Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

MEMANEN APA YANG DITANAM

Mungkin diantara kita pernah mengalami suatu masa dimana sial datang silih berganti dalam hidup, belum selesai masalah yang satu timbul masalah yang lain. Ada berupa masalah rumah tangga (pertengkaran bahwa perceraian), penyakit atau masalah ekonomi. Biasanya orang hanya melihat masalah itu dari satu sisi yaitu yang muncul kepermukaan dan jarang sekali orang melihat sampai ke bawah mencari akar permasalahan.

Alam ini diciptakan Tuhan sedemikian teratur dan sempurna dan tentu segala di dalamnya akan tunduk kepada hukum-hukum yang telah ciptakan, agama menyebutnya sebagai sunatullah untuk memudahkan kita semua memahaminya. Sunatullah adalah ketentuan Allah atau hukum pasti ditetapkan Allah berlaku secara umum kepada siapa saja. Kita mengenal hukum-hukum fisika; gravitasi, keseimbangan, momentum dan lain sebagainya dan disisi lain di atas hukum fisika terdapat hukum metafisika yang tidak terlihat; hukum sebab akibat, hukum ketertarikan (Law of Attraction), Hukum Polaritas dan sebagainya.

Tuhan menciptakan rumus pasti di alam ini dan manusia diberikan kesempatan untuk mengisi variavel di dalam rumus tersebut, apabila variabel yang diisi itu negatif maka hasilnya menjadi negatif begitu juga sebaliknya akan menjadi positif apabila di isi dengan variabel positif. Dunia Barat begitu serius meneliti tentang Sunatullah atau disebut Hukum Universal ini, hal yang sudah lama ditinggalkan ummat Islam. Kemajuan teknologi dan peradaban manusia tidak terlepas dari hasil kemampuan akal fikiran manusia menelaah, meriset akan hukum-hukum pasti ini.

Kelemahan ummat Islam belakangan adalah mereka salah memahami tentang Takdir atau ketentuan Allah sehingga segala sesuatu yang tidak dia pahami muaranya kepada :  “Itu Kehendak Tuhan” atau “Itu Rahasia Ilahi”. Kesimpulan yang demikian cepat ini hanya untuk memuaskan rasa malas saja atau sebagai alat pembenaran atau kebodohannya.

Kalau kita perhatikan di dunia ini tidak satupun negara Islam berada dalam posisi berdaya, semuanya tunduk kepada Negara Barat non muslim dalam berbagai hal. Kita tahu bahwa tempat yang paling makbul berdoa di dunia ini adalah di Ka’bah dan di Raudah, kedua tempat ini berada di dalam kekuasaan Arab Saudi. Tapi Arab Saudi sendiri tidak bisa membela negaranya, mereka harus meminta bantuan Amerika Serikat yang beragama non muslim, lalu dimana letak kemulyaan Mekkah dan Madinah yang dulu menjadi pusat power Islam seluruh dunia. Masyarakat Saudi juga tidak ada bedanya dengan pemerintahnya, dibuat bodoh, lalai dan kemudian tidak berdaya sama sekali.

Kalau Saudi Arabia sebagai penganut paham wahabi dilemahkan dengan kemegahan, disebelahnya ada Yaman sebagai pengamal Ahlusunnah dan juga pengamal Tasawuf dilemah dengan keterbelakangannya. Sejarah yang saya baca, salah satu penyebab runtuh Turki Ustmani bukan karena mereka pengamal tarekat (seperti yang dituduhkan oleh wahabi) tapi menjadikan Tasawuf/tarekat menjadi obat penenang bukan sebagai spirit untuk maju. Tentara Turki selama 300 tahun (sejak al fatih) tidak pernah mau meriset teknologi baru termasuk senjata, cukup mengandalkan amalan zikir dan jimat sementara di seberang sana negara barat sudah mencapai revolusi industri. Atas alasan ini juga tempo hari tuduhan bahwa tasawuf menyebabkan kemunduran demikian dipercaya oleh genarasi mudah sehingga muncul pembaharuan-pembaharuan di tanah arab dan menyebar ke indonesia. Dalam tulisan ini saya mempersempit pembahasan kepada diri pribadi kita, dilain kesempatan insyaallah akan saya kupas tentang politik Islam baik dulu maupun saat ini dan penyebab kemunduran Islam.

Hukum yang berlaku di alam ini bersifat universal artinya berlaku secara umum tanpa memilah dan memilih, tidak juga berhubungan dengan ketaatan dan keingkaran. Seorang yang rajin beribadah menanam sebutir biji dengan memenuhi rukun syarat bertani akan tumbuh tanamannya begitu juga dengan seorang yang tidak pernah beribadah, apabila dia menanam sesuatu aturan maka biji terebut akan tumbuh juga. Kaya-miskin, tumbuh-layu, dan lainnya tidak ada hubungan dengan ketaatan dan keingkaran, ini berhubungan dengan Hukum Universal yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Hal ini menjawab pertanyaan kenapa semua teknologi dikuasai oleh non muslim, ekonomi dan politik juga karena mereka memahami dan menguasai hukum-hukum pasti ini, hal yang dilupakan oleh sebagian ummat Islam. Kita masih sibuk dengan khilafiah lupa dengan memperbaiki taraf hidup, sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, menuduh amalan orang lain paling bid’ah sehingga lupa berbenah (memperbaiki amalan sendiri).

Kalau hidup anda sial, coba renungkan dalam dalam, variabel apa yang telah anda isi sebulan yang lalu atau bahkan bertahun-tahun yang lalu sehingga menciptakan hidup sial. Hal negatif apa yang telah anda tanam sehingga anda memanennya dengan berlimpah saat ini berupa kesialan bertubi-tubi. Jangan pernah katakan anda sedang di uji oleh Tuhan karena Tuhan tidak pernah menguji orang awam, dia hanya menguji kekasih-Nya. Kesialan yang datang pada orang awam itu disebabkan karena kebodohan dan kecorobohannya sendiri dalam menjalani hidup.

Takdir”, “Kehendak Tuhan” bahkan “Keramat” itu hanya berlaku ketika kita belum memahaminya dan ketika kita sudah cukup ilmu untuk memahaminya semua itu menjadi hal yang biasa. Orang Papua nun di hutan belantara sana mungkin akan menganggap pesawat terbang itu sebagai dewa sampai dia paham tentang pesawat, melihat sendiri pesawat. Maka Allah SWT di dalam al-Qur’an berulang kali menegur kita, “Apakah kamu tidak berfikir”, “Renungkan”, dan lain sebagainya untuk mengingatkan kita manusia agar mau menelaah rahasia alam baik fisika maupun metafisik.

Demikian.

Single Post Navigation

9 thoughts on “MEMANEN APA YANG DITANAM

  1. Terimakasih tak terhingga GURU….😭 tiada daya dan upaya kami melainkan karenaNYA. Semoga tarekat/tasawuf membuat islam kembali jaya , menebarkan cinta dan kasih karenyaNYA.🙏

  2. Sahrul Roji on said:

    Abangda SM
    Yg d maksudnya :lalai dengan mencari amalan apa yg paling bi’dah dilakukan oleh sesama muslim..
    Mohon pencerahannya 🙏🙏

  3. 7th hokage on said:

    Sejak kecil saya selalu merenung, dikatakan bahwa al-quran itu akan senantiasa dijaga oleh Allah, tapi nyatanya saya menemukan al-quran yg salah ketik, dan sebagainya, dan ternyata disinilah saya mendapatkanb jawabannya.

    • HUMOR SUFI
      Begitulah cara Allah Membagi
      Suatu hari ada empat orang murid Nasrudin mendapat hadiah hadiah sekantung permen, Mereka mendatangi Nasrudin dan meminta untuk membagikan permen itu secara adil
      “Baiklah,” kata Nasrudin, “Tetapi mana yang kalian pilih, pembagian dengan cara Allah atau pembagian dengan cara manusia ?” , tanya Nasrudin kepada muridnya, “Dengan cara Allah tentu saja,” jawab murid muridnya spontan.
      Nasrudin membuka kantung permen itu dan memberikan dua genggam permen kepada seorangmurid, satu genggam permen kepada yang lain, hanya dua butir permen pada murid yang lain dan murid keempat tak mendapat satupun.
      “Pembagian macam apa ini?”, murid muridnya bertanya dengan heran, “Begitulah cara Allah membagi, Dia memberikan seseorang dengan berlimpah, yang lainnya sedikit dan ada yang tak mendapat apapun, Jika tadi kalian meminta ku membagi dengan cara manusia, tentu aku akan membagikan nya dengan jumlah yang sama pada setiap orang”. Jawab Nasruddin. He he he

  4. Ruslianto on said:

    HUMOR SUFI
    Begitulah cara Allah Membagi
    Suatu hari ada empat orang murid Nasrudin mendapat hadiah hadiah sekantung permen, Mereka mendatangi Nasrudin dan meminta untuk membagikan permen itu secara adil
    “Baiklah,” kata Nasrudin, “Tetapi mana yang kalian pilih, pembagian dengan cara Allah atau pembagian dengan cara manusia ?” , tanya Nasrudin kepada muridnya, “Dengan cara Allah tentu saja,” jawab murid muridnya spontan.
    Nasrudin membuka kantung permen itu dan memberikan dua genggam permen kepada seorangmurid, satu genggam permen kepada yang lain, hanya dua butir permen pada murid yang lain dan murid keempat tak mendapat satupun.
    “Pembagian macam apa ini?”, murid muridnya bertanya dengan heran, “Begitulah cara Allah membagi, Dia memberikan seseorang dengan berlimpah, yang lainnya sedikit dan ada yang tak mendapat apapun, Jika tadi kalian meminta ku membagi dengan cara manusia, tentu aku akan membagikan nya dengan jumlah yang sama pada setiap orang”. Jawab Nasruddin. He he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: