Tasauf

SEJARAH TUHAN

Sekitar 25 tahun lalu ketika pertama sekali melihat buku “A History of God” karya Karen Amstrong, ada rasa geli, lucu dan sedikit kaget. Dalam hati Saya berucap, “koq ada orang yang berani nulis sejarah Tuhan?”. Saat itu di Indonesia kelompok “Islamis” sedang berjaya, segala sesuatu yang berbeda dengan pemikiran mainstream dianggap sesat, bid’ah dan kafir. Begitu lucunya kaum “Islamis” itu terkadang lupa mereka dengan amalan WAJIB karena terlalu sibuk dengan amalan SUNNAH.


Buku itu Saya baca berulang sebanyak 3 kali, dalam tulisan ini Saya tidak me-review isi buku “A History of God”, Anda silahkan cari buku nya dan baca sendiri. Bagi yang suka sejarah dan masih familiar dengan dunia akademik, buku tebal ini menarik dibaca namun bagi yang sudah sering rajin zikir, buku itu bisa bikin ngantuk.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal paling misteri bagi manusia adalah Tuhan, sosok yang diyakini sebagai pencipta manusia dan alam semesta. Rujukan paling banyak dipakai oleh manusia adalah agama yang menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang sangat berbeda dengan manusia, terdahulu dan tidak berakhir, memiliki segala sifat Maha.

Agama-agama awal (termasuk pagan) menempatkan Tuhan sebagai sosok Agung, Tinggi dan terpisah dari kehidupan manusia dan alam karena Dia yang menciptakan segalanya.

Pemahaman Tuhan sebagai sesuatu diluar manusia dan alam ini disebut dengan Transenden. Agama kuno meyakini Tuhan duduk dilangit dan mengatur alam ini. Karena alam ini begitu rumit maka Dia kemudian menempatkan beberapa wakilnya sesuai fungsi. Jika di agama kuno disebut Dewa maka di agama samawi disebut dengan malaikat. Dalam Islam ada 10 Malaikat sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Karen Amstrong juga menguraikan bahwa sosok Tuhan itu berubah menurut kondisi masyarakatnya. Pada suatu waktu Tuhan digambarkan sebagai sosok yang menyuburkan tanah dan menerangi bumi, Maka orang-orang menyembah matahari sebagai wujud mereka menyembah Tuhan karena matahari memberikan energi penuh kepada bumi, menghidupkan tanaman dan lain lain. Ketika terjadi perang, maka Dewa Perang menjadi Dewa tertinggi untuk memberikan keselamatan dan kemenangan kepada manusia.

Pemahaman Tuhan sebagai transenden itu juga dianut di dalam Islam (syariat) sehingga Tuhan diwakili oleh 20 sifat baik dan 99 nama baik. Tuhan berada diluar manusia jangkauan manusia dan tidak boleh dipertanyakan. Atas alasan itulah seluruh agama samawi (yahudi, kristen, islam) kalau berdoa mengangkat tangan ke atas, atas keyakinan bahwa Tuhan itu tinggi, berada di atas langit.

Ibnu Arabi adalah tokoh yang mempopulerkan bahwa Tuhan tidak transenden tapi berada sangat dekat dengan manusia, konsep ini disebut imanen. Pemahaman ini populer dengan Wahdadul Wujud. Albert Einsntein dengan nada serupa berkata, “Bahwa Alam ini adalah Tuhan, Tuhan tidak berada diluar alam

Pemahaman Ibnu Arabi bukan hasil akal pikirannya tapi dia mengambil ilmu dari dasar tasawuf bahwa Tuhan itu sangat dekat, lebih dekat dari urat leher. Juga disebutkan bahwa “Kalbu adalah Rumah Allah”. Sifat-sifat Tuhan yang dirumuskan 20 itu pun kesemuanya bersifat sangat “manusiawi”.

Dikalangan ilmuan yang belajar filsafat selalu mempertanyakan tentang Personifikasi Tuhan (Tuhan bersifat Personal) yang diyakini oleh ummat Islam dan umat yang lain. Bagaimana mungkin Dia yang Pengasih Penyayang juga memiliki sifat Penghukum berat? Bagaimana dia yang bersifat Maha Bijaksana bisa memiliki sifat cemburu? Bagaimana dia memiliki sifat yang adil tapi memiliki sifat tidak boleh di duakan?.

Sudah pasti orang akan mempertanyakan konsep Tuhan berwujud manusia seperti Yesus dalam agama Kristen dan Krisna dalam agama Hindu. Semua orang di dunia ini masih sampai ketahap mempertanyakan dan tidak akan pernah menemukan jawaban karena memang Tuhan diluar akal fikiran manusia.

Dari sumber yang sama (al Qur’an) ummat Islam sampai hari ini masih berdebat tentang Tuhan. Orang Wahabi memaknai ayat secara harfiah, maka lahirlah konsep Tuhan duduk di Arasy, turun ke dunia disepertiga malam, berwajah, bertangan, sementara diseberang sana kelompok Ahlusunnah wal Jamaah sebagai pembela Tuhan gaib mati-matian menentangnya. “Allah tidak boleh berwujud apapun, Maha Suci Allah dari sifat berwujud” begitu keras kelompok ahlusunnah menentang wahabi namun mereka juga lupa kalau sifat bertama Allah yang harus diyakini adalah WUJUD, disinilah keracuan cara berfikir kelompok yang menamakan diri ahlusunnah. Apakah wahabi salah? Tidak sepenuhnya salah, kesalahan mereka tidak menemukan WASILAH, sehingga keyakinan mereka nanti hanya menduga-duga saja.

Ketika Nabi mengatakan bahwa siapa yang mengenal diri maka dia akan mengenal Tuhan. Alih-alih mencari jawaban kepada ulama pewaris Nabi, orang lebih senang mengandalkan akal fikirannya untuk menemukan jawabanya. Akhirnya terjebak lagi kepada kaji diri akalnya. Jika lewat kacamata agama (syariat) maka Kaji Diri dicari jawaban lewat susunan tubuh manusia dan misteri huruf-huruf sementara dari luar agama dicari jawaban lewat perenungan-perenungan. Ketidakmampuan menemukan Tuhan lewat akal itu kemudian nanti disederhanakan bahwa Tuhan adalah Diri yang misteri, energinya meliputi diri kita. Ujung-ujungnya juga gelap dan tidak menemukan jawaban sama sekali.

Maka Imam al-Ghazali 1000 tahun lalu sudah mengingatkan akan lemahnya kemampuan akal dalam memahami Tuhan dan Beliau mengkritik dengan keras pemahaman filsafat yang membahas tentang Tuhan. Al-Ghazali berani berkata seperti itu karena dia sudah lelah mencari lewat akal, lewat membaca ayat-ayat dan menafsirkannya, namun pengetahuan murni itu tidak di dapat dengan metode itu. Al Ghazali mengenal Allah secara hakiki setelah dibimbing oleh Guru Mursyid. Pemahaman Tuhan secara transenden dan imanen bisa disatukan lewat Tasawuf.

Tuhan tidak akan dikenali lewat ribuan buku, ribuan bukti dan ribuan pula kesaksian orang lain karena dia sangat dekat dalam diri kita. Pun membaca sejarah Dia tidak akan mengantarkan kita kepada eksistensi Dia yang Hakiki.

Kapan kita mengenal Tuhan dengan sebenarnya? Ketika kita telah sampai ke tahap PENYAKSIAN.

Ketika di hati kita sudah meyakini 100% yang kita saksikan itu adalah Allah, Sang Pemilik Bumi dan Langit. Disitulah kunci surga berupa Kalimah Syahadah yang murni itu hadir. “Aku BERSAKSI bahwa benar Engkau adalah Allah”.

Bahkan pada kondisi sangat dekat tidak lagi menyebut nama sebagai mana penyaksian Nabi Yunus, La ilaha Anta (Tiada tuhan selain Engkau)…
Di dalam kitab al-Risalah al-Wujudiyah, Tajaliyyat, al-Ittihad al-Kawni, Ibnu Arabi mengutip hadist Qudsi..

“’Araftu Rabbi bi Rabbi: aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku.”

Sebagaimana seluruh orang bijak di dunia ini yang menulis begitu banyak karya tentang Tuhan, mereka tidak pernah bisa memberikan kuncinya. Menceritakan tentang rumah yang indah lewat kesempurnaan sastra, tapi tidak akan pernah bisa memasuki rumah karena tidak memiliki kunci. Kunci dari segala misteri Tuhan adalah menemukan Sang Pembimbing, begitulah jalan hidup para Nabi dan orang-orang terpilih dalam menemukan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca