Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the category “Cerita Sufi”

Dialog Abu Yazid dan Pendeta

Abu yazid adalah salah satu pemuka kaum sufi diBaghdad pada abad ke III hijriah yang merupakan abad kemunculan madhab al-hubb al-illahi, ia memiliki perjalanan hidup yang mengagumkan dan perilaku yang kadang sulit untuk diterima oleh akal. Demi cintanya kepada ilmu pengetahuan ia berkelana dalam waktu Baca selengkapnya…

MELIHAT ABU YAZID

….Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Allah SWT tujuh puluh kali….

 

Baca selengkapnya…

Akibat Tamak

Jika seseorang mendambakan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, niscaya hilanglah sifat qana’ah (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat loba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu akan menyeret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan munkar, yang merusakkan muru’ah (harga diri).

Untuk itu, rasanya tidak keliru kalau kita perhatikan sebuah hadis Nabi saw. yang dijadikan sandaran oleh rekan saya dari Jalan Kertosentono, Malang, bemama Santoso H. ketika mengirimkan naskah ini. ” Apabila anak adam (manusia) itu mempunyai dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga untuk tambahan dua lembah tadi. Dan rongga anak Adam itu tidak akan penuh selain oleh tanah. Tetapi, Allah menerima tobat terhadap siapa yang bertobat,” demikian sabda Nabi. Kemudian Santoso H. berkata, “Ada sebuah cerita menarik dari Asy-Sya’bi yang layak kita simak dengan cermat. Telah kudengar cerita bahwa terdapat seorang laki-laki menangkap burung qunbarah (semacam burung pipit).

Tiba-tiba burung itu bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?” Laki-laki itu menjawab, “Akan aku sembelih engkau dan aku makan engkau.” “Demi Allah! Engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahukan kepada engkau tiga perkara yang lebih baik bagi engkau daripada makananku .” “Baiklah, sebutkan ketiga perkara itu.” “Perkara yang pertama, akan aku beritahukan saat aku berada di tanganmu ini. Yang kedua, apabila aku engkau lepas dan terbang ke atas pohon. Yang ketiga, saat nanti apabila aku telah terbang lagi dan berada di atas bukit.” Laki-laki itu menyanggupi. “Nah, katakan yang pertama,” pinta laki-laki itu kemudian. “Janganlah engkau gundahkan apa yang telah hilang dari engkau.” Lalu laki-laki tersebut melepaskan burung itu. Tatkala ia telah berada di atas pohon, berkatalah laki-laki itu, “Katakan perkara kedua!” “Janganlah engkau benarkan apa yang tidak ada bahwa ia akan ada,” jawab burung itu.

Kemudian burung itu terbang dan hinggap di atas bukit serta tiba-tiba ia berkata, “Hai, orang yang sial. Jika tadi engkau sembelih aku, niscaya akan engkau dapati dalam tubuhku dua biji mutiara. Berat tiap-tiap mutiara dua puluh gram.” Tampak laki-laki itu menggigit bibirnya, risau dan menyesal. “Cepat katakan yang ketiga,” katanya kemudian, geram. “Engkau telah lupa akan dua perkara tadi, bagaimana mungkin aku terangkan perkara yang ketiga? Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau jangan mengeluh terhadap apa yang telah hilang dari engkau? Dan jangan engkau benarkan apa-apa yang tidak ada? Coba engkau pikirkan, hai orang yang celaka. Aku, dagingku, darahku, dan buluku tidak akan ada dua puluh gram. Lantaran itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua puluh gram?” Kemudian terbanglah burung bijak itu meninggalkan si lelaki yang merenungi ketamakannya.

Itulah contoh betapa lobanya anak Adam yang dapat membutakan diri dari mengetahui kebenaran Diriwayatkan dari Jarir, dan Jarir meriwayatkannya dari Laits. Ujarnya: Pernah diceritakan seorang laki-laki yang menawarkan diri untuK menemani perjalanan Nabi Isa bin Maryam alaihissalam. ” Aku akan bersama engkau dan menemani perjalananmu,” kata lelaki itu. Nabi Isa tidak menolak. Maka berjalanlah mereka bersama-sama. Dalam perjalanan, keduanya sampailah pada sebuah sungai. Lalu keduanya menghentikan perjalanannya untuk duduk-duduk istirahat dan makan siang di tepi sungai itu. Nabi Isa membawa tiga potong roti. Lalu mereka berdua makan masing-masing sepotong roti sehingga tinggal sepotong. Nabi Isa kemudlan bangun dan pergi ke sungai untuk minum.

Akan tetapi, sekembalinya tak didapati lagi roti yang sepotong itu . “Siapakah yang mengambil roti itu?” tanyanya kepada si lelaki yang menemaninya itu. “Aku tidak tahu, jawabnya. Nabi Isa tak bertanya lebih jauh. Kemudian keduanya meneruskan perjalanan. Pada suatu ketika sampailah keduanya di sebuah lembah yang berair dalam, sedangkan di situ tak ada perahu. Maka Nabi Isa memegang tangan laki-lakl itu, lalu atas izin Allah Nabi Isa membawanya berjalan di atas air. Setelah melewati lembah berair itu, bertanyalah Nabi Isa kepada lelaki yang masih takjub akan keanehan tersebut. ” Aku perlihatkan tanda-tanda Ini sebagai kemukjizatanku.

Siapakah sebenarnya yang mengambil roti itu? ” Aku tidak tahu,” jawab lelaki tersebut tetap pada pendiriannya. Nabi Isa tak bertanya lagi. Dilanjutkannya perjalanan mereka. Di sebuah padang pasir mereka menghentikan perjalanan dan duduk beristirahat. Tiba-tiba Nabi Isa mengambil dan mengumpulkan tanah dan debu tebal, kemudian dia berkata, ” Jadilah engkau emas dengan izin Allah.” Maka terciptalah emas. Lalu Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian . “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga lagi untuk orang yang mengambil roti itu,” katanya kepada lelaki itu. Lantaran ketamakkannya, berkatalah lelaki tadi, ” Aku yang mengambil roti itu.” Nabi Isa kemudian berkata, “Kalau begitu, untukmu emas itu semuanya.” Nabi Isa beranjak pergi meninggalkan lelaki tersebut. Gembira betul hati si lelaki, lalu ia pun meneruskan perjalanannya sendirian.

Pada suatu ketika bertemulah lelaki pemilik harta itu dengan dua orang lelaki lain. Demi dilihatnya harta sebanyak itu, kedua laki-laki asing tersebut berkeinginan merampas emas itu. Kalau perlu dengan membunuhnya. Lantaran takut dibunuh dan diambil hartanya, maka dibagikannya emas itu pada kedua lelaki yang baru dikenalnya tadi. Maka sepakatlah mereka untuk meneruskan perjalanan bertiga.

Pada suatu tempat, berkata salah seorang dari kedua lelaki asing tadi, “Sekarang kita bunuh saja dia supaya kita miliki seluruhnya emas yang belum tentu miliknya itu.” Setelah disepakati bersama, dijebaklah lelaki yang tamak itu dan dibunuh dengan kejam.

Tiga Orang Quraisy yang Terbaik Akhlaknya

Sahabat Abdullah bin Umar bin ‘Aash berkata, “Ada tiga orang Quraisy yang paling baik akhlaknya, paling cerah wajahnya,
dan paling besar malunya. Apabila mereka berbicara, tidak akan pernah berdusta dan kalau Anda yang berbicara kepada mereka,
baik hak maupun batil mereka tidak akan mendustakannya. Mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah RA dan
Utsman bin Affan RA.”

KETULUSAN

Selalu ada saja orang yang suka menangguk ikan di air yang keruh. Mereka mngambil keuntungan dari ke adaan yang kacau balau untuk kepehtingan diri sendiri. Bahkan acap kali mereka tidak segan-segan melakukan penipuan terhadap rakyat kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Tatkala Perang Badr sedang berkecamuk, suasana kehidupan dilanda ketegangan yang kian mencekam karena orang-orang kafir Quraisy, dengan kekuatan tentara tiga kali lipat daripada pasukan Nabi, mengancam akan mengadakanpenghancuran besar-besaran terhadap umat Islam, terutama yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

Malam itu, pada waktu seluruh manusia sedang lelap dalam tidurnya, sekelompok penyamun mendapat berita, ada sebuah kafilah yang membawa bekal makanan bagi tentara Nabi dan sejumlah harta benda yang tak ternilai harganya akan melewati sebuah jalan yang sepi. Mereka segera mengadakan pengadangan ditempat yang strategis dan tersembunyi. Entah apa sebabnya, kafilah itu tiduk muncul-muncul sampai larut malam. Di tengah angin dingin yang menggigit tulang, dalam kegelapan yang sangat pekat, mereka dengan sia-sia menantikan kafilah yang jika berhasil mereka rampok bakal menyebabkan tentara Nabi menderita kekurangan pangan.

Akhirnya kepala penyamun berseru, “Kurang ajar. Pasti kafilah itu telah lolos dan tiba di Madinah dengan selamat melalui jalan lain.” Para anak buahnya ikut menggerutu. Mereka tidak tahu hendak pergi ke mana lagi, padahal diperkirakan akan bertiup badai gurun yang sangat menakutkan hati mereka. Tatkala mereka sedang terburu-buru menjauhi tempat itu, dan belum tentu selamat dari ancaman topan yang biasanya amat ganas itu, terlihat lampu kelap-kelip dikejauhan, menyorot dari sesosok gubuk reyot di balik bukit batu. Mereka pun segera berangkat ke sana untuk mencari perlindungan.

Sambil mengetuk pintu, kepala penyamun mengucapkan salam secara Islam dengan lantang. Yang punya rumah, seorang lelaki miskin dan keluarganya, menyambut mereka dengan ramah. Kepala penyamun berkata, “Kami adalah sepasukan tentara Nabi yang sedang berjuang fisabilillah, di jalan Allah. Kami kemalaman setelah ditugaskan melakukan pengintaian terhadap gerakan tentara musuh. Bolehkah kami menginap di sini?”

Alangkah gembiranya tuan rumah dan seluruh keluarganya menerima kedatangan tentara Islam yang berjuang fi sabllillah. Kepada mereka disediakan tempat tidur berupa gelaran tikar yang empuk, dan disiapkan pula makanan seadanya sehingga mereka dapat beristirahat dengan nikmat. Untuk wudlu mereka. diambilkan air bening yang ditempatkan dalam sebuah kendi besar, di bawahnya diletakkan bejana guna menampung bekas air wudlu mereka supaya tidak berceceran ke mana-mana.

Keesokan harinya para penyamun itu bangun kesiangan, tetapi tuan rumah yakin, mereka pasti sudah sernbahyang subuh di dalam kamar, lalu tidur lagi. Ketika mereka hendak keluar, terlihat oleh kepala penyamun dan anak buahnya, seorang anak kecil terbaring tidak berdaya di atas balai-balai. Kepala penyamun bertanya, “Siapakah yang tergolek itu?” Dengan sedih tuan rumah menjawab, “Dia anak saya yang paling kecil, menderita lumpuh sejak satu tahun yang lalu. Doakanlah, semoga berkat kedatangan Tuan-Tuan yang sedang berjuang di jalan Allah, anak saya akan memperoleh kesembuhannya kembali.”

Kepala penyamun melirik kepada anak buahnya sambil mengedipkan mata sehingga dengan serempak berkata, “Amin.” Lantas mereka keluar dan lenyap di tengah kepulan debu setelah mereka menggebah kuda masing-masing. Sepeninggal mereka, lelaki itu berkata kepada istrinya seraya mengangkat bejana yang berisi air bekas para penyamun itu mencuci muka. “Air ini adalah cucuran sisa air wudlu orang-orang yang dengan ikhlas berjuang fi sabilillah. Mari kita usapkan ke sekujur tubuh anak kita, siapa tahu akan menjadi obat baginya.”

Istrinya tidak membantah. Hatinya gembira telah menerima kehadiran tamu-tamu yang membawa rahmat Allah. Demikian pula si anak yang sudah setahun mengidap penyakit lumpuh, tidak bisa beranjak dari pembaringannya itu. Dengan penuh harap ia membiarkan kedua orang tuanya membasahi seluruh badannya dengan air keruh itu beberapa kali dalam sehari.Malamnya, ketika hari sudah amat larut, para penyamun itu datang lagi, rupanya setelah berhasil menggarong beberapa kafilah sehingga bawaan mereka banyak sekali. Tujuan mereka hendak menginap pula di situ untuk sekalfgus menyembunyikan diri agar tidak dicurigai karena mereka berpendapat, dengan berlindung di gubuk terpencil yang dihuni oleh keluarga taat beragama, pasti yangberwajib tak akan menyangka merekalah perampok-perampok yang dicari-cari.

Alangkah terkejutnya kepala penyamun itu tatkala pintu dibuka dari dalam. Yang berdiri di ambangnya adalah anak lelaki yang tadi pagi masih lumpuh itu. Dengan heran ia bertanya kepada si tuan rumah, “Apakah betul anak ini yang waktu kami tinggalkan tidak bisa berdri dari tempat tidur?” “Ya, betul, dialah anak saya yang lumpuh itu,” jawab si tuan rumah dengan gembira. “Inilah kuasa Allah berkat kedatangan Tuan-Tuan. Rupanya, lantaran kami menyambut kehadiran para pejuang fi sabilillah dengan ikhlas, Allah membalas ,kami dengan karunia-Nya yang sangat besar. Air bekas cucuran Tuan-Tuan berwudlu, yang kami tampung di dalam bejana, kami oleskan beberapa kali ke sekujur tubuhnya. Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan permohonan kami sehingga anak saya dapat berjalan kembali. Terima kasih, Tuan-Tuan. Semoga Allah meridhai perjuangan Tuan-Tuan di jalan Allah.”

Kepala penyamun tertunduk. Begitu pula segenap anak buahnya. Mereka merasa sangat malu kepadasi tuan rumah dan. kepada Tuhan lantatan mereka sebenarnya hanyalah perampok hina-dina. Maka.di dalam kamar mereka saling berpelukan seraya menangis tersedu-sedu. Sejak saat itu mereka berjanji akan bertobat dan bersumpah akan bergabung dengan umat Islam untuk berjuang bahu-membahu dengan Nabi melawan kaum musyrikin. Adapun harta yang telah mereka rampas dari korban-korbannya, mereka bagi-bagikan kepada fakir miskin, di samping sebagian lainnya diberikan kepada tuan rumah dan keluarganya yang telah memberikan petunjuk ke jalan kebenaran dengan ketulusannya.

KEJUJURAN UMAR BIN KHATAB RA

Pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab RA naik ke mimbar dengan mengenakan pakaian rangkap dua.
Ia berkata, “Wahai segenap manusia, tidakkah kalian mendengar?”
Salman al-Farisi RA berkata, “Kami tidak akan mendengarkan kata-katamu.”
Umar RA bertanya, “Mengapa, wahai Aba Abdillah (Salman)?”
Salman RA menjawab, “Engkau membagi-bagikan kepada kami masing-masing sepotong pakaian, sedangkan engkau memakai pakaian rangkap dua.”
Umar RA menjawab, “Jangan terburu-buru berkata demikian.”
Kemudian ia berseru kepada para hadirin, “Wahai, Abdullah… Abdullah…”
Tidak seorang pun yang menjawab.
Umar menyeru lagi, “Wahai, Abdullah ibnu Umar!”
Abdullah Ibnu Umar putranya, menjawab, “Labbaik, wahai Amirul Mukminin.”
Umar bertanya, “Aku bertanya demi Allah, benarkah baju yang kupakai ini adalah milikmu?”
Abdullah bin Umar menjawab, “Benar, demi Allah pakaian itu benar milikku.”
Kemudian Salman RA berkata, “Sekarang bicaralah. Kami akan mendengarkan kata-katamu.”

TIGA EKOR IKAN

Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan  Si  Bodoh.  Kehidupan  mereka  berlangsung
biasa  saja  seperti  ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
 
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya  dari  dalam  air.
Sadar   akan   pengalamannya,   cerita-cerita   yang  pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai  memutuskan  untuk
melakukan sesuatu.
 
“Hampir  tak  ada  tempat berlindung di kolam ini,” pikirnya
“Jadi saya akan pura-pura mati saja.”
 
Ia mengumpulkan  segenap  tenaganya  dan  meloncat  ke  luar
kolam,  jatuh  tepat  di  kaki  nelayan  itu.  Tentu saja si
Nelayan  terkejut.  Karena  ikan  tersebut  menahan   nafas,
nelayan  itu  mengiranya  mati:  ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan  itu  kemudian  meluncur  tenang  dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
 
Ikan  yang  kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai  dan
menanyakan  hal  itu.”  Gampang saja,” kata Si Pandai, “saya
pura-pura mati, dan nelayan  itu  melemparkanku  kembali  ke
kolam.”
 
Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat
kaki nelayan. “Aneh,”  pikir  nelayan  itu,  “ikan-ikan  ini
berloncatan ke luar air.” Namun, Si Agak Pandai ini ternyata
lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.
 
Ia kembali  mengamat-amati  kolam,  dan  karena  agak  heran
memikirkan  ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa
menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha
melepaskan   diri  ke  luar  dari  kepis,  membalik-balikkan
badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia  mencari-cari  ikan
pertama,    ikut   bersembunyi    di   dekatnya  –nafasnya
terengah-engah.
 
Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa  mengambil  pelajaran
dari  segala  itu,  meskipun  ia telah mengetahui pengalaman
kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak-Pandai  memberi
penjelasan  secara terperinci, menekankan pentingnya menahan
nafas agar di
 
“Terimakasih: saya sudah mengerti,” kata Si Bodoh.  Sehabis
mengucapkan  itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh
tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan  langsung  memasukkan
ikan  ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah
ikan itu bernafas atau tidak. Berulang  kali  dilemparkannya
jala  ke  kolam,  namun  kedua ikan yang pertama tadi dengan
aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan  kepisnya  sekarang
tertutup rapat.
 
Akhirnya  nelayan  itu  menghentikan  usahanya.  Ia  membuka
kepisnya, menyadari bahwa ternyata  ikan  yang  di  dalamnya
tidak  bernafas.  Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan
kucing.
 
Catatan
 
Konon, kisah ini disampaikan  oleh  Husein,  cucu  Muhammad,
kepada  Khajagan  (‘Para  Pemimpin’) yang pada abad ke empat
belas mengubah namanya menjadi Kaum Naqsahbandi.
 
Kadang-kadang peristiwanya terjadi di  sebuah  ‘dunia’  yang
dikenal sebagai Karatas, di Negeri Batu Hitam.
 
Versi  ini  dari Abdul ‘Yang berubah’ Afifi. Ia mendengarnya
dari  Syeh  Muhammad  Asghar,  yang  meninggal  tahun  1813.
Makamnya di Delhi.

Navigasi Pos