Tasauf

SEPUTAR MASALAH MELIHAT ALLAH

Melihat Tuhan bukan hal yang asing bagi para pengamal tasawuf yang telah mendapat bimbingan Guru Mursyid Kamil Mukamil Khalis Mukhlisin dan telah mencapai maqam Ma’rifat. Sebagian besar tulisan yang ditampilkan di sufimuda tentang tasawuf  adalah hal-hal yang berkenaan dengan Ma’rifat, kalau anda baca Melihat Allah, Mimpi Berjumpa Rasulullah SAW, Surat Untuk Allah, Do’a Sufimuda adalah ungkapan-ungkapan betapa manisnya buah yang dihasilkan dari pohon Ma’rifat, disini kita tidak lagi membicarakan dalil-dalil bagaimana pohon itu tumbuh, cara merawatnya, pupuk apa yang cocok dan bibit mana yang bisa cepat menghasilkan buah yang manis dan ranum, kita hanya membicarakan tentang “rasa” dan pengalaman “merasakan”. Karena tasawuf adalah dunia rasa, sebagaimana ungkapan mereka, “Tidak tahu kalau tidak merasakan”. Kami tidak perlu tahu siapa Guru Mursyid yang membimbing anda, yang kami yakini adalah bahwa anda telah mencapai tahap ma’rifat, dan mari kita duduk bercengkerama di Surau Sufimuda membicarakan tentang buah ma’rifat yang amat manis dan harum, hanya bisa dirasakan oleh orang yang telah memiliki buahnya, dan tidak akan mungkin bisa dirasakan dengan membaca walau ditulis ribuan lembar, tetaplah tidak akan bisa mewakili manis dan nikmatnya buah ma’rifat.

Bagi anda yang belum pernah mendapat bimbingan dari seorang Guru Mursyid, akan tetapi punya keinginan untuk menemukan kebenaran lewat tasawuf silahkan anda membaca dalil-dalil yang berhubungan dengan thariqat di : 7 tanya jawab tentang thariqat, 7 tanya jawab tentang thariqat (lanjutan), definisi tasawuf, Berguru kepada Mursyid, Berwasilah kepada Mursyid dan Rabithah Mursyid dan silahkan bertanya kepada orang yang ahli dibidangnya.

Bagi anda yang sangat awam tentang thariqat, mungkin juga anti thariqat sebagaimana kami dulu, kami sangat memahami kondisi anda, apalagi selama ini mungkin anda telah membaca tulisan-tulisan dari orang-orang yang sangat benci kepada Tasawuf, seperti Borok-Borok Sufi karya ulama Wahabi, atau buku-buku yang menyerang tasawuf yang rata-rata ditulis bukan atas dasar keilmuan akan tetapi lebih kepada propaganda untuk menghancurkan Tasawuf guna menghambat orang-orang yang ingin menemukan kebenaran. Silahkan anda baca disini , disini  dan disini

Setelah kami tampilkan tulisan Bisakah Melihat Allah?, banyak sekali komentar-komentar yang masuk baik yang mendukung maupun yang mengingkari dan mempertanyakan, mungkinkah kita bisa melihat Allah didunia? Dan tentu orang-orang yang tidak meyakini bahwa Allah bisa dilihat didunia ini juga mempunyai dalil yang sangat mendukung, oleh karena itu kuranglah bijak rasanya kalau kami tidak menampilkan semua dalil, baik dari kalangan yang mendukung maupun yang mengingkari, kami mengutip tulisan tentang melihat Allah dari buku : Jalan Menuju Ma’rifatullah dengan tahap (7M) karya ust. Asrifin S.Ag Penerbit “Terbit Terang Surabaya” (hal 259-268), semoga bermanfaat untuk kita semua.

Ma’rifat yang sebagai upaya seorang hamba untuk mengenal secara hakiki kepada tuhannya, maka dalam permasalahan ma’rifat ini ada suatu persoalan seputar “Bisakah seorang hamba itu melihat dengan matanya kepada Allah? Bisakah manusia yang bersifat fana itu melihat kepada Dzat Qodim? Walau dengan mata hatinya, bisakah manusia yang selalu terjerat dalam lingkaran keihsanan itu melihat Allah yang memang secara dzatnya itu berbeda?”

Ada tiga pendapat mengenai masalah melihat Tuhan ini yaitu:

 

1. Allah tidak dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat

Pendapat yang demikian ini terutama diwakili oleh satu golongan yang ada dalam golongan teologi (ilmu kalam) yaitu golongan mu’tazilah. Golongan ini menandaskan bahwa Tuhan tak akan pernah mungkin bisa dilihat. Ketidakbisaan Tuhan dilihat oleh manusia baik kelak di akhirat, apalagi di dunia. Golongan inimemberikan satu alasan bahwa selagi manusia itu masih dalam lingkaran keihsanan tidak akan pernah mungkin untuk melihat satu Dzat yang “Laisa kamislihi sya’un”. Golongan ini selalu beralasan pada firman Allah sendiri yang menyatakan sebagai berikut:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).

Selalu, ayat tersebut dijadikan sebagai argumentasi untuk memperkuat pendapat bagi kaum mu’tazilah dan tanpa melihat lagi atau mengkaji dan membanding-bandingkan dengan ayat lain yang menerangkan kebalikannya. Mungkin masalah melihat Tuhan ini terlalu irasional bagi mereka yang sejak semula memang selalu mengandalkan akal, sehingga mereka  pun selalu meyakini bahwa mustahil Allah itu dapat di lihat oleh manusia di akhirat kelak, apalagi di dunia. Ada satu sindiran yang disampaikan oleh Syekh Allamah Al-Qori menanggapi pendapat kaum mu’tazilah tersebut yaitu:

“Orang mukmin melihat Tuhannya, tanpa bentuk tanpa umpama. Nikmat lain tiada arti, dibanding melihat Ilahi Rabbi, kaum mu’tazilah yang rugi seribu rugi.”

 

2. Allah dapat dilihat di akhirat

Satu pendapat yang menyatakan bahwa Allah bisa dilihat kelak di akhirat adalah berdasarkan ayat dan hadits-hadits sebagai berikut:

“Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu, mereka pada melihat Tuhannya.”

Dalam sebuah hadits diterangkan:

“Dari Abu Hurairah ra. Seungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya, “ya, Rasulullah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita pada hari kiamat?” maka Rasulullah menjawab, “Sulitkah kamu melihat bulan di malam bulan purnama?”

Para sahabat berkata, “Tidak, ya Rasulullah.” Rasul berkata lagi, “Apakah kamu sulit melihat matahari di waktu tanpa awan? Sesungguhnya kamu akan Melihat Tuhan seperti itu.”

Dalam sebuah riwayat yang lain, yaitu dari Imam Turmudzi, dari Umar ra., bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya kedudukan surga yang paling rendah adalah penghuni surga yang melihat surganya, istrinya, pembantunya dan pelaminannya dari jarak perjalanan seribu tahun. Dan penghuni surga yang paling tinggi di antara mereka adalah yang melihat Allah setiap pagi dan petang. Kemudian Rasulullah membaca, “Wajah-wajah di hari itu penuh keceriaan memandang Tuhannya.”

 

3. Allah dapat dilihat di dunia dan di akhirat

Pendapat yang mengatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, pertama-tama menandaskan pada landasan ajaran Nabi tentang “ihsan”, yaitu:

“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Sabda Nabi tentang teori ihsan ini bila dilacak dari segi ilmu bahasa akan mempunyai pengertian sebagai berikut: perkataan “KAANNA” sesungguhnya terdiri dari dua unsur kata, yaitu “KA” dan “ANNA”. Dalam teori bahasa “KA” disebut harfut tamtsil (huruf yang berfungsi untuk kata perumpamaan). Sedangkan kata “ANNA” adalah huruf yang berfungsi untuk menguatkan (lit ta’kid) yang dalam arti bahasa Indonesia diartikan dengan “sungguh/sesungguhnya”. Dengan demikian jika kata tersebut “KAANNA” digabung menjadi satu, maka akan berarti “ seperti sungguh-sungguh”. Perkataan Nabi “seperti sungguh-sungguh engkau melihat-Nya” bukan menunjukkan arti hanya “seakan-akan” yang tidak punya kemungkinan untuk melihat, tetapi sebaliknya perkataan itu malah menunjukkan kemungkinan bahwa Allah bisa dilihat. Hal yang senada pun ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya sembahyang itu memang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya.”

Selain ajaran tentang ihsan tersebut, argumentasi lain yang dijadikan sebagai landasan pendapat bahwa Allah itu dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada masalah kisah Nabi Musa yang menginginkan melihat Tuhannya, dimana kisah tersebut telah diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surat Al-A’raf, ayat 143 sebagai berikut:

“Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, maka berkatalah Musa, “Ya, Tuhanku, nampaklah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Tuhan berfirman, “kamu tidak akan dapat melihat-Ku tetapi lihatlah bukit itu, maka bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. “tatkala Tuhan tajalli/nampak pada bukit itu, kejadian itu menjadikan bukit hancur dan Musa pun pingsan. Setelah Musa sadar kembali dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama kali beriman (percaya).” (QS. al-A’raf: 143).

Kisah tentang permintaan Nabi Musa untuk bisa melihat Tuhannya sebagaimana diabadikan dalam ayat tersebut, bila diteliti lebih mendalam sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan kasus cerita yang dialami Nabi Ibrahim ketika memohon kepada Tuhannya untuk berkenan diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan seseorang yang sudah mati. Menanggapi permintaan Ibrahim tersebut Allah menjawab dengan satu perkataan, “Afalam tu’min (apakah kamu tidak percaya) ?” Seakan-akan Allah ragu dengan keimanan dan kepercayaan Ibrahim bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha segala-galanya, yang sanggup untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Apa jawaban Ibrahim pada waktu itu adalah “ Liyathma’inna qalbi”, yang seakan-akan Ibrahim berkata, “tidak Tuhanku. Bukannya aku tidak iman dan mempercayai-Mu. Tetapi permintaan ini aku lakukan supaya lebih mantap keimanan dan kepercayaanku kepada-Mu”, maka Allah pun mengabulkan permohonan Ibrahim.

Permintaan Ibrahim sesungguhnya mempunyai kesamaan dengan permintaan Musa. Jika Ibrahim meminta kepada Allah agar Dia berkenan menunjukkan bagaimana cara menghidupkan orang mati, maka Musa meminta kepada Allah agar Dia sudi menampakkan diri supaya Musa dapat melihat-Nya. Memang, Allah tidak mengatakan “Afalam tu’min” kepada Musa sebagaimana yang pernah Dia firmankan kepada Nabi Ibrahim. Tetapi Allah malah menyuruh Musa untuk melihat sebuah bukit. Jika bukit tersebut masih tetap sedia kala, maka Musa akan dapat melihat kepada-Nya.

Sama halnya dengan permintaan Ibrahim yang langsung dikabulkan oleh Allah, maka demikian pula pada permintaan Musa untuk bisa melihat Tuhannya. Dalam kisah Nabi Musa, memang dia tidak mengatakan “Liyathma’inna qalbi” yang artinya Musa memohon kepada Allah untuk dapat melihat Tuhannya itu supaya Musa lebih mantap keimanan dan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi setelah kejadian itu, dimana Allah telah tajalli/menampakkan diri kepada Musa yang menjadikan bukit hancur dan Musa sendiri pingsan, maka setelah dia sadar dari pingsannya, baru dia mengatakan “Ana awwalulmu’minin”, saya orang pertama beriman. Beriman disini mempunyai arti percaya. Percaya kepada apa ? Yaitu percaya bahwa Allah itu benar-benar maujud dan Allah itu telah menampakkan diri-Nya dan mempercayai bahwa Allah bisa dilihat.

Sehubungan dengan masalah kisah Nabi Musa sebagaimana di atas, ada beberapa pendapat yang mencoba untuk memberikan penafsiran tentang hal itu yang di antaranya adalah dari Qurthubi yang mengatakan :

“Melihat Allah SWT. Di dunia adalah dapat diterima oleh akal, kalau sekiranya tidak bisa, maka tentulah permintaan Musa. as. Untuk bisa melihat Tuhan adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi musa tidak meminta hal ini , ini pun bisa terjadi dan bukan suatu hal yang mustahil.” (Al-Jami’ul Ahkamul Qur’an).

Selanjutnya, Ibnu Qoyyim pun berkata:

“Bahwa sesungguhnya permintaan Nabi Musa akan melihat Allah adalah menunjukkan atas kemungkinan. Karena sesungguhnya seorang yang berakal, apalagi seorang Nabi tidak akan meminta hal-hal yang mustahil.”

Selain kedua pendapat tersebut, dalam kitab Kawasyiful Jilliyah disebutkan sebagai berikut:

“Adapun firman Allah SWT.: ‘Tatkala Tuhan tajalli/tampak nyata pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur.’ Maka apabila Allah bisa tajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, maka kenapa tak mungkin Allah tajalli pada Rasul-rasul-Nya dan Wali-wali-Nya?”

Satu hal yang perlu ditandaskan di sini, sebelum satu argumentasi lagi disebutkan untuk mendukung pendapat yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di dunia maupun di akhirat, adalah yang dimaksud dengan Allah dapat dilihat di sini adalah bukan dengan pandangan mata telanjang tetapi dengan pandangan mata batin. Sebagaimana keterangan pada bab-bab yang terdahulu, sesungguhnya pandangan mata indera sangatlah terbatas sehingga dengan demikian sudah tentu tak akan sanggup untuk bermusyahadah kepada Allah. Hanya mata batinlah yang mempunyai kesanggupan untuk bermusyahadah kepada-Nya. Dan hal ini adalah merupakan kesepakatan kebanyakan ulama tasawwuf. Umumnya mereka berpendapat tentang mata batin ini sebagaimana berikut:

“Apabila ruhaniyah telah menguasai bashirah, maka mata indera akan berlawanan dengan mata batin, mata indera tidak akan dapat melihat, kecuali pengertian-pengertian yang hanya terlihat oleh mata batin.”

Dari keterangan di atas, ketika mata indera tidak mempunyai kesanggupan untuk menjangkau pandangannya, maka mata batinlah yang nanti mempunyai kesanggupan untuk menembusnya. Berhubungan dengan masalah mata batin ini pula sebagian ulama tasawwuf pun ada yang mempunyai pendapat bahwa dalam mimpi pun ternyata seseorang bisa bermusyahadah dengan Allah. Mengenai hal ini terdapat satu keterangan dalam kitab Shirajut Thalibin sebagai berikut:

“Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian ulama sufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan.”

Terlepas dari permasalahan dalam mimpi melihat Tuhan atau tidak, yang jelas satu argumentasi lagi yang perlu dikemukakan untuk memperkuat pendapat bahwa Allah dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat adalah pada kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW. Di mana pada saat Nabi Isra’ Mi’raj Nabi benar-benar melihat Allah, sehingga seorang sahabat, yaitu Hasan bin Ali berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas yang oleh Imam Nawawi diterangkan sebagai berikut:

“Kesimpulannya, sesungguhnya rajih (alasan yang paling kuat) menurut sebagian besar ulama bahwa Rasulullah melihat Tuhannya dengan nyata/mata pada malam Isra’ Mi’raj berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas dan lain-lain.”

Dari beberapa argumentasi dan bukti-bukti baik dari Al-Qur’an maupun Hadits dan pendapat ulama yang dijadikan sebagai landasan atas pendapat yang terakhir ini, Ibnu Taimiyah, seorang yang dikenal sebagai pembaharu islam yang mengikuti aliran rasionalis yang juga banyak memberikan kritikan terhadap dunia tasawwuf memberikan satu kesimpulan dalam bentuk satu Qa’idah sebagai berikut:

“Dan dari persoalan tentang melihat, sesungguhnya tiap-tiap yang maujud itu sah dilihat.”

Berdasarkan satu Qa’idah tersebut dapat dijelaskan bahwa semua apa yang bersifat maujud (ada) sesungguhnya masih dapat dan sah untuk dilihat, sedangkan Allah sendiri adalah Wajibul Maujud (wajib ada), maka sudah barang tentu masih membuka kemungkinan untuk bisa dilihat. Wallahu a’lam!    

83 Comments

  • Adinata

    Maha Suci Allah, Dzat Yang Maha Sempurna dan Yang Tak Satupun MenyamaiNya.
    Terima Kasih atas sajian ini sufimuda. Sungguh sangat membantu saya dalam mendiskusikan hal melihat Allah dengan teman2 lain.
    Dan saya sangat senang dan salut didalam tulisan ini anda memuat referensi yang imbang dari yang percaya (saya sekarang) maupun yang tidak percaya (saya yang dulu). Akal saya sekarang tambah terpuaskan dengan tulisan anda diatas.
    Semoga saya mendapat ijin dan bimbingan Nya agar juga bisa memuaskan akal teman-teman lain yang belum percaya, sehingga kami bisa bersama-sama menikmati keindahan melihat Tuhan.

    Amiin.

    Note: diatas ada tulisan:
    “Jalan Menuju Ma’rifatullah dengan tahap (7M) karya ust. Asrifin S.Ag Penerbit “Terbit Terang Surabaya” (hal 259-268) ”
    tapi karakter 8) berubah jadi icon smily. mungkin setelah angka 8 perlu dikasih spasi agar jelas.
    Ma’af , cuma saran.

  • Adinata

    wah,,, berubah jadi smily juga ya? hehehehe,, bodoh aku >)

    Maksudnya hal 268 ), ada spasi antara angka 8 dan tanda kurung tutup

    thanks

  • sri astuti

    ada suatu hadits mengatakan kemana pun kau memandang atau menghadap di situlah wajahku.saya menyimpulkan bahwa Allah bisa dilihat bagi yang yaqin untuk bisa melihat Allah SINGKAP TIRAI YG ADA pada diri. lepaskan segala keakuan diri tidak ada yg ada hanya allah. bersambung……….

  • BabaliciouS

    Maha Suci(?) 4JJI tidak akan pernah bisa dilihat oleh manusia selama physical-context yg dijadikan acuan, baik di dunia maupun akhirat. Pun begitu, Dzat ini bisa ditangkap-cerap (dlm konteks nonvisual tentunya) oleh semua manusia yg mampu berpikir sejernih hatinya dan mampu merasa secerdas otaknya.

    Assalaam,
    baba

  • sufimuda

    Selamat datang di sufimuda saudaraku Babalicious…
    Kalau menurut anda Allah tidak bisa dilihat di dunia dan akhirat, itulah pilihan anda, dan teruskan saja….

    Secerdas apapun otak manusia tidak akan bisa menjelaskan tentang esensi Zat Yang Maha Agung…
    Karena otak mempunyai dimensi yang rendah, karena itu Allah SWT melaang kita memikirkan zatnya :
    “Janganlah engkau pikirkan zat-Ku, tapi pikirkanlah ciptaanKu”

    Penyaksian Zat Yang Maha Agung (mukasyafah) adalah titian akhir setelah melewati maqam-maqam ruhani, setelah bermujahadah dalam zikir.

    Tidak bisa kita memakai kecerdasan otak, semua Karunia itu kita dapat lewat hati… hati yang telah disinari cahaya-Nya, hanya cahaya-Nya yang bisa sampai kepada zat-Nya.

    Ada sebuah hadist yang tidak saya cantumkan di artikel ini yaitu :
    Dari Jubair Bin Abdullah Al-Bajli berkata: “Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah, ketika itu Rasulullah melihat ke ulan Purnama pada malam empat belas, seraya Beliau bersabda : bahwa sesungguhnya kamu sekalian akan melihat Tuhan secara kenyataan sebagaimana yang engkau lihat ini (Bulan Purnama)”. (Shahihul Bukhari dan Muslim).

    Akhirnya…
    Jangan terlalu pusing memikirkan bentuk listrik, lihat lah kawat, sesungguhnya listrik itu telah hampir bersama dengan kawat, mudah-mudahan anda bisa menyaksikan kebesaran listrik pada kawat.

    Kalau mata anda silau melihat matahari, maka lihatlah bulan, karena cahaya bulan adalah pancaran dari cahaya matahari

    Salam

  • BabaliciouS

    Ah, andainya anda bisa meluangkan waktu sejenak saja untuk lepas dari textbook, yg nota bene sebatas kontekstual, dan memasuki renungan praktikal…

    Makrifat dan dunia sufi; bukankah sudah seharusnya masuk dlm maqam rohani yg bnyk orang bilang sbg ‘free spirit’ dan bukan pengekor tauladannya? Bukan apa2, saya cm seorang pithecus yg ‘kebetulan’ pernah bertemu langsung dgn beberapa homo primera sanctus di alam seberang serta bercakap-bincang tentang esensi kehidupan serta apa yg dimaksud dgn tuhan. Silakan browsing blog beingism saya utk ref lbh lanjut. Dan ya, maaf, saya sudah pernah melihat tuhan –berulang kali.

  • Muslem Gaul

    iya…… kecuali “di lokasi kita duduk ada atap rumah yang tidak transfaran” maka bulan itupun akan lenyap kembali sampai matahari akan kembali muncul 🙂

  • BabaliciouS

    Maaf, bukannya lebih baik langsung melihat matahari (apabila kita mampu) daripada menunggu datangnya bulan purnama? Al Furqon menjelaskan bahwasanya diantara manusia dan jin, siapa saja, yg mempunyai ‘pembeda’ diantara kaumnya maka bisa berpelesir menembus langit (dlm konteks ini anda menyebutkan atap rumah)? Muhammad pun mengamini hal tsb, saya rasa.

  • 10

    “MAN AROFA NAFSAHU FAKOD AROFA ROBBAHU” begitulah barangkali sebuah ayat yang dapat mewakili dari semuanya tp harus di pahami dgn makna dhohir bathin bukan dhohirnya saja maupun sebaliknya d artikan batinya saja ya ndak bisa dong!( bukan begitu MAS SUFI MUDA) jangan hanya melihat aja….? jadilah seperti IKAN di dalam AIR? ketika kamu melihat apa yang engkau lihat terlebih dahulu? ketika kamu berkata kebenaran siapa yang berkata? hendaknya pelajarilah IKANnya dahulu secara benar Lalu pelajarilah hakikatnya AIRnya secara benar ? saya Alhamdulillah tidak saja melihat tapi berenang pada Air tersebut. oh iya kapan dong membahas BISMILLAHIRROCMANNIRROCHIM( 10=01) saya juga punya pengalaman menarik untuk di diskusikan

  • Dono.

    Ass.wr.wb,pak sufimuda,
    Saya ada pengalaman sedikit mengenai hal ini pak sufimuda,
    Kejadian ini terjadi pada diri saya kira-kira 8th yang lalu.
    Saya sedang tidur-tidur ayam disiang hari , tiba-tiba saya diangkat dibawa kelangit,dalam sekejap mata ,saya dalam keadaan berdiri dan menghadap seperti saya sedang sholat,dalam keadaan tunduk dan saya disitu dikelilingi cahaya, seketika itu juga saya dengar suara yg sangat lemah lembut,mengatakan :
    -ingat selalu padaKU
    -sayang pada kedua orang tuamu
    -hormati sesamamu
    -jangan engkau adili manusia, walaupun mereka menyakiti hatimu,sesungguhnya seluruh pengadilan berada di tanganKU
    -jangan engkau tersesat
    -bersabarlah menerima takdirku
    Saya dalam keadaan amat sedih dan menangis disitu
    Saya coba lihat keatas tetapi amat berat, tetapi saya paksakan juga, akhirnya saya lihat cahaya di atas cahaya yg penuh dengan kedamaian dan kebahagian.
    Lantas suara tersebut yg diseliputi cahaya :
    Jika engkau menurut perkataanKU engkau akan bahagia.

    Tiba-tiba saya terbangun dengan airmata yg bercucuran.

    Inilah pengalaman saya yg pertama, menuju yg berikutnya.

    Salam damai dan sejahtera.

  • sufimuda

    Mas Dono…

    Pengalaman Ruhani yang anda alami sangat menarik, karena dulu sebelum masuk thariqat juga mengalami hal-hal gaib yang mirip seperti itu.

    Saya bisa melihat syurga dan neraka, setelah saya bertemu Guru Mursyid ternyata pandangan saya melihat syurga dan neraka itu adalah tipuan jin.

    Umur 12 tahun saya sudah bisa mengobati orang, setiap saya mau mengobati datang sosok oang tinggi besar bersurban dan berjanggut serta berjubah putih, orangnya sangat berwibawa yang saya yakini itu adalah Syekh Abdul Khadir, ternyata kemudian baru saya tahu itu semua adalah tipuan.

    Saya selalu dibisikkan tentang hal-hal rahasia, termasuk kalau ada benda orang lain hilang saya bisa langsung tahu, ada yang membisikkan ke telinga saya.

    Umur 14 tahun saya di datangi juga oleh sosok wajah yang sangat berwibawa, tapi ini lebih muda, saya melihatnya samar-samar dan selalu memberikan petuah yang baik-baik kepada saya.

    Saya selalu ditemaninya, telah menjadi “sahabat” dekat saya, kalau ada yang mau menyakiti saya maka saya lapor kepada “sahabat” saya itu, dan orang yang menyakiti langsung kena penyakit.

    Bagitulah pengalaman ruhani saya dulu, kebetulan dari garis keturunan ayah dan ibu saya adalah orang-orang sakti.

    Setelah saya berjumpa Guru Mursyid barulah saya tahu ternyata tipuan jin itu sangat halus.
    Syekh Abdul Qadir Jailani pernah di datangi oleh sosok yang menyebut dirinya Allah, menyuruh beliau untuk tidak melaksanakan syariat, akhirnya beliau melempar sosok tersebut dengan sandal, karena beliau punya ilmu yang membedakan antara jin dan malaikat…

    Jadi, menurut saya ada baiknya mas dono mendiskusikan hal ini dengan orang-orang yang ahli di bidangnya agar mendapat arahan…

    Saya yakin pengalaman mas dono itu sebagai bukti bahwa mas dono punya bakat spiritual yang luar biasa, sangat bagus sekali ada yang membimbing mas dono sehingga bakat ruhani itu bisa terasah lebih terampil dan terarah lagi…

    Salam

  • sufimuda

    Saya berdo’a semoga Mas Dono bisa bertemu dengan seorang Guru Mursyid yang Kamil Mukamil, yang bisa membawa ruhani mas dono ke alam Muraqabah, alam di mana disitu yang ada hanyalah Nur-Nya, yang ada hanyalah wajah-Nya sebagaimana Firman Allah, : “dimanapun kamu memandang disitulah WAJAH ALLAH”

    itu semua tidak di dapat dengan sim salabin, tapi harus dengan bimbingan dan arahan serta pelatihan yang tepat.

    Pelatihan ruhani yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an adalah melalu Suluk…
    Pekerjaan suluk adalah pekerjaan yang dilakukan oleh nabi SAW di gua hira…

    Salam Damai Selalu

  • Dono.

    Ass.wr.wb,pak sufimuda.

    Beberapa bulan yg lalu, datang seorang yg sama sekali tidak beragama kepada saya,katanya pak saya ingin masuk islam,lantas saya jawab beliau,kenapa kamu mau masuk islam?
    Jawabnya saya melihat kebenaran di Alquran.
    Baiklah, kata saya.
    Saya jelaskan dia rukun islam dan rukun iman dan sebagainya.
    Saya masukan dia InsyaAllah ke agama islam dan saya ajarkan dia sholat dsb.
    Sekarang insyaAllah beliau sudah dapat melaksanakan sholatnya sambil belajar beragama.
    Pada suatu hari beliau mengajak saya, ke pusara ayahnya, katanya ingin berziarah.
    Setiba kami di pusara ayahnya, berkatalah almarhum ayahnya kepada bathin saya, bukan di telinga saya.
    Tolong sampaikan kepada anakku,bahwa aku bersyukur, karena dia telah beragama yg diridhoi, dan tolong sampaikan juga,bahwa aku memohon maaf padanya karena aku tidak pernah mengurus dia dan membesarkan dia sebagaimana mestinya seorang ayah berikan pada anaknya dan sampaikan juga, tolong doakan untuk aku, karena aku berada di antara langit dan bumi, tidak ada tempat untukku.
    Setelah pulang dari pusara, saya ceritakan hal ini pada beliau, beliau langsung nangis disitu dan berkata apa yg bapak sebut adalah benar.
    Lantas kata saya : anda masuk islam adalah suatu petunjuk dari Allah S.W.T, jadi peganglah agamamu dengan baik.

    Wassalam dan salam damai,

  • sufimuda

    Wa’alaikum salam mas dono
    Sungguh mulia apa yang mas dono lakukan, mudah-mudahan segala kebaikannya akan di balas oleh Allah SWT, dakwah itu kan tidak hanya dengan ceramah di Mesjid, yang paling bisa penting adalah sikap kita yang bisa menyentuh perasaan orang lain seperti yang mas dono lakukan

    Salam

  • hydayat

    Subhanallah….bahasannya mengena,saya suka membaca karangan2 tentang syeck siti jenar.Secara garis besar ajarannya hampir sama antara sang syeck dengan ajaran sufi.
    Karena politik semua menjadi terkaburkan,wahai sufi muda terkadang aku bingung…aku pernah bermimpi tentang Nabi Muhammad SWA apakah aku sedang bnerbaohong ataukan sebuah kebenaran ….bagaimana menguji kebenaran itu?

  • sufimuda

    Makasih mas hydayat udah mampir disini,
    Semua muslim punya kesempatan bermimpi dengan Rasulullah, agar kita bisa memastikan apakah yang datang itu Nabi atau yang lain disinilah perlu adanya pembimbing rohani yang disebut Mursyid.
    Mursyid yang memberikan petunjuk siapa yang datang dalam mimpi kita…

    salam

  • truthseeker

    @sufimuda
    Salam kenal mas sufimuda.
    Ada bbrp hal yg saya masih belum clear:

    1. Selalu, ayat tersebut dijadikan sebagai argumentasi untuk memperkuat pendapat bagi kaum mu’tazilah dan tanpa melihat lagi atau mengkaji dan membanding-bandingkan dengan ayat lain yang menerangkan kebalikannya.

    Saya waktu membaca sampai disini sebetulnya mengharapkan sufimuda dpt menyuguhkan ayat yg mendukung pendapat mas, tp sampai akhir tulisan hanya hadits yg saya dapatkan. Kemudian ada kegelisahan saya pd waktu mas menyatakan ayat yg lain yg menerangkan kebalikannya, itu tdk mungkin krn Allah menjamin bhw tdk ada kontradiksi dlm AQ.
    Karena, bagi saya QS: Al-An’aam tsb adalah ayat yg sangat jelas dan terang benderang. Sedangkan claim2 ttg mata kita bisa melihat Allah SWT hanyalah claim2 yg sangat lemah yaitu dr pengakuan2 yg tdk pernah bisa dibuktikan. Kmd ttg hadits2 yg disampaikan pun tdk ada yg menyatakan dg tegas (setegas ayat tsb) bhw mata kita mampu melihat Allah SWT. Apalagi bagi kita yg mengerti cara kerja mata, dimana apa2 yg dilihat oleh mata adalah harus berupa materi + cahaya.

    2. “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

    Seakan2.., bukankah sangat jelas bhw kita hanya bisa sampai seakan2?, Bagi saya hadits ini hanya semakin menguatkan bhw Allah SWT tdk dapat dilihat oleh mata kita.

    3. “Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, maka berkatalah Musa, “Ya, Tuhanku, nampaklah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Tuhan berfirman, “kamu tidak akan dapat melihat-Ku tetapi lihatlah bukit itu, maka bila bukit itu tetap di tempatnya (seperti sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. “tatkala Tuhan tajalli/nampak pada bukit itu, kejadian itu menjadikan bukit hancur dan Musa pun pingsan. Setelah Musa sadar kembali dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama kali beriman (percaya).” (QS. al-A’raf: 143).

    Satu lagi ayat yg bukannya menguatkan pendapat mas sufimuda, ttp malah menguatkan pendapat bhw kita (bhkn Nabi Musa & bukitpun) tdk dapat melihat Allah (harap lihat tulisan yg sy tebalkan).

    Saya ingin penegasan yg mas mksdkan dg mata itu apakah mata batin?. Jika ya maka mas hrs lebih berhati2 menggunakannya, krn setiap mas memaksudkan kpd mata batin maka harus disempurnakan kata2nya jangan dipotong hanya mata, krn jika hanya mata maka sah utk dipersepsikan sbg mata inderawi.
    Jika mas sufimuda bisa seenaknya menggunakan kata mata kadang sbg mata inderawi dan terkadang sbg mata batin, kmd bagaimana mas bisa menyimpulkan bhw yg dimksd oleh mu’tazilah adalah mata batin, bisa saja mrk menyatakan yg tdk bisa melihat Allah adalah mata inderawi.

    Wassalam

  • sufimuda

    Salam kenal kembali truthseeker, makasih udah mampir dan memberikan komentar di sufimuda.

    Persoalan Melihat Tuhan dikalangan syariat merupakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, tergolong masalah yang sensitif dan sangat hati-hati, akan tetapi suatu hal yang biasa dalam Ilmu Tasawuf di khususkan lagi dalam Ilmu Thariqat sebagai ilmu untuk mempraktekkan ajaran Tasawuf.

    Al-Qur’an sebenarnya tidak pernah ada ayat yang saling bertentangan, akan tetapi penafsiran terhadap ayat-ayat Al Qur’an justru akan menimbulkan pertentangan.
    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).
    Dalam ayat tersebut Cuma disebutkan tidak bisa dicapai dengan penglihatan mata, dan tentu harus kita tafsirkan lagi mata siapa saja yang tidak bisa melihat DIA, apakah itu berlaku untuk semua mata? Dalam ayat tersebut tidak disebut mata orang beriman, mata orang taqwa, Cuma mata secara umum, dan memang benar sekali Allah tidak akan bisa dijangkau oleh penglihatan mata orang yang belum terbuka hijabnya.
    “Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap disitulah WAJAH ALLAH.”
    Ayat itu turun (asbabul nuzul) berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat, sehingga mereka shalat ke arah yang berbeda-beda.
    Akan tetapi dalam kajian Tasawuf ayat ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa seseorang bisa melihat “Wajah Allah”
    “Dan sesungguhnya benar-benar kamu akan melihat dengan mata/Ainul Yaqin” (Q.S. At-Takasur: 7)
    Dalam satu hadist nabi menegaskan bahwa Allah tidak bisa dilihat akan tetapi dalam hadist yang lain Beliau memberitahukan bahwa kita dapat melihat Allah sebagaimana kita melihat bulan Purnama,
    Hadist ini sebenarnya tidak bertentangan, Cuma kepada siapa nabi menyampaikannya, bukankah setiap ilmu disampaikan menurut tingkatannya masing-masing.
    Imam Al-Ghazali memperjelas tentang makna makrifat, Beliau mengatakan :
    “Ma’rifat adalah memandang kepada wajah Allah swt”
    Sebagian besar ahli sufi ada pula yang mengatakan,
    “Hakekat makrifat adalah Musyahadah (penyaksian) kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bagaimana dan tanpa serupa”
    Satu pengalaman yang bisa mendukung akan hal ini adalah yang pernah terjadi pada diri Amirul Mukminin, Ali Bin Abi Thalib r.a. ketika ditanya, “Wahai Amirul mukminin, apakah engkau menyembah yang engkau lihat atau yang tidak engkau lihat?”
    “Tidak, bahkan aku menyembah yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tapi penglihatan qalbu” jawab Ali.
    Satu kisah yang lain dapat disampaikan disini adalah ketika Ja’far as-Shaddiq ditanya, “Apakah anda melihat Allah swt?”
    Beliau menjawab,”Aku tidak menyembah Tuhan yang aku tidak melihat-Nya!”
    Imam Al-Ghazali bermimpi bertemu dengan Allah sebagaimana juga Nabi Ibrahim bermimpi dengan Allah, pertanyaannya bagaimana Nabi Ibrahim tahu yang datang adalah Allah kalau sebelumnya Beliau tidak Makrifat, tentu sebelum bermimpi beliau telah terlebih dahulu Bermakrifat kepada-Nya.
    Melihat Tuhan akan terjadi apabila seseorang telah dibukakan hijab (batas antara hamba dengan Tuhan), proses itu tidak terjadi dengan membaca, akan tetapi melalu bimbigan seorang Guru Mursyid.

  • sufimuda

    Maqam IHSAN bukan merupakan maqam yang tertinggi, karena dalam maqam IHSAN kan masih seolah-olah, masih spekulatif.
    Untuk bisa sampai ke tahap makrifattullah (menyaksikan wajah Allah), harus melalui tahapan-tahapan :
    1. Harus mempunyai seorang pembimbing rohani, harus mempunyai seorang Guru Mursyid yang kamil mukami, untuk membimbing kita ke alam rohani, kalau tidak mempunyai Mursyid sangat berbahaya karena alam rohani itu sangat halus.
    2. Kepada kita di ajarkan zikir (menyebut nama Allah) dengan cara yang benar, harus lewat QALBU dan tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu dimana letak Qalbu, dari sanalah awalnya kita mengadakan kontak langsung dengan Allah. Kemudian melewati 70.000 rasa yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata.
    3. Harus melalui proses pembersihan, dalam riwayat nabi Muhammad terlebih dahulu dibedah dadanya, dalam pengertian tasawuf bukan dibedah memakai pisau, akan tetapi itu adalah kiasan, memasukkan yang HAQ (Nur Allah) sehingga akan keluar sifat-sifat syetaniyah dari dalam badan kita. Sifat-sifat syetaniah, nafsu dan hal-hal buruk lainnya dalam hati kita itulah yang menyebabkan terhalangnya Cahaya Allah masuk, dengan demikian kita tidak akan pernah menyaksikan kebesaran-Nya. Hati laksana sebuah cermin, apabila kotor maka dia tidak akan bisa memantulkan cahaya.
    4. Masuk ke MAQAM IHSAN (seolah-olah melihat Tuhan), pada tahap ini seorang Murid belum bisa bermusyahadah,
    5. MAQAM MURAQABAH, berzikir di alam Tuhan, di mana sekeliling seorang Murid telah diliputi oleh cahaya Allah, telah melewati ALAM JABARUT, ALAM MALAKUT dan telah sampai kepada ALAM RABBANI. Di ALAM RABBANI kita bisa menyaksikan WAJAH ALLAH, menyaksikan dengan pandangan mata hati yang telah dibukakan Hijab oleh Allah SWT.
    6. MAQAM FANA, seorang murid mengalami pengalaman luar biasa, menyaksikan keindahan-Nya, pengalaman ini disebut FANa atau FANABILLAH.
    7. MAQAM BAQA, seseorang telah terus menurus disertai oleh Allah, telah terus menerus bersama Allah, inilah MAQAM PARA AULIYA ALLAH, yang telah mencapai tahap KULLU JASAD.

    Penyampaian di atas adalah sebuah gambaran teknis, tentu pelaksanaan itu semua harus dibawah bimbingan seorang Guru Mursyid dengan Kurikulum Thariqat yang sangat luar biasa.
    Demikian penjelasan saya, mudah-mudahan berkenan, apakah seorang meyakini Allah bisa dilihat atau tidak bukanlah persoalan yang harus diperdebatkan. Saya lebih senang ini menjadi bahan renungan kita bersama, Semoga kita semua diberi bimbingan oleh Allah SWT.

    Terimakasih sekali truthseeker atas komentar dan pertanyaan,

    Wasalam

  • sufimuda

    “Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap disitulah WAJAH ALLAH.” (AL-BAQARAH: 115)

  • truthseeker

    @sufimuda
    Salam kenal juga sufimuda.

    “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 103).

    Mas sufimuda, ayat ini jelas2 menyatakan bhw Allah tdk dapat dilihat oleh penglihatan mata (telanjang), gak usah/jangan diplintir lagi, kalau mmg ada mata yg bisa melihat maka Allah akan sebutkan pengecualian tsb. Namun tentunya msh terbuka kemungkinan utk bisa dilihat dg (mata) batin.

    “Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap disitulah WAJAH ALLAH.”
    Ayat itu turun (asbabul nuzul) berkenaan tentang suatu kaum yang suatu ketika tidak dapat melihat arah kiblat, sehingga mereka shalat ke arah yang berbeda-beda.

    Mas sufimuda, Asbabun Nuzul itu akan selalu berkaitan dg kejadian pd saat itu bkn pd yg akan datang (walaupun tentu bisa ditafsirkan utk kejadian akan datang). Yg saya tahu Asbabun Nuzul yg diakui ada 2, yaitu ktk Rasulullah shalat sambil naik unta, shg kiblat berubah2. dan ttg masalah kiblat ke Yerussalem yg akhirnya dipindahkan ke Makkah… :).

    “Dan sesungguhnya benar-benar kamu akan melihat dengan mata/Ainul Yaqin” (Q.S. At-Takasur: 7)

    Harap mas sufimuda lebih hati2, silakan lihat ayat sebelumnya, ayat ini bercerita ttg neraka jahanam… :), jd yg dijanjikan akan dilihat dg ainul yaqin adalah adalah nerak jahanam.
    PS: tolong keberatan2 saya atas penafsiran sufimud utk bisa ditanggapi agar menjadi jelas bagi saya.

    Wassalam

  • sufimuda

    Truthseeker…
    dari jalan pikiran anda yang saya tangkap, anda tetap bersikukuh dengan pendapat anda sendiri, bahwa Tuhan tidak bisa dilihat, kan ada pilihan, silahkan anda mengikuti pemahaman itu.
    Saya dan orang-orang yang mendalami tasawuf tidak memaksa anda untuk menyakini Tuhan bisa dilihat.

    Silahkan lanjutkan keyakinan anda tersebut, tidak ada yang maksa kok, 🙂

    Kita akhiri aja diskusi kita, karena bagaimanapun antara anda dengan saya punya pinsip berbeda yang susah disatukan, tapi kalau anda ingin sedikit terbuka dan punya keinginan untuk mengetahui WAJAH ALLAH silahkan cari seorang Guru yang Ahli di bidangnya. Dari pada berdebat tentang dalil yang tidak akan berujung lebih baik anda coba perdalam tentang thariqat, pasti nanti anda akan paham.

    kalau anda mau sedikit merenung, semua pertanyaan anda tersebut telah saya jawab semua, akan tetapi sayangnya anda masih senang sekali dengan perdebatan yang tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari mempertahankan EGO masing-masing.

    Salam

  • Rindu Damai

    Well, sudah lama tidak singgah kemari, ternyata lagi seru-serunya debat ya.
    langsung aja.

    SYAHADAT bukan merupakan bukti seseorang menjadi hamba Allah akan tetapi sebagai bukti seseorang itu Islam disamping melaksanakan rukun Islam yang lain, udah tahu bedanya kan? 🙂

    Syarat menjadi warga negera Indonesia, salah satunya harus mengakui PANCASILA dan UUD45, mempunyai ktp dan syarat-syarat yang lain.
    Untuk menjadi Hamba Negara/Abdi/PNS, harus melalui seleksi, setelah lulus harus ikut Prajab, barulah sah menjadi Hamba Negara.
    Tidak semua warga negara menjadi hamba negara kan?

    PRESIDEN RI adalah bapak kita semua, pengayom kia semua warga negara, semua punya hak untuk berjumpa Beliau, akan tetapi apakah semua warga punya kesempatan untuk berjumpa beliau?
    Jawab : TIDAK.

    Bagaimana cara jumpa Beliau, harus mengenal Beliau terlebih dahulu lewat buku panduan mengenal Presiden, cukup dengan membaca saja?
    jawab : TIDAK

    PRESIDEN membuka kesempatan seluas-luasnya kepada warga negara untuk menjadi Hamba Negara, bahkan untuk berjumpa beliau, tentu harus mengikuti prosedurnya.

    Kenapa anda tidak jumpa Allah :
    Jawab : KARENA ANDA BELUM MENEMUKAN PROSEDURNYA.
    METODE ANDA MASIH SALAH

    Karena anda tinggal jauh di desa balik desa, transportasi pun seadanya, anda bergaul dengan orang-orang setengah bodoh, dan semua orang yang anda kenal adalah orang yang belum pernah jumpa dengan Presiden akhirnya anda mengambil kesimpulan : PRESIDEN TIDAK BISA KITA JUMPAI, DIA ADALAH SANGAT MULIA DAN SANGAT TINGGI KEDUDUKANNYA.

    Untuk menyenangkan hati anda, kemudian anda mencari dalil-dalil yang mendukung bahwa PRESIDEN MUSTAHIL BISA DIJUMPAI.

    Kalau anda bertemu dengan Andi Malaranggeng, atau salah seorang menterinya SBY, mereka menceritakan tentang makam malam bersama dengan Presiden RI, tentang lari pagi berdua Presiden.
    Ketika anda mendengar ini, anda berteriak kuat-kuat :
    MEREKA TELAH SESAT DAN KELIRU, PENGALAMAN MEREKA TIDAK ADA DALAM BUKU YANG SAYA BACA,
    LEBIH BAIK SAYA BEGINI AJA DARIPADA GILA SEPERTI MEREKA.

    Semoga yang BUTA bisa MELIHAT, yang TULI bisa MENDENGAR…

    Mengajari orang bodoh lebih gampang dari pada mengajari orang SOK PANDAI..

    Salam sayang untuk semua 🙂

  • truthseeker

    @sufimuda
    🙂
    Tidak apa2 mas jika diskusinya dihentikan krn saya hanya mencoba mengkritisi dan bukan memaksakan pendapat saya, krn semuanya saya ajukan dg pertanyaan. Jika sufimuda tdk mampu jawab juga gpp.
    Saya bukan anti tarekat, cb baca lagi dr awal sama sekali tidak. Saya hanya punya pendapata berbeda dg cara tarekat yg mas sampaikan.
    Kalau mas bicara EGO, saya bhkn dr awal merasa bhw sufimuda dan rekan2 yg sependapat dg sfimuda malah yg EGO nya besar. Saya sangat sering bertemu dg pengikut tarekat yg merasa paling benar (ini harusnya tdk boleh ada bagi mrk para syalik), juga sangat fanatik (shg menjadi sempit, ini jg tdk boleh ada bagi para salik), mereka tdk pernah bisa membuktikan pendapat mrk dg dalil naqli apalg aqli. Shg selalu saja jawaban yg saya dapat adalah, masuk aja dulu nanti km rasakan sendiri, atau silakan ketemu guru saya. Saya bhkn sangat merasa kesamaan paham/cara tsb dg paham/cara salah satu mazhab yg juga suka menyalahkan mazhab lain, dan mrk pun sama tdk mampunya menjelaskan apa2 yg mrk yakini.
    Deangan alasan apapun saya terima jika diskusinya dihentikan.. :). Tapi tetap hormay saya kpd sufimuda yg tdk menghapus tulisan saya (kalau dibandingkan dg aliran yg satunya, wahh mrk pasti sdh edit/tolak tuisan saya.

    PS: jangan pernah berfikir bhw hanya kita/golongan kita yg benar, krn itu adalah bagian dr kerja Iblis

    Wassalam

    • anbu

      * PS: jangan pernah berfikir bhw hanya kita/golongan kita yg benar, krn itu adalah bagian dr kerja Iblis

      sy dengan SM berguru pada guru yg sama
      cuma wadah yg beda

      untuk itu *) sy pribadi S7 dgn truthseeker

      tapi apakah anda sudah punya GURU MURSYID?

      thariqat itu WAJIB!!!
      n buat yg belum masuk thariqat, bersegeralah!
      mumpung (beberapa Link menuju Tuhan) masih di indonesia

      n berhati-hatilah karena aliran thariqat juga banyak

      carilah (emas) yg asli dan yg asli jangan di tolak

  • truthseeker

    @Rindu Damai
    Salam kenal RD… 🙂

    SYAHADAT bukan merupakan bukti seseorang menjadi hamba Allah akan tetapi sebagai bukti seseorang itu Islam disamping melaksanakan rukun Islam yang lain, udah tahu bedanya kan? 🙂

    1. Tolong berikan dalilnya ya, boleh dalil aqli ataupun naqli.
    2. Syahadat itu persaksian lhoo, persaksian bhw tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Shg jika kt menyatakan bhw tdk ada Tuhan selain Allah, sama saja kt menyatakan bhw kita hanyalah seorang Hamba.
    3. Islam itu berarti juga berserah diri, jd berserah diri hanya dilakukan oleh seorang Hamba kpd Penciptanya.

    Mengenai penjelasan RD ttg cara menajdi warga negara, saya pikir salah total, jadi kita tdk usah bahas itu. Dan lagi analoginya gak nyambung..hehehe.. :mrgreen:

    Mengenai pertemuan dg Presiden dianalogikan dg pertemuan dg Allah saya setuju koq (baca lagi tulisan saya sebelumnya, saya setuju dg wasilah/perantara)..

    Bhkn dr analogi ini kita bisa buktikan bhw pendapat saya lah lebih sesuai, yaitu bhw utk bertemu Presiden itu bukan hanya melalui satu jalur, ada banyak jalur dan ada banyak cara, bhkn ada juga yg tanpa jalur utk mereka2 yg khusus mendapat perhatian Presiden, bhkn Presiden yg memanggil langsung.. :).
    Jadi hati2 RD membaca tulisan saya, shg bisa merengkum pendapat saya dg lebih akurat. Juga contohnya koq malah menguatkan pendapat saya?.
    PS: jika diskusi yg inipun hendak dihentikan juga saya ikhlas saja.
    Semoga kita dipersatukan dalam kebenaran.

    Wassalam

  • Rindu Damai

    Salam kenal kembali 🙂

    1. Dalil apa mas? argumen saya semua memakai dalil aqli, dalil naqli Coba buka ayat al-Qur’an, apa makna syahadat?
    pengakuan toh?
    Apa setelah membuat pengakuan langsung diakui?
    seorang hamba itu kan kenal Tuhannya, jumpa dengan Tuhannya, apa semua orang yang telah mengucapkan Syahadat jumpa dengan Tuhan?

    2.Mengucakan syahadat itu gampang sekali, orang yahudi pun lebih fasih lagi mengucapkan syahadat, sampean tahu syarat sah bersaksi?
    “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah”
    Pertanyaannya, Allah yang mana? yang ditulis? yang ada baca? yang mana? harus jelas barulah syahadat menjadi benar.

    3.Semua orang tahu, saya tertarik dengan pembahasan mas sufimuda tentang hamba baca, kita harus tanyakan dulu, sebagai hamba baca atau benar2 sebagai hamba Allah

    Kalau analogi warga negara menurut anda gak nyambung berarti anda memang tidak paham sama sekali

    ==========================================
    Bhkn dr analogi ini kita bisa buktikan bhw pendapat saya lah lebih sesuai, yaitu bhw utk bertemu Presiden itu bukan hanya melalui satu jalur, ada banyak jalur dan ada banyak cara, bhkn ada juga yg tanpa jalur utk mereka2 yg khusus mendapat perhatian Presiden, bhkn Presiden yg memanggil langsung.. :).
    ==========================================
    Pilih donk jalur yang tepat, dari komentar anda sepertinya anda masih bingung memilih jalur,

    Dipanggil langsung presiden ya?
    Bagus lah asal aja sampean harus benar2 kenal dengan presiden, Jangan salah, tukang bakso dekat rumah saya mirip lho dengan SBY 🙂

    Mudah-mudahan kita bisa jumpa ya, diskusi dengan anda sangat menyenangkan 😉
    Kalau mas TS setuju dengan wasilah berarti antara kita ada titik temunya

    Mintak maaf mas sufimuda, izinkan kami singgah disini,

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca