Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Apakah “Allah” itu hanya milik Umat Islam

Oleh : Ulil Abshar Abdalla

SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “klik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.[]

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.

 

Sumber : ulil.net

Single Post Navigation

44 thoughts on “Apakah “Allah” itu hanya milik Umat Islam

Navigasi komentar

  1. ahmad zainal abidin (MALAYSIA) on said:

    saya setuju benar pendapat sufimuda…memang kebanyakan ulama di malaysia sangat sempit pemikirannya…mereka masih belum mengenal ALLAH.tapi sibuk dan gagah bercakap tentang agama ALLAH yakni islam.

  2. saya setuju sama pendapat bang Ulil, cuma kadang orang Kristen suka mengelabui orang Islam dg kata “Allah”

  3. Allah rabbul alamin
    Salam kenal, kalo ada waktu silakan dolan ke blog saya di http://www.shalatkhusyu.wordpress.com
    nuwun

  4. yudistira on said:

    ALLAH=TUHAN=GOD=SANG WIDI= atau apalah dalam bahasa lain.

    jadi dari arti kata nya saya rasa itu bukan persoalan.
    kalau kita mempersoalkan bahwa alllah itu milik umat islam dan agama lain tidak boleh menggunakan kata2 itu,
    itu kan sama saja seperti kita melarang negara lain memakai kata presiden untuk kepala negara.

    dari secara prinsip,
    sebagaimana kita tahu bahwa islam itu adalah rahmatan lil ‘alamin, artinya siapa saja berhak dan memang seharusnya menghambakan dirinya kepada ALLAH.

  5. Don Ruri on said:

    Kalo menurut saya wajar apa yang terjadi sekarang di malaysia dan juga di dunia Islam sekarang, karena rentang jauh sejarah ISLAM yang sebenarnya. akibat dari degradasi seluruh ke kaffahan ISLAM sampai dengan zaman ini mengakibatkan hampir seluruh umat ISLAM berpegang dengan “sisa2 ilmu” yang ada. Dan ini mempengaruh kualitas dan kapasitas Alim Ulama yang mengajarkan ISLAM itu sendiri. Sehingga pemahaman masyarakat muslim dewsa ini seperti itu.

    Ya sekarang minimal dari kita dulu aja deh, sudah waktu mencari “Alim Ulama” yang bener mengetahui seluruh metode Rasul secara kaffah yang nyata maupun tersembunyi. Karena sudah saat nya dizaman yang sudah semakin “blur” mana Ilmu Allah yang murni mana yang sudah terdegradasi.

    Thanks & Peace
    Don Ruri

  6. @rosa
    nah, tuh dia tu..
    emang benar kata mbak,
    kemarin aja ‘ada yang bilang’
    tuhan Allah itu, lelaki bule…
    nah, udah tau kan yang siapa yang dimaksud…

    astagfirullah wal adzim

  7. Fakir al-banjari on said:

    Sebagian besar ulama diMalaysia emang gampang sekali menetapkan sesuatu yang ga’ sesuai dengan pandangan mereka dikatakan sesat, bid’ah . Kaya’nya faham wahabi udah mulai mengakar disana. Ya kan bang sufi muda…:)

  8. apalah arti sebuah nama….?!??
    padahal perbedaan akhiran HU dengan HA banyak yang ndak ngerti???

  9. hmmm bisa dilihat kalo anda benar muslim di ali-imran ayat 100 bye :mrgreen:

  10. assamuaikum,

    kepada semua, terutama sahabat seiman empunya bog dan Abshar Abdalla, saya jua adalah seorang berthariqat syazuli di bawah pimpinan Syeikh Ahmad fahmi Zam-zam al-banjari an-nadwi al-maliki hfzllah…
    saya rakyatnya malaysia…mungkin lebih mengerti soal kami disini…ahmad zainal abidin (MALAYSIA), diatas….

    kerajaan mlysia dan ulama’ disini khususnya bedrniat baik kerana takut masyarakat yang jahil terpesong dan menganut fahaman pluralsme agama dan liberelsme agama yang sudah menjadi barah dalam indonesia…

    kami disini pelbagai agama dan mejoritinya Islam, HIndu, budha dan kristien..

    apakah anda sanggup mengakui berhala hinduyang separuh bogel itu ALLAH?…
    atau sembahan budha yang bertelinga panjang itu Allah…

    jika dibenatkan semua agama di malaysia walau bukan samawi jua bersikap kurang ajar dan memperolokkan ALlah adalah tuhan yang bogel dan sebagainya…

    ini stuasi di malaysia….

    sebagai sufi, apakah kamu suka memasuki gereja dan memperakui Allah adalah bapanya isa??

    kita tidak serupa, antara sifat mujahid adalah menolak kebathilan agama lain…

    bukan menghina ulama’…..samada ianya su’ atau ulama rabbani usah dipertikaikan…kita orang sufi cuba menyuruh manusia menjauhi ulama’ su’ disamping tetap menghormati kehebatan ilmu mereka dan menegur kesalahan akhlak mereka…

    berjiwa kritis adlah baik…tapi perlulah diteliti dahulu…Abuya sayyid Muhammad B. alawi b. abbas al-maliki jua tidak setuju jika kita mengkritik tanpa menimbang dan meneliti 1001 perkara terlebih dahulu.

    sembusan nasihat…
    Jejak sufi
    ججق صوفي

    pertamanya jauhi menghina para ulama’ seperti dilakukan oleh

  11. @ jejak sufi
    yup setuju

  12. Tulisan di tharikat ini banyak yg bid’ah….awas hati-hati !!!

  13. Don Ruri on said:

    hehehe, sindy…komentarnya jangan gitu doang dung… jelasin bid’ahnya dimana dan dalilnya apa? itu namanya komentar yang bertanggung jawab….kan kita juga pengen tau hehehe

  14. Anak Gaul on said:

    @sindy
    Bid’ah itu apa sich?

  15. .......... on said:

    Oo……ini tulisan Ulil yah….JIL yah……..pantas saja penuh dengan subyektifitas ( rancu )
    Semoga Gusti Allah memberikan pemahaman yang benar kedalam hati sanubarinya.
    Untuk para sufi yang telah bertemu dengan Allah tentunya tahu siapakah sejatinya Ulil karena yang lahir tidak akan bisa menipu yang bathin.
    Lihatlah sejatinya dia ( Ulil ) lihatlah sejatinya ….lihatlah sejatimya……..( Untuk para sufi sejati tentunya paham dengan apa yang saya maksudkan )

    Bukan Al Qur’an yang harus sesui dengan Akal kita akan tetapi justru Akal kita lah yang harus sesuai dengan petunjuk yang ada dalam Al Qur’an.

  16. Habib Khalil on said:

    Mohon Maaf…
    Menurut saya, ulil dengan JIL nya adalah kaki tangan orientalis di Indonesia

  17. ajak-ajak on said:

    Terserah lah siapapun dia Ulil atau JIL dengan pemikirannya.
    Terserah lah ulama atau rakyat Malaysia atau Indonesia bicara apa.
    Terserah lah agama apapun yang mau menggunakan nama ALLAH.
    Terserah lah siapapun yang mau mengakui Allah sebagai miliknya.

    Buatku, benar yang pernah kudengar: Awal Agama adalah mengenal Allah.
    Kalau sudah kenal lahir bathin, itulah Allah yang kusembah. Terserah mereka mau bicara apa, aku seperti apa kata Allah saja lah.

    Pasukan Robot Majuuuuujjjjj Jalan…
    Kiri, kiri, kiri kanan kiri..
    Kanan, kanan, kanan kiri kanan…
    (hmm, enak yang mana ya?)

  18. Saya selalu khusnudzon, berprasangka baik, terhadap sikap pemerintah dan ulama Malaysia. Mereka tentu punya hujjah kuat dalam mengambil sikap seperti itu. Perkara setuju atau tidak setuju dengan hal itu, ya lumrah saja.

  19. brainwashed on said:

    Salam cucuku…

    Sidharta Gautama itu orangnya, sosoknya, wujud fisiknya. “Buddha” itu kondisinya.

    Yesus/ Isa itu wujudnya, sosoknya, orangnya. “Kristus” itu kondisinya.

    Muhammad itu wujudnya, fisiknya, sosoknya. “Islam” itu kondisinya.

    Orang yang sudah menjadi “buddha” pasti “islam”. Orang yang sudah “islam” pasti seorang buddha (a living buddha) yang juga seorang Kristus, Penguasa Kerajaan Tuhan

    Jadi Allah nya buddha,Allah nya kristen Allah nya Islam itu sama…kalau masih pegang berhala namanya AGAMA…iya ga paham.

    katanya tauhid TUHAN ITU SATU…siapa yang memecah tauhid itu?ya yang punya badanlah.

    Jangan jadi JIL…JIL itu semi kafir…dimarahin umat islam lah….

    salam salim slamet

  20. Salam

    Allah adalah milik semua agama samawi yg turun ke dunia ini, akan tetapi setiap agama mempunyai penafsiran tersendiri tentang Allah dan sudah terkontaminasi oleh peradaban manusia yg ingkar terhadap agamanya masing-masing.

    Kalau seandainya setiap agama samawi tsb tidak terkontaminasi oleh manusia yg ingkar, tentu saja semua manusia yg ada didunia ini akan beragama Islam, karena Islam diturunkan ke dunia untuk menjadi agama yg rakhmatan lil’alamin,

    Pemerintah dan Ulama Malasyia harusnya lebih arif dan bijaksana dalam menyikapinya, karena sudah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun. Jadi janganlah memaksakan kehendak berdasarkan hawa nafsu semata. Sesungguhnya tidak ada paksaan dalam agama, baik internal maupun eksternal Islam.

    Wasalam

  21. @kang acep

    ini baru kang acep yang baru.saya baru setuju……..BUANGET.Islam selalu damai tidak ada pemaksaan kehendak.Meskipun agama lain menyembah menurut keyakinannya bukan berarti mereka bukan makhluk ALLAH……PEACE ya kang acep bile2 ada salah kate yg dulu2.Wajar manusia pasti ada khilafnya hanya kebenaranlah milik ALLAH

  22. Aswrwb. Menurut saya yang pantas/patut memiliki “ALLAH” adalah orang yang “BERIMAN”

  23. sufi gaul on said:

    Al-qur’an itu ada yang tersurat, tersirat dan tersembunyi…..
    yang tersembunyi inilah yang menjadi pokok utama dalam beragama dan merupakan rahasia Allah yang harus kita temukan….

    sebagai contoh kata “beriman” berhubungan erat dengan anak yang shaleh….
    Anak shaleh inipun terbagi menjadi 3 bagian :
    1. Anak shaleh seistilah orang Tua.
    contoh ; si Faulan sangat rajin beribadah dirumah, seperti shalat, mengaji, puasa dll kemudian orang tuanya berkata : alahmadulillah anakku ini rajin banget beribadahnya. sehingga orang tuanya mengambil kesimpulan bahwa anaknya adalah anak yang shaleh.jadi shalehnya adalah seistilah Orang Tuannya.

    2. Anak Shaleh seistilah Masyarakat/Umum/pemerintah.
    contoh : si faulan baru saja menamatkan studinya di pendidikan pesantren atau IAIN, nah sepulangnya dari sana dia rajin ke mesjid, dan sering mengumandangkan Adzan, sehingga orang-orang di sekitarnya yang sering melihat dia, berkesimpulan bahwa si Faulah adalah anak yang shaleh. tapi shaleh nya disini masih seistila masyarakat yang sering melihat aktifitas Dia.

    3. shaleh seistilah Allah.
    nah shaleh seistilah inilah yang harus kita raih.

    bagaimana cara meraihnya?…..
    firman yang berbunyi “Bermula qolbu orang mukmin Baitullah” baitullah adalah rumahnya Allah dan disanalan kita berkomunikasi dengan Allah,…
    dimanakah letaknya qolbu itu?….
    ada yang bilang di hati…..
    dalam Hati itu isi kotor, penuh dengan kelicikan, sakit hati, iri dan dengki sehingga tuhan tidak mau bersemayam disana….
    kalau begitu dimana letaknya?…
    silahkan cari GURU Mursyid nanti akan diberi tau dimana tempatnya….

    firman Allah “tidak memuat dzatku BUMI dan LANGIT yang bisa memuat hanya qolbu hambaKu yang mukmin Lunak, tenang dan bersih”

    “yaa ayyatuhannafsul mutmainnah, irji’i ‘ila rabbiki radiyatan mardiah fadkhuli fii ‘ibadihi wadkhuli jannati”…
    Artinya : “wahai jiwa yang tenang kembalilah engkau kejalan tuhanmu dengan kerelaan hati yang tulus berserta dengan ridhonya maka masuklah kamu kedalam golonganku dan masuklah kamu ke dalam Surgaku”

  24. Anak Gaul on said:

    @sufi Gaul
    Mantab bro 🙂

  25. @sufigaul.
    Cocok kalau komentarnya kita jadikan sebuah tulisan, judulnya bisa “Siapakah anak shaleh?” atau “sudahkah anda menjadi anak shaleh?”
    dijamin bakal seru ya 🙂

  26. tentera hijau on said:

    Assalamualaikum.

    Wahai saudara ku,

    Aku berasakan tidak adil kata-kata mu itu, dan tidak mendalam kajian mu mengenai perkara ini, kamu tidak dilahirkan dan diperbesarkan di Malaysia ini (Walau dalam islam, sepatutnya kita se-negara, umat Islam itu patutnya di bawah satu Khalifah).

    Aku akui kamu bijak dalam yang tersirat, tetapi yang tersirat itu, kita perlu belajar sama-sama

    1. Boleh kah anda fikirkan, mengapa setelah lama orang-orang kristian di malaysia menggunakan perkataan Tuhan dalam kitab, dakyah dan dakwah (missionary) mereka di Malaysia, tiba-tiba mereka mahu mengubah perkataan Tuhan kepada Allah? ya, perkataan Allah itu bukan milik kita, tetapi juga bukan milik mereka. Ada semacam permainan oleh orang-orang kristian tentang perkara ini yang telah dapat di kesan oleh ulama-ulama di Malaysia. (perkara ini agak sulit untuk diterangkan kepada kamu, kerana bersangkut paut dengan perlembagaan negara malaysia dan kes isu murtad, orang-orang krisitan dan yahudi ini umpama di beri betis mahu paha, dan mereka tidak akan meredhai kita selagi kita tidak mengikut agama mereka)

    2. Kita lihat perkara ini kecil, ya mungkin umpama tidak menganggu iman umat Islam, tetapi ingatlah, di akhir zaman ini, umat Islam umpama buih-buih di lautan, kita bukan lagi di zaman andalus yang mana mereka cukup kuat untuk tidak terpedaya oleh perkataan-perkataan maimonides itu. Pada mulanya kita kata ianya cuma perkara kecil, tetapi jika dibiarkan, lihatlah Indonesia sebagai contohnya, bagaimana keadaan kondisi di sana, perkahwinan muslim-non muslim juga dibenarkan, perkataan Allah dalam kitab juga di guna dan tidak terlalu kasar jika aku nyatakan yang ianya telah mengkafirkan ribuan umat Islam.

    Yang tersurat juga kita berbeza pendapat,
    apatah lagi yang tersurat,
    maafkan atas segala khilafku.

    Moga Allah memberikan kita petunjuk.
    Wassalam.

  27. suatu saat Allah swt menguji baginda nabi Muhammad saw; dengan pertanyaaan :
    1.Allah swt : Dunia seisinya ini milik siapa?
    Muhammad saw : MilikMU Yaa Allah.
    2.Kamu (muhammad saw) itu milik siapa?
    Muhammad saw : MilikMU Yaa Allah.
    3. Allah swt : AKU ini milik siapa wahai Muhammad?
    Muhammad saw : ENGKAU yang lebih tahu Yaa Allah.

    Allah swt bersabda “Ketahuilah wahai Muhammad, AKU ini adalah milik orang-orang yang mencintaimu (mencintai Muhammad saw)”.

  28. Indri Nie.. on said:

    Salam Takzim buat Bang Ulil..

    Koq aq jadi belum faham ya.
    makna / arti ALLAH itu apa Bang??
    setelah mbaca tulisan Bang Ulil & comen kawan-kawan, Aq jadi punya kesimpulan kalau ALLAH itu adalah nama TUHAN, BUKAN TUHAN.
    Jadi siapa TUHAN??
    TUHAN adalah yang punya nama ALLAH tsb.

    BerTuhan kepada namaNYA atau kepada yang Punya Nama..???

    Mohon petunjuk dari Sufimuda.
    benarlah info kawan kita “ajak-ajak”
    Awal Agama Adalah Kenal ALLAH.

  29. Salam Kenal buat semuanya..
    Teteh setuju dg Indri Nie..
    klo ALLAH adalah NAMA TUHAN, BUKAN TUHAN
    salah besar kalau kita BERTUHAN kepada NAMANYA.
    Lha justru yang harus diTUHANKAN adalah yang punya NAMA ALLAH itu.

    Siapa yang Punya NAMA ALLAH??
    disinilah adanya ilmu MA’RIFAT (ilmu kenal ALLAH)
    Maha penting dan Mendesaknya seseorang agar dapat mengenal TUHANNYA.
    Dengan begitu kita akan Tahu kalu dalam Islam,
    Beribadahnya bukan MENYEMBAH TUHAN, tapi MENGINGAT TUHAN.

    Bagaimana cara MENGINGATNYA??

  30. sufi gaul on said:

    dari kalimah “Basmalah” Aja udah jelas….
    “bismillahirrahmanirrahim”……..
    artinya kan “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

    kan dah Jelas dari perngertian di atas bahwa sanya Allah itu Punya Nama……

  31. mmm mnurut gw..
    malaysia aja tuh yang lebay.. norak bgt siy..
    tapi selama itu ga merugikan imat islam or ga yg nyeleneh ya ga usah ditunding or apapun itulah namanya,,
    nyantai aja kale.. makanya pikirlah dengan kepala dingin jangan maen bantai or sikat aja dunks.. PKI bgt siy..
    ga seru ahh..
    Pokoknya mau agama lain ingin menyebut tuhan mereka itu apa kek kan terserah mereka.. yang penting kita kan ga terganggu.. yaa ga seh..
    uda lah.. Mending Piss aj..
    ga oke perang mulu..

  32. Allah swt tuhan sekalian alam jadi udah jelaskan allah swt itu tuhannya manusia,jin,malaikat,hewan,tumbuh2an,seluruh planet dan tata suryanya,yang nyata dan yang ghoib.
    Semuanya berdzikir pada allah,kecuali golongan jin dan manusia yang tak memiliki keimanan akan dzat yang maha tunggal.
    Allah swt tuhan semua agama dan kepercayaan.
    Kejawen bilang gusti hakarya jagat kang murbeng dumadi.
    Hindu bilang sang yang widi
    kristen dan yahudi bilang allah
    islam bilang Alloh.
    Yang terpenting bagi saya pribadi adalah bismillahirrahmanirrahim.
    Lakum dinukum waliadin
    semua makhluk akan kembali kepadanya.

  33. Indri Nie.. on said:

    Nah, tu dia K’Sufi gaul.
    Basmalah semakin memperjelas kalau NAMA TUHAN itu ALLAH. Dengan SifatNya Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Kembali kepada ayat yang pertama kali Turun di Gua Hira. “Bismirabbikalladzi Kholaq” (Dengan Menyebut NAMA TUHANmu yang Maha Menciptakan).
    Siapa nama TUHAN?
    itulah ALLAH.
    Siapa TUHAN?
    Pemilik NAMA ALLAH.
    mohon petunjuknya Ka.

    Apa ilmu tsb satu paket dengan ilmu Hakikatudzzat??
    Mohon pula petunjuk dari Sufimuda mengenai makna ALLAH itu sendiri.
    Kenapa NAMA TUHAN itun ALLAH??

    makasih atas petunjuk2nya.

  34. Dikamus mana akan ketemu makna ALLAH tu ya?
    Allah tidak bermakna kerana ianya nama bagi Zat.
    Zat tak bisa dihurai oleh sesiapa kecuali individu yang mengalami makrifat zat.

    Umpama zat gula itu manis. Manis nya hanya dapat dihurai setelah dirasai dengan lidahnya. Bagaimana mahu menerangkan manis itu kepada orang yang belum merasainya? Ingat Tuhan adalah Zat dan Zat adalah Tuhan. Tak boleh dihurai kecuali……..

    Lain-lain nama Tuhan ada maknanya kerana ia adalah nama bagi sifat sahaja. Misalnya Ar Rahman A Rahim Al Mubin Al Awal dan sebagainya.

    Allah adalah nama bagi Zat. Dan semua makhluk diseluruh Bima Sakti ini tercipta dari Zat. Maka Allah adalah hak semua. Malah seekor harimau mau menyebut Allah pun tak perlu disalahkan sang harimau tu. Pokok nya kita yang begitu mengasihi dan menyangjungi nama Allah tak upaya memastikan Apakah Tuhan? Siapakah Allah?

    Pertanyaan di atas pastinya menjadi kemarahan para Ulama Fekah. Sebaliknya tak mengapa bagi Ulama Tasawuf. Bila kita percaya adanya Tuhan, maka kenalilah IA melalui Zatnya. Kalau tak bisa, kenalilah IA melalui sifatnya.

    Ugama adalah syariat masing-masing yang sudah tersurat.
    Islam adalah agama terpilih yang tersirat.
    Carilah Allah Yang Tersorot.

    Wassalam.

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: