Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Setelah Shalat Subuh (17)

Perbedaan paling mendasar sistem pembelajaran ilmu syariat dengan tarekat adalah di dalam syariat pada umumnya orang lebih banyak melihat keluar sedangkan ketika memasuki dunia tarekat kita lebih banyak melihat ke dalam diri sendiri. Memasuki dunia tarekat sebagai gerbang awal kepada hakikat dan makrifat dimulai dengan melaksanakan taubat, membersihkan diri dari dosa-dosa. Allah Maha Suci lagi Maha Mulia tidak mungkin mau menerima hati manusia yang diliputi kotoran dan begitulah sunatullah berlaku. Matahari hanya menyerap cahayanya sendiri sehingga tidak satu pun selain unsur matahari bisa mendekat kepada matahari.

Melihat kedalam diri sama dengan mempelajari diri sendiri dan ini merupakan pelajaran panjang yang tidak berkesudahan. Orang yang menekuni tarekat akan sulit melihat kesalahan pada orang lain karena dia begitu sibuk membenahi dirinya. “Barangsiapa yang telah mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”, inilah nasehat dari Nabi kita yang senantiasa dipegang teguh oleh pengamal tarekat. Mengenal diri bukan sekedar mengatakan “Saya ini hamba Allah”, lebih jauh lagi bisa menyelami jiwanya dan memeriksa sudah di level mana jiwa tersebut berada. Allah SWT hanya memanggil untuk mendekat kepada-Nya jiwa-jiwa yang tenang bukan jiwa amarah dan gelisah, maka sudah sewajarnya kita semua berusaha dengan sekuat tenaga senantiasa berada pada tahap “Jiwa Yang Tenang” agar masuk ke dalam orang-orang yang di panggil oleh Allah kapan dan dimana pun.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Jiwa tidak terikat dengan raga, oleh karenanya panggilan untuk kembali tidak berarti harus terlepas dulu nyawa dari raga (mati) atau saat ajal tiba akan tetapi pengelaman “dipanggil” ini harus dialami ketka manusia masih hidup sebab segala amal perbuatan harus dikoreksi semasa dia hidup agar nanti tidak menyesal ketika dia mati. Maka dikalangan tarekat berlaku apa yang dipesankan oleh Nabi, “Matikanlah dirimu sebelum engkau mengalami mati”.

Melaksanakan mati sebelum mati ini harus dengan bimbingan seorang yang benar-benar ahli dan sudah berulang kali pula mempunyai pengalaman dibidang itu, orang tareka menyebutnya GURU MURSYID. Tidak mungkin seorang bisa membimbing orang lain sementara dia sendiri tidak pernah mengalami “Mati sebelum mati”. Hanya orang yang telah mencapai “Mati” bisa merasakan kegaiban dan segala misteri alam gaib bisa tersikap dengan jelas. Pada umumnya apa yang harus diimani atau diyakini oleh ummat beragama termasuk Islam berada pada wilayah gaib. Tuhan, Malaikat, Nabi, Siksa kubur, Akhirat dan lain sebagainya semuanya gaib, itulah sebabnya setiap manusia WAJIB mempunyai pembimbing rohani sebagaimana Nabi dibimbing oleh Jibril agar segala kegaiban itu menjadi nyata sebelum ajal menjelang. Ketika segala kegaiban menjadi nyata maka manusia tidak lagi penasaran dan sudah memiliki kepastian. Dengan modal kepastian inilah manusia bisa menjalani hidup dengan tenang sampai ajal menjemput.

Proses mengenal diri berlangsung secara terus menerus dan para penempuh jalan kepada-Nya tidak lagi disibukkan dengan melihat keburukan orang lain. Dia tidak akan sibuk melihat saudaranya yang kurang ibadah, tidak pula melihat orang lain sebagai sosok yang sombong sebab dia menyadari bahwa apa yang ada diluar dirinya adalah cerminan isi dalam dirinya. Ketika masih melihat kesombongan di dunia ini maka sebenanya di dalam dirinya masih ada unsur sombong. Ketika dia melihat dunia ini penuh dengan amarah dan kebencian sebenarnya itu pancaran dari dalam dirinya, jiwa nya masih berada dalam level kebencian.

Ujung dari proses mengenal diri itu nanti akan sampai ketahap dimana hati manusia disinari oleh cahaya-Nya, sehingga manusia ini berubah dari sosok penuh amarah menjadi manusia sempurna yang penuh cinta kasih. Hidupnya tidak lagi penuh duka nestapa tapi berubah menjadi suka cita dan kesenangan. Begitulah kehidupan Para Sufi yang sulit dipahami oleh orang yang belum menyelam kesana.*

Single Post Navigation

3 thoughts on “Setelah Shalat Subuh (17)

  1. Sahrul Roji on said:

    Jazakallah Khairan katsyron Syaikh Sufi Muda atas pencerahannya 🙏🇮🇩🙏

  2. edywahana on said:

    Alhamdulillah…sudah sekian lama kita tak tegur sapa….nyambung apa yg ada dalam fikiran saya setelah sholat subuh..padahal saya belum pernah ketemu langsung tapi ya inilah jawabannya…subhanalloh

  3. jonnihasibuan on said:

    Alhamdulillah.
    Terimakasih Tuan SM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: