Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

KOMUNIKASI

Agustus 1945 adalah masa akhir perang dunia ke 2 yang telah menyebabkan jutaan orang tewas dan jutaan juga menderita akibat cacat dan kehilangan tempat tinggal. Perang dunia ke 2 berakhir setelah Amerika Serikat menjatuhkan 2 bom atom di Jepang.

Kita semua tentu tahu betapa dahsyat efek dan dampak yang ditimbulkan dari bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang menjelang akhir Perang Dunia II. Tepatnya pada 6 Agustus 1945 (Hiroshima) dan 9 Agustus 1945 (Nagasaki). Tercatat sekitar 140 ribu korban tewas di Hiroshima dan sekitar 90 ribu warga tewas di Nagasaki akibat radiasi bom nuklir paling mengerikan itu.

Little boy (bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima) seberat 4.000 kg mampu meluluhlantakkan Hiroshima dalam tempo tidak lama. Kota itu akhirnya rata dengan tanah. Ribuan warga sipil meregang nyawa karena terkena radiasinya. Penderitaan serupa terjadi saat Fat Man (bom yang dijatuhkan di Nagasaki) menghancurkan kota tersebut pada 9 Agustus 1945. Bom seberat 4,5 ton itu membawa dampak radioaktif hingga 20 kilometer dari lokasi penjatuhan bom nuklir yang menimbulkan awan cendawan yang terkenal tersebut.

Presiden AS Harry S. Truman di atas kapal perang USS August di perairan Atlantik pernah menerangkan bahwa hulu ledak bom atom itu 2.000 kali lipat dari bom yang pernah dipakai pada masa peperangan itu.

Sengatan yang luar biasa membuat banyak warga setempat yang meregang nyawa karena luka bakar stadium sangat tinggi. Korban yang selamat pun belum lepas dari penderitaan, yakni menderita leukemia, penyakit akibat dampak radioaktif, dan banyak penyakit lainnya.

Tahukah Anda bahwa peristiwa ini ada kaitannya dengan masalah bahasa atau komunikasi? Sempat dikabarkan bahwa sebelum menjatuhkan bom atom, AS pernah mengultimatum Jepang untuk menyerah setelah kekalahan demi kekalahan yang diderita di perang Asia Pasifik. Saat itu Jepang menjawab: ”Mokusatsu!”

Nah, kata tersebut diterjemahkan militer AS yang dipimpin Jenderal Douglas MacArthur sebagai ”Jangan memberi komentar sampai keputusan diambil” yang kemudian dicari padanannya sebagai ”no comment.”

Pihak militer AS menganggap jawaban itu adalah bentuk pembangkangan dan pengabaian. Padahal, arti kata ”mokusatsu” adalah ”Kami akan menaati ultimatum tuan tanpa komentar.” Dan kesalahpahaman ini membawa dampak luar biasa bagi dunia tentang tragedi bom nuklir yang sangat mengerikan itu.

Kejadian 74 tahun lalu itu mengingatkan kita bahwa betapa penting fungsi komunikasi antara kedua pihak agar bisa saling memahami dan tentu tidak timbul salah paham. Salah komunikasi dua pemimpin negara akan memberikan dampak buruk bagi kedua negara dan pada level lebih rendah salah komunikasi di dalam rumah tangga bisa menyebabkan rumah tangga hancur berantakan.

Komunikasi bisa berjalan dengan baik dan benar jika syarat-syarat dalam komunikasi terpenuhi. Dalam kasus bom atom di atas, penyebabnya adalah karena berbeda bahasa sehingga salah menterjemahkan maknanya. Dalam kasus lain, khalid bin walid membunuh tawanan perang juga karena salah memaknai perintah. Bisa jadi menggunakan bahasa yang sama tapi dialek berbeda juga akan salah memahami begitu juga jika yang diajak bicara beda tingkat pengetahuannya. Seorang profesor akan sulit berkomunikasi dengan orang yang tidak pernah mendapat pendidikan sama sekali, begitu juga orang yang berkutat dalam dunia militer akan sulit dipahami bahasa nya oleh orang awam yang tidak pernah mengenal dunia militer.

Disamping bahasa, teknologi juga mempengaruhi tingkat akurasi sebuah komunikasi. Anda menggunakan ponsel harus lawan bicara anda menggunakan teknologi yang sama, tanpa itu maka komunikasi tidak akan pernah bisa terjadi. Jika anda menggunakan ponsel sementara lawan bicara anda masih menggunakan teknologi zaman perang dunia ke dua yaitu Telegram, maka sampai kiamat komunikasi tidak akan pernah terjadi.

Lalu…pernahkah anda berfikir dan merenungi, bagaimana komunikasi kita dengan Allah SWT Yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna tersebut?

Apakah sudah kita temukan “alat” komunikasi dan frekwensi yang benar sehingga antara kita dengan Allah terjalin hubungan yang sangat erat?

Atau jangan-jangan kita masih seperti orang yang menggunakan telegram tapi ingin berkomunikasi dengan orang yang sudah menggunakan teknologi modern yaitu ponsel, sampai kiamat juga tidak akan pernah terjadi dialog.

Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, maka si pengirim pesan hanya bisa sampai ke tahap yakin saja kalau setiap kata-katanya di dengar oleh si penerima, atau saya istilahkan “berbaik sangka” saja tanpa pernah bisa membuktikan kalau pesan-pesannya itu sampai kepada SANG PENERIMA dan kata kata SANG PENERIMA bisa diterima kembali sebagai wujud bahwa komunikasi keduanya berjalan dengan baik.

Tulisan ini mudah-mudahan menjadi bahan renungan untuk kita semua agar terus berfikir, merenungi bukan hanya berpuas hati dengan apa yang telah dijalani…

Single Post Navigation

2 thoughts on “KOMUNIKASI

  1. Terimakasih tuan guru.

  2. Arfan Mapan Yuki on said:

    Assalamualaikum. SM
    Bagaimanakah berkomunikasi dengan Allah yang benar.
    Syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: