Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Anjing Yang Kehausan

anjing-2Tulisan ini saya tulis untuk memenuhi janji yang pernah saya sampai bulan lalu, ingin membahas tentang hakikat Anjing tapi akhirnya saya menulis tulisan Saya Tidak Tahu. Semua orang Islam tahu bahwa anjing adalah salah satu binatang yang harus di hindari sesuai dengan hadist Nabi untuk membasuh 7x wadah yang dijilat anjing, hadist ini kemudian ditafsirkan oleh ulama maka lahirlah berbedaan pendapat tentang anjing. Saya tidak membahas tentang khilafiyah hukum Najis anjing, menarik bagi saya adalah anjing satu-satu nya binatang yang membuat seorang WTS masuk surga, salah satu hewan yang berada di surga (Anjing Ashabul Khahfi), ada apa dengan anjing?

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita pezina melihat seekor anjing yang berputar-putar di atas sumur pada hari yang panas. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu menimba air dari sumur dengan sepatunya, maka dia diampuni.

Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, Seorang wanita pezina diampuni. Dia melewati seekor anjing di bibir sumur yang sedang menjulurkan lidahnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ia hampir mati karena haus. Lalu wanita itu melepas sepatunya dan mengikat dengan kerudungnya dan menimba air dengannya untuk anjing itu. Dia diampuni karenanya.

Presiden Sukarno bertahun-tahun mencari jawaban dari dari hadist di atas, kenapa hanya dengan memberi minum anjing kehausan dosa-dosa yang setinggi gunung di hapus, padahal untuk bisa diampuni dosa agar masuk surga, diperlukan ibadah bertahun-tahun lamanya. Presiden Sukarno menanyakan persoalan ini ke seluruh ulama di dunia, namun jawabannya tidak memuaskan Beliau, sampai bertemu dengan seorang Guru Sufi yaitu Prof. Dr. Kadirun Yahya MA. M.Sc, barulah seluruh rasa penasaran Sukarno terjawab. Dialog Presiden Sukarno dengan Guru Sufi tersebut termuat dalam buku Capita Selecta karya Beliau, anda bisa membaca dialognya di berbagai web yang kebetulan dikutip dari sana salah satunya anda bisa baca di sini.

Ayahanda Profesor menjelaskan kepada Presiden Sukarno, penyebab wanita itu diampuni bukan karena tindakannya memberi minum hewan, karena semua orang bisa melakukannya, tapi tindakan kecil tersebut disertai faktor tak terhingga dari teknologi al Qur’an berupa wasilah, maka amalan sangat kecil nilainya menjadi tak terhingga. Perbuatan sebesar atom akan memberikan nilai tak terhingga, seperti halnya kabel sangat kecil, mungkin juga kabel tersebut tidak bersih atau berkarat, ketika dialiri listrik maka akan mengalir tenaga hebat dalam kabel, yang bisa menghidupkan lampu dan berbagai alat listrik lainnya. Tanpa listrik, kabel sebesar gunung pun tidak berfungsi apa-apa, sama hal nya dengan amalan, sebesar apapun kalau tidak ada unsur ikhlas akan tertolak, unsur ikhlas itu tidak lain adalah Nur Allah sendiri yang diberikan kepada Rasulllah dan diteruskan sampai hari ini oleh para ulama pewarisnya. Tanpa adanya unsur Nur Allah ini maka manusia sampai kapan pun tidak akan bisa mencapai tahap ikhlas, dengan demikian seluruh amal ibadahnya tertolak. Kabar baiknya Nur Allah yang ada dalam dada Rasulullah itu diwariskan kepada Para Ulama pilihan, sampai akhir zaman, sambung menyambung tidak terputus untuk menyelamatkan ummat ini sampai dengan selamat kehadirat Allah SWT.

Dalam kajian lain dari sudut pandang hakikat, sebenarnya yang diberikan minum itu bukan anjing dari makna hewan, tapi itu adalah kiasan untuk seorang yang sangat taat kepada Allah, bisa jadi yang haus itu adalah seorang Wali Allah, yang memiliki sifat setia kepada Allah seperti sifat setianya anjing. Ketika air minum itu diberikan kepada orang yang doanya sampai kepada Allah maka orang tersebut akan mendoakan orang yang memberi, doa itulah yang membuat dosa si wanita di ampuni. Sebagaimana juga Nabi ketika mendoakan seseorang yang berdosa, maka Allah mengampuni dosa orang tersebut berkat syafaat Nabi.

“..Dan kalaulah mereka ketika menganiaya diri mereka sendiri datang kepadamu (wahai Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulullah juga memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” Q.S An-Nisa’ ayat 64.

Sifat anjing yang setia sampai akhir hayat kepada tuan nya itulah kemudian dijadikan kiasan dalam berbagai kisah di al-Qur’an. Apakah anjing yang menemani orang yang bersembunyi di gua yang terkenal dengan Ashabul Khahfi itu benar-banar anjing seperti yang kita lihat hari ini? Atau kah dia adalah kiasan dari orang yang paling taat diantara ke 7 pemuda itu, menjadi pemimpin dan pelindung iman mereka. Wallau’Alam!

Single Post Navigation

11 thoughts on “Anjing Yang Kehausan

  1. iklas memang menjadi kunci, kalau kita iklas, semua pasti akan lebih baik,

  2. “Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillah Allahu-Akbar wa la haula wala quata illa billahil aliyil adzim”… sungguh merinding saya membaca kembali artikel diatas.. terima kasih Abangda SM.

  3. Buditasikmalaya on said:

    Terima kasih bang sufimuda

  4. bang .. agar pikiran tidak banyak menghayal .. ada cara baik gak ya .. gk kemana mana gitu .. jadi mengada ada .. lelah jadinya .. ingin dekat Alloh .. trima ksih sebelum nya

    • seorang guru hanya bisa mengarahkan dan tak bisa membukakan rahasia ketuhan itu,,,,,,,dan apabila kita yg awam ini bersungguh2 untuk menuju kesisi allah dan didampingi guru yg mursyid inssaallah allah itu juga lah yg nantinya mengajari hamba hambanya

  5. belajar sufi on said:

    Banyak hikmahnya klo membaca tulisanya…Ty…SM

  6. Abang….

    maaf kalo pertanyaan saya ini out of topic,

    sedikit mengenai ini:
    “…hadist ini kemudian ditafsirkan oleh ulama maka lahirlah berbedaan pendapat tentang anjing. Saya tidak membahas tentang khilafiyah hukum Najis anjing….”

    sepertinya menjadi pemahaman luas di kalangan umat Islam tentang khilafiyah di atas, bahwa disamping telah men-deskriminasikan anjing, hal itu juga seolah membebaskan binatang peliharaan lain nya dari hukum serupa.

    bahasa mudah nya,yang najis cuma anjing, sedangkan binatang lain, terutama seteru utama anjing, yaitu kucing, tidak najis….

    tidak najis berarti pula sang hewan bisa bebas dan dekat berada di sekitar kita.

    apakah menurut Bang SM, dan Abang-abang sekalian, itu tujuan dari hukum najis anjing?
    saya kuatir, hadits tersebut dimaknai sangat literal… hanya anjing semata,
    tapi tidak berlaku untuk hewan piaraan lain nya…

    terima kasih…

  7. ceritera ashabul kahfi itu merupakan suatu al abarah, dimana Gua kahfi ada didalam diri manusia itu sendiri. mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan menutup diri didalam gua kahfi dan ajingnya ditinggal diluar. Apa yang ditutup adalah hawa nafsu ( nafsu keanjingan atau kebinatangan), sehingga bisa menemui Allah dan memperoleh pertolonganya

  8. orang yang bertariqat haruslah bersama samaan dengan syariat agar tidak …….begitu juga orang yang bersyariat belum tentu ia bertariqat….begitu juga orang yang bertariqat sudah pasti ia ber,,,,,,,agar tidak jindik….dan harus bersama samaan,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: