hanya harus punya rasa CINTA ALLAH di hati kita melebihi seperti cinta kita pada makhlukNYA…ada ga rasa itu pada hati kita ??!!! jika tidak, carilah bagaimanapun caranya…nah cara itulah yang selalu menjadi perdebatan, sebenarnya jika dimaklumi kita semua berbeda CARA MENCINTAI ALLAH…ada yang memanggil2 namaNYA, ada yang Sholat yang banyak, puasa bertahun tahun, sedekah se-banyak2nya. Itu semua adalah bagian dari IMAN seorang yang yakin kepada ALLAH. Apakah yang suka Sholat akan menyalahkan yang suka puasa, dst. Kita manusia rata2 hanya mahir dalam satu bidang kecuali mereka yang ditunjuk/diberikan keistimewaan oleh ALLAH. Jadi kita kaum Muslim menyisihkan perbedaan itu, lakum dinukum waliyadin…yang penting kita ADALAH SAUDARA. cara mencintai ALLAH adalah wajah dan watak karakter kita masing2. Apa yang fisiknya hitam harus diputihkan atw sebaliknya…apakah jika yang temperamen harus disabarkan..yang penting hitam putih sabar temperamen, hatinya hanya ada ALLAH….orang cacat tapi hatinya tidak berTuhan dg normal tapi beriman atw sebaliknya mana yang harus diyakini. Temperamen berguna jika kita bisa mengontrol menjadi tegas/wibawa….sabar tidak berguna jika mereka terlalu sabar sehingga sampai mau menukarkan imannya demi untuk menjahui kekerasan…SIKAPILAH DENGAN BIJAK DAN BERSATULAH KAUM MUSLIM…KITA SEMUA ADALAH SAUDARA, BAGAIMANAPUN BENTUKNYA ASAL BERIMAN DENGAN AL QUR’AN dan HADIST….WASSALAAM….

    • setuju, gak usah mencela saudaramu yang juga mengucapkan kalimah syahadatain dalam ibadahnya, ntar lo dikatain pemakan bangke mau…..hehehehe

  24. subhanallah wal hamdulillah…

  25. ambeg para marta on said:

    Tadi malam, Sabtu Legi malam Ahad Pahing, 8 Januari 2011 M / 2 Shafar 1432 H di Masjid Al – Fajar, Desa Pangkur, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur diselenggarakan Pengajian/Pengkajian Al – Hikam Ibn Athaillaah. Penyaji Ustadz Rafiq dari Gresik. Jumlah peserta yang hadir sekitar 45 orang laki-laki dan perempuan. Sangat khidmat dan berkesan. Semoga penyelenggaraan pengajian/pengkajian yang ketiga dan seterusnya bisa berlangsung dan diridhai Allah.

    • kecamatan pangkur,ngawi??? setau saya disana ada ULAMA besar yang dari desa Pleset. Kyai Abdul Wahab namanya…

      • benk al jaelani on said:

        Masya allah,
        Almarhum Kh Abdul Wahab adalah Mursyid tarekat Naqsyabandiyah
        Mbah Dul (sapa warga desa kami) memiliki banyak jamaah yang aktif sampai sekarang,Ponpes beliau diseberang Bantaran Sungai madiun yang tiap tahun selalu membanjiri desa,tapi masjidnya nggak pernah kebanjiran
        Almarhum adalah kiyai yang memiliki banyak jamaah
        (Semoga Allah swt menempatkan beliau ditempat yang mulia bersama orang2 arif dan orang2 zahid dan para solihin)

      • benk al jaelani on said:

        Àlmarhum Mbah Dul atau Kh abdul wahab adalah mursyid tarekat naqsyabandiyah
        beliau dikenal masyarakat desa sebagai kiyai dan pemilik ponpes beliau

  26. trims, artikel nya bagus. izin copy ya..

  27. Andri al faqir on said:

    salam kenal semua saudaraku se-iman…….ana pengaggum syaikh ibn athaillah…..”keimanan’seseorang sukar ditakar oleh sejuta kata2…”
    salam gabung akhi..

  28. Komentar mas salman sangat arif dan indah dan semua yg punya hati nurani pasti akan setuju dengan itu.Hati Nurani dari Allah SWT.

  29. ada yg janggal dengan Artikel ini, kenapa???
    kita simak kutipan perkataan ibnu taimiyah menurut Artikel Diatas..

    (Awal kutipan)
    Ibn Taymiyah: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya”. Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya (Akhir kutipan)

    Bagaimana mungkin ibnu Taimiyah berkata dalam artikel ini “rasul saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya”. seperti kita ketahui ahli hadist dikalangan Ahlusunnah & Ibn Taimiyah menyebutkan bahwa hadist itu palsu
    Cek di link ini takhrijnya:
    http://opi.110mb.com/haditsweb/artikel/silsilah_hadits_hadits_masyhur_11.htm

  30. Rasa khusuk dalam sholat insya Allah akan kita rasakan jika kita juga bisa mengkhusukan seluruh kehidupan kita di luar shalat.

    How low can you go ?

  31. hamba Allah on said:

    Mohon setiap mengeluarkan artikel ditelusuri dulu sumber2 yang bersangkutan apakah dialog semacan ini benar2 ada apa tidak.

    Sumber infonya apakah cuma dari buku tersebut di atas.

    Mohon juga di cek profile pengarangnya, karena menularkan kesalahan yang tidak kita sadari.

    Mohon sedikit lebih berhati-hati.

  32. sudah jangan banyak2 bicara y, tar banyak juga salah y..
    Ada yg mau ikut ngaji bareng dg ku..?
    Kiai/guru sy insya Allah benar brdasarkan Al Qur’an dan Hadits..

  33. matursuwn mas….sudah menambah wawasan saya….bagi saya mereka adalah ulama2 besar karena saya kagum dengan ibn Taymiyah dengan pangdangnya yang tegas dan bersemangat, kemudian belajar tasawuf, setelah bertemu al hikam seperti mendapat pencerahan kembali…amiin. sekalian mohon ijinya untuk mengcopy…

  34. hidup adalah perbuatan

  35. Ping-balik: Hello world! | My Arsilbinzet

  36. muhammad sopian al-fasisiri on said:

    ulama besar aja tak ada yang berdebat, bahkan kalau mereka berjumpa mereka berpelukan’ tapi ustadz 2 sok tahu malah saling nyalahkan. kapan lagi kita bersatu ustadz, jangan gara2 ingin menaikkan ego kita, ustadz lain dijelekkan. saatnya untuk membangun karakter islam, islam rahmatan lil’alamiin. kamu tetap pada mazhabmu, aku tetap pada mazhabku, dia tetap pada mazhabnya. yuk berlomba ke syurga.

    • sebenernya dialog ini sungguh indah menggambarkan etika berdialog para intelektual, penuh hikmah, dalam pemikiran & kepahamannya, sehat, bersih dr dengki, ga gontok2an kyk org jaman skrg yg baru tau dikit udah so tau, bahkan sampe ngejelekin Ulama terdahulu… sayang sekali jika hikmah2 ini ga ketangkep, sungguh aneh pola pikir & kejiwaannya jika memang pencari kebenaran… harusnya hal seperti ini jd lirikan mata para pencari kebenaran, jd keharuan bagi org2 yg hidup hatinya, dan jadi petunjuk buat org2 yg memiliki niat lurus…harusnya satu frekuensi.

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: