SURAT ANDA

 

Assalamu’alaikum. Wr.Wb.

 

Bang Sufimuda, pertama saya mohon maaf menulis email ini secara pribadi ke email Anda, membuat Anda repot membuka, membaca dan insya Allah membalas email saya ini. Saya bermaksud mohon bimbingan dari Anda agar saya sedikit demi sedikit bisa memasuki dunia tasawuf karena saya yakin melalui jalur inilah saya dapat benar-benar bertobat atas semua dosa-dosa saya yang Bang Sufimuda pasti akan ngeri apabila saya ceritakan satu per satu. Kalau boleh saya ibaratkan saya ini sudah seperti binatang. Tidak ada satu dosapun yang belum saya lakukan. Astagfirullah… Astagfirullah. Sayapun tidak tahu apakah istigfar saya diterima Allah atau tidak. Saya merasakan tidak satupun doa-doa saya yang dikabulkan Allah. Sepertinya Allah sudah benar-benar berpaling dari saya. Saya takut… takut sekali. Usia saya sudah memasuki usia senja (49 th). Saya harus segera menemukan jalan yang benar. Tobat yang benar. Sujud yg benar. Bimbinglah saya untuk menuju kesana Bang. Apa yg harus saya lakukan. Mulai dari mana. Siapa yg harus saya tuju. Mohon bimbinglah saya.

Semoga bimbingan Bang Sufimuda dibalas oleh Allah SWT. Amin

 

Wass,

Sufi Bayi

————————————

 

Assalamualaikum.

 

 

Salam kenal dari saya. Langsung saja, saya tertarik artikel anda di web anda tentang tarekat, terutama tentang naqsyabandiyah, saya juga (insya Allah) seorang pelaku tarekat, dari tarekat qadiriyah, artikel anda sangat bagus, menggugah semangat jiwa tasawuf, begitu jelas, langsung, dan mudah di pahami. Saya rasa tak ada perbedaan antara kita yg terlalu jauh, karena tujuan kita sama. Hanya saja, maaf, boleh saya ajukan pertanyaan, kalau kita lihat seringkali tayangan di berita di televisi tentang tarekat naqsyabandiyah, menonjolkan unsur perbedaan yg sangat jauh. Misalnya kita ambil contoh pada hari raya idul adha kemarin, secara perhitungan rukyat ataupun hilal , hari raya tsb jatuh pada hari senin, tapi kenapa jamaah marsnaqsyabandiyah merayakan idul adha pada hari sabtu, atau 2 hari sebelumnya. Apakah ini hanya suatu perbedaan ciri saja atau suatu hal yg memang harus berbeda secara mendasar. Sifat berbeda dari tarekat naqsyabandiyah membuat saya khawatir atas tanggapan masyarakat umum, yg menganggap tarekat itu aneh, nyeleneh, atau kadang menganggap tarekat sebagai sebuah aliran sesat. Sayapun memahami kalau terjadi hal demikian. Mungkin menurut saya ini adalah pr buat para pelaku tarekat, agar tasawuf kembali diminati masyarakat umum, dan kembalinya kejayaan islam. Demikian dari saya . Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Assalamualaikum.
Dede Iskandar ditaruma@gmail.com

 

——————————————–

assalamu alaikum wr.. wb

semoga kita semua dalam keadaan sehat dan trus

diberikan kesempatan utk menyebut nyebut namaNYA dan

selalu dalam bimbingaNYA untuk terus lurus berguru.

AMIN..

saya punya masukkan bagaimana kalau tulisan yang ada

diblog sufimuda dinaikkan disurat kabar. seperti

dibatam yaitu harianbatampos.

http://www.batampos.co.id

epaper.batampos.co.id

email: redaksi@batampos.co.id

telp 0778 – 460-000 ext 237

Demikian masukkan dan ide dari saya, karena saya yakin

batampos mau menaikkan tulisan yang ada diblog

sufimuda.

 

Assalamualaikum

 

Manobatam manobatam@yahoo.com

——————————————

 

 

Surat dari miyono_epambudi@yahoo.com ke <sufimuda@gmail.com>

 

Kepada Yth :

SUFI MUDA

Di –

            Tempat.

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama aku memohon kepada Allah swt. agar senantiasa membimbingku dijalan yang diridloiNya, dan memenuhi hatiku dengan cahaya ilmuNya agar hatiku senantiasa bisa menjadi kendaraan akal dan fikiranku didalam berjalan diatas muka bumiNya. Amin. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada jujungan kita nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Kedua, aku tertarik dengan dunia sufi ketika aku membaca Kumpulan Puisi Sufi, kemudian aku membaca buku Faridudin Attar : Musyawarah Burung, dan Al-Hikam Athailah as Sakandary. Inti dari buku itu , kalau saya tidak salah dalam menyimpulkan, bahwa manusia terikat oleh kehendak Allah , dan oleh karenanya manusia harus senantiasa mencurahkan seluruh hidupnya untuk selalu beribadah kepada Allah . dan dalam beribadah itu manusia harus membersihkan hatinya dari segala berhala : baik itu harta benda, wanita, dan tahta. Barulah manusia itu bisa sampai menyatukan dirinya dengan Tuhan ( Allah swt. ) , bukan bertemu dengan Allah sebagaimana yang Saudara tadi sebut dalam berchating dengan saya : “Soefi Moeda: Ya, kita harus berbaiat kepada Guru Mursyid jika kita ingin benar2 merasakan perjumpaan dengan Tuhan…Dulu Almarhum bapak saya pernah bilang seperti itu. Kira-kira begini : kalau kamu sudah cukup berpuasa, dan hatimu bersih, engkau akan merasakan kehadiran Allah swt. dalam hatimu. Kamu bisa bertemu dengan seseorang yang mirip dengan kamu. Saat itulah kamu bisa merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. “ kira – kira begitu kurang lebihnya. Tapi itu terjadi dalam mimpi. Alasan Almarhum bapak, karena hal yang ghaib tidak mungkin hadir dalam diri seseorang dalam keadaan terjaga. Karena bentuk lahiriah manusia itu kotor, dan Yang Ghaib itu suci . Oleh karena itu dibutuhkan hati yang suci dan bersih dari segala nafsu.

Sayangnya, waktu itu aku tidak terlalu yakin dengan penjelasan alm. Bapak saya, karena aku anggap hal itu mustahil. Awal tahun 2006, Bapak saya meninggal. Aku pulang kampung. Aku bertanya pada saudara saya , bagaimana bapak meninggal. Saudara saya bilang, semua anaknya pagi itu dipanggil kerumah, kecuali saya yang berada di Jakarta. Beliau minta pada kakak pertama saya pengin makan bubur. Lalu dimasakkan bubur. Selesai makan, jam orang mau berangkat sholat jum’at, bapak minta supaya dibiarkan tidur. Semua saudara saya keluar dari kamarnya. Tak beberapa lama, adik saya masuk untuk melihat Bapak . Dari situlah ketahuan bapak meninggal. Dulu Bapak memang pernah bilang : kalau orang itu sudah cukup puasanya dan hatinya benar-benar bersih, dia bisa kembali kepada Yang Maha Kuasa sebagaimana yang diinginkan, asal syarat yang dipakai untuk kembali menghadap Allah swt. tidak bertentangan dengan keadaan yang sedang menghimpit hidupnya. Itu sama dengan bunuh diri, katanya. Harus dalam keadaan ihklas dan tidak dalam tekanan persoalan hidup.

Pada waktu itu ada kejadian aneh yang kualami. Aku pulang bersama anak dan istriku. Istriku lagi hamil sembilan bulan, dan anakku sakit panas. Sudah tigakali berobat ke dokter dan bidan. Tapi panasnya belum turun juga. Pas malam ketujuh bapak meninggal, besok sorenya kami mau balik ke Jakarta, sakit panas anakku belum turun juga. Sehabis tahlilan tujuh hari aku pulang ke mertua. Tengah malam sekitar jam satu, aku terbangun. Kuraba dahi anakku. Panas sekali. Aku kompres pakai air hangat. Tiba-tiba suasana takut menyelimuti diriku. Pikiran dan perasaanku kehal-hal yang tak masuk akal. Karena aku tak percaya dengan hantu tetek-bengek, aku paksakan diri keluar rumah berkeliling rumah, untuk memastikan benarkah kalau tujuh hari orang yang sudah meninggal mengunjungi anak-anaknya ? ternyata tak ada apa-apa. Aku masuk kembalike dalam rumah. Kuraba dahi anakku anakku, masih panas. Tak ada sepuluh menit. Antara tidur dan melek, aku mimpi ketemu bapak . aku seperti mengeluh kepada bapak: ” malah Anggit badannya panas sekali, besok tahu bisa balik ke jakarta atau tdk, kataku. Bapak menjawab : Kamu orangnya tak percaya sama hal ghaib. Aku percaya, Pak. Kataku. Sudahlah nanti juga sembuh. Hati-hati, kata bapak.”  Aku terbangun. Kuraba dahi anakku. Alhamdulillah. Anakku sudah sembuh. Ini sungguh diluar nalar dan akal manusia. Aku bangunkan istri saya dan kuceritakan memipiku itu. Diraba dahi anaknya. Benar sudah tidak panas lagi.

Peristiwa itulah yang membuatku kembali membuka-buka kembali buku – buku tasawuf. Dari situ aku mencoba belajar untuk bisa memahami dan mengamalkan sesuatu yang baik untuk kehidupan. Kenapa bapak saya bilang aku tidak percaya hal-hal ghaib ? karena selama ini aku lebih sering mengedepankan logika dalam menghadapi kehidupan. Dari situlah saya sering berselisih faham dengan bapak.

Almarhum bapak saya orang Islam , tapi tak pernah mengerjakan sholat. Persis apa yang diucapkan Syeh Siti Jenar : Shalat , puasa , tak ada gunanya, sampai kelimis jidatmu, kau tak akan mendapatkan apa-apa. ( Syeh siti Jenar, dalam buku Wali Songo ) . Inilah yang aku tak sependapat dengan almarhum bapak. Tapi yang diajarkan bapak, nabi dan malaikat sebagaimana yang diyakininya adalah nabi dan malaikat dalam islam. Setiapkali membaca do’a selalu berawal dengan Basmalah, dan kadang Syahadat. Inilah yang membuatku tak habis mengerti.

Itulah sekelumit kisah mengenai kehidupan yang membentuk pribadiku. Setelah sekian tahun aku mendengar pengajian Al-Hikam Drs. Imron Djamil, diantaranya berkata : untuk bertemu dengan Allah swt, kenapa harus menunggu sampai nanti. Kapan saja diinginkan bisa bertemu dengan Allah. Dari sinilah aku teringat dengan ucapan Bapak. Benarkah ? bagaimana rasanya ? bagaimana wujudnya Allah ? Benarkah manusia bisa bertemu dengan Allah selagi masih hidup ?

Menurut cerita bapak, gurunya dulu seorang kyai yang banyak mempelajari kitab-kitab agama. Namun sang guru tak menemukan apa yang dicari . kemudian Sang guru berpuasa mutih, sebanyak ia dikandung oleh ibunya : sembilan bulan sepuluh hari. Dari situlah gurunya mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa, dan memperoleh kehidupan bathin. Namun gurunya terus tidak melaksanakan sholat lima waktu sebagaimana seorang muslim melakukan kewajiban sholatnya.

Apakah Guru ini termasuk seorang sufi ?

Dan dari cerita, memang sang Guru dan beberapa muridnya memiliki kelebihan. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan pengajaran sang Guru. Gurunya mengajarkan tentang kebaikan sebagaimana Islam mengajarkan kebaikan. Kelebihan itu relatif, tergantung Yang Maha Kuasa. Bukan mengajarkan tentang kekebalan, karena menurut sang guru, tak ada manusia yang kebal senjata, jika orang itu mengerti akan hakekat penciptaan manusia yang terdiri dari tulang dan daging dan karena kuasa Allah orang itu bisa hidup. Inilah yang membuatku jadi bingung. Dalam beberapa riwayat Rasulullah SAW, terluka dalam pertempuran. Begitulah Sang Guru mengajarkan.

Pertanyaan saya :

  1. Apakah Sang guru dari guru bapak saya itu belajar tasawuf dan kesufian ?
  2. Lantas apa bedanya ilmu kebathinan orang jawa yang sering disebut Manunggaling Kawula dan Gusti Allah itu sama denga ajaran Sufi dari Ibnu Arabi dalam Fuushul al-Hikamnya tentang wahdat al-wujûd ?
  3. Kenapa orang belajar sufi harus memiliki Guru / Mursyd ?
  4. Seandainya dia tak memiliki guru/ mursyd , dan menjadikan ajaran Rasulullah SAW, para Ulama dan Guru-guru Sufi yang tertulis dalam kitab-kitab yang pernah ditulisnya menjadi bagian dari gurunya dan menjadikan Allah swt sebagai penuntun jalan untuk menuju kepadaNya, apakah itu salah ?

Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih untuk jawabannya. Semoga Allah swt selalu memberikan ridlo dan hidayahNya, agar kita dijauhkan dari prasangka-prasangka buruk, dan dari perbuatan fitnah yang keji.Amin. Sekiranya ada perbedaan mohon kita bisa menjadikan perbedaan itu sebagai satu Karunia dari Allah yang mengandung hikmah dan pelajaran untuk kebaikan kita semua.

Wasalaamu’alaikum Wr.Wb

Jakarta , 30 Oktober 2008.

 

miyono_epambudi@yahoo.com

===================================================================

 

 

 

 

 

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Alhamdulillah….., Wabillah….., Waminallah…..Wala hawla wala Quwwata illa billah…..
Asholatuwassalamu ‘alaika Ya Sayyidii Ya Rosulullah, KHuzbiyadii Qolat Hillati Adriknii…….
Salam dan berkah buat Saudaraku Sufi Muda……….
 
 
 
 

 

Untuk yang pertama kalinya Saya menanyakan kepada Saudara, Bagaimana kabar Anda Saudaraku…?

Do’a Saya semoga Anda tetap di dalam Naungan Kesehatan dan Keselamatan, serta yang terlebih penting lagi…. Ditetapkan Pendirian, Istiqomah dalam Iman dan Yakin, dibukakan segala rahasia Ilmu hingga sampai kepada “Mukassyafaturrobbanii……..”
Wahai Saudaraku……..
 
 
 
 

 

Perkenankan Saya menulis Email ini untuk Anda, sebab jika Saya tulis di Blog Sufi Muda, itu adalah suatu perbuatan yang tidak beradab. Lain Halnya jika sebatas menyapa, menambahkan, ikut berbagi saya rasa memang sangat tepat ditulis di blog sufi muda.

Wahai Saudaraku………

Benarlah apa yang sudah ditetapkan bahwa untuk menuju kepada Maqom Ma’rifatullah itu kita harus melewati Mursyid yang membimbing mulai dari Syari’at lalu naik kepada Thoriqot kemudian menuju kepada Hakikat. Kemudian pada Hakikat itulah berkah dari pada Nurun Ala Nurin menyinari Qolbu menembus kepada Sir Otak pada Akal lalu terbukalah Sir Ma’rifat pada Diri.
Di Maqom Ma’rifat itu Qolbunya lebih Dominan daripada Akalnya, Akal berperan mengikuti Suasana Qolbunya.
 
 
 
 

 

Katakanlah apa yang saya tulis ini hanya sebagai Sharing untuk sama-sama berbagi pengetahuan yang pada Hakikatnya Pengetahuan Ilmu itu hanyalah milik Allah Swt. Dan tidaklah di Dunia yang Fana ini kita adalah Saudara se Iman dan se Keyakinan yang walaupun mungkin ada beda pendapat tetapi tujuannya tetap SATU dan kembali kepada yang SATU. Dan juga saya harap Saudaraku Sufi Muda juga tidak segan-segan untuk memberikan masukkannya kepada Saya, itulah hikmahnya sebagai Saudara saling isi mengisi. Karena pada Zahirnya manusia itu ada kekurangan dan kelebihannya.
Wahai Saudaraku…………
 
 
 
 

 

Engkau telah mengatakan bahwa Posisi Mursyid itu sangatlah penting bagi sang Salik untuk mendapatkan Pencerahan Nur Muhammad Saw, sehingga wajib bagi kita untuk ta’at, hormat, tunduk, cinta, memuliakan dll kepada Mursyid. Karena dengan keta’atan kepada Mursyid sama halnya ta’at kepada Rosulullah Saw dan Ta’at kepada Rosulullah Saw sama halnya kita Ta’at kepada Allah Swt.
Jika kita kembali kepada Sejarah bahwa sebagian Sufi ada yang mendapatkan Pencerahan itu melalui Mursyid yang mempunyai silsilah Ilmu (mata rantai) seperti yang Anda kupas di Blog Sufi Muda. Tetapi kita tidak bisa membantah bahwa ada juga sebagian para Sufi yang mendapatkan Pencerahan itu tidak melalui Mursyid yang mempunyai Silsilah Ilmu (Mata Rantai),  akan tetapi dengan Kepasrahan diri serta keikhlasan diri maka mereka juga mendapatkan Pencerahan di Dirinya.
 
 
 
 

 

Bagi Saya itu menunjukkan Maha Adil dan Maha Bijaksanya Allah Swt. Kebenaran itu di dapat tidak hanya melalui Mursyid yang mempunyai Silsilah Ilmu melainkan juga melalui Mursyid yang mempunyai silsilah Spiritual/Rasa. Walaupun sekilas sama antara Silsilah ilmu dengan silsilah Spiritula/Rasa akan tetapi ada perbedaan yang sangat tipis diantara keduanya.
Kemudian Naiknya Maqom seseorang menuju Alam Robbani/Alam Lahut tentu ia melalui pendidikan/sekolah dengan Mursyid yang berbeda secara Zahir tetapi pada Hakikatnya Satu.
 
 
 
 

 

  1. Awalnya kita memandang kepada Mursyid Zahir, sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Ghozali bahwa jika Engkau tidak bisa mengingat Allah Swt maka ingatlah engkau kepada Guru yang sangat berpengaruh di jiwamu maka hakikat gurumu itu akan menyampaikan ke hadirat Allah. Lalu apakah kita hanya stop sampai disitu saja? Tentu tidak! jika kita hanya sebatas Poin ke-1, dari sisi “kacamata” Spiritual itu masih Sekolah Dasar (SD) walaupun dari sisi “kacamata” orang Awam itu sudah luar biasa tingkatannya. Pada Maqom ini menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM THORIQOTULLAH”.
  2. Pada Posisi ini Ia tidak menuntut Ilmu kepada Mursyid Zahir lagi tetapi kepada Sir yang pada Mursyid (Rosulullah). Pandangan Zahirnya ia tetap menghormati Mursyid Zahirnya layaknya seorang Anak kepada Orang Tuanya tetapi Pendiriannya sudah tidak kepada Mursyid itu lagi tetapi kepada Rosulullah. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam Kitab Fathul Ghoibi mengatakan : “Bahwa pada diri Nabi dan Rosul itu ada suatu Rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun begitu juga pada diri seorang Murid terkadang menyimpan suatu Rahasia yang tidak diketahui oleh Gurunya, sebaliknya Sang Guru pun menyimpan suatu rahasia yang tidak diketahui oleh Muridnya walaupun Maqom Sang Murid telah hampir sampai kepada Maqom Sang Guru. Tatkala Maqom si Murid sampai kepada Maqom Sang Guru maka tahulah ia akan Rahasia Gurunya. Lalu Tuhan mengatakan pada dirinya ; Aku putuskan dirimu dengan segala Makhluk, dengan segala isi dunia ini, dan juga Aku putuskan dirimu dengan Gurumu, Cukuplah Engkau berdialog dengan Tuhanmu Saja”. Pada Maqom ini Guru/Mursyid Zahir tak ubahnya hanya sebagai  Inang Pengasuh saja yang jika telah sampai umur 2 tahun maka ia tidak menyusu lagi kepadanya. Dan dipandangnya Sir pada Mursyid zahirnya tadi ada pada dirinya, yang Hidup di diri Mursyid itu adalah yang Hidup di Dirinya Juga. Karena itu Fokus pandangannya tidak kepada yang diluar dirinya lagi melainkan pandangannya tertuju kepada yang Hidup yang ada pada Dirinya. Itulah Hakikat Muhammad pada Diri. Itulah Maqom menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM HAKIKATULLAH”.
  3. Jika ia sudah tidak memandang dan tidak memfokuskan Qolbunya kepada Mursyid Zahir lagi dan hanya tertuju kepada Hakikat Muhammad yang ada pada Diri terus dan terus dan tetap di dalam Musyahadahnya (tapi bukan berarti ia cuek kepada mursyid zahirnya, Tidak! Ia tetap cinta dan hormat kepadanya tetapi hanya sebatas Zahir layaknya anak kepada orangtuanya) maka Allah Swt akan membukakan Tirai/Hijab yang sangat halus sekali sehingga akan diketahuinya dan dikenalnya serta dirasakannya Tuhan sebenarnya Tuhan atau Allah “Baqobillah”. Pada Maqom ini menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM MA’RIFATULLAH”.

Itulah perjalan Spiritual yang sebenarnya dan seharusnya di ikuti bagi mereka-mereka yang menuju kepada Allah Swt.

Ma’afkan saya jika Saya terlalu lancang menguraikan ini kepada Saudaraku Sufi Muda……….. tidaklah apa yang saya sampaikan ini melainkan saya berposisi sebagai saudara Anda untuk saling isi mengisi, dan saya rasa Anda sudah lebih cukup paham tentang ke Ilmuan ini dari pada Saya, karena itu Saya mohon Ma’af jika terlalu Otoriter dari apa yang saya sampaikan. Sesungguhnya Saya ini tidak berilmu dan Bagi Allah Swt saya ini adalah Fakir di Mata Nya.


Terimakasih sebelumnya dan semoga Allah Swt selalu memberkati dalam keberkatan Rosulullah Saw.

Aamiin
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
 
 
 
 

 

NB:
      Saya tunggu ya….. masukan dari Saudaraku Sufi Muda.
 
 
 
 

 


Salam Hangat,

Achmad Yusuf (yusuf6463@yahoo.com)
 
 
 
 

 

========================================================================== 

Wa’alaikum salam,
Terimakasih sekali atas masukannya, dan saya sangat senang telah menerima email ini sebagai bagian dari silaturahmi yang merupakan sunnah nabi kita…
Saat membaca email ini kabar saya baik-baik saja, dan kebetulan juga saya membalas email ini dalam berpuasa, semoga Allah akan menuntun saya kejalan-Nya. Saya membuat 7 point menanggapi apa yang saudaraku sampaikan

  1. Banyak sekali para penempuh spiritual tersesat ditengah rimba belantara hakikat dikarenakan dia tidak mempunyai seorang pembimbing rohani yang disebut Mursyid, saya senang sekali saudaraku punya prinsip yang sama yaitu kita harus berguru kepada seorang Mursyid yang akan membimbing kita ke jalan-Nya.
  2. Perbedaan antara Mursyid zahir dengan mursyid rohani (nur Muhammad atau nur ala nuri) itu terletak pada pemahaman seseorang. Dalam bahasa ilmu Kiblat kita itu ada 4 yaitu : ka’bah (syariat), Qalbu (Thariqat), Mursyid (hakikat) dan Allah (makrifat).
  3. Rohani dari Mursyid yang saudara sebutkan sebagai Mursyid zahir itulah yang disebut dengan NUr Muhammad karena nur itu akan menempati seperti wadah nya. Ketika NUr Muhamammad itu berada dalam diri Muhammad bin Abdullah maka NUr itu pun menyerupai wajah Muhammad Bin Abdullah, ketika Nur itu pindah ke Avu Bakar menyerupai wajah Abu baker dan ketika NUr itu pindah kepada Mursyid kita maka akan menyerupai wajah Mursyid kita.
  4. Guru itu makan, tidur, punya istri dan punya anak seperti manusia biasa, tapi Mursyid itu kan tidak seperti itu, Rohani Mursyid itu terbit dari zat dan sifat Allah SWT. Sama juga dengan Rasulullah itu (NUr Muhammad) tidak makan dan tidak tidur, akan tetapi Muhammad bin Adulllah tidak berbeda dengan kita. Yang membuat berbeda karena dalam diri Beliau ada Nur Muhammad.
  5. Memisahkan antara Rasulullah (Nur Muhammad) dengan Muhammad bin Abdullah suatu hal yang tidak mungkin. Ketika kita menghormati Muhammad bin Abdullah maka otomatis kita menghormati Rasulullah, dan ketika kita menyakiti/memusuhi Muhammad bin Abdullah maka secara otomatis Nur Muhammad tersakiti. Harus di ingat, yang disakiti oleh Abu Lahab dan musuh2 Islam itu adalah Muhammad bin Abdullah, tapi karena dalam diri Beliau ada Nur Muhammad maka secara otomatis ikut tersakiti dan Allah melaknat mereka.
  6. Menurut saya, Guru Mursyid itu secara manusianya tidak ada beda seperti kita, Cuma saya tidak bisa memisahkan antara zahir dan bathin Beliau. Wal awalu wal akhiru wa zahiru wa bathinu… itulah hakikat Mursyid. Yang kita ingat dan kita jadikan rabitah adalah Nur Muhammad, bagaimana bentuknya? Yang menyerupai wajah Mursyid. Karena itu wajah Mursyid itu tidak bisa ditiru oleh syetan.
  7. Dalam beberapa sejarah sufi yang saya baca, seorang murid itu tidak pernah durhaka kepada gurunya, walaupun guru nya itu hanyalah sebagai zahir pembawa Nur Muhammad. Kita sebenarnya tidak memerlukan kawat, yang kita perlukan adalah listrik, tapi bagaimana kita bisa memisahkan antara kawat dengan listrik?

Akhirnya, saya berkesimpulan, saya setuju seperti yang saudaraku katakan, bahwa Guru Mursyid itu seperti inang pengasuh yang akan membawa kita kepada ke ALAM RABBANI, setelah kita sampai kealam sana maka yang menjadi guru itu adalah ALLAH SWT, inilah tauhid yang benar.

Seperti yang saya kemukakan pada point 2 (dua) bahwa kiblat makrifat itu adalah ALLAH SWT, apabila kita telah bermakrifat, guru kita telah mengantar kita kehadirat-Nya maka pandangan kita tidak berpaling sedikitpun selain kepada DIa, hanya Allah semata yang wajib kita sembah dan guru tetap kita hormati sebagai orang yang telah berjasa membimbing kita.

Kalau saudaraku telah sampai kepada-Nya, jangan palingkan sedikitpun harapan selain kepada-NYa

 

Demikian tanggapan dari saya, semoga saudaraku berkenan.

 

 

Wasalam

 

Sufimuda

================================================================== 

Assalamu alaikum. .

 

Sufimuda. . maaf nita baru sempat balas emailnya. .

Sebenarnya banyak hal yang ingin diceritakan, tapi susah untuk dibicarakan. .

Nita belum terlalu Paham tentang “Ahli Silsilah” apa bisa dijelaskan lagi biar nita bisa mengerti?

Sufimuda pernah bilang tentang Pembimbing Spiritual apakah yang Sufimuda maksud itu adalah “Ahli Silsilah”?

Apa nita bisa jadi salah satu orang yang mendapat bimbinganNya?

Sufi. . .terimakasih sebelumnya

 

Wasalam

Yoanita Putri

 <yoanitasuroyo@yahoo.com>

 ==========================================================================

Jawaban 

Wa’alaikum salam….

Pembimbing rohani di dalam thariqat disebut Mursyid, sebenarnya Mursyid itu bukanlah zahirnya guru tapi adalah rohani nya yang terdiri dari Zat dan Sifat Allah SWT, Rohani Rasulullah berupa Nur Muhammad itulah yang diturunkan kepada Guru Thareqat yang Haq.

Nah Ahli Silsilah adalah kumpulan (mata rantai) para Guru pilihan yang merupakan wali utama di zamannya (setiap zaman ada 1 orang wali utama/wali qutb)

Antara satu guru dengan guru yang lain itu saling berhubungan, pernah berjumpa dan hubungan antara murid dengan Guru, sehingga apa yang disampaikan oleh guru terakhir tidak lain adalah amanah dari guru pertama.

Setiap orang yang telah berjumpa dengan seorang guru Mursyid yang Kamil Mukamil sudah pasti dia telah mendapat petunjuk.

 

Silahkan baca keterangan lengkap  tentang ahli silsilah dan mursyid di artikel dengan judul AHLI SILSILAH THARIQAT NAQSYABANDIYAH dan URGENSI KEMURSYIDAN.

Makasih atas pertanyaannya

 

Salam

 

 BAGAIMANA SHALAT MENJADI KHUSUK?

Pada 6 Mei 2008 21:34, alim madahin kawanku_nemo@yahoo.com.my

assalammualaikum tuan ustaz,saya dari sabah malaysia,

1.   saya ingin bertanya bagaimana kita mengenal diri,orang kata kalau kita tidak mengenal diri kita solat dan amalan kita tidak betul atau tidak diterima Allah.

 

2. Bagaimana saya belajar ilmu-ilmu atau amalan dalam solat supaya saya dapat merasakan kusyhuknya solat saya dan manisnya iman itu.

 

saya berharap ustaz dapat memberi nasihat atau doa buat diri saya yang sangat dhoif lagi jahil ini.

 

wassalam

dariku yang jahil

alim bin madahin 

sabah.

============================================================

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb

Salam kenal untuk saudaraku Alim bin Madahin di Sabah Malaysia, semoga rahmat Allah senantiasa menyertai disetiap derap langkah dan disetiap denyut jantung, ternyata jarak tidaklah menghambat kita untuk saling kenal, di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua telah diatur olehNya. 

Terimakasih atas penghargaannya telah memanggil kami dengan panggilan ustad, kami hanya seorang hamba Allah dalam setiap keluh kesah dan kegembiraan hati berusaha untuk selalu dalam dekapan-Nya, kami hanyalah bayi dipangkuan-Nya, hanyalah sebutir pasir di hamparan sahara-Nya, setetes air di samuderanya nan tak berhingga.

izinkan kami memberikan jawaban mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan tuntunannya disetiap kata yang kami tulis dalam jawaban ini.

  1. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, “Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya“. Kebanyakan orang mengartikan diri sebagai badan yang nampak, tapi menurut ilmu tasauf diri itu adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, sesuatu dititipan dari-Nya yang kemudian akan kembali lagi kepadaNya, “innalillahi wa inna ilaihiraji’un“. Maha Guru ke-36 berfatwa, “Kenalilah dirimu rata-rata maka engkau akan mengenal TUHANmu yang amat NYATA

Dalam ilmu Thareqat mengenal diri mempunyai proses panjang, melalui tahapan-tahapan, melewati pos-pos rohani (Maqam) tentu harus mempraktekkannya di Laboratorium Kerohanian yang kita sebut dengan iktikaf/suluk sehingga akan melewati 3 alam, yaitu:

  • Alam JABARRUT,

  • Alam MALAKUT dan

  • Alam RABBANI. 

Di alam Rabbani lah kita bisa berjumpa dengan-Nya. Bagaimana cara kita bisa masuk ke alam Rabbani? bukankah alam Rabbani itu Maha Gaib? sementara kita ini tidak gaib?

Jawabannya, tentu kita harus gaib dulu baru berjumpa dengan yang Maha Gaib, maka dalam sebuah hadist desebutkan: “Matikanlah dirimu sebelum engkau mati“. Menurut Syariat pengertian mati itu nafas berhenti, tapi menurut tasauf mati itu adalah mematikan otak kita, mematikan fikiran kita akan fokus dalam bermunajat kepada-Nya, karena sesungguhnya otak itu sifatnya BAHARU, sedangkan Allah adalah QADIM, menurut ilmu Tauhid tidak akan mungkin yang BAHARU bisa berjumpa dengan QADIM

Allah SWT Maha Gaib, Maha Rahasia, karena Dia adalah Maha Rahasia maka tidak semua orang bisa ke alam-Nya kecuali mengikuti metodologi (At-Thariqat) yang telah diberikan kepada Para Nabi/Rasul diteruskan oleh para khalifah Rasul, diteruskan oleh Ulama warisatul Anbiya sampai saat ini.

Saudaraku, singkatnya semua pertanyaan itu hanya bisa terjawab setelah kita masuk Thareqat dibawah bimbingan seorang guru MURSYID yang kamil Mukamil.

Di awal masuk Thariqat sudah di ajarkan cara mematikan diri, diberitahukan dimata letak QALBU sebagai media penangkap sinyal Allah SWT, dari sanalah terbuka pinta alam gaib, terbuka hijab kita sehingga seluruh yang Maha Gaib akan menjadi nyata, dalam ilmu matematika berlaku rumus :

+ x – = – artinya NYATA X GAIB = GAIB, tidak akan ketemu dengan gaib.

untuk bisa ketemu gaib harus memakai rumus: – x – = +, artinya GAIB x GAIB = NYATA, gaibkan diri kita maka seluruh persoalan GAIB menjadi NYATA, menjadi KONKRIT.

Satu hal yang amat keliru dipahami oleh sebagian besar ummat Islam bahwa ilmu Thariqat itu adalah ilmu hapalan seperti ilmu fiqih, TIDAK, ilmu Thariqat merupakan TEKNIK BERMUNAJAT, merupakan ilmu METAFISIKA EKSAKTA, merupakan TEKNOLOGI AL QUR’AN yang maha dasyat, dengan Ilmu Metafisika Eksakta inilah mampu dijelaskan dengan gamblang bagaimana ilmiahnya proses nabi Musa membelah laut, nabi Isa menghidupkan orang mati, berbagai mukjizat nabi dan kekeramatan wali. Sungguh keliru kita menempatkan ilmu Thariqat sebagai ilmu hapalan sehingga berpuluh tahun mengikuti thariqat tidak mendapatkan apa-apa, karena kita tidak pernah masuk ke Laboratorium (Suluk) yang benar dibawah bimbingan seorang Ahli (Mursyid) yang Kamil Mukamil. Para Nabi/Wali bukan hanya ahli hukum, mereka merupakan para TEKNOLOG yang mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan nyata yang oleh sebagian kita hanya mampu menghapal, mengalun-alunkan dengan indah tanpa mampu mengaplikasikannya.

Semua orang pasti ingin shalatnya Khusuk, kenapa? karena kalau shalat tidak khusuk di ancam oleh Allah dengan NERAKA WAIL, sungguh sia-sia orang yang puluhan tahun shalat ternyata hasilnya masuk neraka. Menurut orang awam tidak lalai dalam shalat itu adalah shalat tepat waktu, misalnya dhuhur jam 12.45 harus tepat pada jam itu, kalau menurut tasauf sedetik hati lupa kepada-Nya itu sudah tergolong lalai. Kenapa shalat kita tidak khusuk? karena dalam diri kita masih bersemayam was-was, gangguan, syetan. Gelombang iblis selalu mengkacaukan konsentrasi kita kepada-Nya.

Guru kami pernah mengatakan, “jangan engkau tanyakan bagaimana shalat bisa khusuk, tapi carilah apa penyebab shalat itu tidak khsusuk” .Pengalaman kami sejak sekolah dasar (umur 6 tahun) tidak pernah meninggalkan Shalat, tapi sampai umur 20 tahun tidak pernah merasakan yang namanya khusuk dalam shalat, artinya 16 tahun ibadah yang kami lakukan tidak lain hanya menyembah tikar sembayang dan menyembah dinding semata, Na’uzubillah min zalik sampai kami berjumpa dengan seorang guru Mursyid AHLI SILSILAH THARIQAT NAQSYABANDI ke-36, yaitu SAIDI SYEKH DERMOGA BARITA RAJA MUHAMMAD SYUKUR, berkat bimbingan Beliau lah kami menemukan keajaiban-keajaiban, barulah kami merasakan betapa MAHA HEBATNYA ALLAH, betapa indahnya beribadah.

Alamat Beliau ada di Indonesia di kota Batam,

Yayasan Kiblatul Amin Dua Komplek Perumahan Cendana Batam Centre

Di Malaysia banyak sekali murid-murid Beliau, Beliau pernah menyelenggarakan SEMINAR INTERNASIONAL di Malaysia, yang dihadiri oleh berbagai kalangan baik pengamal tasauf maupun bukan.

Bila saudaraku tertarik, di malaysia ada beberapa orang Khalifah Beliau yang telah di izinkan untuk menurunkan amalan Thariqat :

Ustad ARIF AHMAD FAUZI No hp +60132525974 

Demikian saudaraku, jawaban yang kami berikan hanyalah terori belaka, walau kami menjelaskan beribu lembar halaman tentang manisnya buah mangga tidak akan bisa saudaraku merasakan manisnya, ambillah buah mangga itu kepada Maha Guru ke-36, setelah merasakannya, nanti kita Cuma bisa saling tersenyum, tidak ada kata, tidak ada puisi yang bisa mewakili keindahan-Nya.

Di lubuk hati nan paling dalam, kami ikut mendo’akan agar saudaraku dibukakan hijab, batas antara Dia dengan kita, Amin ya Rabbal ‘Alamin

 

Wasalamu’alaikum wr. wb

 

 

Sufimuda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

462 Comments

  • Mahdar

    Assalamu’alaikum
    Bg sufimuda, saya mahdar
    panggilan Dedek
    tempat tanggal lahir : Tanjung Uban 13 maret 1984
    saya anak ke 2 dari 4 bersaudara, Saya seorang pemuda yg kasar mulut nya terhadap cewek sya sendiri, saya pun tidak tahu mengapa saya bergini, apa karna lingkungan , atau yg lain nya, saya mohon pertunjuk bg sufimuda

  • Sriyadi Wiranegara

    Yth, Abang/Ka2k

    Mohon bisa di hapus komentar di website :
    http://sufipejuang.wordpress.com/2008/01/29/perlukah-bertarekat/

    supaya tidak menjadi polemik/masalah diantara umat islam, mungkin bukan tempatnya untuk berkomentar disana.

    Sufi Muda Berkata :

    “…….. silahkan mencari MURSYID yang kamil mukamil khalis mukhlisin, tanpa seorang MURSYID udah pasti tidak akan ketemu dengan Rasulullah dan Allah.
    kurang puas dengan komentar ini silahkan singgah di pedepokan sufimuda…”

    Abu Salman Berkata :

    “…AYAT YG SDR SAMPAIKAN TIDAK SINKRON / MAKSUDNYA TDK NYAMBUNG…
    IBADAH ITU TDK BISA PAKAI PERANTARA APALAGI MELALUI MURSID /MENGINGAT WAJAH GURU KETIKA SHOLAT..KALIAN DNG PEDE NYA MENGAKU WALI ALLAH….? HANYA KARENA MENGAMALKAN BERIBU2 ZIKIR,KALIAN MENGAKU ZIKIR BERKEKALAN,TPI KETIKA AZAN DI KUMANDANGKAN DI MASJID KALIAN SHOLAT DIRUMAH / DIKAMAR…..ANEH MENGAKU WALI TAPI AMALANNYA BID’AH….ZIKIR KUAT2 DIDALAM MASJID SEPERTI ORANG KESURUPAN SEHINGGA MENGGANGGU JAMAAH LAIN,,,APAKAH KALIAN LEBIH BAIK DARI RASULULLAH,BELIAU SAJA TDK PERNAH MENCONTOHKAN SEPERTI DZIKIR KALIAN,,,MANA DALILNYA DZIKIR DG SUARA KUAT SEPERTI ORANG KESURUPAN….?….BERTOBATLAH..”

    Semoga kita bisa lebih berhati2 dalam berkomentar karena Iman/Islam itu sangat halus… dan sangat.. sangat halus, sehingga belum tentu orang bisa menerjemahkan maksud kita.

    Mohon maaf dan Terima kasih.
    Salam

    Sriyadi Wiranegara (Anak Ayahanda Guru, Bontang)
    Suluk 2

    Sriyadi.wiranegara@gmail.com

    • rasikon

      asalamualaikum,wbt. tuantuan yang arif, semua hamba Allah yang beriman wajib mencari jalan kepada Allah swt, di akhirat nanti barulah Allah yang menentukan yang mana lebih baik dan betul. Jika kita sentiasa berpegang dengan Alquaran dan Hadis, maka yakinlah benar, tetapi jalan untuk dilalui terpulanglah kepada setiap orang yang mencari jalan kepada Allah, mudahmudahan mendapat keredaah Allah swt, oleh itu jangan cepat membuat kesimpulan sipolan benar sipolan salah . Ingatlah wajib berpegang dengan Alquran dan Hadis jika tidak maka pada awalnya sudah salah. dipohon berbanyak maaf dari saya kepada tuan tuan.

  • Setiono

    Tipuwan dari dusta agama
    Pergi haji tibang berharta
    Bangun masjid bangun musola
    Ujub riya ngorbanin banda

    Menilai bener hanya menduga
    Mencari dari banyak masa
    Yang banyakan mereka puja
    Yang dikitan mereka hina

    Jumlah total begituh rupa
    Bener semuwah ahli naroka
    Bener menghayal masuk sorga
    Pakta buktinyah Cuma kesiksa

    Bener yang betul tanpa masa
    Bener dewekan Alloh Taala
    Masa mencari Alloh Taala
    Pabila bener di gosip gila

    Hidup tidak mencari harta
    Malah dirinyah di cari harta
    Seluruh alam yang Alloh cipta
    Pada dirinyah jatuh cinta

    Si bener tida mencari cinta
    Karena cinta sering kecewa
    Kecewa akibat cemburu buta
    Terpancing cinta bisa kesiksa

    Si bener hanya hobi bercanda
    Bercanda pada siapah suka
    Pabila Alloh hobi bercanda
    Alloh juga di ajak bercanda

    Alloh Tuhan sang pencipta
    Utusannyah ogah di duga
    Alloh kuasa segala rupa
    Wajib ain yaqin percaya

    Tida make bukti pakta
    Kepada Alloh yaqin percaya
    Percaya dengan bukti pakta
    Menjadi musrik batal taqwa

    Sesudah batal iman taqwa
    Amal taqwa tinggal belaga
    Solat puasa dusta belaka
    Dusta agama batalin taqwa

    Basa basi yaqin percaya
    Yang isinyah mencari masa
    Gamis jubah adat budaya
    Mekah madinah zolim agama

    Selagi Rosul masih ada
    Mekah medinah sudah dusta
    Saking takut pada binasa
    Kepada Rosul ngaku percaya

    Ngaku islam bertemu muka
    Di balik Rosul malah mencela
    Alloh ta’ala balik berdusta
    Akhirnya Rosul di buwat kaya

    Setelah Rosul menjadi kaya
    Malah dahsat perang agama
    Sehingga Rosul menutup mata
    Saking cape di adu domba

  • mahdar

    Assalamua’laikum bg sufi muda
    Saya mahdar ingin bertanya seminggu yg lalu saya sholat magrib,setelah saya mauberdiri sujud, telintas lalu ada bayangan putih yg melintas di hadapan sya, pertanda apakag itu bg sufy, mohon pertunjuk nya

  • adriansyah

    askm…bg sufimuda
    sy mengikut tariqat naksabandiyah, sy anak dan cucu mursyid.. sy peminat dan pencinta Rasulullah,peminat dakwah…..sy pernah menentang kebiasaan ummat yang menurut ilmu sy kurang tepat dan tidak sesuai dg alquran dan sunnah.. sy coba menentang/ protes dg hal tersebut….namun sy dibenci ummat karena hal tersebut sudah kebiasaan dari dahulu..sy punya masalah dengan pribadi sy merasa kurang tepat untuk hal ini, sy beruzlan/meninggal urusan keummat cukup lama….namun batin sy kembali berontak karena hal ini menjadi utang bagi sy…sy bimbang/untuk bersikaplagi…bagaimana sy bersikap??? mhn nasehatnya…trmkasih
    wassalakium
    adriansyach…..di Pujud Rohil Riau…

  • arifindemak

    Assalamua’laikum bg sufi muda
    maaf bang kok kayaknya belum ada tulisan yang baru,terus kapan kira2 ada tulisan yang baru,sebelum dan sesudahnya kami mohon maaf trima kasih

  • Jupri Blackjet

    asalamualaikum. sebenarnya2…apa bila sudah mengetahui apa pembuka pintu langit dan penutup pintu langit…itu lah yg sebenar2nya…so bkan hanya mengetahui tapi jga merasakan dan melaksanakan dalam 24 jam selagi hidup…karna yg sebenarnya tak berhuruf dan bersuara…wasalam.

  • MU'UL MUFID

    ASSALAMUALIKUM WR,WB

    SAYA BARU BERUSAHA MERANGKAK UNTUK BISA BERJALAN MOHON BIMBINGAN UNTUK MENCARI GALIHNYA KANGUNG, TEMPAT GRABAH KOTOR DAN ISI KOSONG, KIRA SUFI MUDA MUDA DAPAT MENUNTUN DIJALAN YG SUDAH ADA DIDEPAN,JALAN SUDAH TERLIHAT TAPI BELUMBISA JALAN.

    TRIMAKASIH

  • Kata Agama

    Assalamu’alaikum..
    salam kenal syufi dari dafi. saya igin bertanya tentang kepribadian saya, saya itu ingin sekali benar-benar ada dijalan Allah, namun kelakuan saya dan juga kepribadian saya belum bisa mencerminkan dan belum bisa menampilkan bahwa saya adalah seseorang yg bbisa bener2 ada dijalan allah.Adakah saran bagi saya bagaimana agar saya bisa benar2 taubat??langkah langkah yg harus say aambil?

  • Toni Prastowohadii, SE, MM-klaten

    kpd Yth. Sufi Muda
    Terus dipublikasikan seputar dunai sufi&thariqat dll krn dijaman sekarang ini banyak orang keblinger / tersesat karena disesatkan iblis yg “menyusup” ke hati2 mereka. Mereka yg anti tasawuf, anti thariqat menganggap thariqat adal bid’ah hrs dikikis habis padahal mereka mendalami agama masih taraf lahirnya saja ( kulitnya saja ), belum sampai batin ( intisarinya ) penyebabnya karena ” kebodohan dan kesombongan mereka “. Padahal thariqah mempelajari bagaimana caranya “membersihkan qalbu dari sifat2 iblis spt : sombong, irihati, fitnah, dzolim dll”agar menjadi pribadi yg baik. Terus publikasikan tulisan2nya agar pemahaman masyarakat semakin jelas tentang Intisari thasawwuf / thariqah.

  • Julang Anak Jalanan

    Kalau agama banyak bicara
    Adu argumen keras kepala
    Malah jadi perang agama
    Perang mulut perang saudara

    Kalah dan menang epro dan kontra
    Jadi dendam soal agama
    Nongsen ituh dalam agama
    Kalah bersaing jadi kecewa

    Agama ituh berlapang dada
    Berani ngaku saat kecewa
    Kalau salah minta hampura
    Ta ada menang amal agama

    Ada pemenang di amal taqwa
    Saat nafsu tunduk kepala
    Kalah tida merasa kecewa
    Tapi rumasa butuh kepala

    Sekarang inih hampir ta ada
    Orang jatoh tida kecewa
    Selain julang karuwan gila
    ora kenal kata kecewa

    Kecewa malah buwat tertawa
    Rasa merasa rumasa dosa
    Wajar sajah walau kecewa
    Yaqin Alloh memang murka

    Tahun baru ituh artinyah
    Pemanasan ketahun depannyah
    Demi lebih subur berkah
    Sandang pangan ekonominyah

    Ituh pasti Alloh janjinyah
    Bila benar penyambutannyah
    Minta ampun tahun yang sudah
    Minta bimbingan tahun depannyah

    Begitulah arti nyambutnyah
    Bukan girang tanpa artinyah
    Tetapi girang atas nikmatnyah
    Masih ketemu tahun barunyah

    Lalu bersyukur dengan sedekah
    Beri hadiah sekemampuannyah
    Walau hanya ke binatangnyah
    Atuh komo kemanusia mah

    Paling tida juga berdoah
    Untuk aman mahluk semuwah
    Demi nyaman amal ibadah
    Majaziah pun hakikiahnyah

    Buwanglah sipat rasa ibadah
    Hanya solat puasa sajah
    Tapi ibadah banyak jalurnyah
    Bukan solat puasa sajah

    Demi hidup ta silih mitnah
    Pahamilah arti ibadah
    Majaziah wajib hukumnyah
    Sama wajibnyah di hakikiah

    Bila banggain salah satunyah
    Mentang2 pada ahirnyah
    Si mentang2 silih mempitnah
    Menjadi resah mahluk semuwah

    Proses hidup sepuluh tahunnyah
    Tiep sepuluh tahun umurnyah
    Proses hidup jadi berubah
    Berubah dengan ilmu imannyah

    Jika ta paham inih mas alah
    Terus2an silih mempitnah
    Yang cilaka anak cucunyah
    Dendam dengki hasud dan pitnah

    Bila tuwanyah menyadarinyah
    Pasti takut dengan mempitnah
    Menghawatiri anak cucunyah
    Doyan mempitnah rusak akidah

    Adapun hukum benar dan salah
    Ada hitob taklib wadinyah
    Jika dewasa mateng mahamnyah
    Agama ituh pantang mempitnah

    Walau langka peminatnyah
    Nazom sair terus sajah
    Berkiprah watak tobeatnyah
    Karakter bidang nyebar amanah

    Mao membantah silakan sajah
    Lebih bagus cepet mampusnyah
    Paling tida mati hatinyah
    Jadi memedi raga jasadnyah

    Memedi nyiksa kesesamanyah
    Silih menyiksa kehidupannyah
    Bergontok-gontok cara hidupnyah
    Jadi resep ngeliyatinnyah

    Mereka bela golongannyah
    Cara curang pembelaannyah
    Silih serbu ke sesamanyah
    Tahun duwa belas jadi serunyah

    Lihat sajah apah jadinyah
    Pembakaran di manah manah
    Silih serobot kesesamanyah
    Bagai tiada pemerintah

    Ulama perang ulamanyah
    Umaro perang umaronyah
    Siang malem rusuh resah
    Mungkin sampai hari kiamah

  • anto

    Penulis: Al Ustadz Ruwaifi� bin Sulaimi, Lc

    Bashrah, sebuah kota di negeri Irak, merupakan tempat kelahiran pertama bagi Tasawuf dan Sufi. Yang mana (di masa tabi�in) sebagian dari ahli ibadah Bashrah mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara� terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam), hingga akhirnya mereka memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf/صُوْف). Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan �Sufi�, sebagai nisbat kepada Shuuf (صُوْف).

    Oleh karena itu, lafazh Sufi ini bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam, karena nisbat kepadanya dinamakan Shuffi (صُفِّيٌ), bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah Ta�ala, karena nisbat kepadanya dinamakan Shaffi (صَفِّيٌ), bukan pula nisbat kepada makhluk pilihan Allah (الصَّفْوَةُ مِنْ خَلْقِ اللهِ) karena nisbat kepadanya adalah Shafawi (صَفَوِيٌّ) dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab), walaupun secara lafazh bisa dibenarkan, namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

    Para ulama Bashrah yang mendapati masa kemunculan mereka, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh – Al Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba, maka beliau pun berkata: �Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al Masih bin Maryam ! Maka sesungguhnya petunjuk Nabi kita lebih kita cintai (dari/dibanding petunjuk Al Masih), beliau Shallallahu �alaihi wassalam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.� (Diringkas dari Majmu� Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Juz 11, hal. 6,16 ).

    Siapakah Peletak/Pendiri Tasawuf ?

    Ibnu �Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya peletak Tasawuf adalah Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam sendiri. Yang mana beliau �menurut Ibnu �Ajibah – mendapatkannya dari Allah Ta�ala melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu �Ajibah berbicara panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia berkata: �Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam dengan membawa ilmu syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau Shallallahu �alaihi wassalam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu �anhu, kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba darinya.� (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

    Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata: �Perkataan Ibnu �Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam, ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu, karena Allah Ta�ala telah perintahkan Rasul-Nya Shallallahu �alaihi wassalam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya (artinya): �Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.� (Al Maidah : 67)

    Beliau juga berkata: �Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi�ah). Dan benar-benar Ali bin Abi Thalib Radiyallahu �anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah Radiyallahu �anhu ia berkata: �Suatu saat aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib Radiyallahu �anhu, maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: �Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu �alaihi wassalam kepadamu?� Maka Ali pun marah lalu mengatakan: �Nabi Shallallahu �alaihi wassalam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia ! Hanya saja beliau Shallallahu �alaihi wassalam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu Thufail Radiyallahu �anhu berkata: �Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin ?� Beliau menjawab: �Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam bersabda: �(Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah.� (At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).

    Hakikat Tasawuf

    Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu �anhu, maka dari manakah ajaran Tasawuf ini ?

    Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: �Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur�an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallahu �alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta�ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf Al Mansya� Wal Mashadir, hal. 28). [1]

    Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata: �Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba Allah Ta�ala di dalam memerangi Allah Ta�ala dan Rasul-Nya Shallallahu �alaihi wassalam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.� (Muqaddimah kitab Mashra�ut Tashawwuf, hal. 19). [2]

    Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf

    1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata : �Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.� (Dinukil dari Firaq Mua�shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600).
    Padahal Allah Ta�ala telah berfirman :

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    �Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.� (Asy Syuura : 11)

    رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
    �Berkatalah Musa : �Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.� Allah berfirman : �Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku (yakni di dunia-pen)���� (Al A�raaf : 143).

    2. Ibnu �Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata : �Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !� (Fushushul Hikam).[3] Betapa kufurnya kata-kata ini �, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

    3. Ibnu �Arabi juga berkata : �Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.� (Al Futuhat Al Makkiyyah).[4]

    Padahal Allah Ta�ala telah berfirman :

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
    �Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.� (Adz Dzariyat : 56).

    إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ إِلاَّ ءَاتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
    �Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.� (Maryam : 93).

    4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata : �Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama � masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.� [5]

    Padahal Allah Ta�ala berfirman :

    يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    �Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi.� (Ali Imran : 85)

    5. Pembagian ilmu menjadi Syari�at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta�ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : �Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).� (Majmu� Fatawa, juz 11 hal. 401).

    6. Dzikirnya orang-orang Awam adalah لا إله إلا الله , sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus �الله / Allah�, �هو / Huu�, dan �آه / Aah� saja.

    Padahal Rasulullah Shallallahu �alaihi wassalam bersabda :

    أَفْضَلُ الذِّكْرَ لاَ إِلهِ إِلاَّ الله
    �Sebaik-baik dzikir adalah لا إله إلا الله .� (H.R. Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah Radiyallahu �anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami�, no. 1104).[6]

    Syaikhul Islam rahimahullah berkata : �Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa لا إله إلا الله dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah �هو / Huu�, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.� (Risalah Al Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tashawwuf, hal. 13)

    7. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta�ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

    قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
    �Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.� (An Naml : 65)

    8. Keyakinan bahwa Allah Ta�ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu �alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta�ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu �alaihi wassalam. Padahal Allah Ta�ala berfirman :

    قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
    �Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku �� (Al Kahfi : 110).

    إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
    �(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : �Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.� (Shaad : 71)

    Wallahu A�lam Bish Shawab

    Hadits-hadits palsu atau lemah yang tersebar di kalangan umat

    Hadits Abu Umamah

    عَلَيْكُمْ بِلِبَاسِ الصُّوفِ، تَجِدُوْا حَلاَوَةَ الإيْمَانِ فِيْ قُلُوْبِكُمْ

    �Pakailah pakaian yang terbuat dari bulu domba, niscaya akan kalian rasakan manisnya keimanan di hati kalian�(HR Al Baihaqi dlm Syu�abul Iman).

    Keterangan : Hadits ini palsu karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Yunus Al Kadimy. Dia seorang pemalsu hadits, Al Imam Ibnu Hibban berkata : �Dia telah memalsukan kira-kira lebih dari dua ribu hadits�. (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah Wal Maudhu�ah, no:90)

    Footnote :

    [1][2] Dinukil dari kitab Haqiqatut Tashawwuf karya Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7

    [3][4][5] Dinukil dari kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.

    [6] Lihat kitab Fiqhul Ad �Iyati Wal Adzkar, karya Asy Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal. 173.

    (Sumber : Buletin Islam Al Ilmu Edisi 46/III/I2/1425, Jember.

  • anto

    Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

    Kategori: Aqidah

    19 Komentar // 6 April 2010

    Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam. Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ?

    Kaum Kafir Quraisy Betul-Betul Mengenal Allah

    Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah ta’ala,

    Dalil pertama, Allah ta’ala berfirman,

    قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

    “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)

    Dalil kedua, firman Allah ta’ala,

    وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

    Dalil ketiga, firman Allah ta’ala,

    لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

    “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut: 63)

    Dalil keempat, firman Allah ta’ala,

    أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

    “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml: 62)

    Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah katakan terhadap mereka,

    وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

    “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf : 106)

    Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”

    ‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, 10-11)

    Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allah subhanahuwata’ala adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan, dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari hal ini (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat) Dan janganlah anda terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

    Kafir Quraisy Rajin Beribadah

    Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menceritakan bahwasanya kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik juga berhaji dan melakukan thowaf adalah dalil berikut.

    Dan telah menceritakan kepadaku Abbas bin Abdul ‘Azhim Al Anbari telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Yamami telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Abu Zumail dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang musyrik mengatakan; “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ فَيَقُولُونَ إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ

    “Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka berthawaf di Baitullah. (HR. Muslim no. 1185)

    Mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad At Tamimi di atas, Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum yang beribadah kepada Allah, akan tetapi ibadah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri dengan syirik akbar. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

    Dua Pelajaran Berharga

    Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pertama; pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk dalam golongan pemeluk agama Islam. Sehingga sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah.

    Kedua; apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

    Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya. Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci. Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual syirik.

    ‘Kita ‘Kan Tidak Sebodoh Kafir Quraisy’

    Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan,“Jangan samakan kami dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka yang bodoh dan dungu itu!” Allahu akbar, hendaknya kita tidak terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah ta’ala,

    قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)

    “Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

    Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta, penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, “Akan tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin” Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab,“Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti hakikat tauhid” (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

    Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi dan Muhammad Abduh Tuasikal

    Artikel http://www.muslim.or.id

    • SufiMuda

      Orang Kafir Qurays hanya mengenal Allah sebatas nama, sama seperti umumnya muslim saat ini. Kaum Sufi mengenal akan Dzat-Nya sehingga tidak akan tertipu dan terpedaya.

    • iyan

      Oh saudara anto mana bisa kami menduakan Alloh S.W.T sedang kami tau dari mana kami berasal dan kemana kami pulang kami juga tdk menuhan kan para Wali/atau kekasih Alloh tapi kami di perintah kan untuk mencintai kekasih Alloh itu saja.semoga anda selalu dlm lindungan nya,amien

  • Ruslianto

    Aslkm; Yth.Bg.Sufi Muda,…pertanyaan saya :
    Apakah sama Sufi Muda = Sufialmakassari ?
    mohon di jawab. Trim’s.
    Wass.

  • Julang Anak Jalanan

    Mumpung-mumpung masih muda
    Belum banyak dosa jiwa
    Kesempatan ngisi taqwa
    Demi tuwa berbahagia

    Sahadat solat zakat puasa
    Pergi haji jika berharta
    Giat mengisi masa muda
    Dengan taqwa bekel tuwa

    Tulul amal tunggu tuwa
    Sudah bees penuh dosa
    Jadi sulit ihlas taqwa
    Selain memang sudah tuwa

    Alloh cinta masa muda
    Seperti rosul rohmat dunya
    Semenjak kecil amal taqwa
    Setelah tuwa sorga dunya

    Nabi rosul semuwah juga
    Bukan mati menutup mata
    Tapi pindah alam nyata
    Pada alam nikmat rasa

    Wasiatnyah amanat jiwa
    Kematian nasehat raga
    Kitab Alquran nasehat taqwa
    Demi sukses gapai sorga

    Sorga bukan hanya cerita
    Tapi dengan ilmu taqwa
    Sampai lanjut ihlas nanya
    Sampai ketemu sang pencipta

    Bukan cerita tetapi rasa
    Merasa diri sekujur jiwa
    Rumasa tida punya daya
    Ngarep Alloh rido bela

  • Ruslianto

    Ass.Wr Wbr Sdr(Ku) Sufi Muda, mengapa yaa saya (ini) jika membaca komentar yang lewat Blog (ini) menjelek-jelekan pengamal threqat,…Langsung “perasaan” hati (ini) jadi tidak senang, pada yang mejelek-jelekan (itu).
    Jadi pada kesempatan (ini) saya mohon maaf juga pada Sdr(Ku), jika ada kalimat-kalimat saya yg rasa “berlebihan” membela “keyakinan” saya (ini).
    Atau Salah-kah Saya di posisi (ini) atao menurut pandangan (dalam) Sufi Muda,… Yg “pernah” duduk sbg “Pengobat” (disitu) ,… bagaimana ? Yaaaa,………………….Saya minta jawabannya.
    Maaf-Wass.

    • SufiMuda

      Wa’alaikum salam wr. Wb
      Tidak senang kepada orang yang membenci tarekat itu wajar dan itu menandakan mencintai ilmu yang luar biasa ini.
      Saya senang kalau Abang memberikan komentar di blog ini untuk mengimbangi orang2 yg mengkritik terekat.
      Kritik yg membangun adalah energi positif yang membuat kita lebih baik dan kuat sementara kritik yang menghujat tanpa dasar ilmu adalah energi negatif yang harus dihindari.
      Saya kebetulan memang lagi sibuk sehingga tidak sempat menulis dan membalas komentar, email dll.
      Mudah2an bulan ini bisa lebih fokus menulis dan lain2 (mohon doanya).
      Mari kita banyak2 menyerap energi positif dari alam sekitar agar kita mempunyai banyak cadangan energi untuk menyempurnakan diri, keluarga dan orang2 kita cintai.
      Mari kita lanjutkan perjalanan ini membesarkan nama-Nya dan terimakasih banyak telah ikut mewarnai sufimuda.,
      Demikian
      Salam

    • iyan

      Wahai saudaraku jangan lah ber prasangka buruk kami anggap anda saudara kami juga jika ada perbedaan pendapat mohon di maaf kan saja karena perbedaan itu juga anugrah kita semua sama sedang belajar sama sedang berguru,secara tdk langsung saya juga berguru pada anda saudara Rusli semoga anda selalu mendapat Ridho Alloh S.W.T amien

      • Ruslianto

        Ass.Yth.Sdr.iyan,…. janganlah pula berprangka buruk kepada Sdr.Rusli,.. karena pasti ada sebab musabab mengapa ada prasaan tak senang muncul, dikala keyakinan dan akidah itu dihujat,… bagai- mana pula sebaliknya jika keyakinan dan akidah Sdr.iyan dihujat tanpa menimbang perasaan orang yang telah puluhan tahun meyakini,…. Sdr.ku iyan tolong sampaikan maaf ku kedalam relung hatimu yang paling dalam, jika memang saya salah. tapi sbg anekdot jangan berguru kepada saya,…karena saya masih berstatus murid.
        Wass:

          • one_dsannen

            Assalamu’alaikum. wr wb
            akhirnya saudaraku Rusli dan Saudaraku Iyan bermaaf maafan dan berpelukan walaupun di dunia maya. rasa rendah diri dan bermaaf-maafan adalah lebih indah dan mulia daripada saling menghujat, menang sendiri dan berantem. akupun jadi terharu. kepada saudaraku Iyan saya mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang sopan dan tak berkenan di hati. marilah kita terus menjaga Ukhuwah Islamiyah.

            buat abangda SM : salam

  • Ruslianto

    Hasan Basri,r.a
    Semasa kecilnya Hasan Basri,r.a pernah meminum air yang berlebihan dari yang diminum Nabi Muhammad Saw dari sebuah gelas, Nabi Saw mengetahui dan berkata; “Anak ini akan menerima dari Allah, ilmu sebanyak air yang diminumnya itu”
    Hasan Basri adalah seorang zahid yang masyhur dalam kalangan tabi’in.Beliau dilahirkan pada tahun 21 H,dan wafat pada tahun 110 H. Beliaulah orang yang pertama membicarakan ilmu-ilmu kebathinan keluhuran budi dan kesucian hati.

    Dasar pendirian Beliau adalah zuhud, menolak kemegahan dunia, semata-mata menuju kepada Allah,tawakkal,khauf dan raja’.
    Sebagian dari kata-kata hikmat dari mulut tertulis sebagai berikut :
    # “Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tentram, lebih baik dari pada perasaan tenteramamu, yang kemudiannya menimbulkan takut ;
    # “Orang yang beriman pagi-pagi berdukacita dan diwaktu siang berdukacita, karena dia hidup di antara dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau, balasan apakah yang akan ditimpakan Tuhan. Dan takut memikirkan sisa umur yang masih tinggal, dan tak tahu bahaya apakah yang sedang mengancam”.
    #”Akhir dunia dan awal akhirat ialah di dalam kubur”.
    Sebagian dari pesan Hasan Basri yang senantiasa menjadi buah bibir kaum shufi ialah :
    “Anak Adam,……..Dirimu,….Dirimu !
    Kalau dia selamat, selamatlah engkau
    Kalau dia binasa, binasalah engkau
    Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu,
    Tiap-tiap nikmat yang bukan syurga, adalah hina,
    Dan tiap-tiap bala bencana yang bukan neraka,..mudah!”
    “Syurga” yang diutamakan disini ialah perasaan, karena menikmati ridho Allah. Dan neraka ialah puncak kegelisahan karena merasa murka-Nya”

    Semoga menjadi renungan bersama, ….mengapa “orang” yang di do’akan Para Nabi pada umumnya mengarah menjadi “zuhud dan menolak kemegahan dunia..?”
    Suraah Al Fatehah::….Ihdinas-siratal-mustaqimm,….Siratallazina- an’amta ‘alaihimghairil-magduubi ‘alaihim wa ladd dhoolinn,…
    tunjukkilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya;…dan BUKAN (pula jalan) mereka yang sesat.

    Pengamal tasawuf-kah Hasan Basri, r.a ? Jawabnya BENAR, Lalu sesatkah Hasan Basri seperti yang Anda sangkakan Hai Sdr.Anto ? Ingat Hasan Basri, r.a orang yang dido’akan Rasulullah Saw, setiap Do’a Rasulullah “terbukti” dan diyakini kebenarannya dan Do’a Rasulullah tidak tertolak oleh Allah Swt. Kisah ini sebagai itibar bagi kita semua.

    Jadi sebenar-nya Si anto ini, memakai dalil dari kalangan yang anti kepada Sufi dan Tasawuf dan Pengamal Thareqat,(Maaf-Yang do’anya masih mudah-mudahan alias tidak pasti).
    Semoga sepenggal kisah Hasan Basri r.a diatas, merontokkan Dalil Sdr.Anto yang segudang itu, dan meminjam tulisan dan menjadi corong anti Sufi dan Tasawuf, Ustad yang ada LC-nya lalu kening hitam ? atau mana hebat ia dengan Buya Hamka ? yang masih menghormati membenarkan ilmu Tasawuf ? yang menurut Buya Hamka bahwa ilmu Tasawuf tersauk dari kepribadian Rasulullah Saw? ah Jangan-jangan Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc ( Kau itu) belum Lahir saat Buya Hamka berkotbah,…. ada ada aja kau, anto.oh anto belajar lagi ayoo belajar lagi, ananda,…
    Akhirul kalam, mohon maaf,…Wass.

  • Ruslianto

    Ass.Sdr.anto
    Di Dunia ini, Thareqat gadungan ada saja, emas gadungan juga ada, Nabi gadungan pun ada, Tapi Thareqat Asli jangan pula kau tolak,…
    Betapa mutlaknya thareqat ini,..segala sesuatu didunia tanpa metodologi-nya pasti tertolak dan batal,…. Masuk islam saja harus “kaffah” Nah ini tentang yang namanya metodolagi, contoh; masak nasi saja perlu metodologi-nya :
    #Pertama engkau perlu “beras” kalau tak ada beras, engkau mau masak apa ?
    #Kedua engkau perlu “tempat” misal periuk,dandang,.. kalau tak ada tempat engkau mau masak dimana ? berserak-lah;
    #Ketiga engkau perlu “air” kalau tak ada air gosong/angus nasimu itu;
    #Keempat engkau perlu “api” atau kayu,kompor atau gas kalau tak ada itu berasmu tak menjadi nasi;
    #Ke-Lima engkau cari orang yang “pandai masak” anak umur 7 tahun pasti tak bisa memasak.
    Untuk memasak nasi (saja) perlu 5 (Lima) Rukun dan Syaratnya, apalagi ilmu thareqat,.. Engkau wajib mencari Guru Besarnya,.. Soal hukum thareqat JANGAN (pula) ‘kau tanya pada Ahli Fikih, (itu namanya salah alamat) hukum fikih urusan dunia soal haram-halal-makruh- Kalau sudah sampai ajal (mati) tak berlaku lagi hukum perdata dan pidana, Hanya didunia saja berlaku hukum “perdata, pidana” Namun dibalik kematian adalah Alam Barzah, Alam Akherat ,….Maaliqii yau miiddin (Pemilik (Allah) Hari pembalasan/ akherat); (Suraah Al Fatehah),…. kalau cerita akherat berlaku-lah tentang keberadaan roh,mu- karena roh mu itu yang “menyeberang ke akherat kelak” Nah Kalau soal begini, ilmunya pada ilmu thareqat.
    Karena Metodologi Thareqat-lah yang dapat Mengusir iblis dari dalam hati (Roh)mu.
    Walaupun kelihatan cantik sholatmu namun masih ada sang iblis dihatimu,..sholat-mu tertolak,…bagaimana kata ilmiahnya Nabi bilang; Haji pakai uang haram hajinya tertolak.,… Jangan kau bandingkan dimensi sang iblis yang umurnya milyaran tahun dengan engkau “hanya” beberapa tahun atau paling-paling 63 tahun. Sang iblis “tamatan”sekolah dilangit, dibanding engkau tamatan dunia ? jangan-jangan didunia (ini) saja belum tamat.
    Maka Kaum Muslimin diperingat tentang masalah roh (ini) karena roh tempat bersema yamnya sang iblis, kalau iblis kekal berada diroh-mu sampai engkau diliang lahat (Alam Barzah),… Alangkah sesal yang tak bersudahan,…mau balik kedunia tak bisa lagi.
    Lalu bertambah Sesalmu sampai diakherat yang tak terlupakan,….. karena Engkau termasuk yang mengatakan “Sesat” pada pengamal thareqat. Waahh gawat kehidupanmu.

    Wass; Mohon maaf.

  • Ruslianto

    Ass.Yth. Sdr.Ku Sufi Muda di Peraduan.
    Adakah penjelasan atau apa lah namanya selain dari penjelasan, jika boleh ber-kias dalam bahasa, meluruskan nan bengkok tapi bukanlah patah arang atas suatu ke yakinan, tentang klaim jatuhnya awal puasa oleh aliran TN di Sumatera Barat pada hari rabu,… mass media (TV) memberitakan seakan akan “ada klaim TN” di Sumatera Barat dan para ustad di mimbar-mimbar dakwah, terasa mencibir kepada seluruh jama’ah TN di seluruh Indonesia, padahal (mungkin) hanya TN di Sumatera Barat saja yang mengambil keputusan “nyeleneh” tsb. selama puluhan tahun saya berguru TN dengan Ayahanda Guru, mudah-mudahan tak pernah lain dari jatuhnya awal puasa dengan apa yang diputuskan pemerintah tsb.
    Adakah penjelasan atau apa lah namanya selain dari penjelasan , meluruskan nan bengkok tapi bukanlah patah arang atas suatu ke yakinan, bersediakah Sdr.Ku SM menulis surat kepada mereka, bahwa putusan TN Sumbar itu “bukan merupakan klaim” dari seluruh TN di Indonesia, atau menulis sedikit surat kepada media TV penjelasan atau apa lah namanya selain dari penjelasan. sehingga “tidak ada kesan” mencibir-dan meng-klaim dari suatu nama yang agung.
    Wass.Mohon maaf.

  • Anggit

    Assalamu’alaikum. Wr.WB.
    Mohon maaf sebelumnya manakala catatan saya ini mungkin tidak berkenan, namun karena suatu kewajiban bagi sesama muslim untuk saling mengingatkan….semoga melalui tulisan ini dapat menjadi bahan bahan renungan saudara sufimuda dan semoga kita semua senantiasa mendapat bdan imbingan-Nya berada dijalan yang lurus.
    Saya telah membaca artikel shalat khusuk yang saudara sufimuda praktekan dalam tarekat. Dimana dalam sholat untuk menjaga khusyuk mka seorang salik membayangkan wajah sang mursyid. apakah Nabi pernah mengajarkan kepada sahabatnya untuk membayangkan wajah Beliau ketika solat agar solatnya khusuk??? cara yang demikian jelas tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad. Dan sebaikanya saudara berhati-hati karena bisa jadi ini merupakan tipu muslihat Iblis yang sangat halus untuk memalingkan hamba-hamba Allah yang taat..coba renungkan: jika kita shalat tetapi hati dan pikiran kita tertuju pada seseorang(Mursyid) bagaimana Allah akan menerima ibadah kita, ingatlah bahwa kita beribadah kepada Allah dan bukan kepada Mursyid. jika tidak demikian maka Hal ini menyerupai orang-orang Nashrani yang Allah katakan tentang mereka :
    “Mereka menjadikan ulama, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal merekahanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah: 31)
    Di dalam Al-Musnad dan dishahihkan oleh Turmuzi dari ‘Adi bin Hatim tentang tafsir ayat diatas ketika Nabi menyatakan hal itu (orang-orang Kristen yang menyembah pendeta-pendeta mereka), maka dia (‘Adi bin Hatim) berkata: Sungguh mereka tidak menyembah pendeta-pendetanya, maka Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bukankah mereka (pendeta-pendeta itu) menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan serta mengharamkan untuk mereka apa yang dihalalkan kemudian mereka menta’atinya?, itulah bentuk ibadah mereka kepada pendeta-pendetanya”.
    Dan jika saudara beralasan bahwa niat saudara adalah benar-benar beribadah kepada Allah mursyid disini hanya sebagai wasilah maka tetap saja hal ini tidak dibenarkan dalam agama islam.
    Jika seseorang yang beribadah namun tidak sesuai dengan syariat maka maka ibadahnya tertolak. mengapa demikian? Sebagai logika: seorang ibu melarang anaknya yang masih kecil untuk ke Pantai karena berbaya bagi keselamatanya, namun ketika sore tiba anaknya pulang membawa beberapa ikan kepada ibunya dan mengatakan bahwa dia telah bersusah payah mencari ikan tersebut dilaut untuk ibunya dan meminta ibunya untuk menerimanya, apakah ibu tersebut senang mendapatkan ikan tersebut? atau bangga karena anaknya bekerja keras untuk ibunya? Ataukah ibunya justru marah karena anaknya tidak mematuhi ibunya? Tentu saja ibunya akan menolak bahkan marah karena si anak tidak mematuhi ibunya meskipun ia sudah bersusah payah demi sang ibu.
    Dari contoh diatas kita bisa memahami mengapa orang yang beribadah meskipun niatnya ikhlas karena Allah, telah bersungguh-sungguh dan bersusah payah namun tidak dikerjakan sesuai syariat maka Ibadahnya tertolak. Ingatlah bahwa syariat dtangnya dari Allah, otak dan pikiran manusia tidak diberi hak (andil) dalam hal syariat.
    Cobalah renungkan baik-baik kirta belum terlambat untuk kembali ke jalan yang benar.
    Wasalamua alaikum WR.Wb.

  • Ruslianto

    Maaf sebetulnya, bukan maksud memotong hak jawab Bg.Sufi Muda, Dan tentu jawaban SM yang tepat, namun sebagai mukadimah tentu,anggap-lah tulisan saya(ini), ibarat yaahh,…. selembar sapu tangan-lah di sebuah Kopor besar , yang akan dibawa berlayar oleh Bg.Sufi Muda mengharungi Lautan Makrifat Kebesaran Illahi.

    Al Quran Suurah Al-Maidah ayat 35:
    Yaa ayyuhallaziina aamanuttaqullaha wabtaguu ilaihil-wasiilata wa jaahiduu
    fi sabiilihi la’allakum tuflihuun.
    Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah pada Allah (termasuk banyak
    berdzikir dan sholat) dan carilah cara (metode untuk mendekatkan diri padaNya)
    dan berjihadlah (sungguh-sungguhlah berjuang, secara intensiflah beramal)
    pada jalanNya itu (pada metode itu) semoga kamu menang.

    Ananda Anggit,…. Catatan ananda (diatas) masih sangat berbeda dan bertentangan dari apa-apa emperis pengalaman maupun pelajaran dari seorang pengamal Thareqat, karena dari awalnya sudah salah (salah kaprah) maka semangkin bersalahan pula arah
    serta maksud nasehat Anggit bagi pengamal thareqat, tentu dengan catatan tersebut.
    Dari isi catatan naïf Ananda Anggit, jelaslah bahwa anda bukan seorang pengamal thareqat Dan TIDAK BERHAK pula memprediksi akhir perjalanan jihaddul fi sabilli thareqat itu.
    Atau (maaf) mungkin hanya mendengar-dengar “selentingan” apa-apa yang dilakukan Seorang pengamal thareqat, dan aneh- nya ilmu thareqat yang menjadi nara sumber Anda adalah thareqat palsu.

    Saya sarankan Anda membaca Surah Al Quran surah Al Maidah diatas,…. Silahkan mencari Wasilah (Seperti yg disuruh/wajibkan Allah SWT), tentu yang di wajibkan kepada orang beriman. Cari sampai dapat, Begitu dapat,… baru anda sadari bahwa anda telah memfitnah ajaran thareqat itu yang sebenarnya.
    25 tahun yang lalu, saya-lah orang pertama yang keluar dari ilmu thareqat (ini) jika saya disuruh Guru Mursyid membayang-bayang kan wajah Guru saya itu pada saat beramal.
    Perlu Anda ketahui Guru saya (Seorang Profesor) menerbitkan suatu bulletin kecil, untuk Meluruskan fitnah dari orang-orang seperti anda (ini) dan dan bulletin kecil tersebut di-terbitkan di Medan pada sekitar Medio Agustus 1991. (mungkin 1991 Sdr.Anggit masih seorang bayi yang imut-imut kala itu), Sekali lagi saya tegaskan bahwa Kami beramal beserta dengan Wasilah yang telah Kami temui,.. dan bukan seperti fitnah, yang Anda katakan yaitu, membayang-bayangkan wajah seseorang.
    Atau yang Anda katakan itu pengamal thareqat palsu ? maka jangan Anda meng-klaim thareqat Yang mu’tabaroh dengan thareqat palsu. Atau sebaik anda belajar lagi, baru mengomentari
    Amalan (yang diperintah Allah SWT) itu palsu, dan tidak benar.
    Atau pasti Anda TIDAK MENGERTI arti WASILAH,… yang sebenar nya,…. Saya sarankan Anda masuk thareqat, agar tau arti Wasilah itu sebenarnya (tapi jangan yg palsu yaa).

    Wahai Sdr.Anggit kembali-lah di jalan yang benar dan sebagai tambahan ilmu rajin-rajinlah membaca artikel dan komentar-komentar disini, semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan membuka hijab kegelapan jiwa-mu,… ber-thareqat-lah semoga beruntung.

    Cobalah renungkan baik-baik, sebelum terlambat untuk mempelajari ilmu thareqat ini, yang sebenar suatu metode memusnah iblis dari dalam diri setiap manusia,.. karena jika iblis itu tidak dimusnahkan akan terus berkekalan dengan Sdr.Anggit sampai keliang lahat di alam kubur. (waduh ngeriii).

    Wass. Mohon maaf, khusus buat Bg.SM karena di dului dengan mukadimah ini.

    • anggit

      terimakasih atas pencerahan yang disampaikan Sdr. Ruslianto. disini ada yang perlu diluruskan dari apa yang sdr. sampaikan. mohon maaf sebelumnya apa yang saya sampiakan diatas sungguh tidak ada niatan untuk memfitnah ataupun memyudutkan para pengikut tarekat, apa yang saya lakukan tidak lebih karena kewajiban saya untuk saling nasehat-menasehati, bukan kah sesama muslim adalah saudara?….
      Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda:”Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan. (Hakim: sahih).
      Dalam hadist lain Rasulullah s.a.w. bersabda yang artnya “jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)
      pengertian khusuk disini menganjurkan pada saat kita beribadah (sholat) seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak dapat melihat-Nya maka yakilah bahwa sesungguhnya Allah melihat kita jadi bukan dengan cara membayangkan mursyid. karena jika kita membayang kan mursyid maka pada saat itu hati kita pun akan tertuju pada mursyid dan bukan pada Allah. bagaimana mungkin kita dianggap khusuk jika sudah menghaadap Allah kita justru mengingat yang lain(mursyid).
      mengenai guru anda yang merupakan profesor mungkin yang anda maksudkan adalah DR. syeh kadirun. apa yang ditulis beliau maupun ceramahnya tentang tasawuf telah saya dengarkan. dan saya bukan lah orang yang baru dalam mempelajari dan menelaah tentang tasawuf, awalnya saya sangat antusias untuk membacanya dan bahkan sempat memutuskan untuk mencari mursyid dilingkungan tempat tinggal saya untuk menjadi salik. namun ditengah pencarian saya urungkan setelah membaca beberapa artikel yang saya peroleh, diantaranya tentang solat khusuk juga tentang praktek zuhud dan tata cara berdikir yang saya lihat diinternet yang menurut saya janggal. bagaimana cara berdikir dalam video diyoutube(http://www.youtube.com/watch?v=4TqwkSZk0AM) menurut Saudar? apakah cara berdikir yang saudara praktekan juga demikian ???
      mengenai syariat. syariat datangnya dari Allah disampaikan Nabi dalam keadaan yang sempurna sebagai mana firman Allah dalam surat Al Maidah :3 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..” sehingga syariat tidak perlu lagi untuk di diotak-atik, dikembangkan, atau diuji cobakan di bengkel tarekat seperti yang dijelaskan Sdr. Sufi muda. kalau sampai diotak atik sedemikian, maka jelaslah syariatnya rusak.
      memang apa yang ada dalam ajaran tarekat terkesan sangatlah indah bahkan sekilas kehidupanya benar-benar hanya untuk mencari ridha Allah.hidupnya hanya untuk Allah, dengan mempraktekan sikap “Suhud”. hingga banyak orang yang terperdaya. namun jika Sdr cermat maka sikap suhud yang dipraktekan dalam tarekat berlebih-lebihan. ingatlah bahwa segala sesuatu yang baikpun jika dilakukan secara berlebihan justu mjd tidak baik. bahkan ibadah(berpuasa) jika dilakukan secara berlebihan( satu tahun penuh) dilarang agama.makan pun baik bagi tubuh tapi jika berlebihan dilarang. pernah saya membaca buku Al Hikam tertulis disana apabila harta kita tertinggal tanpa sengaja dalam perjalanan maka dilarang untuk kembali dan mencari barang tersebut meskipun jumlahnya besar menurut kita karena jika kembali dianggap hati kita telah dikuasai harta ( berorientasi dunia). coba Sdr bandingkan dengan riwayat sahabat nabi yang masuk masjid tanpa mengikat kudanya , maka saat itu Nabi pun mengingatkanya, namun sahabat tersebut mengatakan bahwa dia bertawakal kepada Allah akan kudanya. maka Nabi pun menyuruh pdanya, “ikatlah kudamu di pohon baru bertawakal kpd Allah”. bukankah yang diajarkan dalam tarekat ini bertentangan kisah diatas.
      Renungkanlah…..
      Wallahu a’lam.

      • Ruslianto

        Ass.Sdr.Anggit,.. terima kasih atas harapan yg anda ungkapkan, bahwa tiada niat anda untuk memfitnah dari pengamal thareqat,… sedangkan dzikir yg anda maksud-kan telah saya lihat pd tayangan yoetube,.. maaf bukan begitu cara kami berdzikir yg diajarkan Guru kami untuk bermunajat, kehaderat Allah SWT,.. sekali lagi maaf beribu maaf kepada “pengamal dzikir” yg ditayangkan pd youtube tsb. Memang perlu juga dimengerti, atau penjelasan .bahwa diantara aliran-aliran Thareqat banyak diantaranya membawa versi masing-masing aliran berdzikir yg diyakini, dan satu sama lain tidak pula dapat meng-klaim cara dzikirnya itu adalah sama (cara) nya dengan dzikir dari masing-masing thareqat. Bahkan di negeri Mesir (pengikut aliran Ar Rumi) mengajar dzikir, dgn cara “memutar badan” terlihat seperti dalam tarian. BANYAK orang ter-OPINI bahwa begitulah orang sufi/tasawuf,… Padahal bukan gituuu kaleeee?
        Saya pribadi dan selama saya berguru (puluhan tahun) tidak pernah sekalipun melakukan dzikir seperti (itu),… Dzikir yg lazim kami lakukan dalam bermunajat kpd Allah SWT bersandar pada Al Qur’an-Suuurah Al-A’raaf ayat 205 : “Dan sebutlah(nama)Tuhanmu(dzikirlah) dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.
        Sebagai (maksud anda) saling bersaudara,.. tentu saya juga prihatin dgn Sdr.Anggit yg urung menjadi salik, karena melihat “ragam” dalam youtube atau ulasan-ulasan diinternet,.. harapan saya sebagai orang telah menjalani thareqat (ini),.. teruslah anda memiliki tekad yg kuat seperti “perintah Allah” dimaksud dalam suurah Al Maidah 35 itu, dan terus berdo’a semoga Allah SWT memberikan kemudahan bagi Sdr. Anggit.
        Oh yaa perlu saya sedikit saya tambahkan “bahwa” yg nama Naqsyabandi itupun “beragam” pula adanya, ada yg dari (bermuara) Jabal Hindi ada yg dari Jabal Kubis (Mekkah),… dan Guru saya (itu) bersilsilah dari Jabal Kubis. Jadi Nah (maaf) untuk yg ingin berthareqat perlu sekali memperhatikan sanad silsilahNYA sampai kepada Rasulullah apa tidak ?.
        Mengenai syariat ? Insya Allah,… Thareqat Naqsyabandi yg saya pelajari tak secuilpun merobah dan meng utak-atik syariat islam yang diajarkan Rasulullah S.A.W yg ada sejak 14 abad yang lalu,..
        (Saya adalah orang yg pertama “doeloe” keluar dari thareqat ini puluhan tahun yg lalu jika aliran ini merobah-obah syariat islam). Kata Guru saya; syariat itu sudah Finis tak perlu diganggu gugat.

        Hanya saja menurut hemat saya, kebanyakan orang muslim, “salah” meng-interprestasi makna yg hakekat”nya” disyarat sebagai pengamal thareqat.

        Contohnya; Yaitu seperti yg anda sebutkan (tadi),… membayangkan mursyid ? Maaf Guru saya itu tak pernah “bilang” dan mengajarkan seperti itu. (Lihat/baca komentar saya diatas). KEDUA,.. dimana anda melihat pengamal thareqat “berlebihan” dalam sikap suhud ?,.. Inilah yang saya maksud diatas; kita tidak boleh meng-klaim “amalan” salah satu thareqat menjadi tolok ukur bahwa SEMUA thareqat seperti yang Saudara sangkakan itu.
        Mengenai “sholat khusuk”, dalam pengamal thareqat ada upaya, untuk memusnahkan iblis dari sanubari kita,.. nah iblis itulah penyebab utama sholat menjadi tidak khusuk,( Nah,.. berbeda ‘kan dari apa yg anda sangkakan selama ini),.. atau baca komentar saya diatas.

        Sebagai kita bersaudara,.. tentu saya juga prihatin dgn Sdr.Anggit yg urung menjadi salik, Semoga Sdr.Anggit, bangkit lagi semangatnya untuk mencari Guru Mursyid. (ingat ya yg sanadnya sampai kpd Rasulullah s.a.w) SeMOGA.

        Wass; Maaf, Atas segala tutur kata yg menyinggung Sdr.Anggit, dan Komentar saya ini, mendahului Sdr-Ku Sufi Muda,.. dan jawaban sempurna kita tunggu dari Beliau(tentunya).

        • anggit

          ass..terimakasih atas jawaban sdr. Ruslianto, apa yang saya tanyakan telah Sdr. jawab dengan lugas, namun disini msh ada satu hal yang membingungkan dr apa yang sdr. sampaikan, saya melihat isi dari pernyataan anda diatas sangat kontradiktif dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sdr.sufimuda kaitanya dengAN SOLAT KHUSUK, dalam artikel sholAT KHUSUK SALAH KAPRAH disana tertulis dengan jelas dalam pernyataan berikut
          “Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing ”
          sementara anda sndiri memiliki keyakinan yang sama dengan Sdr. SM.
          kemudian dalam pernyataan berikutnya
          “Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin.”
          bukankah hanya wajah Rosulullah yang tdk bisa ditiru oleh syaitan karena jelas bahwa Rosulullah “maksum” dan itu sudah dijamin oleh Allah..
          sementara ketika seseorang menjadi salik maka dia harus melakukan bai’at kepada sang mursyid dan karena baiat itu mengharuskan dia patuh kepada sang mursyid.
          dan kalau memang pernyataan diatas benar, yang lebih membingungkan lagi pada penyataan berikutnya
          “Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.”
          dari pernyataan diatas secara implisit menyatakan bahwa tidak ada jaminan bahwa semua mursyid itu kamil mukamil. padahal ketika kita belajar tarekat harus diawali dengan baiat yang mengharuskan salik patuh pada mursyid..dan juga larangan bagi seorang salik untuk menguji/menyelidiki apakah mursyid yang telah membaiatnya seorang yang kamil mukamil karena diharuskan setelah menjadi salik(di bai’at) harus patuh dan percaya 100% kepada mursydnya.

          dan pertanyaan yang terakhir, apakah ada parameter untuk mengetahui/menentukan bahwa seorang mursid telah mencapai kamil mukamil? sementara sudah jelas bahwa hati adalah urusan Tuhan yang artinya hanya Allah lah yang tahu isi hati setiap mahluknya dengan tepat. bukan seperti kita-kita yang ingin belajar tarekat…
          bagaimana pandangan Sdr. tentang pernyataan & pertanyaan diatas?
          terimakasih atas jawabanya.
          wassalam

  • Ruslianto

    Al Qur’an Suurah Ali Imran ayat 103 :
    Wa’tasimuu bi hablillah jamii’aw wa laa tafarraquu
    Berpeganglah kamu pada Tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai

    Penjelasan yang bagaimana tentang ‘berpegang teguh pada tali Allah” tentu dalam arti “Zahir dan Batin”. Ialah :

    Arti ke-1 (Zahir) :
    Firman-firman Allah dan Hadits Rasulullah yang didengar oleh telinga dan tertulis dilihat oleh mata untuk diolah oleh otak,pikiran kemudian untuk dijadikan tingkah laku,perilaku,adab maupun mental seseorang , maka Pribadi kita pun menjadi muslim-lah, Tali Allah Zahir tersebut diturunkan Rasulullah secara turun temurun dan tentu melalui lisan jasmani (sabda-sabda) Rasulullah S.a.w.

    Arti-ke-2 (Batin) :
    Nurun ala Nurin bagi Roh kita (manusia), yang juga secara turun-temurun diterima dari Rasulullah S.a.w, BUKAN melalui lisan Beliau, tetapi melalui Rohani Beliau,… Jika otak kita dapat diajari dengan lisan, sehingga ia jadi Islam, tetapi Roh kita tidak dapat di Islam-kan dengan ajaran melalui lisan manusia, karena dimensinya, karakternya,unsur BERLAINAN, Walaupun ia beserta dengan tubuh jasmani kita setiap hari, setiap saat. (Ah mana tau Si Anggit itu).
    Untuk meng-islamkan Roh itu, ia harus diisi dengan Rohani Rasulullah, yaitu Nur Muhammad atau Nurun ala Nurin, yang diterima Rasul daripada Allah SWT. Yang berisikan KALIMAH ALLAH murni dan tulen dari Allah SWT, sendiri, dengan segala Kebesaran dan KeagunganNYA, yang bergetar dengan getaran yang Maha Ultra Sonoor, yang Maha Dasyat, yang tidak mampu diterima oleh Bumi, Langit, Lautan dan seluruh alam; mereka semua akan hancur luluh, yang mampu menerimanya ialah hanya jenis Bani Adam yang dikehendaki Allah SWT, yaitu para Mukmin sejati, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Qudsi Riwayat Abu Daud :
    “Tak dapat memuat Zat-Ku,Bumi dan Langit-Ku; yang dapat memuat Zat-Ku, ialah Hati hamba-Ku yang Mukmin, Lunak dan tenang” (HR.Abu Daud).

    Barulah Roh itu Islam dan menjadi Mukmin, seperti Roh Rasulullah S.a.w sendiri dan sekaligus seperti Roh dari segala Para Ambia Allah, KARENA ROH ini telah berisi Zat yang sama, yaitu Nuurun ala Nuurin yahdillahu li Nuurihii mayyasyaau.
    Maka para Mukmin yang tahqiq pada Allah dan Rasul, sebagai Warisatul Ambia berhak pula mewarisi segala apa yang diterima para Rasul dari Allah SWT. Zahir maupun Bathin.
    Berpegang teguh-lah pada Tali Allah (Zahir maupun Bathin), dan Mempelajari ilmu thareqat (sebenarnya) dalam upaya meng-islam kan rohani kita serta mengusir iblis yang bersemayam pada rohani itu sendiri.
    An-Nisaa ayat 168 :
    Innallazina kafaruu wa zalamuu lam yakunillahu liyagfira lahum wa laa liyahdinahum thariqat
    Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) akan menunjukkan kepada mereka thareqat / jalan (yang lurus).
    Al-Jin ayat 16 :
    Wa al lawistaqamuu ‘alat-thariqati la’asqainaahum maa’an gadaqa
    Maka sekiranya mereka tetap istiqomah berada di jalan thareqat itu niscaya Kami curahkan kepada mereka air yang cukup.

    Wass: Maaf, Semoga menjadi bahan renungan bagi saya dan kita semua.

  • You Net

    saya tidak tau harus memulai dari mana ,,,siapa saya kemana saya kan pergi untuk siapa saya hidup dan untuk apa saya hidup kemana tujuan saya aku harus bagai mana dan mana yang harus saya mulai kapan dimana dan kemana saya harus menuju, ,, saya tidak tau cara sholat dengan benar membca al-qur’an dengan benar dan aliran mana yang saya harus saya ikuti,, namun saya sangat ingin sekali menjadi seperti muhammad rhoshul,, saya ingin menjadi umt muhammad namun saya tidak tau siapa guru yang tepat untuk menjadi tuntunan saya,, orang tua,, masih banyak keraguan yang membuat saya sering bertanya yang membuat dia jengkel dan akhirnya membuat saya menjadi orang yang durhaka dan selalu membantah dan menganggap bukan saya yang durhaka namun orang tua saya yang durhaka karena dia memerintahkan apa yang tidak di laksanakan apa yang tidak dia kerjakan dia selalu mencari kejelekan sifat dan perbutan saya iya aku berdosa karena saya minum khomer karena saya tidak tau harus curhat kepada siapa iya saya berteman dengan orang peminum karena saya tidak mempunyi teman yang mungkin teman terbaik adalah orang tua di mana kepedulian mu sebagai orang tua mana nafkah yang harus engkau berikan dimasa aku sangat membutuhkan akhirnya enkau berkata tak utang2 ke duet ngalor ngidul tapi rano kasile, utek mu ki tok go ora aku iso dadekke anak uwong kok anak ku dewe ora dadi,,, padahal dia beli mobil katanya mau haji,, ketik saya bingung mau kuliah dimana karena saya tau kondisi keungan orang tua dia memaksa untuk nguliahin saya wes ra popo le soal biaya gmpng,, tapi ketika saya mantap wes aku ra wani le nyekolah ke kowe tekan duwor nek awak mu urung berubah,,, padahal saya sudh mmengikuti apa yang di katakanya ojo metu2 sek oke saya tidak keluar hingga saya kehilangan banyak temen yang mungkin bisa membantu kelak,, akhirnya sudh setaun saya di rumh cuman banyak melamun bnyak di salain di hina di caci di pukulin dengan dasar durhaka terhadap orang tua di bilng kok saiki koe close bnget to le,,, pertanyaan saya bagi mana saya bisa berhasil jika orang tua saya mendidik saya dengan cara seperti ini bagai mana saya bisa belajar jika orang tua saya tidak percaya dan melihat perubahan yang di dalam hati saya,, saya diam karena sabar saya diam karena ingin berbakti tapi kenapa engkau sebagai tokoh agama sekaligus guru PAI di salah satu sekolahan di jogja bisa berlaku seperti ini terhadap anak mu,, dan mengkotak2kn keluargamu sendiri membanding2kn anak2 mu sehingga penyakit dengki dendam iri,, menyelimuti setiap shilturhokhim dalam rumpun kelurga sendiri,,, pantas saja enkau Allah tidak mengabulkan engkau naik haji pantas saj harta mu habis untuk hutang karena engkau lalai dengan nafkah yang ingin engkau sombongkan namun engkau lalai dengan apa yang menjadi kewajibanmu mungkin engkau orang yang mengerti teori islam dan mungkin engkau hafiz Al-qur’an tapi engku sama sekali jauh lebih buruk dari pada anak yang engkau sia2kan ini,, sebenarnya aku hanya ingin engkau sholat lagi mengajarkan aku membaca Al-qur’an lagi dan bisa bercanda tawa lagi tanpa harus melihat apa yang menjadi isi hti mu bahwa engkau takut banyak yang kesalahan mu akan menjadikan ku berani melawan mu jika aku berdekatan dengan ibu kandung ku sehingga aku memukuli aku hanya berdasarkan rasa sakit hatimu terhadap hati mu sendiri,, namun aku tak perlu mendengar cerita atau dongeng dari ibu atau orang lain aku bisa melihat dengan mata kepala ku,, ingat engkau sering memukuli mantan istri mu yaitu ibu kandung ku hanya karena masalah sepele,, ingat engkau ingin memadu istri mu,,, sehingga berceri,,, tapi akhirnya aku tau bahwa engku sudah berselingkuh ketika kelahiran kakak ku yang kedua aku liat sendiri foto mesra kalian ketika calon ibu tiri ku menggendong kakak ku,, wah ternyata engkau memang hebat dengan sifat kemunfikan mu itu ,, uwaaw,, tapi kenapa sekarang engkau tidak memukuli istri mu padahal dia sudah banyak salah bahkan membuat mu lalai dengan banyak kewajiban mu sehingga engkau menimpakan semua terhadap ku,,, namun engkau salah engkau dan mantan itri mu itu malah menjadikan ku banyak pelajaran yang bisa saya ambil,, bukan mana yang harus saya berbkti maupun saya hormati,,, namun ku hrus kembali ke agama ku karena hanya Allah lah yang maha menyelmatkan dan Allah lah yang berhak mengujiku dengan ujin nya bukan fitnah yang engkau buat dan istri muda mu terhadap tetangga maupun teman dan kerabat bahwa selama ini saya kualat karena saya telah durhaka,
    sesungguhny Allah telah berfirman dengan Suroh AL-Lahab,,

    “(jika ada yang mau mengajarkan dan menuntun saya untuk menjadi imam terbaik bagi keluarga saya nanti saya sangt berterima kasih maka saya berjanji akan berbkti dn mengikuti semua perintah yang menurut Allah benar terhadap orang yang mau menjadi guru saya jujur saya gak tau harus keman,, saya sudah tidak sekolah sulit mencari pekerjaan yang tepat untuk saya namun bukan harta yang saya cari,, saya hanya ingin menjadi imam yang baik karena saya tidak mau anak dan istri saya nanti tidur di tempat yang tidak nyaman ,,, saya benar2 sangat membutuhkan bantuan secara rhohani (karena shulit mencari orang yang tepat) tapi tubuh ini juga perlu di beri makan untuk melanjutkan hidup(jika ada pekerjaan sedanya namun benar2 bisa membuat saya semakin ingat Allh saya sangat ingin)
    jika masih ada keraguan dan rasa kurang percaya kronologi dan sifat maupun watak bisa anda perhtikan dengan pernyataan saya di atas,, terima kasih

    08564084760

  • Ruslianto

    PEMUSNAHAN IBLIS DALAM HATI SANUBARI APAKAH KAITANNYA
    DENGAN PELAKSANAAN SHOLAT KHUSUK BAGI SEORANG MUKMIN

    Sekitar 13,5 milyar tahun yang lalu,…. ( Menurut tim para peneliti ruang angkasa (NASA) alam semesta jagat raya ini telah tercipta 13,5 milyar tahun yang lalu) Allah SWT ingin menjadi khalifah dimuka bumi yaitu mencipta Adam a.s,.. namun Iblis diperintah sujud kepada Adam, tapi Iblis membangkang (ablaasa),… riwayatnya pada QS.Al-Kahfi-50 si iblis doeloe adalah , tentu sangat keramatnya, ia dijadikan dari elemen yang “halus” (yaitu dari golongan jin) sedangkan adam dijadikan (intisari) tanah (elemen kasar). Dari segi kejadian (ini) saja, jelas adanya perbedaan yang mencolok tentang kejadian bani adam dan jin (yg menjadi iblis itu).
    Karena pembangkangan itu, Sang iblis mendapat laknat dari Allah S.W.T,.dan diakhir kehidupan nya sebagai penghuni neraka,… dan dengan kasih sayang Allah,.. Sang Iblis mendapat “penangguhan” sampai diakhir penghidupan diakhirat nanti. Sang Iblis diizinkan untuk menggoda bani adam a.s (anak keturunan adam a.s). “Mereka dapat saja menggoda (bujuk rayu) kepada bani adam (itu) KECUALI Hamba-hambaKu yang ikhlas (ber-iman dan bertaqwakal) Lihat QS.Al-Nahl -99.

    Bagaimana cara sang iblis menggoda bani adam a.s ? apakah dengan cara menabrakkan “tubuhnya” Ketubuh sang bani adam ? dan bani adam itu pun terjungkal,. dan masuk neraka bersama sang iblis ?
    Oh bukan begitu,… iblis dan dedengkotnya setan itu, masuk melalui/kedalam hati sanubarimu, (QS.Al Mujadilah-19), karena iblis terbuat dari elemen yang “halus” maka ia “masuk” pun melalui elemen yang halus-mu pula, yaitu roh-mu yaitu roh yang berasal dari Allah yg ditiupkan semasih manusia dalam kandungan ibunya, dan karena itu pula (mengapa) ada DOSA LAHIR dan DOSA BATIN (Lihat : Al An’am -120).
    Faktor lainnya yaitu, Karena jiwa yang GELAP/KOTOR tidak bersih ( Sesungguh nya beruntunglah orang yang membersihkan hatinya),QS.Asy Syam-8,9,10…. Jiwa/Sukma/Hati Sanubari /roh yang tidak BERDZIKIR maka otomatis menjadi kotor/beku/gelap dari Rahmat dan Hidayah Allah S.W.T (QS.Al Hadid-16= QS.Ar Raadu 28) dan Karena kotor dan tak ber-dzikir itu, maka BERSARANG-LAH sang iblis laknatullah dijiwa/Sukma/Hati Sanubari/roh tersebut , Karena tidak pernah dimusnah kan, atau tidak berusaha untuk memusnahkan iblis (itu), maka iblis (itu) beserta dedengkotnya akan terus mengikutinya bani adam (itu) sampai azalnya dan SAMPAI KELIANG LAHAT (QS.Azzuchruf-36) dan penyusupan iblis itu pula membuat sholat tidak khusuk selama hidup di dunia, Na u’dzubillahi min zhalik.

    Bagimana dan apa kaitannya dengan sholat kusuknya seorang mukmin ?
    Lihat, Al Qur’an Suraah Al A’laa-14,15 :
    Qad aflaha man tazakkaa, Wa zakarasma rabbihi fa salla
    Sesungguhnya beruntung orang yang mensucikan diri, dan berdzikir (menyebut) nama Tuhannya, lalu dia sholat.

    Coba perhatikan maksud Firman ; Ber-DZIKIR dulu, baru MENEGAKKAN SHOLAT.
    Selanjut-nya pertanyaan; dzikir yang bagaimana, ? Allah memberi petunjuk Lihat Al Qur’an Suraah An Nahl-43. “Tanya pada Ahli dzikir jika kamu tahu” dan Al Qur’an (QS.Al-Israa-72)
    “Orang buta di dunia ini maka ia buta di akherat”

    Nah, setelah Hati sanubari/Sukma/Roh/Jiwa bersih dan tenteram karena ber-dzikir (Ar-Raadu,28) Maka sesuai dengan Janji Allah SWT Hati sanubari/Sukma/Roh/jiwa MENJADI TENANG, DAN MENANG.
    Hai,Jiwa yang tenang,kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya, Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syorgaKu.
    (QS.Al-Fajr-27 s/d 30).
    Akhirul kallam : “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji teguh dengan engkau (Muhammad) sebenarnya mereka berjanji teguh dengan Allah tangan Allah di atas tangan mereka (Wajah-Ku di atas wajah mereka, Roh-Ku di atas Roh mereka)”.QS.Al-Fathu ayat 10.
    Wass: Mohon maaf, Semoga bermanfaat dan menjadikan (ini) suatu renungan bagi saya dan kita semua.

    • Anggit

      ass..terimakasih atas jawaban sdr. Ruslianto, apa yang saya tanyakan telah Sdr. jawab dengan lugas, namun disini msh ada satu hal yang membingungkan dr apa yang sdr. sampaikan, saya melihat isi dari pernyataan anda diatas sangat kontradiktif dengan pernyataan yang disampaikan oleh Sdr.sufimuda kaitanya dengAN SOLAT KHUSUK, dalam artikel sholAT KHUSUK SALAH KAPRAH disana tertulis dengan jelas dalam pernyataan berikut
      “Mengingat wajah Muryid dalam shalat bagi seorang pemula jauh lebih terbimbing ”
      sementara anda sndiri memiliki keyakinan yang sama dengan Sdr. SM.
      kemudian dalam pernyataan berikutnya
      “Wajah Guru Mursyid yang kamil mukamil dan khalis mukhlisin tidak akan bisa ditiru oleh syetan dan kalau ada syetan yang mencoba meniru wajah Mursyid akan langsung terbakar. Jangankan Guru Mursyid, photonya saja tidak akan bisa didekati oleh jin dan sejenisnya termasuk para dukun yang menyembah jin.”
      bukankah hanya wajah Rosulullah yang tdk bisa ditiru oleh syaitan karena jelas bahwa Rosulullah “maksum” dan itu sudah dijamin oleh Allah..
      yang lebih membingungkan lagi pada penyataan berikutnya
      “Kalau seorang Guru Muryid belum mencapai tahap itu berarti kadar dan keotentikan kemursyidannya perlu dipertanyakan lagi.”
      dari pernyataan diatas secara implisit menyatakan bahwa tidak ada jaminan bahwa semua mursyid itu kamil mukamil. padahal ketika kita belajar tarekat harus diawali dengan baiat yang mengharuskan salik patuh pada mursyid..dan juga larangan bagi seorang salik untuk menguji/menyelidiki apakah mursyid yang telah membaiatnya seorang yang kamil mukamil karena diharuskan setelah menjadi salik(di bai’at) harus patuh dan percaya 100% kepada mursydnya.

      dan pertanyaan yang terakhir, apakah ada parameter untuk mengetahui/menentukan bahwa seorang mursid telah mencapai kamil mukamil? sementara sudah jelas bahwa hati adalah urusan Tuhan yang artinya hanya Allah lah yang tahu isi hati setiap mahluknya dengan tepat. bukan seperti kita-kita yang ingin belajar tarekat…
      bagaimana pandangan Sdr. tentang pernyataan & pertanyaan diatas?
      terimakasih atas jawabanya.
      wassalam

      • muhammad agus setyawan

        saya mulai mengerti,, trima kasih atas jswaban secara tidak lansung ini? jika ada kesempatan boleh kah saya ikut bergabung, kalau boleh tau tempat dimana sufi muda,, berkumpul dmn 085228233018

  • Ruslianto

    Ass. Maaf Sdr.Anggit,… apa-apa yang merupakan “sapu tangan” dari komentar saya (berusaha) tidak kontradiktif dengan apa yang menjadi artikel Sufi Muda,… “mungkin” jawaban “sedikit” memutar dari saya yang berusaha memahami apa-apa yang menjadi “intisari” pertanyaan saudara tersebut. dan (maaf) anda tak perlu bingung,… saya semangkin yakin akan “kegelisahan” sanubari Sdr.Anggit,…….. bahwa benar yaa? anda tulus ingin masuk thareqat ? dan menjadi seorang salik ?
    Ada suatu ibarat (seperti) ini :
    Jika kita bertamu kerumah seseorang,.. dari kejauhan jangan kita menduga-duga bahwa kursi tamu si polan yang akan kita kunjungi itu berwarna coklat, misalnya, menduga-duga seperti ini tak baik tak baiknya yaitu menduga-duga “yang belum pasti” kebenaran-nya, nah masuk dulu kita kerumah si polan (itu) baru dan langsung kita lihat,.. yang sebenarnya warna kursi tamu itu warnanya apa.
    Allah berfirman dalam suraah Al Maidah 101-102 ; Bahwa melarang orang “banyak” bertanya kepada Rasul, dikuatirkan jika dijawab Rasul (nantinya) orang yang bertanya menjadi kafir.
    Suraah Al Baqarah 207 :
    Dan tidaklah seorangpun pada jiwa manusia akan beriman kecuali dengan izin Allah.
    Suraah Al A’raf 69 :
    Apakah kamu heran (tidak percaya) bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang disampaikan oleh seorang pria (golongan) kamu..? Dan ketika Allah menjadikan kamu khalifah-khalifah (orang-orang berkuasa) sesudah kaum Nuh,…

    Wass: maaf jika ada kata-kata yg menyinggung perasaan Sdr.Anggit
    dan Kita tetap mengharap “jawaban” dari Yth.Sufi Muda.

    • muhammad agus setyawan

      ya muhammad engkau tidak bisa memberi hidayah kpd orang yang engkau cintai hnya Allah lah yg berhak. mungkin kita bisa jd orang islam tapi apakah kita bisa menjadi orang yg bnr2 mukmin, dan apkah kt bisa mjd orang yg termasuk golongan yg suks berjihad
      tolong bimbingan nya

  • Ruslianto

    Ass.Yth.Sdr.Ku Sufi Muda di Peraduan dan Penggemar Blog SM dimanapun berada.
    Pada kesempatan ini saya mohon pamit dan do’a karena Alhamdulillah diberikan kesempatan melaksanakan ibadah haji 1433H
    jika ternyata ada tulisan-tulisan dan komen yang menyinggung, mohon dimaaf kan.
    Wass.

  • Julang Anak Jalanan

    Manusia lahir suci hati
    Memang suci si air mani
    Walau dari anjing babi
    Air maninyah tetap suci

    Akibat bangga merasa suci
    Hingga enggan mawas diri
    Juga enggan berintropeksi
    Komo berjuluk habib kiai

    Untungnyah julang bukan kiai
    Sedrajat anjing dan babi
    Cuman dowang ngeroko ngopi
    Ngeja bingung pencipta bumi

    Alloh dowang maha suci
    Komo jadi wanita seksi
    Walau godain rosul nabi
    Tetapi Alloh tetap ke aji

    Sulit di duga ezat yang suci
    Tetapi mudah dengan di aji
    Ada tempat taklit mengaji
    Ngaji sambil geguyon diri

    Kaga serius tetapi pasti
    Karena sorga memang pasti
    Naroka juga sudah pasti
    Jika betul dewasa ngaji

    Bagai ngerumpi tetapi ngaji
    Bahas tiep yang Alloh benci
    Tida perduli diri sendiri
    Jikalau keji ya tetap keji

    Buwat apah belaga suci
    Rasa merasa tukang ngaji
    Jikalau memang pakta dan bukti
    Malah mengkorup syariat nabi

    Hitob Taklip dan hitob wad’i
    Hukum sariat dan hukum akli
    Adat budaya hukum sendiri
    Serba jelas bila mengaji

    Diri kita ya diri sendiri
    Manusia man atu biji
    Biji berbiji menuhin bumi
    Biji yang pasti ezat ilahi

    Bertemu Alloh kembali suci
    Seperti bayi walau akinini
    Diri sendiri nemu ilahi
    Ya kaya Alloh ngaku sendiri

    Namun biji busukin biji
    Numpuk di tempat kumpul biji
    Merasa banyak ya hasud dengki
    Ngaku sendiri malah kecaci

    Martabat rosul nabi wali
    Semuwah juga ngaku sendiri
    Yang mendengar ya meyaqini
    Percaya tanpa pakta bukti

    Sami’na wa’ato’na ngarti
    Tanpa nunggu pakta bukti
    Yaqin Alloh pencipta bumi
    Kuasa ngutus perohmat bumi

    Tida sedikit mahluk penduduk bumi
    Tida ingin intropeksi mawas diri
    Membuwat budeg dan buta hati
    Cemburu buta hasud dan dengki

    Setelah adam Alloh cipta jadi
    Ejin dan iblis amatlah dengki
    Sehingga Alloh mereka caci
    Ngatah nyang begini di ciptai

    Alloh berfirman taupik aku miliki
    Silahkan sajah engkau nodai
    Si ejin iblis terlanjur dengki
    Tantang Alloh mao menguji

    Bertahun tahun adam hidup sendiri
    Di dalam sorga tanpa istri
    Ahirnyah Alloh nyiptakan istri
    Nemenin adam buwang sunyi

    Alloh berikan kata janji
    Bila dilanggar turun ke bumi
    Ejin iblis goda sepenuh hati
    Sampai sukses terpengaruhi

    Adam Hawa turun kebumi
    Ejin iblis bangga hati
    Mangkin congkak pada ilahi
    Merasa bisa mempengaruhi

    Terus dan terus di pengaruhi
    Sampai kobil rebutan istri
    Habil terbunuh saking dengki
    Awal cemburu iri hati

    Maka penyakit-penyakit hati
    Paling sulit di obati
    Selain intropeksi mawas diri
    Sadar mengenal diri sendiri

    Kalau sudah ada dengki
    Kehormatan harga diri
    Sama sekali tiada arti
    Selain puwas napsu emosi

    Mao mengaji rasa gengsi
    Mengaku salah harga diri
    Maksain benar beridolohi
    Ahirnyah panday beri solusi

    Tableg ceramah berjuluk kiai
    Pede ego congkak hati
    Walau salah ogah ngakuwi
    Malah marah balik mencaci

  • Julang Anak Jalanan

    Pertanyaan tiga perkara
    Wajib ain menjawab taqwa
    Demi terjawab iman taqwa
    Menuntun sadar rasa rumasa

    Penyebab iman di manusia
    Satu ucapan kaipiat beda
    Karna pilihan si manusia
    Merasa bener yang di bisa

    Penyebab amal iman berbeda
    Cuwek aturan qias ijma
    Hadis quran jadi ta guna
    Aturan hidup bagai ta ada

    Penyebab iman sekaba-kaba
    Karna melihat pakta nyata
    Pormalitas simbol nama
    Berbuwat salah tida rumasa

    Adapun pangkat gelar nama
    Nabi rosul alim ulama
    Empat nama tiada beda
    Satu kaipiat iman taqwa

    Quran hadis kias ijma
    Dalil padoman iman taqwa
    Bila ta gengsi ama nanya
    Masrig magrib tiada beda

    Kelas drajat memang beda
    Tapi disiplin bagai sekola
    Tida curiga buruk sangka
    Bila mateng arip dewasa

    Atas kebawah ibarat roda
    Bawah keatas naek tangga
    Jika disiplin tarak rama
    Walau berbeda ibarat bunga

    Zaman sekarang ibarat beda
    Beda corak hewan satowa
    Seturu-turu mencari mangsa
    Pabila laen ya di mangsa

    Surat Al a’rop amat nyata
    Jika manusia mateng dewasa
    Tida curiga dan buruk sangka
    Tapi mengaji mengkaji jiwa

    Jiwa hidup hidup bertanya
    Dari manah asalnya kita
    Mao kemana langkah kita
    Apakah Alloh sudi nerima

    Kalamulloh qur’an di baca
    Kitabulloh badan di tanya
    Aji amal ibadah jiwa
    Di terima apah kaga

    Pahla kalau di terima
    Dosa kalau ta diterima
    Rasa merasa dan rumasa
    Sampai mati lanjut bertanya

    Ego congkak gengsi nanya
    Itulah iman budeg buta
    Bisa jadi sekaba-kaba
    Orang Cuma menduga-duga

    Sedangkan Alloh ogah di duga
    Tetapi suka di raba-raba
    Belay kasih cinta setiya
    Alloh juga balik meraba

    Meraba bukan meraba dada
    Dada montok kaum hawa
    Tapi rabalah sekujur jiwa
    Sebates mana punya kebisa
    Benar yang benar atas penilaian Alloh dan rosulnyah maka ia kobul amal makbul iman.
    Ahlak prilakunyah tida suka usil kepada amal ibadah orang lain.
    Tetapi bila dirinyah di usili oleh orang lain maka ia berani menjelaskan amal ibadah dengan secara kersil dan terampil.
    Hingga ia di juluki insanul kamil. Alloh namainyah si Julang Anak Jalanan.
    Alloh amanatinyah Wali Abdal Imam Mahdi.
    Yang mempercayainyah dan meyaqininyah sebagai utusan Alloh maka beruntunglah ia dun’ya ahirat.
    Sebaliknyah orang menolak keberadaannyah maka cilaka dun’ya ahirat.
    Jadi jelaslah sudah.
    Orang beruntung sudah jelas
    Orang cilaka sudah jelas
    Tida perlu ribut-ribut.
    Orang beruntung bisa bertaklid esah soheh iman.
    Orang cilaka bertaklidnyah pada jahil murokab batil iman
    Tida perlu hujat debat
    Tetapi perlu cerdik cermat
    Inilah Alloh amanat Rosululloh berwasiat para leluhur mewangsit amanat wasiat.
    Ilmu ituh untuk maslahat bukan jahat berebut pangkat.
    Karena manusia punya pilihan
    Karena tida mao mengikuti aturan
    Karena manusia tida mao disalahkan
    Maka jadilah masing-masingan di luar tuntunan Alloh dan Rosulnyah dan di luar tatakrama iman taklid.

Tinggalkan Balasan ke muhammad agus setyawanBatalkan balasan