Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

MIMPI BERTEMU RASULULLAH

Saat ini kalau kita mengetik kata “Mimpi Dengan Rasulullah” di Google, maka yang keluar bukan dalil atau pengalaman mimpi para ulama dengan Rasul tapi kasus orang yang dilaporkan karena mimpi dengan Rasulullah. Memang demikian kalau masalah bathin diungkap secara vulgar ke publik akan menjadi fitnah, diseret ke politik dan menimbulkan perdebatan yang tidak berkesudahan. Sebagian kecil kelompok ummat Islam (termasuk disini anti maulid) dengan tegas menolak tentang pengalaman mimpi dengan Rasulullah namun sebagian besar ummat Islam meyakini itu hal yang mungkin terjadi dan memang tercatat dalam sejarah sejak dulu sampai saat sekarang ini. Di kalangan para Habib dan para sufi, bertemu Rasulullah baik dalam kondisi mimpi maupun terjaga merupakan hal yang lumrah terjadi karena hubungan mereka dengan Rasulullah terjaga dengan sangat baik.

Ibnu ‘Asakir bercerita tentang Bilal bin Rabah RA setelah Rasulullah wafat. Ketika Bilal singgah di Badariah, nama tempat dekat wilayah Suriah, dalam tidurnya dia bermimpi melihat Rasulullah.  

Beliau bersabda kepadanya, “Apakah arti ketidakramahan ini hai Bilal. Tidakkah engkau hendak mengunjungi aku sekarang?”

Setelah itu Bilal terbangun dari tidurnya dalam keadaan sedih dan cemas. Ialu, dia berkemas kemudian naik ke atas kendaraannya menuju Madinah. 

Dikunjunginya makam Rasulullah, Bilal pun menangis dan mengguling-gulingkan mukanya di atas pusara Rasulullah SAW karena rindu dan haru.  

Kedekatan Bilal dengan Nabi tidak diragukan lagi maka Nabi pun tetap datang kepada Bilal walaupun Beliau sudah tiada secara jasadnya.

Dalam kitab-kitab kuning (kitab klasik) banyak sekali dijelaskan pengalaman para sufi yang menggambarkan pengalaman mistisnya menjumpai Rasulullah SAW. Sebagai contoh, suatu ketika Imam Al Ghazali (1058-1111 M) ditanya, “Mengapa engkau sering mengutip hadis-hadis ahad (tidak populer) di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumid Din? Ia menjawab, “Saya tidak pernah menulis satu hadis di dalam buku ini sebelum saya konfirmasikan kepada Rasulullah.” 

Padahal, Rasulullah wafat pada 632 M dan Al Ghazali wafat tahun 1111 M, selisih 479 tahun. Kitab Ihya’ ‘Ulumid Din merupakan masterpiece Al Ghazali yang ditulis di puncak menara Masjid Damaskus.

Kejadian serupa juga dialami Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), seorang sufi besar, ketika ditanya seorang muridnya perihal bukunya, Fushush Al Hikam, yang terasa seperti mengandung misteri. Kata muridnya, setiap kali ia membaca buku ini, setiap itu pula ia mendapatkan sesuatu yang baru. Lalu dijawab, “Buku itu memang pemberian Rasulullah langsung kepada saya, bahkan judul bukunya pun dari Rasulullah (khudz hadza kitab Fushuhsh Al Hikam). Padahal, selisih masa hidup Rasulullah dan Ibn ‘Arabi terpaut 608 tahun.

Pengalaman spiritual Ibnu Arabi berjumpa dengan Rasulullah Saw menghasilkan kitab Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyah. Selain 300 karya lainnya.

Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyah, Ibnu Arabi menulis dalam Mukaddimah kitab Fushush al-Hikam. Dalam kitab itu, Ibn ‘Arabi mengaku bertemu dengan Nabi Muhammad Saw dan becakap-cakap dengan beliau.

“Aku melihat Rasulullah dalam suatu kunjungan kepadaku pada akhir Muharram 627, di kota Damaskus. Dia memegang sebuah kitab dan berkata kepadaku: ‘Ini adalah kitab Fushush al-Hikam; ambil dan sampaikan kepada manusia agar mereka bisa mengambil manfaat darinya.’ Aku menjawab, ‘Segenap ketundukan selayaknya dipersembahkan ke hadirat Allah dan rasul-Nya; ketundukan ini seharusnya dilaksanakan sebagaimana kita diperintahkan.’ Oleh karena itu, aku melaksanakan keinginanku, memurnikan niat, dan mencurahkan maksudku untuk menerbitkan kitab ini seperti diperintahkan sang Rasul, tidak ada tambahan ataupun pengurangan di dalamnya.” Begitu tulis Ibn ‘Arabi.

Sejak dari generasi sahabat (Bilal) sampai dengan generasi berikutnya (AL-Ghazali, Ibnu ‘Arabi dll) bahkan sampai saat ini pengalaman mimpi dan bertemu Rasulullah itu akan terus terjadi karena memang Rasulullah SAW akan tetap hidup dan membimbing ummatnya.

Pertanyaan penting adalah bagaimana kita tahu yang datang dalam mimpi itu Rasulullah? Atau yang datang sosok setan yang mengaku Rasulullah? Wajah Rasulullah tidak bisa ditiru setan, benar. Namun kita harus tahu yang mana wajah asli dari Rasul, barulah kita yakin yang datang itu bukan sosok yang dilaknat oleh Allah.

Segala pertanyaan di atas tidak akan muncul jika seseorang telah menemukan Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung sampai kepada Rasulullah karena rohaninya pasti dibimbing oleh Guru Mursyid nya untuk sampai kepada rohani dari Rasulullah SAW, sambung menyambung dari Guru kepada Guru diatasnya, inilah cara paling akurat dan paling terjamin untuk bisa bermimpi atau bertemu dengan Rasulullah SAW.

Single Post Navigation

6 thoughts on “MIMPI BERTEMU RASULULLAH

  1. Alhamdulillah….. Terimakasih tak terhingga GURU… utk kasih sayang dan pengetahuan yang tiada habisnya utk kami yg bodoh ini. selamat sejahtera…, mohon ampunan selalu 😇

  2. Demi Allah
    Saya mempunyai seorang paman yang sudah Almarhum 5 tahun yang lalu. Nama beliau beliau H Sakaruddin. Beliau pernah menceritakan perjalanannya naik haji ke tanah suci.salah satunya sewaktu beliau sholat di dekat ka’bah.
    Ceritanya begini :
    ” Setelah beliau selesai sholat di didekat Ka’bah, beliau melihat pintu ka’bah terbuka lebar. Dan dari dalam ka’bah keluar 40 tombongan laki-laki memakai baju ihram dengan wajah bercahaya.
    40 rombongan tersebut berjalan lewat di hadapan paman, laki-laki paling terdepan sempat menoleh sambil tersenyum. Laki-laki yang diurutan terakhir berhenti sejenak di hadapan paman dan menunjuk ke arah orang yang paling terdepan,menunjuk sambil mengatakan bahwa yang paling terdepan adalah Rasulullah.
    Seketika itu paman saya ingin mengejar Rasulullah, tapi nihil, paman serasa duduk terkunci tak bisa bergerak meninggalkan tempat duduknya.”
    Sekembalinya ke tanah air, paman banyak mendapat karunia-karunia dari Allah SWT.

  3. Salam Guru 🙏😁
    Saya baru bisa baca tgl 27 malam senin dan sangat-sangat bisa saya pahami tulisan Guru karena secara tidak langsung mengingat kan juga apa yang sedang terjadi di negara kita sekarang ini.
    saking memahaminya tulisan Guru, saya sempat bergumam dalam hati “tidak mungkin orang semacam saya ini bisa bermimpi bertemu Baginda Rasulullah Saw”
    singkat cerita sebelum menjelang adzan subuh, saya bangun dengan senyum lebar dan bahagia sambil berucap “subhanallah dan rasa syukur” karena saya bermimpi bertemu Bapak bangsa Indonesia “Gus Dur”
    banyak cerita di mimpi tersebut yang membuat saya sangat2 bahagia walaupun beliau bukanlah “Rasulullah”
    Apa ini hanya kebetulan setelah saya membaca tulisan sang Guru bisa bertemu Beliau?
    Hanya Allah yang maha tahu
    Terima kasih Guru 🙏😁🙏

  4. budisufi on said:

    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: