Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

HIJRAH

Saat ini kita telah memasuki tahun baru 1440 hijriah, artinya lebih kurang sudah begitu lama Nabi Muhammad SAW meninggalkan kita secara jasmani dan Islam juga telah melewati rentang waktu yang lama pula. Kebanyakan orang Islam di 1 Muharam memperingati tahun baru dengan mengenang peristiwa hijrah Nabi, anak-anak melaksanakan karnaval, berjalan dalam jarak tertentu agar mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Nabi 14 Abad yang lampau. Akan tetapi kita juga tahu bahwa Nabi berhijrah dari Mekkah ke Madinah bukanlah di bulan Muharam, tapi di bulan Rabiul Awal tepatnya tanggal 2 Rabiul Awal dan sepuluh hari kemudian tanggal 12 Rabiul Awal, Beliau bersama dengan Abu Bakar Shiddiq tiba di kota madinah. Peristiwa itu juga bertepatan dengan 16 September 622 M. Jadi kalau memakai perhitungan kalender Masehi maka Nabi Hijrah di bulan September, persis bulan yang sedang kita jalani saat ini.

Ada 3 peristiwa penting yang jatuh pada tanggal 12 rabiul awal dan ini merupakan sebagai bentuk keistimewaan dari Rasulullah SAW, yaitu Tanggal Kelahiran Rasulullah, Tanggal Hijrah (tibanya) Rasul di Yatsrib (Madinah) dan Tanggal wafatnya Rasulullah, semuanya terjadi Bulan Rabiul awal tepatnya di tanggal 12 Rabiul Awal. Tentang tanggal lahir Nabi ada juga yang berpendapat Beliau lahir pada tanggal 9 Rabiul Awal, karena tanggal itu yang tepat di hari senin.

Sudah banyak uraian dari para ahli tentang peristiwa hijrah yang terjadi 14 abad yang lampau dan saya juga pernah menulis sebuah tulisan 5 tahun lalu yang mengulas tentang hakikat hijrah dari sudut pandang kaum sufi dalam tulisan Hijrah Menuju Cahaya Allah, silahkan di baca agar bisa menyambung dengan apa yang saya sampaikan dikelanjutan tulisan ini.

Secara fisik Nabi melakukan hijrah bersama sahabat setia Beliau yaitu Abu Bakar Shidiq untuk menghindari ancaman dari orang-orang Qurays namun peristiwa berpindahnya Nabi itu dikemudian hari benar-benar memberikan hal yang sangat baru untuk umat Islam salah satunya adalah Beliau mendapat kesempatan menata kehidupan ummat berdasarkan apa yang telah di firmankan Allah, hal yang tidak bisa Beliau lakukan ketika masih di mekkah.

Pertanyaan paling penting pada diri kita adalah apa hubungan peristiwa 14 abad yang lampau itu dengan kita ummat Islam yang hidup di zaman sekarang? Peristiwa hijrah Nabi bisa menjadi momentum bagi kita untuk melakukan perubahan secara mendasar dalam diri kita, terutama berhubungan dengan ibadah.

Jika selama ini ibadah yang kita lakukan hanya bersifat rutinitas, menyelesaikan kewajiban semata hendaknya berubah menjadi spiritualitas, ada gairah di setiap ibadah yang kita lakukan. Ibarat seorang manusia yang sedang jatuh cinta, dia akan melewati hari-hari dengan penuh keajaiban akibat dari getaran cinta di hatinya.

Idealnya kita manusia juga seperti itu, melewati hari-hari dengan penuh gairah karena Allah SWT senantiasa dekat dalam kehidupan kita, bersemayam di hati kita. Maka ibadah yang dilakukan juga memberikan gairah, persis seperti seorang yang hendak menemui kekasihNya, hati berdebar menadakan rasa senang yang berlebihan.

Maka jika ibadah yang kita lakukan hanya menjadi beban saja, ingin rasanya terbebas dari kewajiban itu, maka kita masih berada pada tahap belum mengenal-Nya, belum hadir cahaya Allah di hati kita. Maka hal pokok dari ibadah bukanlah gerak badan tapi gerak hati. Harus kita cari cara agar cahaya Allah itu ada di hati, lewat dzikir yang dibimbing oleh seorang yang ahli dalam dzikir, sehingga dengan getaran dzikir itu mampu menggetarkan segala gerak gerik fisik kita, termasuk di dalam melaksanakan ibadah.

Hal paling fundamental dan amat penting di dalam Islam adalah Syahadat, ini adalah kunci seseorang memasuki Islam. Dimulai dengan Kalimah Syahadah, sebuah ucapan bahwa Tuhan yang berhak disembah adalah Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, inilah tanda seseorang memasuki Islam. Mengucapkan Kalimah Syahadah ibarat pendaftaran untuk memulai sebuah pendidikan panjang yang disebut Islam. Syahadah tentu saja bukan sekedar mengucapkan dan meyakini tapi juga harus sampai ke tahap “Musyahadah” atau penyaksian karena hakikat dari syahadah itu memang harus menyaksilkan, memandang atau melihat.

Setelah sempurna seseorang dengan Syahadah (menyaksikan) barulah dia di izinkan untuk melaksanakan shalat yaitu sebuah proses hubungan sangat khusus antara hamba dengan Allah SWT. Bagaimana mungkin kita bisa menyembah kalau tidak mengenal-Nya. Mengenal nama, mengenal sifat dan mengenal Dzat-Nya.

Ketika shalat seseorang sudah benar, terjadi kontak antara hamba dengan Tuhannya, barulah kemudian dia menyedekahkan badan lewat puasa. Ketika seorang shalat maka badannya bergetar dan ruhnya sampai ke alam rabbani dimana disana hanya ada Allah SWT. Puasa adalah mengambil salah satu sifat Allah yaitu tidak makan dan tidak minum. Karena itulah puasa itu tidak mampu di hitung pahalanya, karena bagaimana mungkin malaikat bisa menghitung sifat Allah?

Lebih tinggi dari puasa adalah menyedekahkan hasil dari usaha kita yang di sebut dengan zakat. Kalau shalat dan puasa masih untuk diri kita maka zakat sudah bersentuhan dengan orang lain, memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar terutama sesama muslim. Disini kita yang telah sempurna mengenal Allah kemudian melaksanakan shalat dan puasa sehingga seluruh badan kita dipenuhi cahaya Allah berulah kita berbagi rahmat dengan orang lain, lewat harta yang kita miliki.

Terakhir tentu seorang muslim yang mampu wajib melaksanakan Haji, melakukan perjalanan menuju Baitullah. Harus melaksanakan wukuf (menunggu) dan bagi yang telah sempurna melaksanakan 4 rukun Islam yang lain tentu wukuf itu bukan sekedar menunggu dalam kekosongan tapi menunggu hadirnya Allah di dalam Qalbu orang-orang yang melaksanakan wukuf.

Begitulah sejatinya kita melaksanakan rukun Islam ini agar sempurna. Islam adalah agama yang amat sempurna, namun kebanyakan orang hanya puas dengan fiqihnya saja tanpa mau menekuni tasawufnya, Terkadang juga hanya belajar tasawuf berupa kajiannya tanpa mau melaksanakan tarekatnya. Tasawuf berupa kajian itu bukanlah hakikat tapi syariat karena syariat Islam mencakup 3 hal yaitu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf.

Mudah-mudahan di awal tahun ini tergerak hati kita untuk berhijrah dari ibadah zahir menjadi ibadah zahir bathin, dari ber-Islam zahir menjadi Islam zahir bathin karena yang akan kembali kelak kepada Allah SWT bukanlah fisik tapi ruh karena itu dari semasa hidup ruh harus di latih beribadah agar kelak ketika kembali kepada-Nya untuk diminat pertanggungjawaban kita bisa mempertanggungjawabkannya.

sMoga Bermanfaat…

Single Post Navigation

2 thoughts on “HIJRAH

  1. Ping-balik: HIJRAH — Sufi Muda | bayane234

  2. Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: