Mengenang SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN

“Ulama adalah Pewaris Nabi” demikian dalam hadist disebutkan sebagai gambaran bahwa kedudukan ulama sangatlah mulia. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh  Imam Ahmad dalam Musnadnya (5:323), dan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1:122), dan ia menyatakannya shahih, dan ini disetujui oleh Imam Al-Dhahabi Nabi bersabda :

“Man lam yuwaqqir kabirana wa lam yarham saghirana fa laysa minna.”
“Barangsiapa tidak menaruh hormat pada orang yang lebih tua di antara kami atau tidak mengasihi yang lebih muda, tidaklah termasuk golongan kami”

Salah satu cara kita menghargai Ulama adalah dengan mengenang jasa-jasa Beliau dalam menegakkan agama, pada kesempatan ini saya mengangkat biografi salah seorang Syekh yang telah berjasa dalam berdakwah menyebarkan agama Islam melalui Thariqat Naqsyabandi. Beliau adalah Syekh Abdul Wahab Rokan dikenal juga dengan Syekh Basilam yang merupakan murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah. Saya pernah berziarah ke makam Beliau yang terletak di perkampungan Basilam, Kabupaten Langkat. Biografi Beliau saya ambil dari Makalah PEMIKIRAN SUFISTIK SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN Karya M. Iqbal Irham M.Ag, mudah-mudahan riwayat hidup Beliau dapat menjadi bahan renungan dan menjadi ilmu untuk kita semua.

 

Syekh Abdul Wahab dilahirkan dan dibesarkan dikalangan keluarga bangsawan yang taat beragama, berpendidikan dan sangat dihormati. Ia lahir pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1230 H di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau dan diberi nama Abu Qosim. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tambusei, seorang ulama besar yang ‘abid dan cukup terkemuka pada saat itu. Sedangkan ibunya bernama Arbaiyah binti Datuk Dagi bin Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim yang memiliki pertalian darah dengan Sultan Langkat. Syekh Abdul Wahab meninggal pada usia 115 tahun pada 21 Jumadil Awal 1345 H atau 27 Desember 1926 M.

Masa remaja Syekh Abdul Wahab, lebih banyak dipenuhi dengan mencari dan menambah ilmu pengetahuan. Pada awalnya ia belajar dengan Tuan Baqi di tanah kelahirannya Kampung Danau Runda, Kampar, Riau. Kemudian ia menamatkan pelajaran Alquran pada H.M. Sholeh, seorang ulama besar yang berasal dari Minangkabau.

Setelah menamatkan pelajarannya dalam bidang al-Quran, Syekh Abdul Wahab melanjutkan studinya ke daerah Tambusei dan belajar pada Maulana Syekh Abdullah Halim serta Syekh Muhammad Shaleh Tembusei. Dari kedua Syekh inilah, ia mempelajari berbagai ilmu seperti tauhid, tafsir dan fiqh. Disamping itu ia juga mempelajari “ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, balaghah, manthiq dan ‘arudh. Diantara Kitab yang menjadi rujukan adalah Fathul Qorib, Minhaj al-Thalibin dan Iqna’. Karena kepiawaiannya dalam menyerap serta penguasaannya dalam ilmu-ilmu yang disampaikan oleh guru-gurunya, ia kemudian diberi gelar “Faqih Muhammad”, orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqh.

Syekh Abdul Wahab kemudian melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Melayu dan berguru pada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau. Ia menyerap ilmu pengetahuan dari Syekh Muhammad Yusuf selama kira-kita dua tahun, sambil tetap berdagang di Malaka.

Hasrat belajarnya yang tinggi, membuat ia tidak puas hanya belajar sampai di Malaka. Ia seterusnya menempuh perjalanan panjang ke Mekah dan menimba ilmu                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    pengetahuan selama enam tahun pada guru-guru ternama pada saat itu. Di sini pulalah ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat pada Syekh Sulaiman Zuhdi sampai akhirnya ia memperoleh ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”.

Syekh Abdul Wahab dalam penelusuran awal yang penulis lakukan, juga memperdalam Tarekat Syaziliyah. Hal ini terbukti dari pencantuman namanya sendiri ketika ia menulis buku 44 Wasiat yakni “Wasiat Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi as-Syazali…”. Selain itu, pada butir kedua dari 44 Wasiat, ia mengatakan “apabila kamu sudah baligh berakal hendaklah menerima Thariqat Syazaliyah atau Thariqat Naqsyabandiyah supaya sejalan kamu dengan aku”. Hanya saja sampai saat ini, penulis belum memperoleh data kapan, dimana dan pada siapa Syekh Abdul Wahab mempelajari Tarekat Syaziliyah ini.

Pada saat belajar di Mekah, Syekh Abdul Wahab dan murid-murid yang lain pernah diminta untuk membersihkan wc dan kamar mandi guru mereka. Saat itu, kebanyakan dari kawan-kawan seperguruannya melakukan tugas ini dengan ketidakseriusan bahkan ada yang enggan. Lain halnya dengan Syekh Abdul Wahab. Ia melaksanakan perintah gurunya dengan sepenuh hati. Setelah semua rampung, Sang Guru lalu mengumpulkan semua murid-muridnya dan memberikan pujian kepada Syekh Abdul Wahab sambil mendoakan, mudah-mudahan tangan yang telah membersihkan kotoran ini akan dicium dan dihormati oleh termasuk para raja.

Salah satu kekhasan Syekh Abdul Wahab dibanding dengan sufi-sufi lainnya adalah bahwa ia telah meninggalkan lokasi perkampungan bagi anak cucu dan murid-muridnya. Daerah yang bernama “Babussalam” ini di bangun pada 12 Syawal 1300 H (1883 M) yang merupakan wakaf muridnya sendiri Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja Langkat pada masa itu. Disinilah ia menetap, mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah sampai akhir hayatnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab masih menyempatkan diri untuk menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu. Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan pada jamaah di Babussalam. Sebagian khutbah-khutbah tersebut -enam buah diantaranya- diberi judul dengan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah yakni Khutbah Muharram, Khutbah Rajab, Khutbah Sya’ban, Khutbah Ramadhan, Khutbah Syawal, dan Khutbah Dzulqa’dah. Dua khutbah lain tentang dua hari raya yakni Khutbah Idul Fitri dan Khutbah Idul Adha. Sedangkan empat khutbah lagi masing-masing berjudul Khutbah Kelebihan Jumat, Khutbah Nabi Sulaiman, Khutbah Ular Hitam, dan Khutbah Dosa Sosial.

Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu / dzuriyat-nya. Wasiat ini ditulisnya pada hari Jumat tanggal 13 Muharram 1300 H pukul 02.00 WIB  kira-kira sepuluh bulan sebelum dibangunnya Kampung Babussalam.

Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda  dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan. Dalam Munajat ini, terlihat bagaimana keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang  terus  bersambung  kepada  Rasulullah Saw.  Sedangkan  Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja. Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara itu, naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud al-Wahab Rokan pada tahun 1986.

Selain khutbah-khutbah, wasiat maupun syair-syair, Syekh Abdul Wahab juga meninggalkan berbait-bait pantun nasehat. Pantun-pantun ini memang tidak satu baitpun tertulis namun sebagian diantaranya masih dihafal oleh sebagian kecil anak cucunya secara turun temurun. Menurut Mualim Said, -salah seorang cucu Syekh Abdul Wahab yang menetap di Babussalam saat ini- ia sendiri masih hafal beberapa bait pantun tersebut, seperti halnya dengan Syekh H. Hasyim el-Syarwani, Tuan Guru Babussalam sekarang. Dalam karya-karya tulisnya inilah, akan terlihat pemikiran-pemikiran sufistik Syekh Abdul Wahab seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Martin van Bruinessen  menggambarkan sosok  Syekh Abdul Wahab sebagai khalifahnya Sulaiman Zuhdi yang paling menonjol di Sumatera, seorang Melayu dari Pantai Timur… Ia mengangkat seratus dua puluh khalifah di Sumatera dan delapan orang di Semenanjung Malaya. Syekh Melayu ini memiliki pengaruh yang demikian luas di kawasan Sumatera dan Malaya sebanding dengan apa yang dicapai para Syekh Minangkabau seluruhnya…”

Bahkan menurut Zikmal Fuad, mengutip pernyataan Nur A.Fadhil Lubis dalam sebuah seminar “Perbandingan Pendidikan Indonesia Amerika” di Aula 17 Agustus, Pesantren Darul Arafah Medan, tahun 1992 nama Syekh Abdul Wahab sangat dikenal dan diperhitungkan dikalangan Misionaris dan Orientalis di Amerika.

 

 

32 Tanggapan

  1. Emang daerah Sumatera Utara, Langkat dan Pangkalan Brandan serta sekitarnya banyak melahirkan syekh-syekh , wali dan khalifah-khalifah Allah… :)

    ^^ V
    PiiSS

  2. Alhamdulilah saya mengenal salah profil wali allah bernama Syekh Abdul Wahab Rokan.. Artikel ini bagus karena menggugah/menginspirasi saya untuk menghormati/patuh guru/mursyid kita.

    Btw ada blog bagus yang berisi hadist – hadist dzikir, ayat – ayat al quran ttg dzikir dan sufi.
    alamatnya di http://hudaya-organization.blogspot.com

  3. Abang, diluar konteks tulisan ini, saya ingin bertanya bagaimana menghadapi sahabat saya yang suka sekali menyebar aib-aib saya … meski tidak semuanya benar.

    ah saya kehabisan akal …

    • curhaaaaaaat

    • PAKAILAH PRINSIP INI : “KEBAIKAN YANG KITA DAPATKAN…. BUKAN KARENA ORANG LAIN… DEMIKIAN JUGA MUSIBAH YG DATANG KEPADA KITA BUKAN KARENA ORANG LAIN… TAPI KARENA ALLAH YANG TELAH MENENTUKAN DEMIKIAN”
      JADI….SERAHKAN SEMUANYA KEPADA ALLAH… ALLAH LEBIH TAHU YANG TERBAIK BUAT KITA!

  4. piss

  5. salam yaa…. abg sufimuda

    terima kasih ya bang, dengan adanya tulisan ini jadi bertambah-tambah ilmu kami.
    kami pernah dengar puisi dari aceh, selengkapnya kami lupa karna dengan bahsa aceh. tapi yang paling kami ingat bait “HUKOM BAK SYIAH KUALA” yang artinya menurut kami hukum ada pada SYEKH KUALA. berarti begitu berpengaruhnya beliau di tanah rencong.
    Bang sufimuda….kalau lah boleh, kami mohon di tambahkan pengetahuan kami tentang SYEKH KUALA (SYEKH ABDURRAUF AS-SINGKILI).
    ribuan terima kasih kami ucapkan sebelumnya

  6. Insya Allah nanti riwayat Syekh Abdul Ra’uf akan di tampilkan di sufimuda

  7. ============================================
    Abang, diluar konteks tulisan ini, saya ingin bertanya bagaimana menghadapi sahabat saya yang suka sekali menyebar aib-aib saya … meski tidak semuanya benar.

    ah saya kehabisan akal …
    ============================================
    de, kita hanya bisa berdo’a agar sahabatnya bisa berubah, terkadang Tuhan memberikan ujian kesabaran lewat orang2 seperti itu, tinggal kita ambil hikmahnya saja…

  8. utk mbak Rindu…sejuta orang katakan engkau salah…asalkan jangan yg SATU itu…selesaikan ;) mending kt deket2 aja sm mas sufimuda, spy tenang hati ini :)

  9. waa buat mbak rindu,
    kan udah ada tuh dari sono nya, pepatah yang mengatyakan, doggi menggonggong, kafilah tetap berlalu,
    biarin aja lagi…., dari pada dipikirn bikin abis energi, biarin aja mereka capek ndiri, mendingan kita terus baca artikel mas SUFIMUDA yang konon kabarnya udah kenal ama yang empunya langit n bumi, ehehhe
    ampunn TUHAN

  10. Pesantren Darularafah Sumatera Utara Indonesia. Maju terus…

  11. Ass.salam kenal,alangkah indahnya jk sy boleh brgabung dan sll dpt kiriman makalah anda.tq

  12. Wa’alaikum salam…
    Salam kenal kembali
    Silahkan kirim pesan lewat email sufimuda@gmail.com, insya Allah setiap tulisan yang di posting disini akan saya kirim ke email anda…

  13. syekh abdulwahab ruokan adalah wali allah dan juga pejuang perintiskemerdekaan ri bagus

  14. Ass…patik mau tanya kenapa d blkng namanya bawa nama rokan,knpa tdk langkat tau semenanjung melayu
    By gaung tambususai

  15. Slmt malam. Mau nanyak nih. Apakah aliran Suffi tergolong dlm mazhab Suni? Sebab umat Islam di Indonesia adalah penganut mazhab Suni.

  16. Assalamualaikum, trmksh ustad, moga brmanfaat buat kt smua. Amin

  17. iman, islam dan ihsan satu keatuan fondasi agama Islam tdk dapt di pisahkan satu dengan yang lain, jadi sufi/tasawuf/tarikah adalan bagian dari wujud iksan itu, jadi jgn ragu dengannya krn nabi tlh mengajarkan…..Alahu akbar…

  18. pesantren almanar pujud, terus lanjutkan jihad sufi mu..amin

  19. Assalamualaikun wm.wb.
    Mau nanya nih. Apakah ada hubungannya antara Tuan syehck abdul wahab rokan dgn prof.dr. Kadirun yahya. Trmks.

  20. assalamualaikum w.w
    mau tanya,ada gak perkumpulan atau wadah bagi keturunan syekh abdul wahab rokan al khalidi naqsabandi? trims,wassalam.

  21. buat mbak rindu.., .., mestinya mbak bersyukur karena dgn demikian mbak dibersihakan dosanya oleh Allah.., bukankah mereka telah memakan bangkai suadaranya sendiri (ghibah) artinya semua amalnya diberikan ke mbak sebaliknya semua dosa mbak diberikan padanya.., asyik khan ?

    wassalam

  22. iya. Saya juga ada membaca salah satu buku biografi beliau. Dan saya sangat terkesan ketika ada gotong royong, yang ia dengan tidak segan membersihkan wc tersebut. Salut. . .

  23. Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”
    bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra (Samudra Pasai) , yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain (dikutip) menyebutkan sebagai berikut :“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi : “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”….
    Di Kutip dari ZILZAAL.

    Komentar Ruslianto : Yth.Sdr.Sufi Muda, harapan Saya, agar lebih menggali tentang ini, khusus Firasat Rasulullah SAW, bahwa di Pulau Sumatera adalah Pulau yang”istimewa” karena Allah Subhanahu wa ta’ala menakdirkan banyak terdapat Wali Allah, terdapat banyak Wali Allah,terdapat banyak Wali Allah, terdapat banyak Wali Allah.
    Wass.

  24. ngutip nya dari mna bg??

  25. Selamat hul tuan guru babusslam langkat yang ke 89. ilahi anta maksudi waridhakamathlubi.

  26. Allahu Akbar, semoga kesholehan beliau dapat menjadi panutan bagi generasi yang akan datang. Hamba kirimkan Alfatihah bagi beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.029 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: