Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Tuhan”

Tuhan Milik Siapa? (1)

Tuhan milikSejarah memberikan catatan kepada kita bahwa pertumpahan darah yang paling banyak terjadi di dunia disebabkan karena memperebutkan Tuhan, Agama dan Kebenaran. Keyakinan  kuat atau fanatisme terhadap agama satu sisi memberikan hal yang positif, membuat manusia mengikuti aturan sehingga dengan keteraturan itu menyebabkan hubungan manusia dengan manusia menjadi harmonis begitu juga hubungan manusia dengan alam. Di sisi lain, ketaatan dalam agama tanpa di iringi semangat toleransi dan pengetahuan yang mendalam terhadap agamanya dan agama lain akan memberikan ruang kebencian yang ketika dijadikan alat politik oleh sekompok orang akan menjadi racun berbahaya dalam masyarakat.

Baca selengkapnya…

Silahkan Order, PASTI Dikirim!

berdoa1Ada ungkapan dalam bahasa Spanyol yang artinya seperti ini, “Tuhan memberikan apapun yang anda minta, anda tinggal meng-order-nya“. Artinya Tuhan yang Maha Kaya sanggup memberikan apapun yang di minta oleh hamba-Nya, apapun tanpa batas karena Dia tak berbatas atau tak terhingga. Begitu pengasih dan penyayang Tuhan kepada hamba-Nya sehingga Dia memberikan garansi 100% akan memenuhi apapun yang diminta oleh hamba-Nya sebagaimana firman-Nya: “Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Al-Mu’min: 60).

Baca selengkapnya…

DAN,… Atheispun Merindukan Tuhan

T. Muhammad Jafar**

1980, Moskow, Michael Gorbachev, menengadah ke angkasa Rusia, menyaksikan  pesawat-pesawat tempur Rusia bermanuver dalam berbagai formasi yang sangat mengagumkan , tiba-tiba, dua pesawat bertabrakan memecah kekaguman,… “Oh My God”,… Teriak Gorbachev, …dan Atheispun merindukan Tuhan,…

Baca selengkapnya…

Menemui Allah

“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6)

Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia meninggal dunia (nafas berhenti) barulah ada peluang berjumpa dengan Tuhannya. Berjumpa dengan Tuhan setelah kematian itu sifatnya spekulatif, (bisa ya bisa juga tidak) lalu bagaimana kalau setelah meninggal kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan?

Baca selengkapnya…

Sesajen Untuk TUHAN

Oleh : Abu Hafidh Al Faruq

Apa iya TUHAN perlu sesajen? Sesajen adalah kata yang lebih akrab di telinga kita orang Indonesia dari pada kata aslinya ‘sesaji’ yang berarti sajian yang disajikan kepada yang diperTUANkan atau yang diperTUHANkan. Kata ini sangat berhubungan erat dengan dunia klenik alias perdukunan. Dalam imaginasi kita ketika mendengar kata ini mungkin akan terbayang sepiring lengkap buah buahan segar atau ditambah disisipi beberapa lembaran uang nominal tertinggi, bahkan terkadang rokok juga diikut sertakan dalam sajian tersebut. Beberapa tempat di Nusantara ada yang mensajikan kue kue tradisional, makanan mewah seperti ayam panggang utuh, tumpeng dan lain lain. Kalau di kampung saya sesajian tersebut dilengkapi dengan ‘beurteh’ (seperti pop corn tapi berasal dari padi beras hitam) disajikan diatas daun pisang dalam piring besar berhias, dibuat bulat kerucut dengan satu butir ayam kampung di puncaknya dan beberapa pisang mas mengelilingi lingkaran bawahnya, disajikan satu paket dengan kue apam (serabi) lengkap dengan santannya. Sesajen tersebut disajikan dalam aroma dupa atau kemenyan yang sangat menyengat. Anehnya sajian ini disajikan kepada kuburan kuburan tua yang kelihatan angker, gua, pohon pohon besar, batu besar dan sebagainya. Hal ini sebagian penulis alami sendiri ketika kecil. Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual ini adalah orang yang berprofesi sebagai dukun atau orang orang yang “berilmu”. Sebenarnya bukan mereka saja yang melaksanakan “acara” tersebut melainkan juga orang orang yang memanfaatkan jasa dukun tersebut sehingga notabene semuanya terlibat dalam aktivitas ini. Kenapa harus menyediakan sesajen? Selain sebagai bentuk puja puji kepada si “penunggu” pohon besar atau  “empunya” tempat, diduga lebih karena sebagai syarat agar dikabulkannnya keinginan si klien untuk memikat seorang gadis misalnya atau ingin kaya dan seterusnya. Syarat itu bisa berupa harus menyembelih sekor ayam putih pada waktu tertentu, melakukan menggigit lidah bayi yang baru dikubur dan banyak hal yang aneh aneh bin tak masuk diakal demi transaksi dengan “mbah anu” atau “eyang polan”. Saudara, itulah sekelumit pengertian yang kita punya tentang sesajen sampai hari ini, namun demikian apakah makna sebenarnya dari sesajen?

Baca selengkapnya…

Menjumpai TUHAN di dalam kamar-NYA

Oleh : Abu Hafidzh Al Faruq

Dalam seminar-seminar bisnis yang pernah saya ikuti, para pembicara yang telah menjadi pengusaha sukses dan kaya raya  selalu menempatkan ‘dream’ atau cita cita sebagai titik awal dalam memulai segala sesuatu usaha. Begitu pentingnya ‘impian’ ini sebagai motivator yang sangat kuat sehingga  membangkitkan dan membakar semangat dalam menggerakkan kemauan dan aktivitas untuk mencapai tujuan dari semua proses usaha yang dilakukan. Impian adalah terminal perjalanan usaha. Dalam aplikasinya “dream” ini bisa sangat bervariasi muncul, bisa keliling dunia dengan kapal pesiar yang super mewah, punya pesawat jet pribadi, ingin punya istana disuatu tempat dan sebagainya… Saudara, silahkan anda ber”mimpi” seliar apapun jika itu dapat  membakar semangat anda untuk berusaha. Tak ada kekangan dari apapun dan siapapun untuk itu. Namun yang menjadi pertanyaan buat kita adalah dari sekian banyak impian dan cita cita, dimanakah kita menempatkan TUHAN dalam cita cita kita? Walau memang ada sebagian orang menjadikan ibadah haji atau umrah sebagai impian mereka, apakah cukup hanya dengan itu? Kalau mau jujur, seberapa dalamkah kita memaknai TUHAN sebagai motivator dan tujuan dalam hidup kita? Lalu ada apa dengan ‘Menjumpai TUHAN di dalam kamarNYA’?

Baca selengkapnya…

TUHANKU TUHANMU TUHAN KITA

 

Kenapa kita berdoa selalu menengadahkan tangan dan memandang ke atas? Karena kita meyakini Tuhan berada di atas sana, berada di langit yang tinggi dan sulit di jangkau oleh makhluknya. Seluruh agama mempunyai ajaran seperti itu dan hampir semua kita mempunyai persepsi yang sama tentang Tuhan yaitu: Tinggi, Agung, Mulia dan tak terjangkau. Islam menggambarkan sifat-sifat Tuhan dalam 20 sifatnya, Wujud, Qadim dan seterusnya juga menggambarkan nama-Nya lewat Nama-Nama Tuhan yang baik yang kita sebut dengan Asma Al Husna yang berjumlah 99 Nama. Setelah kita menghapal nama-nama-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, sudahkah kita benar-benar mengenal-Nya? Bisahkah kita mengenal sesuatu tanpa melihat? Mungkinkah Tuhan yang Maha Tinggi itu tidak bisa dilihat? Lalu untuk apa Dia menciptakan kita kalau memang Dia selalu berada pada posisi untouchable?

Baca selengkapnya…

Post Navigation