Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

MENG-KAJI TASAWUF TIDAK MEMBUAT ANDA BER-MAKRIFAT

Munculnya fenomena kecenderungan masyarakat kepada tasawuf merupakan hal positif dan memang dunia saat ini menuju kesana, memasuki wilayah spiritual yang selama ini ditinggalkan. Muncul aliran wahabi adalah puncak dari kekeringan Islam yang telah dimulai sejak abad ke 7 hijriah dimana orang berlomba lomba meneliti hukum (fiqih) dan melupakan spirit (tasawuf). Seluruh pasantren di Indonesia kalau kita teliti semuanya mengajarkan kitab-kitab fiqih karena memang itu diperlukan ditengah masyarakat. Munculnya pasantren atau lembaga sejenis diawalnya adalah untuk menjawab kebutuhan akan ahli hukum untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat akan hukum-hukum Islam. Sedikit sekali pasantren yang fokus kepada tasawuf dalam arti tasawuf praktek. Pasantren suryalaya salah satu yang sejak awal berdiri bertujuan agar tarekat bisa diamalkan dengan tenang. Para Guru Mursyid di tempat lain membimbing para murid tidak melalui lembaga resmi, mereka menyebutnya Surau atau Langgar dimana disana tidak ada ikatan waktu bagi siapapun yang ingin belajar.

Fiqih walau bagaimanapun muncul seiring dengan munculnya penguasa di zaman itu, muncul kerajaan-kerajaan Islam yang mengadopsi hukum Islam menjadi hukum resmi kerajaan. Atas dasar itu pula muncul lembaga-lembaga pendidikan Islam yang mencetak para aparatur kerajaan dalam bidang hukum untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dalam skala nasional dan modern, muncul IAIN diseluruh Indonesia juga untuk menjawab kebutuhan akan aparat negara dalam bidang agama dengan level lebih tinggi yaitu sarjana.

Motivasi belajar fiqih pada ujungnya nanti untuk mendirikan pasantren, menjadi tenaga pengajar atau terjun langsung mewakili pemerintah untuk membantu masyarakat dalam bidang hukum Islam.

Sebaliknya Tasawuf tidak memberikan nilai duniawi seperti fiqih, orang yang menekuni tasawuf hanya untuk kepentingan pribadinya, memperbaiki diri dan tujuan hakiki nya adalah mengenal Allah SWT. Alumni tasawuf tidak secara langsung memberikan nilai nyata di masyarakat, itulah sebabnya belajar tasawuf itu tidak begitu ditekankan di pasantren-pasantren

Penyebab lain adalah langka orang yang benar-benar ahli dalam bidang tasawuf bahkan untuk menjadi seorang Guru Mursyid harus berkualifikasi seorang Auliya Allah agar orang dibimbingnya sampai kehadirat Allah SWT. Begitu langka dan berat untuk menjadi seorang Guru Mursyid dan sulit untuk di dapat maka orang awam kadang dengan mudah menyepakati si A atau si B sebagai Guru Mursyid. Berbekal bacaan kitab-kitab tasawuf dan bersuluk sekali atau dua kali disuatu tempat kemudian dia mendirikan suluk dan menjadi Guru Mursyid, disinilah asal mulanya hilang ruh tasawuf di kalangan pengamal tarekat.

Fiqih, Tauhid dan Tasawuf ketiganya adalah SYARIAT ISLAM dan menjadi hakikat kalau dipraktekkan dengan tarekatnya. Orang yang sudah mencapai makrifat shalatnya tidak berbeda dengan orang yang belum bertarekat, rukun dan syaratnya sama namun yang berbeda adalah RASA di dalam shalat itu. Ibarat minum kopi, aturan-aturan cara membuat kopi yang ditulis dan diucapkan itu masuk dalam kategori syariat, kemudian mengikuti seorang ahli pembuat kopi dan kita bisa membuat kopi sampai meminumnya itu masuk dalam kategori tarekat. Kemudian RASA dari kopi yang merupakan hasil dari kesungguhan kita dalam meneliti cara membuat dan kemudian membuat itu masuk dalam wilayah hakikat dan makrifat, sudah mengenal RASA dari kopi.

Karena itulah sampai kapanpun kajian tasawuf tetap akan menjadi sebuah kajian tidak lebih dan tidak kurang, kembali menjadi syariat lagi, hanya di baca, dikaji di teliti tanpa bisa dibuktikan secara NYATA dan FAKTA.

Orang yang mengkaji tasawuf nanti ujungnya tetap menduga duga, ketika dzikir mata terpejam muncul cahaya khaligrafi Allah dan itu diyakini sebagai makrifat padahal tanpa bertasawufpun ketika mata dipejam memang akan muncul sendiri cahaya, itu kan efek dari sistem kerja mata kita. Meyakini cahaya sebagai makrifat itu sama bodohnya dengan orang yang tidak belajar tasawuf. Bagi Iblis jangankan kelebat cahaya, bentuk surga pun bisa di tiru. Maka jalan yang halus ini harus ada yang benar benar ahli membimbing agar tidak tersesat di jalan yang diyakini terang padahal gelap gulita.

Single Post Navigation

5 thoughts on “MENG-KAJI TASAWUF TIDAK MEMBUAT ANDA BER-MAKRIFAT

  1. Mantap kang….semoga semua bisa mengenal Allah

  2. Terima kasih guru

  3. Inilah yg pribadi saya takutkan selama ini, agar tdk tersesat.

    “Maka jalan yang halus ini harus ada yang benar benar ahli membimbing agar tidak tersesat di jalan yang diyakini terang padahal gelap gulita”

  4. Ping-balik: Mengkaji Tasawuf Tidak Membuat Anda Ber-Makrifat

  5. Rani maharrani on said:

    BAGI SAYA BELAJAR TASAWUF SILAHKAN.TAK ADA YG BISA MELARANG SEBAB TASAWUF ADALAH ILMU DARI ALLAH JUGA BUKAN DARI SETAN BELAJAR TASAWUF MMG ADA GURUNYA YG BERNAMA MURSID DAN MURDID INI MMG ADA DLM Alquran Al kahfi 17 KLU ILMU SYAREAT ANAK KECIL BISA AJARKAN KOK YG PENTING BISA BACA TULIS ORANG TUA JUGA BISA AJARKAN SYAREAT KPD ANAK ANAKNYA TAK PERLU PANGGIL ULAMA KLU ILMU TASAWUF HARUS DI BIMBING WALIYAN MURSIDA DAN YG BELAJAR TASAWUF ITU ATAS KEHENDAK ALLAH JUGA YG DI BERI PETUNJUK OLEH ALLAH MELALUI BAYAN YG TDK PAHAM MMG DI TUTUP ALLAH JUGA BATIN MEREKA KECUALI MEREKA MAU BERUSAHA ITUPUN KLU ALLAH KEHENDAKI

Tinggalkan Balasan ke Rani maharrani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: