Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sesajen Untuk TUHAN

Oleh : Abu Hafidh Al Faruq

Apa iya TUHAN perlu sesajen? Sesajen adalah kata yang lebih akrab di telinga kita orang Indonesia dari pada kata aslinya ‘sesaji’ yang berarti sajian yang disajikan kepada yang diperTUANkan atau yang diperTUHANkan. Kata ini sangat berhubungan erat dengan dunia klenik alias perdukunan. Dalam imaginasi kita ketika mendengar kata ini mungkin akan terbayang sepiring lengkap buah buahan segar atau ditambah disisipi beberapa lembaran uang nominal tertinggi, bahkan terkadang rokok juga diikut sertakan dalam sajian tersebut. Beberapa tempat di Nusantara ada yang mensajikan kue kue tradisional, makanan mewah seperti ayam panggang utuh, tumpeng dan lain lain. Kalau di kampung saya sesajian tersebut dilengkapi dengan ‘beurteh’ (seperti pop corn tapi berasal dari padi beras hitam) disajikan diatas daun pisang dalam piring besar berhias, dibuat bulat kerucut dengan satu butir ayam kampung di puncaknya dan beberapa pisang mas mengelilingi lingkaran bawahnya, disajikan satu paket dengan kue apam (serabi) lengkap dengan santannya. Sesajen tersebut disajikan dalam aroma dupa atau kemenyan yang sangat menyengat. Anehnya sajian ini disajikan kepada kuburan kuburan tua yang kelihatan angker, gua, pohon pohon besar, batu besar dan sebagainya. Hal ini sebagian penulis alami sendiri ketika kecil. Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual ini adalah orang yang berprofesi sebagai dukun atau orang orang yang “berilmu”. Sebenarnya bukan mereka saja yang melaksanakan “acara” tersebut melainkan juga orang orang yang memanfaatkan jasa dukun tersebut sehingga notabene semuanya terlibat dalam aktivitas ini. Kenapa harus menyediakan sesajen? Selain sebagai bentuk puja puji kepada si “penunggu” pohon besar atau  “empunya” tempat, diduga lebih karena sebagai syarat agar dikabulkannnya keinginan si klien untuk memikat seorang gadis misalnya atau ingin kaya dan seterusnya. Syarat itu bisa berupa harus menyembelih sekor ayam putih pada waktu tertentu, melakukan menggigit lidah bayi yang baru dikubur dan banyak hal yang aneh aneh bin tak masuk diakal demi transaksi dengan “mbah anu” atau “eyang polan”. Saudara, itulah sekelumit pengertian yang kita punya tentang sesajen sampai hari ini, namun demikian apakah makna sebenarnya dari sesajen?

Saudara, sesajen atau sesaji adalah bentuk fisik dari pemujaan yang bersinonim dengan kata ‘persembahan’. Sesuatu yang disajikan adalah sesuatu yang dipersembahkan. Sesuatu yang dipersembahkan adalah sesuatu yang dikorbankan. Korban berasal dari kata ‘qurban’ dari bahasa arab yang berarti mendekatkan diri. Berkorban atau berqurban adalah bentuk fisik dari penyerahan dan kerelaan sebagai wujud penghambaan diri dalam memuja sesuatu yang di perTUHANkan. Saya kira inilah dasar mengapa para ulama mengharamkan umat pergi ke dukun dengan fatwa syirik

Dari sejarahnya Qurban pertama sekali dipraktekkan oleh dua putra Adam, Habil dan Qabil ketika memperebutkan saudara selahiran Qabil untuk diperistri. Adam lalu memerintahkan keduanya untuk berqurban kepada ALLAH dan barang siapa yang qurbannya diterima maka dialah yang berhak menikahi suadara selahiran Qabil. Tuhan menerima qurban Habil yang mempersembahkan domba domba yang gemuk dan menolak qurban Qabil yang mempersembahkan sayur mayur yang busuk. Cerita berqurban ini terus berlanjut kepada Ibrahim yang mengqurbankan Ismail anaknya demi puja pujinya kepada Tuhannya yang kemudian Tuhan menggantikannya dengan seekor Qibas, kewajiban tersebut terus berlanjut sampai hari ini kepada kita yang diwajibkan berqurban pada momen Idul Adha. Ketika kita berqurban kambing misalnya, tidaklah sampai  dagingnya ke TUHAN, tidak pula darahnya atau bulunya, melainkan keikhlasan kita dalam mempersembahkan sajian kurban tersebut.

Kalau di lihat dari sisi kepentingan orang membuat sesajen, sepertinya mempersembahkan sesajen merupakan wujud dari kesepakatan atau transaksi oleh yang empunya hajat dengan yang “memenuhi hajat”, misalnya ada orang pergi ke dukun anu agar memelet si gadis ani dengan syarat harus menyembelih seekor ayam serba hitam (berbulu hitam, berkulit hitam, berkuku hitam) pada malam tertentu. Dalam kasus ini mengapa perlu dukun? Tidak lain adalah karena dukun  tersebut mampu menghubungkan  atau berfungsi sebagai perantara antara yang punya hajat dengan setan yang memenuhi hajat dan ayam hitam merupakan permintaan si setan tersebut. Jadi bukanlah si dukun yang mampu memenuhi hajat orang tadi melainkan setannya. Menurut pengalaman orang orang yang telah pergi ke dukun ada kalanya hajat mereka terpenuhi sehingga bisa jadi hal tersebut yang membuat mereka yakin dan percaya kalau bertransaksi dengan setan bakal terkabul keinginannya. Apakah orang yang punya hajat bisa berhubungan langsung dengan setannya? Tentu bisa jika ia juga belajar menjadi dukun.

Saudara sekalian, semua orang tahu kalau TUHAN adalah maha kaya, maha perkasa dan seterusnya. Dalam logika kita kenapa harus bertransaksi dengan setan kalau TUHAN maha mengabulkan permintaan? Masalahnya adalah kebanyakan orang tidak bisa berhubungan langsung dengan TUHANnya karena tidak kenal walaupun banyak orang yang pergi ke dukun adalah orang orang yang rajin shalat. Apakah kita bisa berhubungan langsung dengan TUHAN? Tentu bisa jika kita belajar kepada orang yang telah mengenal TUHAN, dalam Al Quran disebutkan sebagai WASILAH, yaitu ahli silsilah sebagai pewaris Nabi. ‘mereka adalah AHLIKU’ demikian firman ALLAH. Lalu bagaimana membuat transaksi sesajen dengan TUHAN? Kalau anda tak kenal TUHAN minimal carilah orang yang mengenal TUHAN dan belajar kepadanya. Bertransaksilah melaluinya. Anda akan merasakan keterkejutan keterkejutan  spiritual langsung sehingga tingkat keyakinan anda meningkat dari ‘Ilmal Yaqin (yakin karena diberitahu orang yang di percaya) ke ‘Ainal Yaqin (yakin karena di lihat ) sampai ke Haqqul Yaqin (yakin karena merasakan sendiri). Maksud saya adalah dalam beragama anda jangan hanya sekedar ikut ikutan seperti kebanyakan orang. Misalnya orang shalat anda ikut shalat, orang ketemu TUHANnya anda tidak, sementara shalat itu mi’rajnya kaum mukminin (Asshalatu mi’rajul mu’minin) kata Nabi. Anda mungkin pernah mendengar cerita seorang sahabat meminta mencabut anak panah yang tertancap dipunggungnya ketika ia sedang shalat sewaktu ikut berjihad bersama Nabi. Kenapa harus ketika sedang shalat? Karena dia tidak merasakan sakit ketika anak panah tersebut di cabut. Kok bisa nggak terasa? Apakah karena khusuk? Saya lebih suka menggunakan istilah fana ketimbang khusuk walau sebenarnya yang saya maksud disini adalah khusuk. Saya tidak suka dengan istilah khusuk karena banyak orang bilang shalat harus khusuk tanpa bisa mendefinisikannya. Ada yang mendefinisikan khusuk itu adalah mata harus tertuju pada satu titik di sajadah, pikiran harus dikosongkan… (baca : SHALAT KHUSUK SALAH KAPRAH) dan seribu omong kosong lainnya dari ustad ustad dan kyai kyai yang tidak mengenal TUHAN. Kalau kita fana terhadap sesuatu maka kita tidak sadar akan hal lainnya. Itulah fana yang saya maksud. Seperti cerita Nabi Yusuf ketika Zulaikha mengumpulkan istri2 pembesar istana yang sedang mengupas mangga dan membawa Yusuf kehadapan mereka, tanpa sadar dan tanpa terasa mereka telah mengiris jari mereka sendiri karena terpana oleh ketampanan Yusuf. Kalau anda percaya ‘terpana’ dalam cerita Nabi Yusuf, anda akan mudah percaya Fananya sahabat yang meminta mencabut anak panah dipunggungnya ketika ia sedang shalat.  Kira-kira berdasar cerita tersebut yang bisa saya gambarkan Fana itu adalah asyik masyuk bersama TUHAN, terpana dengan kehadiran TUHAN sehingga lupa dan tidak merasakan apapun selain kehadiran TUHAN.

Saudara, banyak orang musyrik mempersembahkan sesajen kepada setan untuk transaksi transaksi temporer,  tanpa kita sadari kita yang mengaku muslim tak pernah memberi apapun untuk TUHAN yang memberi nafas dalam setiap detik hidup kita. Sesajen tak harus selalu merupakan perjanjian transaksi atau suatu kewajiban karena disuruh melainkan lebih dari itu sebagai persembahan sebagai wujud penghambaan diri dan rasa cinta hamba kepada KHALIKnya. Pacar saja kita kasi bunga, ngajak nonton dan lain lain untuk menyenang nyenangkan sang kekasih.. Masak ke TUHAN kita lupa?!!!

Kalau dukun saja membuat sesajen kepada setan, mengapa kita tidak mempersembahkan  sesajen kepada TUHAN?

Habil mempersembahkan domba yang gemuk adalah sesajen

Ibrahim menyembelih putranya tersayang Ismail adalah sesajen

Ismail mempersembahkan nyawanya sendiri adalah sesajen

Umat islam hari ini berkurban pada Idul Adha sesungguhnyalah adalah sesajen

Apakah TUHAN perlu sesajen?

TUHAN tak butuh sesajen!!!

Manusialah yang perlu mempersembahkan sesajen…!!!

Single Post Navigation

83 thoughts on “Sesajen Untuk TUHAN

Navigasi komentar

  1. Tuhan tidak butuh manusia atau makhluk apapun juga, maka selayaknyalah manusia yg memberikan persembahan sebagai bukti ketundukan, ketaatan, dan keikhlasan? *selamat datang kembali* 😎

  2. ajak-ajak on said:

    Mantapffff suratapffff…..
    btw, Pelanggar hukum juga banyak yg memberikan sajen ke aparat hukum agar perkaranya tuntas… hehehe ..

    Sesajen untuk Tuhan alangkah bagusnya jika disertai keikhlasan 36% (artikel bang SM lainnya) hehehe…

  3. kalo sesajennya dukun gak bisa kita makan,sajen kita tgl 27 bisa kita makan, hehehe

  4. pertnyaan yag timbul adalah kenapa sedekah atausesaji itu kdg bertingkat tkt nilainya? sesuai permohonn?suwn…

  5. timbul pertanyaan adalah mengapa nilai “sesajen” terkadang harus sesuai hajat?suwuuun…

    • JELATANG on said:

      salam…
      kira2 kalo kita ke dokter untuk berobat penyakit batuk & kangker sama gak ongkosnya?…
      ya jelas beda lah…sesuai penyakit…
      kira2 ilmu dunianya begitu…semoga nyambung 🙂
      mungkin nanti lebih lengkapnya ada bang SM/saudara yang lebih mengerti yang akan menjelaskan…
      kalo saya hanya sekedar menjalankan sesuai fungsi…meramai-ramaikan dunia….
      Salam penuh cinta untuk semua pecinta-NYA…

  6. hehehe… orang yang memberi (sajen) itu yang perlu berterima kasih karena ada kesempatan memberi (sajen). Yang menerima (sajen) sebenarnya tidak dapat apa-apa (selain materi sajen tersebut)

  7. arung palakka on said:

    Alhamdulillah, ada Mas (atau Mbak?) Sufi Muda di sini… Jadi, bolehlah kiranya saya ikut numpang tanya sedikit. Ya? Begini Mas (atau Mbak), dari bahan apakah alam semesta dan segalanya ini – batinnya maupun dzahirnya – dicipta? Sudah, itu saja unek2nya. Matur suwun, tengkyu…

  8. Setuju..Tuhan tidak membutuhkan sesajen..

  9. Sesajen para wali adalah tidak tidur dan laparnya ya?..

  10. Bang SUFI MUDA,
    Menurut Abang Tuhan tdk memerlukan sesajen, lalu buat apa kita mempersembahkannya? Apakah semata-mata hanya karena ada perintah, supaya digolongkan hamba yang taat ?Ato memang ada hikmah yg diperoleh setelah mempersembahakan? Tolong donk Sharing Bang…

  11. Sajen itu opo yo?

  12. Jaman sekarang banyak pejabat minta sesajen
    seperti jin

  13. SEJARAH TENTANG SESAJEN

    Hal seperti sesajen, dalam cerita sejarah pernah diperbuat oleh anak Adam yaitu Habil & Qobil, tapi masa itu bukan lah mempersembahkan kepada Tuhan, tetapi dalam rangka bersyukur.

    Nabi Adam perintahkan kepada Habil & Qobil untuk menyajikan beberapa hasil ladang pertaniannya untuk disimpan di atas puncak gunung, sebagai tanda rasa syukur kepda Tuhan. Maka Nabi Adam tegaskan bahwa hasil ladang tani hya harus yang baik dan bagus, apabila persembahan tsb habis maka tanda nya diterima Tuhan, maka bila persembahan itu tidak habis tidak diterima Tuhan .

    Apa yang dipersembahakan oleh Habil adalah hasil ladang panen yang paling baik dan bagus, sedang yang dipersembahkan oleh Qobil adalah ladang panen yang buruk, dan bahkan ada yang busuk.

    Maka persembahan hasil ladang panen yang disimpan diatas puncak gunung tsb dimakan oleh binatang dan burung. Persembahan Habil habis tak tersisa, yang tandanya di terima oleh Tuhan.

    Sedang persembahan Qobil tersisa, yang tandanya tidak diterima Tuhan, karena Qobil mempunyai sifat serakah dan cupet serta pelit, sehingga yang dipersembahkan adalah buah-buahan yang kurang baik.

    Pada saat itu untuk mengamal kan kebaikan belum banyak orang seperti sekarang yang bisa menyalurkan, zakat dan sodaqoh, dari hasil usahanya. Sehingga persembahannya disampaikan kepada makhluq Tuhan selain manusia yaitu alam kehidupan.

    Tradisi mempersembahkan jenis hasil bumi pada masa Nabi Adam adalah menyimpan beberapa bagian hasil bumi yang terbaik dan terbagus di puncak gunung. Disamping persembahan itu Nabi Adam membuat tanda kepada alam dengan membakar kayu dan reremputan, sehingga asap nya membumbung tinggi ke udara.

    Jadi pada dasarnya apa yang dipersembahkan berbagai jenis makanan buah-buahan dan hasil bumi dengan membakar wangi-wangian adalah, hanyalah suatu tanda dari rasa syukur dari dalam hati, dan terimakasih kepada Alam telah memberikan berbagai kenikmatan hidup, yang akhirnya makanan itu dimakan lagi oleh manusia juga, dan yang sampai kepada alam adalah interaksi antara sesama makhluq Tuhan.

    Disinilah terdapat suatu interaksi antara manusia dan Alam kehidupannya, karena manusia sesungguhnya tercipta dari unusur-unsur Alam( tanah, air, udara, dan api).

    Sepertihalnya, manusia mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan dengan memberikan zakat infaq sodaqoh kepada sesamanya yang kurang mampu sebagai fakir miskin, tapi manusia jaman sekarang melupakan bahwa apa yang dia dapatkan adalah bersumber dari alam, dan tidak pernah berterimakasih kepada alam, malah merusak dan mengotori kondisi alam. Sedankan kepada Alam yang menjadi sumber kehidupan dilupakannya.

    Bahkan manusia jaman sekarang berbuat kebaikan selain menolong adalah untuk mendapatkan pahala dan ganjaran surga, bukan iklhlash karena Tuhan.

    Salam .

  14. JELATANG on said:

    mantab artikelnya bangSM…
    bagi saya pribadi TUHAN tak pernah butuh persembahan..tapi kita yang “butuh” mempersembahkan kepada-NYA…

    “Barang siapa yang mampu berkorban, tetapi dia tidak mau berkorban maka janganlah dia dekat-dekat dengan tikar sembahyangku” (Hadits Riwayat Ahmad dan ibnu Majah)

  15. cah angon on said:

    Wah sudah pada pinter cerita semua rupanya,budaya dongeng berkambang lagi ya ?

    • duluuuuuuuuuuuuuuu sekali,,,saya juga terperangkap dalam doktrin pemikiran orientalis berjubah yang mengatakan bahwa isra Mi’raj itu adalah dongeng yang sama sekalitidak masuk akal….lantaran saya blom tau…jadi saya mengiyakan pendapat itu dan terjebak sekian lamanya dalam kebodohan tersebut…

      kalo ada yang orang lain membesar2kan peristiwa suci Isra Mi’raj RASULULLAH SAW,maka saya mengejek orang tersebut dan mengatakan ….”dongeng aja qo di besar2kan!!!”…
      tapi setelah saya mengetahui kebenaranya sekarang…MASYA ALLAH betapa ilmiahnya peristiwa Isra Miraj tersebut…ternyata dulu itu “saya yang bodoh”
      :-“

  16. Salam hangat mas SM.
    Dah lama ngga jalan-jalan ke sini.
    Ditunggu postingan barunya…. 🙂

  17. Meskipun dari dongeng selagi dpt dijadikan pelajaran untuk berbuat lebih baik dan tidak bertentangan dg Al Qur’an dan Al hadist apa salahnya? daripada sok paling benar, sok….sok dan sok tapi lisannya penuh caci maki dan hatinya busuk iri dengki.

  18. Wuah, masih belum di-update.
    Ya sudah, pamit lagi….

  19. Mantab…
    pengetahuan yang aseli.
    Layak untuk dibaca.

  20. Bagaimana halnya dengan Qurban?

  21. Pedang besar on said:

    Bang SM..
    Kalau kita mati, ruh kita kemana yach………

  22. Bgus bener ‘sajen’ nya bang..

  23. Musa Amin on said:

    Salam semua,

    Semoga Allah swt melimpahi hidayah dan memeberikan bimbingan ke jalanNya yang lurus. Saya cukup senang membaca artikel saudara Abu Hafidh Al Faruq. Ia amat padat dengan informasi lagi mengashikkan saya bila membacanya.

  24. Kuntowijoyo on said:

    Apa menyembah tuhan bisa diartikan mempersembahkan sesuatu untuk tuhan?

  25. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  26. Assalamualaikum….

    Abangda Sufimuda dan Abangda Abu Hafidh Al Faruq yang saya hormati..

    Mohon penjelasan dengan tulisan Sesajen

    Dalam tradisi/kegiatan dikampung pada umumnya, bahkan sering juga itu dilakukan kaum Muslim….misal acara kenduri/selamatan
    baik kelahiran bayi/temanten/orang meninggal dll disana juga disajikan yg namanya nasi tumpeng,ingkung ayam,telur rebus jajan pasar dll yg dihias sedemikian rupa.

    Selanjutnya pemanjatan doa Syukur atau doa selamat dipimpin oleh seorang tokoh agama(Ustad/modin) dan pada akhirnya nasi tumpeng dll itu dimakan bersama-sama para hadirin baik muslim maupun non muslim yg hadir disitu.

    pertanyaan saya apa makanan itu termasuk Sesajen??

    Sebab sy pernah juga mendengar kalimat pembuka yg disampaikan Pak Ustad/Pak Modin yg memimpin Doa bahwa makanan yg disajikan itu semua merupakan Sodaqoh dari keluarga si fulan yg bersyukur atas karunia nikmat/rezeki yg diberikan Alloh pd keluarga si fulan.
    Atau kata Pak Ustad Sodaqoh itu merupakan ucapan terimakasih pd hadirin/jamaah yg telah bersedia ikut memanjatkan Doa atas meninggalnya anggota keluarga si fulan..
    Kalau itu semua dikatakan sesajen saya kok jadi ngeri….mohon penjelasan

    Demikian kurang lebihnya mohon maaf
    Wassalam

  27. Purwahedi on said:

    Tentang sesajen, ini pengalaman nyata dari adik ipar saya yg ada di kota Juwana (Jateng). Ketika masih sekolah di SMA, dia pernah memakan kue sesajen yg diletakan ditambak udang dekat rumahnya. Malam harinya, ketika tidur, dlm kondisi antara sadar dan tidak sadar, dia didatangi makhluk besar (gendruwo ?) minta spy kue yg dimakan dikembalikan. Tetapi dia menolak, akhirnya duel dan dia yg menang. Esok harinya sampai sekarang tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya dgn paman saya yg di Medan, juga pernah makan buah sesajen orang cina di pekongnya. Malam harinya langsung meracau dgn bhs cina/mandarin, yg sebenarnya paman tidak bisa sama sekali bhs cina/mandarin. Dgn melalui seorang dukun, setelah potong ayam dan mengembalikan buah yg dimakan, baru bisa normal lagi. Dari kejadian diatas, saya yakin bahwa sesajen yg diletakan dikuburan, sungai, dll, disadari atau tidak oleh sipemberi sesajen, memang itu yg diminta makhluk jin. Jadi wajar kalau sesajen tsb ada yg mengatakan syirik. Lain halnya dgn kenduri (sesajen ?) setelah berhasil panen padi, lulus ujian, dll, menurut saya itu merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah atas karuniaNya. Jadi tidak ada unsur syiriknya.

  28. Akan saya serahkan seluruh hidup dan mati saya untuk ALLAH.. seluruhnya.

  29. Ping-balik: Link-link Pembongkar Kedustaan « UMMATI PRESS

  30. nur hupi ar on said:

    apalah arti sebuah nama, Tuhan akan melihat tujuan dan motifasinya, siapapun orangnya

  31. Ping-balik: Para Blogger Pendobrak Kepalsuan « UMMATI PRESS

  32. Abu hilal on said:

    sesajen untuk Alloh yg baik adalah menjalankan perintahnya,menjauhkan larangannya, jgn takabur/ujub mersa paling benar, krn kebenaran mutllak milik Alloh semata, maka kita berusaha mencari kebenaran utk mendapat ridloNya, bukan merasa benar dan yakin mendpt ridlonNya……

  33. KUCKLUK on said:

    segala sesuatu karena niat,

    memakai istilah qurban untuk ALLAH, diwaktu bulan dzulhijah, tetapi jika hatinya tdk bisa mengenal/berhubungan dengan ALLAH maka berarti ini termasuk telah memberikan sesajen kepada selain ALLAH.

    memakai istilah sesajin, diwaktu bukan apapun, dengan barang apapun (yang halal -minyak,binatang,makanan), tetapi jika hatinya dapat berhubungan dengan ALLAH, maka itu adalah HAQ /benar

  34. salam kenal…..
    artikel yyg bagus….

  35. Unik_izur@ymail.com on said:

    Aslmlaikum. . .wr. . Wb, mnrut sya kta ‘sesajen untk Tuhan’ kurang pantas. Krn bgi yg blum pham hnya mlihat s’kilas tntg sesajen, mrka psti brnanggpan sesajen ko membwa nma” Tuhan pdhl sesajen suatu hl yg bruk, pa lg rang” non islam psti mrka lbh branggpn s’akn” mw mrndhkn Tuhan dgn mbwa kta” sesajen. Tu lh angpn rang yg gk pham. Jd s’baikx untk K’Tuhanan jgn lh mnggunakn kta sesajen krna kta itu membwa DAMPAK(mnjdkn orang slah tnggpan bgi yg tdk pham).

  36. mawarsunardi on said:

    cocok bang saya sangat setuju dengan artikel abang

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: