Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sebuah Cerita Tentang Bid’ah di Kampung Kami

Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.

“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.

Kang Hanif hanya diam saja. Ia sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal “ngeyel” dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.

Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan paham betul dasar-dasar amaliyah itu, ia tetap tak membantah dan membiarkan orang itu terus menudingnya. “Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup jenggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,” batin kang Hanif.

Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengamini.

“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya. Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya, selama-lamanya”.

Si jenggot bercelana cingkrang menghampiri Kang Hanif, bermaksud menghentikan doanya.
“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku sih yakin doaku sampai,” ujar kang Hanif tenang.
Muka si jenggot bercelana cingkrang pucat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang biasa menghakimi orang lain.

Humor ini dikutip dari : nu.or.id

Single Post Navigation

86 thoughts on “Sebuah Cerita Tentang Bid’ah di Kampung Kami

Comment navigation

  1. cip…

  2. Ruslianto on said:

    Guru-ku (pernah) berkata : “Nanti ada kala-nya kalian akan lihat “anak kecil berjanggut”, kerja nya mengumbar kata; ini salah,- itu salah sana bid’ah sini bid’ah sepertinya dia yang paling tau tetang risalah agamamu, kesannya seperti (tadi malam) baru saja bertemu Nabi Muhammad.
    Walaupun ia tamatan dari Mesir (Al Azhar) sekalipun, kalau belum menemukan Wasilah, ….berarti ia belum melaksanakan “perintah Allah SWT” dalam Suraah Al Maidah – 35 : Hai orang beriman, bertakwa pada Allah Carilah/temukan Wasilah.
    Wassalam.

  3. hahahaha………. si jenggot bercelana cingkrang kena batunya.., !

  4. SAEFUL SOFYAN on said:

    Assalamu’alaikum… maaf saudaraku, bila ada yang tidak sejalur dengan kita biarkanlah jangan kita juga adili mereka dengan cerita kebenaran versi kita, mereka punya hujah, kita pun sama, maaf di sini saya bukan untuk menasehati Sufi Muda, di tempat saya belajar tidak pernah membid’ahkan tapi guru saya tak pernah mengikuti apa yang di jalankan muslimin pada umumnya, sehingga membuat saya berfikir untuk mencari tau kenapa ada yang membid’ahkan & menjadikan sebuah renungan, jujur diri pribadi alhamdulillah Allah memberikan informasi yang saya dapat tidak di sangka-sangka malah bukan dari orang yang sering menghakimi dengan kesimpulan bid’ah waalu akhirnya saya datangi juga mereka, malah datang saat saya tidak mencarinya. Terlepas dari menghakimi bid’ah atau tidak yang saya cari kenapa tahlilan di bid’ahkan oleh sebagian kaum muslimin, saya mengacu kepada surah “Al A’raaf(7) : 204. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. Menurut pemahaman logika saya yang terbatas apabila kita menentang atau bahasa halusnya bertolak belakang dengan apa yang sudah diperintahkan Allah bukan hanya dosa, tetapi kita bisa mendapatkan kerugian, kalo bahasa umumnya kualat, bisa mendatangkan mudharat, apalagi azab, saya kira anda setuju dengan saya soal ini. Coba kita lihat fenomena di masyarakat pada umumnya di Indonesia tercinta ini, seringkali kita dapati orang yang tahlilan ketika membaca surah Yasin serentak bersamaan, ada yang suaranya lebih lantang dan bahkan ada yang sangat lembut & halus, bahkan tanpa kita sadari sering melupakan marhraj, panjang dan pendeknya tiap kalimat di dalam Al-Qur’an, bahkan ada yang terburu-buru menyelesaikan surah Yasin (mungkin juga buru-buru untuk menyantap makanan yang sudah di hidangkan lebih-lebih sudah di niatkan datang karena makanan ini). Bagaimana semua yang hadir mendapatkan Rahmat dari sisi Allah sedangkan perintah yang jelas ada mereka langgar, inilah yang menjadi pertimbangan dasar untuk saya tidak menghadiri tahlilan semacam ini, namun saya tetap ber-Tahlil untuk diri saya pribadi kepada Allah. Sedangkan Maulid yang pada umumnya masyarakat menjalaninya saya juga mendapatkan informasi ini dari Internet ketika saya membaca cukup mengagetkan saya ternyata banyak penyimpangan yang saya dapati dari syair-syair mereka syarat dengan kemusrikan seperti halnya Maulid Barazanji yang terkandung dalam kitab Majmu’atu Mawalid wa Ad’iyyah ini dalam halaman 72-147, di dalamnya terdapat banyak sekali kesalahan-kesalahan dalam aqidah, seperti kalimat-kalimat yang ghuluw (melampaui batas syar’I) terhadap Nabi, kalimat-kalimat kekufuran, kesyirikan, serta hikayat-hikayat lemah dan dusta. Saya beri contoh 1 dari sekian bait syair tersebut:

    1.Berdoa dan Beristighotsah kepada Nabi
    Penulis berkata dalam halaman 1114:

    يا بشير يا نذير

    فأغثني و أجرني يا مجير من السعير

    يا ولي الحسنات يا رفيع الدرجات

    كفر عني الذنوب و اغفر عني السيأت

    Wahai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan

    Tolonglah aku dan selamatkan aku, wahai penyelamat dari neraka Sa’ir

    Wahai pemilik kebaikan-kebaikan dan pemilik derajat-derajat

    Hapuskanlah dosa-dosa dariku dan ampunilah kesalahan-kesalahanku

    Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata karena penulis berdoa kepada Nabi dan menjadikan Nabi sebagai penghapus dosa, dan penyelamat dari azab neraka,padahal Allah berfirman:

    قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا(20)قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا(21)قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا(22)

    “Katakanlah: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan akau tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Jin: 20-22).

    anda bisa cari sendiri lah di internet juga ada kok banyak, kalo belum ketemu mungkin saya bisa bantu (http://nahimunkar.com/4216/kesesatan-kitab-barzanji-qashidah-burdah-dan-maulid-syarafil-anam-2/), tapi saya juga tidak sepenuhnya setuju apa yang di kemukakan pada link ini, ada bagian-bagian menurut saya benar, tapi juga tidak

    Ini lah pendapat saya dan mungkin juga sebagai perwakilan dari mereka yang tidak mau mengikuti acara ke agamaan yang menurut pada umunya adalah suatu ibadah yang di nilai baik. Saya menempatkan diri di tengah-tengah tidak memihak juga tidak kontra agar semua Muslim tidak terpecah belah dan saling membenci.

    Dalam pandangan saya anda tidak berlaku adil kepada mereka yang meyakini untuk tidak menjalankannya, bahkan bisa mengakibatkan perpecahan akibat kilafiah yang tak pernah kunjung selesai,kalo boleh usul anda juga harus cari tau kenapa mereka tidak meyakini atau tidak menjalankan tahlilan dan maulid, lalu serahkan kembali pada mereka karena Hidayah hanyalah milik Allah semata. Selebihnya saya minta maaf, bila dalam pandangan saya juga salah karena Sufi Muda bisa melayangkan e-mail kepada saya, karena kebenaran sejati hanyalah milik Allah, kenapa saya meminta maaf bukan mohon maaf…. bagi saya memohon hanyalah kepada. Allah. Terimakasih. Assalamu’alaikum

    • laksa satriya on said:

      mas apa bedanya minta sama memohon he he he, kalau yang dibumi memaafkan maka dilangitpun juga….(maaf ya)

    • rindu mursyid on said:

      Mas, kalo dari internet mah..anak kecil juga bisa bikin webnya,nulis apapun semua orang bisa entah dia pendidikan agamanya seperti apa..dikit2 internet..cari guru mas..guru yg nasabnya jelas nyambung sampe rasululullah..
      Btw,cerita bidah nya bagus saudaraku sufimuda..pelajaran tuh buat si jenggot clana cungkring..dikit2 bidah,dolalah,neraka..neraka dengkul mereka apa..

  5. laksa satriya on said:

    nasehat para guru jadilah seperti Ikan, walaupun di air laut yang asin dia tetap tawar, Amin

  6. Sufi Muda kira-kira apa sih yang menyebabkan mereka anti kepada hal seperti ini, mungkin mereka punya alasan atau hujah yang kuat menurut mereka, klo bisa kasih tau saya donk alasan mereka ini. terimakasih.

  7. Sufi Ganteng on said:

    Salam saudara ku..

    Wahabi dan mereka yg hobi mengkafirkan saudaranya sendiri, memang sangat memalukan..

  8. Sukiswanto Tejo on said:

    laksanakan ibadah yg jelas ada pahalanya aja yaitu mengikuti tuntunan Rosul SAW…..klo diluar itu pahala lom pasti tapi capeknya udah pasti….ingatlah di akherat nanti Rosul SAW akan menjadi pembenar atas ibadah2 yg kita lakukan….ketika si Fulan beribadah tidak sesuai dg Tuntunannya maka Fulan akan ditanya: “yg menyuruh ibadah seperti itu siapa?”….jawabnya: “si botak guru saya” si botakpun dipanggil….dst sampe kpd orang2 yg menciptakan ibadah itu dipanggil……tapi ketika si Fulan ditanya: “siapa yg menyuruh ibadah seperti itu?” Fulan menjawab “Rosul SAW” maka ibadah itu langsung diterima n dinilai oleh Allah SWT……hayo pilih yg mana? silakan mau cepet atau mbulet

    • laksa satriya on said:

      maaf mas apa benar dan yakin bahwa ibadah mas disuruh oleh rasul SAW, kapan ketemunya, kalau cerita dari Kitab dan informasi lain, masa Rasullah Muhammad, kalau mau masuk Islam dihadapkan ke Rasullullah SAW …(maaf sekedar mengingatkan)

      • Abu Nawfal on said:

        @laksa satriya, ketika kita hidup tidak sezaman dengan Rasulullah SAW, rujukan tentang tuntunan dan tata cara beribadah tentu saja dari sunnah beliau yang kita kenal sebagai hadits. Karena kita tidak mungkin berjumpa dengan Rasulullah SAW di dunia ini.

        Bacaan, gerakan, rukun dan syarat dalam shalat kita juga berdasarkan hadits. Anda terlalu lugu jika mengatakan kita harus berjumpa dulu dengan Rasulullah jika kita ingin melakukan suatu ibadah. Atau mungkin Anda melakukan shalat tanpa berdasarkan hadits? Karena Anda akan berkilah “Kamu kan gak pernah ketemu dengan Rasulullah SAW? Kok kamu menyalahkan aku yang shalat Subuh empat rakaat ini? Jadi shalat saya bisa jadi benar kan?”

  9. Sukiswanto Tejo on said:

    mendo’akan orang meninggal (mayat) adalah wajib kifayah (setiap ada sahabat yg meninggal Rosul SAW slalu mensholati n mendoakan, tak satupun firqoh Islam yg membid’ahkan doa kpd orang yg meninggal (mayat),,,…..contoh yg antum sampekan itu adalah tuduhan tanpa hujjah yg benar

  10. Sukiswanto Tejo on said:

    memelihara jenggot n pake clana cingkrang itu termasuk sunnah Rosul…..klo ga mau melaksanakan itu jg silakan…asal jangan ketika poligami….buru2 berhujjah “ini sunnah Rosul” maka itu sama saja dengan menghina Junjungan Kita Rosul SAW…..hati2 sodaraku…

    • laksa satriya on said:

      Maaf mas Sukis salam kenal, apa benar rosul pake celana cingkrang ????? kok aq ngga pernah dengar info pake celana, yang saya dengar pake jubah…

      • Abu Nawfal on said:

        Tampaknya mas laksa harus belajar memahami makna sebuah hadits. Celana adalah bagian dari pakaian, dan kalau celana itu melewati mata kaki itu sudah menyelisihi sunnah. Jadi intinya bukan terletak pada celananya, karena hadits itu juga mencakup sarung, celana, jubah atau apapun pakaiannya.

        Kalau celana cingkrang dan jenggot sudah jadi bahan olok-olok dan tertawaan, berarti Islam sudah kembali menjadi asing seperti pada awalnya. Dan berbahagialah bagi orang2 yang terasing karena berpegang teguh pada Quran dan Sunnah.

        • Ruslianto on said:

          TIDAK asing lagi Celana cingkrang dan berjanggut seliweran di mall-mall,… maka teruslah berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah, Hm,..tapi Qur’an anda yang terbuat dari kertas (itu) lapuk jika diletakkan di Gunung,…Lihat-lah Qur’an yang diletakkan oleh Guru Kami pada Gunung Galunggung pada 1982,…. Gunung meletus jadi/pasti padam. ah.

          “Sekiranya Kami turunkan Al Qur’an ini kepada sebuah Gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir” (Al Qur’an Suraah Al Hasyr ayat 21)
          Kebetulan Gunung Lokon di Sulawesi sedang batuk-batuk, sudikah Anda meletakkan Qur’an disana ? Tentu demi keteguhan Anda ? dan (maaf) saya prihatin anda jadi orang asing.
          Wass, Mohon maaf.

          • Abu Nawfal on said:

            Maaf mas rusli, Quran yang saya maksud disini bukanlah dalam bentuk harafiahnya yaitu kertas atau mushafnya. Berpegang teguh pada Quran dan sunnah itu dalam kandungan makna dan isi yang ada di dalamnya. Kalau saya harus meletakkan Quran di gunung lokon agar batuknya berhenti berarti saya telah memuja Quran dalam bentuk kertasnya bukan dalam bentuk kalamullah.

            Karena yang dapat meredakan batuk Anda atau gunung lokon adalah Allah Ta’ala bukan karena Anda meletakkan mushafnya di kerongkongan Anda atau di kawah gunung. dan saya tidak mau menjadi orang syirik dengan melakukan hal nista semacam itu. Kalau Anda meyakini bahwa letusan galunggung bisa padam karena guru Anda meletakkan Quran di gunung itu, ya terserah Anda. Kalau menurut saya, Allah lah yang memadamkan letusan itu.

            Dan kenapa juga Anda mempermasalahkan orang bercelana cingkrang dan berjanggut (maksud Anda mungkin berjenggot, karena setiap orang pasti punya janggut) yang ada di mall? Anda tidak menjelaskan apa yang dilakukan mereka di sana. Bukankah mall itu bebas dimasuki siapa saja? Bukankah di mall juga dijual sarung, kopyah dan baju muslim? dan ada juga toko2 buku di dalam mall. Kalau mereka berkeliaran di tempat pelacuran baru bisa Anda pertanyakan.

            Anda tidak perlu prihatin dengan keterasingan saya, karena saya berbahagia dengan kondisi dan jalan hidup yang saya jalani, seperti juga Anda berbahagia dengan jalan yang Anda pilih.

            • Ruslianto on said:

              #Tangan Allah di atas tangan mereka (QS.Al-Fath,ayat 10) (Wajah Allah di atas wajah mereka)
              #Kalau mereka melihat, Aku matanya (Hadist Qudsi,HR Bukhari)
              #Kalau mereka mengambil,Aku tangannya (Hadist Qudsi HR.Bukhari)
              #Kalau mereka berjalan, Aku kakinya (Hadist Qudsi,HR Bukhari)
              #Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah seperti para Nabi-Nabi,Siddiqin (Ulama)Syuhada dan Solihin (Ulama) (QS.An-Nisa Ayat 69).
              Yth.Sdr(Ku)Ustad Abu Nawfal,…Semoga Allah melimpahkan rahmat dan maghfirohNya,.. mohon maaf jangan tersinggung.
              Wass.

  11. mantaaaaappp….. maju terus omm sufi muda :)

  12. abu yosse on said:

    Assalamu’alaikum… afwan saudaraku

    Ini adalah sub kajian yang sangat penting yang membantah anggapan orang yang dangkal akal dan ilmunya, jika bid’ah atau ibadah yang mereka buat diingkari dan dikritik, sedang mereka mengira melakukan kebaikan, maka mereka menjawab : “Demikian ini bid’ah ! Kalau begitu, mobil bid’ah, listrik bid’ah, dan jam bid’ah!”

    Sebagian orang yang memperoleh sedikit  dari ilmu fiqih terkadang merasa lebih pandai daripada ulama Ahli Sunnah dan orang-orang yang mengikuti As-Sunnah dengan mengatakan kepada mereka sebagai pengingkaran atas teguran mereka yang mengatakan bahwa amal yang baru yang dia lakukan itu bid’ah seraya dia menyatakan bahwa “asal segala sesuatu adalah diperbolehkan”.

    Ungkapan seperti itu tidak keluar dari mereka melainkan karena kebodohannya tentang kaidah pembedaan antara adat dan ibadah. Sesungguhnya kaidah terseubut berkisar pada dua hadits. Pertama  : Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    “Artinya : Barangsiapa melakukan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada di dalamnya, maka amal itu tertolak”.

    Hadits ini telah disebutkan takhrij dan syarahnya secara panjang lebar.

    Hadits ini telah disebutkan takhrij dan syarahnya secara panjang lebar.
    Kedua : Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur.
    “Artinya : Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu” Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366)
    dimasukkan ke dalam bab dengan judul : “Bab Wajib Mengikuti Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam Masalah Syari’at Dan Yang Disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Tentang Kehidupan Dunia Berdasarkan Pendapat”, dan ini merupakan penyusunan bab yang sangat cermat Atas dasar ini maka sesungguhnya penghalalan dan pengharaman, penentuan syari’at, bentuk-bentuk ibadah dan penjelasan jumlah, cara dan waktu-waktunya, serta meletakkan kaidah-kaidah umum dalam muamalah adalah hanya hak Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada hak bagi ulil amri [1] di dalamnya. Sedangkan kita dan mereka dalam hal tersebut adalah sama. Maka kita tidak boleh merujuk kepada mereka jika terjadi perselisihan. Tetapi kita harus mengembalikan semua itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun tentang  bentuk-bentuk urusan dunia maka mereka lebih mengetahui daripada kita. Seperti para ahli pertanian lebih mengetahui tentang apa yang lebih maslahat dalam mengembangkan pertanian. Maka jika mereka mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan pertanian, umat wajib mentaatinya dalam hal tersebut. Para ahli perdagangan ditaati dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan perdagangan. Sesungguhnya mengembalikan sesuatu kepada orang-orang yang berwenang dalam kemaslahatan umum adalah seperti merujuk kepada dokter dalam mengetahui makanan yang berbahaya untuk dihindari dan yang bermanfaat darinya untuk dijadikan santapan. Ini tidak berarti bahwa dokter adalah yang menghalalkan makanan yang manfaat atau mengharamkan makanan yang mudharat. Tetapi sesungguhnya dokter hanya sebatas sebagai pembimbing sedang yang menghalalkan dan mengharamkan adalah yang menentukan syari’at (Allah dan Rsul-Nya), firmanNya. “Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk” [Al-Araf : 157] [2]. Dengan demikian anda mengetahui bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan tertolak. Adapun bid’ah dalam masalah dunia maka tiada larangan di dalamnya selama tidak bertentangan dengan landasan yang telah ditetapkan dalam agama [3]. Jadi, Allah membolehkan anda membuat apa yang anda mau dalam urusan dunia dan cara berproduksi yang anda mau. Tetapi anda harus memperhatikan kaidah keadilan dan menangkal bentuk-bentuk mafsadah serta mendatangkan bentuk-bentuk maslahat.” [4] Adapun kaidah dalam hal ini menurut ulama sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah [5] adalah : “Sesungguhnya amal-amal manusia terbagi kepada : Pertama, ibadah yang mereka jadikan sebagai agama, yang bermanfaat bagi mereka di akhirat atau bermanfaat di dunia dan akhirat. Kedua, adat yang bermanfaat dalam kehidupan mereka. Adapun kaidah dalam hukum adalah asal dalam bentuk-bentuk ibadah tidak disyari’atkan kecuali apa yang telah disyariatkan Allah. Sedangkan hukum asal dalam adat [6] adalah tidak dilarang kecuali apa yang dilarang Allah”. Dari keterangan diatas tampak dengan jelas bahwa tidak ada bid’ah dalam masalah adat, produksi dan segala sarana kehidupan umum”. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut dalam kitabnya yang sangat bagus, Al-Bid’ah Asabbuha wa Madharruha (hal. 12 –dengan tahqiq saya), dan saya telah mengomentarinya sebagai berikut, “Hal-hal tersebut tiada kaitannya dengan hakikat ibadah. Tetapi hal tersebut harus diperhatikan dari sisi dasarnya, apakah dia bertentangan dengan hukum-hukum syari’at ataukah masuk di dalamnya”. Di sini terdapat keterangan yang sangat cermat yang diisyaratkan oleh Imam Syathibi dalam kajian yang panjang dalam Al-I’tisham (II/73-98) yang pada bagian akhirnya disebutkan, “Sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan adat jika dilihat dari sisi adatnya, maka tidak ada bid’ah di dalamnya. Tetapi jika adat dijadikan sebagai ibadah atau diletakkan pada tempat ibadah maka ia menjadi bid’ah”. Dengan demikian maka “tidak setiap yang belum ada pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga belum ada pada masa Khulafa Rasyidin dinamakan bid’ah. Sebab setiap ilmu yang baru dan bermanfaat bagi manusia wajib dipelajari oleh sebagian kaum muslimin agar menjadi kekuatan mereka dan dapat meningkatkan eksistensi umat Islam. Sesungguhnya bid’ah adalah sesuatu yang baru dibuat oleh manusia dalam bentuk-bentuk ibadah saja. Sedangkan yang bukan dalam masalah ibadah dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’at maka bukan bid’ah sama sekali” [7] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah (hal. 22) berkata, “ Adapun adat adalah sesuatu yang bisa dilakukan manusia dalam urusan dunia yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, dan hukum asal pada masalah tersebut adalah tidak terlarang. Maka tidak boleh ada yang dilarang kecuali apa yang dilarang Allah. Karena sesungguhnya memerintah dan melarang adalah hak prerogratif Allah. Maka ibadah harus berdasarkan perintah. Lalu bagaimana sesuatu yang tidak diperintahkan di hukumi sebagai hal yang dilarang? Oleh karena itu, Imam Ahmad dan ulama fiqh ahli hadits lainnya mengatakan, bahwa hukum asal dalam ibadah adalah tauqifi (berdasarkan dalil). Maka, ibadah tidak disyariatkan kecuali dengan ketentuan Allah, sedang jika tidak ada ketentuan dari-Nya maka pelakunya termasuk orang dalam firman Allah. “Artinya : Apakah mereka mempunyai para sekutu yang mensyari’atkan untuk mereka agama  yang tidak dizinkan Allah?” [Asy-Syuraa : 21] Sedangkan hukum asal dalam masalah adat adalah dimaafkan (boleh). Maka, tidak boleh dilarang kecuali yang diharamkan Allah. “Artinya : Katakanlah. Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. ‘Katakanlah, ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [Yunus : 59] Ini adalah kaidah besar yang sangat berguna. [8] Yusuf Al-Qaradhawi dalam Al-Halal wal Haram fil Islam (hal.21)berkata, “Adapun adat dan muamalah, maka bukan Allah pencetusnya, tetapi manusialah yang mencetuskan dan berinteraksi dengannya, sedang Allah datang membetulkan, meluruskan dan membina serta menetapkannya pada suatu waktu dalam hal-hal yang tidak mendung mafsadat dan mudharat”. Dengan mengetahui kaidah ini [9], maka akan tampak cara menetapkan hukum-hukum terhadap berbagai kejadian baru, sehingga tidak akan berbaur antara adat dan ibadah dan tidak ada kesamaran bid’ah dengan penemuan-penemuan baru pada masa sekarang. Dimana masing-masing mempunyai bentuk sendiri-sendiri dan masing-masing ada hukumnya secara mandiri. [Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah Fi Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar] __________ Foote Note [1]. Maksudnya ulama dan umara [2]. Ushul fil Bida’ was Sunan : 94 [3]. Ini batasan yang sangat penting, maka hendaklah selalu mengingatnya! [4]. Ushul fil Bida’ was Sunan : 106 [5]. Al-Iqtidha II/582 [6]. Lihat Al-I’tiham I/37 oleh Asy-Syatibi. [7]..Dari ta’liq Syaikh Ahmad Syakir tentang kitab Ar-Raudhah An-Nadiyah I/27 [8]. Sungguh Abdullah Al-Ghumari dalam kitabnya “Husnu At-Tafahhum wad Darki” hal. 151 telah mencampuradukkan kaidah ini dengan sangat buruk, karena menganggap setiap sesuatu yang tidak terdapat larangannya yang menyatakan haram atau makruh, maka hukum asal untuknya adalah dipebolehkan. Dimana dia tidak merincikan antara adat dan ibadah. Dan dengan itu, maka dia telah membantah pendapatnya sendiri yang juga disebutkan dalam kitabnya tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya. [9]. Lihat Al-Muwafaqat II/305-315, karena di sana terdapat kajian penting dan panjang lebar yang melengkapi apa yang ada di sini.

    • Kaum Wahabi sudah dua kali menguasai Hijaz.

      Yang pertama pada tahun 1803 M. sampai dengan 1813 M.

      Yang kedua setelah keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani yang diupayakan oleh Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) dan “pengaruh” Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia, atau dengan kata lain kaum Wahabi menguasai Hijaz untuk kedua kalinya mulai tahun 1925 M. sampai sekarang.

      Sumber: I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru…….

  13. abu yosse on said:

    Assalamu’alaikum… afwan saudaraku Sufi Ganteng pelajari dulu kitab
    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab jangan asal komentar tanpa ilmu,mohon dipeljari bener-bener

    Orang-orang biasa menuduh “wahabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo’a (memohon) hanya kepada Allah semata. Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba’in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi. “Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah.” [Hadits Riwayat  At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih] Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, “Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela.” Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, “Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.” Ia lalu menyergah, “Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!” Penulis lalu bertanya, “Apa dalil anda?” Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, “Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’d![1]” dan Aku bertanya padanya, “Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa’d dapat memberi manfaat kepadamu?” Ia menjawab, “Aku berdo’a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.” Lalu penulis berkata, “Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.” Ia lalu berkata, “Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi.” Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, “Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.” Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.” Kemudian penulis tanyakan jama’ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih. Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, “Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu’ (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).” Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan, “Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.”, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka khutbah dan pelajarannya. Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya, “Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”  [Al-Hujurat: 11] Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi’i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, “Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.” Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, “Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi.” Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!” PENGERTIAN WAHABI Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa). Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah.  Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.” Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata. Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Al-Qur’an menegaskan: “Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” [Yunus : 106] Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas: “Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah. [1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman: “Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” [Shaad : 5] Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta’ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya. Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat. Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -rahimahullah- telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shallallahu ‘alaihi wa sallam “. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat. Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya. Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab. [2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan: ” Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim] Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh. Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul. [3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah”, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan. Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka. Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga. [Disalin dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq] ________ Foote Note [1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa’d yang dikuburkan di dalam masjidnya. [2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. Yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para sahabat dan tabi’in [3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. [4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran.

    • laksa satriya on said:

      wah kepanjangan bos, yang baca jadi bingung, memang ahli kitab suka yang panjang2 he he he….apa nggak bisa ke intinya, jadi para pembaca langsung memahaminya…….(maaf ya)

    • Dalam buku “Kasfus Syubahat” karangan ulama-ulama Wahabi, cetakan “An Nur” Nejdi, dapat diambil sejarah paham Wahabi ini ialah :

      Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari qabilah Banu Tamim, lahir 1115 H., wafat tahun 1206 H.

      Kalau sekarang ini tahun 1431H / 2010M, maka Muhammad bin Abdul Wahab wafat sudah 225 tahun yang lalu.

      Mula-mula ia belajar agama di Makkah dan di Madinah. Di antara gurunya di Makkah terdapat nama Syeikh Muhammad Sulaiman al Kurdi, Syeikh Abdul Wahab (bapaknya sendiri) dan kakaknya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab.

      Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi), karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.

      Menurut Ustadz Hasan Khazbyk dalam suatu karangannya dikatakan, bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pada ketika mudanya banyak membaca, buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan lain-lain pemuka…..mempelajari kitab sesat kok di suruh …..???

    • Tetapi dalam sejarah ini dapat diambil pula, bahwa Raja Makkah ketika itu tidak menyukai paham Wahabi, serupa dengan Raja-raja di Basrah dan di ‘Ainiyah.

      Muhammad bin Abdul Wahab biasa memfatwakan bahwa orang-orang di Makkah itu banyak yang kafir, karena mereka membolehkan mendo’a dengan tawassul di hadapan makam nabi, membolehkan berkunjung dari jauh menziarahi makam Nabi, mendo’a menghadap ke makam Nabi, memuji-muji Nabi dengan membaca nazhasn Burdah “Amin Tadza”, membaca shalawat Dalailul Khairat yang berlebih-lebihan memuji Nabi, membaca kisah-kisah Maulud Barzanji dan akhirnya mereka dikafirkan karena tidak mau mengikut Muhammad bin Abdul Wahab.

      Terebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

      Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
      Muhammad menjawab: “lima”.
      Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan 6!
      Muhammad: Apa, ?
      Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
      mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
      Muhammad : Terdiam dan marah.

      Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi…..

    • Tertulis juga dalam buku ini sejarah perdebatan seorang laki-laki dengan Muhammad bin Abdul Wahab.
      Seorang laki-laki bertanya : “Berapa orang yang dibebaskan Tuhan dalam bulan Ramadhan?”
      Muhammad bin Abdul Wahab : “Seratus ribu”.
      Laki-laki itu bertanya lagi : “Pada akhir malam bulan Ramadhan berapa?”
      Muhammad bin Abdul Wahab menjawab : “Pada akhir bulan Ramadhan dibebaskan Tuban sebanyak yang telah dibebaskannya tiap-tiap malam Ramadhan”. (Jawaban ini sesuai dengan sebuah hadits Nabi).
      Laki-laki ini bertanya lagi : “Dari mana diambil orang Islam sebanyak itu padahal murid kamu tidak sampai sebanyak itu?” Muhammad bin Abdul Wahab marah dan berusaha menangkap orang itu.

      Dari riwayat ini dapat dipetik suatu hal, yaitu bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pada permulaan fatwa-fatwanya banyak sekali mengkafirkan orang-orang yang tidak mau menerima fatwanya.

      Muhammad bin Abdul Wahab sejak membuka fatwanya di Dur’iyah tidak mau ke Makkah dan Madinah lagi, karena ia tidak sudi melihat orang-orang membuat “ma’shiat” di Makkah dan di Madinah, katanya.

      Yang dikatakannya, “makshiat” itu ialah berbondong-bondong pergi ziarah ke makam Nabi, mendo’a dengan bertawassul dengan “jah” Nabi, mendo’a dengan menghadap ke makam Nabi (bukan ke Qiblat), adanya kubbah-kubbah di atas pekuburan mu’ala di Mekkah, di Baqi’i di Madinah, di pekuburan Uhud di Madinah juga dan ditempat maulud Nabi di Suq al leil di Mekkah ini semua menurut Muhammad bin Abdul Wahab; amalan syirik atau sekurangnya membawa kepada syirik..

    • udah jd kebiasaan kalo menjawab pertanyaan dengan copy paste yang panjaaaanggg bgttt….

  14. Ruslianto on said:

    Aneh saja rasanya,…..Maulud Nabi Muhammad SAW, Yang ummat Islam cintai, sebagian mengatakan bid’ah,….Eh,…diam-diam Ummat Nasrani merayakan Maulud Yesus pada Hari Natal 25 Desember dengan acara “Sunatan massal” dan membagi-bagikan kain sarung, dan sembako.
    he,..he,…he,…he,…Lhoo piyee to mas,..opo Ummat Nasrani (ini) juga bid’ah.??.

    • laksa satriya on said:

      tidak apa mas rusli, yang penting tidak mengganggu, dan berlaku sopan, bukankah rata2 orang nasrani berlaku sopan, juga hindu dan buddha, terkadang dari umat islam sendiri yang merusak, ingat pesan nabi, islam rusaknya bukan dari Agama lain akan tetapi dari Umatnya sendiri….

  15. Heran. Terlalu banyak tanggapan keras untuk arikel ini.padahal ini masuk kategori artikel humor. Sepertinya pemikiran saya kalo kelompok islam garis keras adalah orang2 yang anti kritik benarlah adanya. Untuk para jenggoters,”santai aja broo” :-)

    • laksa satriya on said:

      tergantung niatnya, kalau dijadikan humor ya jadi, kalau niatnya selain itu ya…..begitu, Ingat pesan nabi tergantung niatnya….

  16. husainahmad on said:

    Walah salafi nashibi mah ngaku benar sendiri aja diluar pemahaman dia meraka sesatkan, kafirkan dan bid’ahkan…

  17. laksa satriya on said:

    Ass maaf koment mengenai tahlilan dan maulid, mengumpulkan orang2 untuk mendoakan bagi yang meninggal atau disebut tahlillan bagi yang melaksanakannya dan jangan memaksakan hidangan seadanya, hal positifnya tahlilan dan maulidan :
    1. bersilaturahmi dengan sesama muslim dan mukmin kalau ada
    2. Mendoakan bagi yang meninggal dan yang membaca mendapatkan pahala
    bukankah 2 hal diatas bernilai positif.
    kalaupun ada orang yang beriman apalagi islam (mukmin) kalau si meninggal selam tidak menyekutukan Alloh, Insya Alloh mendapatkan pembelaan dari kedua beliau, memang di masa nabi muhammad tidak ada tahlilan karena beliau2 dan sahabatnya sudah mewakili dan yang meninggal banyak gugur sebagai syuhada (ibaratnya sudah kaya di alam barzah) dan nabi sendiri menjamin akan surga, klo yang tidak menggunakan tahlil, tidak juga bisa disalahkan karena melihat pada masa Nabi tidak ada, akan tetapi kalaupun kelompok atau golongan tersebut ada orang beriman dan mukminnya tidak mengapa, sudah mewakili, kenapa? ya karena beliau2 itu orang akherat kenal betul lha wong daerahnya dan petugas2 seperti tentara mungkar dan nakir segan kepada beliau2, didunia ini baginya hanya ibarat perjalanan mampir minum dan berangkat lagi……ingat maut tidak mengenal waktu kapan dan dimana, bisa saja diambil sewaktu-waktu, lantas apa yg kita andalkan amalkah, bisakah kita menghadapi dua petugas yang satunya menanyai dan satunya membawa senjata, kalau kita mengharapkan amal mudah2an amal kita baik dan diterima alloh, sayyidina Umar saja menghadapi 2 petugas tsb agak gugup dan takut padahal beliau tidak takut pada siapapun kecuali Alloh dan rasullnya….mudah2an bermanfaat

  18. tukang sandal on said:

    yg d makdud bid’ah adalah sesuatu yg berlebhn dlm agama,jd klo mslh naik mobil ms bid’ah jg??
    pis kang ^_^

    • laksa satriya on said:

      Sebenarnya masalah2 itu sederhana saja, yang terpenting didunia ini mencari orang yang bisa menghidupkan hati dan bertarung dengan iblis dan bala tentaranya, yang merusak amaliyah-amaliyah, bukankah rasulullah mengatakan tidak bisa masuk surga bila hanya menggantungkan amal….

  19. Buat semua komentator tulisan ini yang saya hormati :

    Dahulu, membaca komentar orang – orang yang suka meneriakan bid’ah kepada saudara sesama muslim lainya hati ini selalu panas dan gatal untuk mendebat…. dan saya pun memang termasuk orang yang suka menyalahkan ajaran murid orang lain (DAHULU)

    Tapi sekarang? saya hanya tertawa kecil jika membaca komentar orang – orang seperti itu. saya tidak menyalahkan kepada kalian yang suka membid’ahkan orang lain. Dimata Guru saya yang jelek sekalipun di bilang BAIK. Dahulu saya bingung Mengapa yang buruk pun masih dibilang baik…. oh, ternyata yang buruk itu calon orang baik.

    Terserah anda saja lah kalo beda pendapat itu kan biasa, bagus sekali anda punya pendapat dari pada tidak sama sekali, sekalipun pendapat itu masih salah. Semoga Anda mendapat hidayah seperti saya. AMIEN.

    Buat SM, Apik tenan ceritanya hehe Lovin it :)

  20. Siapakah kaum Wahabi atau Salaf(i) ?

    Kalau di jazirah Arab umumnya mereka dikenal dengan nama kaum Wahabi suatu kaum yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab atau Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari Najd yang menurut kabar, beliau seorang ulama yang mempelajari tulisan/karya-karya Syaikh Ibnu Taimiyah. Namun kita sadari bahwa apa yang dipahami oleh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mungkin 100% sama dengan pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Pastilah bercampur dengan pemahaman beliau sendiri apalagi “belajar” nya beliau hanya melalui tulisan/karya bukan bertemu langsung karena masa kehidupan mereka terpaut jauh..

    Kaum Wahabi mengusahakan agar mereka diluar jazirah Arab dikenal dengan nama salaf(i) atau Salafy agar mendekati kemiripan dengan ulama salaf.

    Kalau dilihat dari sisi nama pencetusnya, Muhammad bin Abdil Wahhab seharusnya kaum itu bernama Muhammadiy, karena takut disalah artikan maka akhirnya disepakati mengambil dari nama ayahnya sehingga menjadi kaum Wahabi.

    Mereka senang dipanggil sebagai kaum Wahabi karena mereka pahami panggilan itu serupa dengan Al-Wahhab ( الوهاب ) yang merupakan salah satu diantara nama-nama Allah Yang Agung, yang berarti Yang Maha Memberi.

    Namun karena sejarah kelam “pergerakan” kaum Wahabi yang melakukan “gerakan” berdasarkan pemahaman dan penilaian mereka sendiri akhirnya mereka tidak meyukai panggilan Wahabi sehingga selanjutnya memperkenalkan diri dengan panggilan Salafy, kalau saya lebih suka memanggil mereka dengan Salaf(i) agar kita bisa membedakan dengan salaf yang sesungguhnya.

    Ulama Muhammad bin Abdul Wahab ketika ia pindah ke Dur’iyah.

    Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.

    Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.

    Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.

    Jadi bagi saya ulama Muhammad bin Abdul Wahab merupakan ulama pragmatis, demi kepentingan kekuasan Muhammad bin Sa’ud atau dinasti Sa’ud. Oleh karenanya dapat kita pahami bagaimana ulama Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan pemahamannya untuk mempertahankan kekuasaan Muhammad bin Sa’ud salah satunya dengan slogan “Jangan memberontak kepada penguasa selama mereka masih sholat walaupun penguasa itu dzhalim”. Kaum Wahabi sangat menghindari jama’atul minal muslimin dengan alasan akan menimbulkan firqah/golongan padahal hakikatnya mereka mencegah timbulnya “kekuataan” jama’ah disamping kekuatan sang penguasa dinasti Sa’ud. Wallahu a’lam

    Selengkapnya silahkan baca tulisan pada

    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/10/pertengkaran-wahabisalafi/…….

  21. Katanya sufi itu kalangan mengedepankan akhlak yang luhur dengan membuat cerita humor di atas berarti akhlakmu dipertanyakan. Itu kan berarti menceritakan sesuatu yg tdk sejalur dgn sufi berarti dianggap jelek. Akhirnya yg timbul komentar yg miring terhadap orang berjenggot dan berpakaian di atas mata kaki. Dan bagi yg tdk suka terhadap orang yg berjenggot semakin menemukan amunisi untuk menyerangnya. Berarti akidah sufimuda menurut saya sangat dipertanyakan yg merasa sok dekat sama اللّه. Himbauan buat semua apabila kalian menemukan sesuatu yg merasa aneh ttg akidah bertanyalah dan cari referenci ilmunya, jangan langsung menyerangnya dengan akalnya. Kebenaran hanya milik اللّه dan kalo ßέĹŭм̅ tahu ilmunya lebih baik diam

    • Humor aja dah bikin wahabi ngamuk, konon kalau benar ya?
      Anda tidak usah bicara akhlak. Coba anda baca sejarah bagaimana wahabi membunuh puluhan ribu ummat Islam di Arab.
      Wahabi merusak situs2 berharga peninggalan Rasulullah.
      Mereka mengkafirkan kelompok di mereka.
      Ulama wahabi tidak berani mengkritik raja arab yg tiap hari berbuat maksiat, karena wahabi memang pesanan mereka.
      Artikel di atas saya kutip dari situs NU. Tradisi NU juga dianggap bid’ah oleh wahabi/ salafi yang hanya mengandalkan jenggot saja.
      Lalu apa salah kalau menegur wahabi lewat humor lembut di atas?
      Atau menurut anda kurang keras?

      Ciri2 khas wahabi memang spt itu, anti kritik dan merasa benar sendiri

      • Aa gharexs on said:

        astaghfirllah,,, allah maha penolong,, bagi hamba2nya yang mau mencari kebenaran,,, andaikan orang2 seperti anda di dunia ini berjumlah banyak,, inilah salah satu tanda akhir zaman,,,

        • abdiLLAH on said:

          mohon maaf, bagaimana saudara ngaku mencintai Allah tapi ciptaanNya saja anda benci, ingat kelompok manusia diluar kelompok anda itu juga ciptaan Allah dan Allah menciptakan segala sesuatu itu tidak ada yang sia2….merasa lebih baik dr org lain adalah takabur..mohon maaf salam kenal…

        • kalo kayak anda banyak zaman udahan yah hha

  22. begini… kenapa wahabi / salafy berbeda? secara sederhana karena wahabi berdalil rata2 berdalil dengan yang tertulis, kalo tidak tertulis maka di diharamkan.. ato juga di contohkan , yang tidak di contoh kan diharamkan… pertanyaan nya apakah semua yg tidak di contoh kan itu haram?… mungkin bisa dilihat disini http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/maksud-perkara-syariat/
    ato di bagian lain website tersebut

  23. Megan Fox on said:

    Mohn perbnyk cerita spt itu ya bang SM,krn sy dan anak2 sy sngt menyukainya,spt crt jaman sufi abunawas.salam kenal!

  24. mabuk cinta on said:

    saudaraku semua, alhamdulillah ini rahmatan membuat kita semua berfikir dan berlomba utk mereguk anggur ALLAH agar terus dimabukkan, salam saya dan pesan saya ber agamalah dg hati, berbicaralah melalui hatimu, ingat amal yg paling benar itu bukan dalil yg paling kuat, tetapi disini di hati kita masing masing yg membekaskan Rakhman Rakhim nya, ALLAH hanya memilih org org yg ikhlas dan ikhlas itu adalah rahasia ALLAH dan org yg dicintai, jd sekarang waktunya org islam berlomba tidak hanya membuka kitab tetapiberlombalah menjadi yg berguna menjadi yg welas asih menjadi yg tiap malam menangis merasakan kerinduan yg dalam

  25. abdiLLAH on said:

    maju teruzz sufi muda…..mari qta trz mendekat kpdNya jgn pedulikan koment dr saudara2 kita yang masih tertutup hatinya..smg kita & mereka trz mendapat nur makrifat….dariNya..amin..

  26. lakum dinukum waliyadin

  27. akusih setuju ama sufi muda kalo pak jenggot itu anti kritik, dankebetulan namaku hanif,diapikir hbs dari mesir udah paling hebat emangnya klo ngajinya benar siapa yg mo nerima.jangan hanya mengandalkan amal pak jenggot,surga tdk dikasih karana amal.

  28. habibzaen alfaqir on said:

    BAGAIMANA HUKUMNYA ORNG YG SUDAH BERSYAHADATAIN? LALU BAGAIMANA PULA HUKUMNYA MENGATAKAN KAFIR,MUNAFIK,FASIK,PD ORG YG SUDAH MENGUCAPKAN KALIMAT SYAHADATAIN ………?HATI2LAH DGN LIDAH ANDA KARENA ITU KUNCI STATUS DIRIMU

    • Assalamualaikum. Mengkafirkan sesama muslim itu tidak baik, namun mendoakan seseorang Ɣªήğ sudah meninggal dengan doa Ɣªήğ buruk juga bukan perbuatan Ɣªήğ baik. Saling introspeksi diri mungkin akan lebih baik.

    • kreco22 on said:

      manusia ada tingkatnnya ( sesuai ungkapan sayyidina Ali KW, dibagi 3 , orang yg selamat, berilmu dan manusia umunya) dan sesama muslim tdk boleh mengkafirkan, munafik dsb, krn bisa jadi yg mengatakan itu juga demikian, lebih baik buktikanlah kebajikan atas ketaqwaan dan jangan saling menghina, apalagi ada tindakan pengusiran krn tidak sepaham atau sejalan, krn tuhan yang berhak menghakimi dan dimintai pertanggung jawaban masing2. yang miskin jangan bersedih dan jangan sesali diri, yang kaya janganlah bangga dan jangan membusungkan dada, krn derajat manusia disisi tuhannya hanyalah Taqwanya….

  29. Ruslianto on said:

    Maaf,..Jika mengapa Saya membenci Wahabi, itu karena “merekalah” secara historis menutup alkah-alkah zikir di Jabal Qubais di Makkah dgn meminjam tangan Raja Saud, sekaligus menyatakan Thareqat itu tidak sesuai dengan ajaran Islam (katanya).
    Ini adalah hura-hara pertama dalam sejarah Islam (Sufi,/Tasauf/ Pengamal ,Thareqat) suatu tempat dzikir (suluk) di Jabal Qubais Makkah (dulunya rumah Rasulullah dan atas perintah Beliau dibuat untuk tempat orang berdzikir) di tutup atas nama “Kedholiman Kekuasaan”.
    Jadi jika ada pengikut wahabi kemudian hari tidak faham ini ya,… pantas-pantas aja karena sejarah ini telah ditutup-tutupi oleh Pemerintahan Arab Saudi dan “pentolan” nya wahabi itu.
    (Pengusiran) Pengamal Thareqat yang ada waktu itu pun ada diantaranya ke Asia (India), Afrika, dan Indonesia termasuk Nenek Guru SS Muhammad Hasyim Al Qolidi kembali ketanah air dan bermukim sampai akhir hayat Beliau (Minangkabau).
    Maaf,..Jika mengapa Saya membenci Wahabi itu, karena wahabi itu lebih dulu membenci dan menyerang saya menyerang Saudara-Saudara Saya se-iman.
    Wass.

  30. kreco22 on said:

    wah wah wah kok sampai terjadi pengusiran, kenapa sih sampai begitu…., padahal yg ngusir juga belum tentu bisa selamat..semoga tetap harmonis dan saling membantu antar pengikut sufiyatil muhaqiqin, salam

  31. cross913smiley.blogspot.com on said:

    Aku adalah aku..
    Kamu adalah kamu..

  32. insan faqir on said:

    Jika sesama muslim saling membid’ahkan, saling mengkafirkan, lantas islam yang mana yang benar? ini adalah kemenangan kaum kafir. yang berhasil memecah belah umat islam. yuk koreksi diri dan tetap jaga ukhuwah. masalah ibadah siapa yang diterima, itu urusan Allah. tak sedikit pendosa yang masuk syurga karena husnul khotimah, ada juga ahli ibadah yang masuk neraka karena su’ul khotimah. masalah furu’iyah jangan diperdebatkan. Asal aqidah tetap pada jalurnya

    rukun islam tak menjelaskan sholat harus bagaimana, puasa bagaimna, tapi Syahadatain yang jelas dan menjadi pokok aqidah Wallahu a’lam

  33. haiyooooo nyindir sy nech….jenggotan celana cingkrang….hehehe

  34. kepada SUFI MUDA, adakah caranya utk bisa bertemu anda ,, “AKU ADALAH ORANG YG SEDANG KEHAUSAN DIPADANG TANDUS”, terima kasih,,,

Comment navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 15.173 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: