Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahwa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah paripurna saja masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?
Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahwa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWABAN
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surat. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar formalisme ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeda-beda itu pasti memiliki dimensi yang berbeda pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan frekwensi dan derajat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeda. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeda dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu berarti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat dan karakter neraka tertentu.
Jika Naar kita maknai secara gradual, justru menjadi zalim, karena faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak bisa disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeda dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surat Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeda. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, karena didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeda. Karena yang terakhir ini berhubungan dengan kualifikasi keimanan hamba kepada Allah, bahwa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahwa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kualifikasi keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Ruh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fisik dan siksa fisik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kualifikasinya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.
Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga maupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, karena perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualitas moral seorang pekerja di perusahaan juga berbeda-beda, walau pun teknis dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari uang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan motivasi mencintai pekerjaan dan mencintai direktur perusahaan tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualitas moral dan etos kerjanya yang berbeda. Bagi seorang direktur yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, disbanding para pekerja yang hanya mencari untung be laka, sehingga mereka bekerja tanpa ruh dan spirit yang luhur.

Karena itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kualifikasi ruhani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan bilogis seksual-hewani.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan derajat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang bisa menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam prosesi kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan symbol berbeda-beda, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kualifikasi yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka perspesi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu hewaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang identik dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang bisa menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kualifikasi kesyurgawiannya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Karena hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “karena Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira karena syurgaNya.
Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang bisa wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?

Nah anda bisa merenungkan sendiri, betapa tudingan-tudingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, bisa terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

 

Sumber : Sufinews.com

Single Post Navigation

69 thoughts on “Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Navigasi komentar

  1. ajak-ajak on said:

    Mendapat syurga merupakan anugrah dan karunia yang indah karena KasihNya.
    Terhindar dari neraka adalah karena rahmat dan ibaNya atas kelemahan kita.
    Menggapai pemilik syurga dan neraka adalah segala-galanya, yang paling utama.

    Nice sufimuda

  2. ardi_lampung on said:

    ” Masuk Surga ataupun Neraka Atas ijin/ridho yang punya PASTI aman-aman aja. “

  3. Hanya orang gila dan bodoh yang tidak mau masuk syorga dan tidak takut akan neraka….
    kalo gue … terserah Tuhan aja deeeh…
    ntar kalu sudah ada maunya .. udah ada AKU nya… ntar hilang TUHAN nya…

    hehehe….

    ^__^V
    PPiissS

  4. QA management on said:

    masuk neraka asal beserta dg Tuhannya mahh asik2 aja tuuuu…Opppssss….hehehe…

  5. ajak-ajak on said:

    iya ya,, daripada tinggal di syurga tapi dicuekin, mending dineraka tapi diperhatikan. heuheheuheue,,,
    Terserah Engkau sajalah Tuhan, selama Engkau ridha atas hambaMu ini.

  6. sufimuda on said:

    Neraka akan menjadi dingin kalau beserta Tuhan, bukan begitu maksudnya? 🙂

  7. ajak-ajak on said:

    yup,, sebab syurga itu,,,

  8. Banyak yang tidak menyadari bahwa surga dan neraka bisa kita rasakan di dunia.

    Syurga dI Dunia adalah ketenangan jiwa.
    sementara Neraka di dunia adalah kegelisahan, ketakutan, was2,dll sebgainya.

    Sufi Muda :
    Makanya Rasul mengumpamakan halqah zikir (lingkaran orang berzikir) sebagai Taman Surga

  9. salam semua… 🙂

    Indah sekali filosofi artikel ini Sufimuda…
    Habib merasakan, baik surga ataupun neraka itu sama saja bila kita beserta pemilikNYA…
    orang sufi anti syurga dan tidak takut neraka sebuah bahan yang sangat menarik… karena sang sufi tak pernah mengejar syurga dan juga tidak menghindari neraka, karena semua itu adalah atas kehendak NYA…

    SANG SUFI hanya mencari pemilik syurga dan neraka.. karena setelah mendekati dan mengenalNYA.. neraka akan terasa sedingin syurga, dan syurga akan terasa hampa dan peluk cinta NYA…

    .. salam indah selalu untuk semua… 😉

  10. Assalamualaikum,

    Numpang lewat ya….salam kenal mas Sufimuda

    Bagi yang sampai saat ini sering membayangkan Neraka itu bagaimana ? Mari amati saja dalam diri kita masing asing, diri kita sendiri, bukan orang lain

    * Apakah kita masih sering sesak nafas jika melihat perbedaan, baik itu dalam hal beragama ataupun yang lainnya yang membuat nafas ngos-ngosan
    * Apakah tensi (tekanan darah) kita masih sering meningkat drastis pada saat orang lain mengkritik kita sehingga leher belakang kita jadikaku
    * Apakah dada kita cepat berdesir/bergemuruh jika ada yang menghina atau menuduh kita
    * dan masih banyak parameternya yang sebenarnya kalau kita jujur kita sendiri telah mengetahui/merasakanya.

    Itulah gambaran/cermin suasnas neraka yang BISA KITA AKSES DI DUNIA INI, lalu bagaimana dengan neraka di akhirat nanti? Ya sudah pasti rasanya akan ribuan kali lipat, bayangkan di dunia saja sakitnya bukan main sampai sampai banyak saudara saudara kita yang nggak kuat merasakan siksa di dunia ini, kemudian bunuh diri (mereka tidak menyadari bahwa mereka telah melipatgandakan siksaan itu sendiri )
    Lantas bagiaman dengan surga, ya tinggal kebalikannya saja… Dada lapang, ikhlas, nafas lega, aliran darah lancar, kening gak berkerut, dsb.

    Suasana neraka / surga di dunia adalah hal yang lumrah, sunatullah, memang hukumnya seperti itu (berpasangan) ada siang ada malam, ada sakit ada sehat, ada laki ada wanita, ada surga ada neraka, semua itu karena kita masih bermain di wilayah dunia.

    Kalau Ingin aman?, ya tingkatkan ibadah kita hanya dengan tujuan ridha Allah, tidak berharap apa apa selain ridhoNYA (bermain di wilayah ilahi )

    Ibadah karena berharap pahala (surga) seperti pedagang
    Ibadah karena takut ( neraka) seperti budak
    Ibadah karena rasa Syukur adalah ibadahnya orang merdeka

    Wassalam
    I-ONE
    http://pacarair/blogspot.com

  11. Assalamualaikum,

    Numpang lewat ya….salam kenal mas Sufimuda

    Bagi yang sampai saat ini sering membayangkan Neraka itu bagaimana ? Mari amati saja dalam diri kita masing asing, diri kita sendiri, bukan orang lain

    * Apakah kita masih sering sesak nafas jika melihat perbedaan, baik itu dalam hal beragama ataupun yang lainnya yang membuat nafas ngos-ngosan
    * Apakah tensi (tekanan darah) kita masih sering meningkat drastis pada saat orang lain mengkritik kita sehingga leher belakang kita jadikaku
    * Apakah dada kita cepat berdesir/bergemuruh jika ada yang menghina atau menuduh kita
    * dan masih banyak parameternya yang sebenarnya kalau kita jujur kita sendiri telah mengetahui/merasakanya.

    Itulah gambaran/cermin suasnas neraka yang BISA KITA AKSES DI DUNIA INI, lalu bagaimana dengan neraka di akhirat nanti? Ya sudah pasti rasanya akan ribuan kali lipat, bayangkan di dunia saja sakitnya bukan main sampai sampai banyak saudara saudara kita yang nggak kuat merasakan siksa di dunia ini, kemudian bunuh diri (mereka tidak menyadari bahwa mereka telah melipatgandakan siksaan itu sendiri )
    Lantas bagiaman dengan surga, ya tinggal kebalikannya saja… Dada lapang, ikhlas, nafas lega, aliran darah lancar, kening gak berkerut, dsb.

    Suasana neraka / surga di dunia adalah hal yang lumrah, sunatullah, memang hukumnya seperti itu (berpasangan) ada siang ada malam, ada sakit ada sehat, ada laki ada wanita, ada surga ada neraka, semua itu karena kita masih bermain di wilayah dunia.

    Kalau Ingin aman?, ya tingkatkan ibadah kita hanya dengan tujuan ridha Allah, tidak berharap apa apa selain ridhoNYA (bermain di wilayah ilahi )

    Ibadah karena berharap pahala (surga) seperti pedagang
    Ibadah karena takut ( neraka) seperti budak
    Ibadah karena rasa Syukur adalah ibadahnya orang merdeka

    Wassalam
    I-ONE
    http://pacarair.blogspot.com

  12. sufimuda on said:

    Makasih I-ONE udah mampir kemari dan telah memberikan komentar, salam kenal
    Semoga dengan Zikir kita terhindar dari neraka dunia yang I-ONE gambarkan di atas…

    salam

  13. salam,
    surga tertinggi adalah bersama DIA, yang tiada Tuhan selain DIA

  14. Surga saya setuju tak perlu dicari, nerakapun tak perlu ditakuti, yang penting mari dekati pemilik surga dan Neraka itu sendiri.

  15. Assalamualaikum Wr, Wb

    Artikel yang sangat menarik dan ini yang saya cari-cari………bagaimana para sufi tidak mengharapkan surga dan takut neraka, karena mereka tahu bahwa tidak ada yang maujud selain Allah dan mereka paham bagaimana sesuatu yang tidak maujud bisa menghukumi yang mutlak dan didalam pandangan mereka hanya ada Nur yang mempunyai nama kebesaran Allah jadi surga dan neraka sama dalam pandangan mereka sesuai dengan pandangan mereka yang hanya tertuju kepada sang Wahdah……….

    Wassalam

  16. seliparmalaysia on said:

    askum…

    kalo kenal sama raja pasti dapat masuk rumah raja (istana)

    kalo kenal sama TUHAN pasti dapat masuk RUMAH TUHAN (surga)

    saya/anda/kami/kita/mereka kenal sama TUHAN….????

  17. Lillahi ta’ala

  18. brainwashed on said:

    Masuk surga itu baik, tapi bukan yang terbaik.
    Masuk Surga adalah sama saja menginginkan harta Tuhan.
    Yang terbaik adalah kembali kepadaNya.

    Mari kita bakar surga dan padamkan neraka.

    Salam Tuhan Alam Semesta

  19. mbah…ketemu lagi
    huahaha…..100x
    mbah ini ada-ada saja
    mau bakar syurga dan memadamkan api neraka
    mbah…
    mati aja belum
    mbah…
    salam juga

  20. brainwashed on said:

    anakku cecep…

    pesan junjunganmu ..antal maut qoblal maut – matilah sebelum mati

    saya sudah mati berkali kali anakku cecep.

    salam dari alam kubur.

  21. Don Ruri on said:

    asep & brainwashed:

    Capek Deee…..

  22. ajak-ajak on said:

    ahehehehhee,, sama aja.
    Teteeeuuupp ga jelas.
    Sekarang pake junjungan segala, whuwhuwuhwhwhuwhuwu, jinjingan kalleeeeeeeee,,,
    hehehehe…
    bagus mbah, bagusss,,,

  23. Rindu Damai on said:

    Ajak-ajak
    menurut saya Brainwashed orang yang suka membaca tapi belum sampai ke sana….
    jadi ngawur dech 🙂

  24. setiap orang laen pengalamannya mungkin mbah jg,

    tapi mbah bukankah pengalaman adalah salah satu cara Allah mendidik manusia dan itu akan laen antara satu manusia dengan nyang laen baik bentuknya ataupun pemahaman dari masing-masing manusia itu so mbah biarlah seseorang tumbuh dengan didikan yang Allah berikan sesuai kapasitas orang tersebut dengan bimbingan Mursyid tentunya.

    Samudera hakikat begitu luas untuk kita arungi sendiri bukan begitu mbah

  25. brainwashed on said:

    @anakku rindu damai
    sampai kemana anakku?kalau kau kesana diantar orang…..itu berarti kau sedang mimpi anakku.
    anakku rindu…yang ngawur gimana?bilang orang ngawur tapi tidak menjelaskan yang tidak ngawur itu seperti apa…apa bedanya dengan fitnah?

    @andik…
    benar anakku andik….masing masing punya cara sendiri2 untuk keluar dari lembah ini…dan ini semua akan diceritakan kepada Sang Kuasa…inilah serunya.
    semua agama / aliran /model macam2 tarekat itu selamat karena semua berasal dari satu sumber….nah orang yang didalam label ini yang belum tentu selamat.

    Samudra Hakikat itu memang luas seluas alam semesta ini…apabila bumi ini sudah tidak cocok lagi untuk ditinggali…mungkin sebaiknya pindah bumi saja.

    Salam Tuhan Alam Semesta.

  26. Sayang di indonesia kebanyakan orang2 yang mengamalkan ajaran agama tanpa diolah dengan hati dan fikirannya, tapi dengan dengkulnya, akhirnya ya begitu deh……suka ngecap kafir, bidah sana sini..

  27. @habib

    Salam kenal penuh cinta…..

    Benar sekali lebih baik kita masuk neraka dengan RidhoNya daripada masuk surga dengan MurkaNya, tapi itu ga mungkinkan, semua yang disurga dari yang terendah sampai tertinggi pasti masuk dengan ridhoNya, Kalo masuk neraka semua manusia kecuali yang dikehendakiNya singah dulu disana, bagi orang beriman neraka adalah penyucian jiwa dan raga untuk bersama2 dengan Yang Maha Suci dalam kebaqaanNya yang sejahtera

    wassalam….

  28. @Mas Said

    Salam kenal penuh cinta
    kalo mnurut saya sesungguh negeri ini dicintai oleh Allah maka dari itu ujianNya semakin berat, negara kita ini sedang menghadapi masa2 kelam (Jahiliyah sejahiliyahnya) kitadiingatkan untuk kembali kepadaNya hanya bertuhankan Allah semata, bukan bertuhankan agama, harta, tahta dan wanita, saya yakin akan tiba saatnya kita umat Rosulullah saw bangkit dan berjaya dengan kelemahlembutanNya, Insya Allah sesuai dengan sunatulahNya dulu zaman Rosulullah saw harus menyebarkan risalah Islam dengan jihad fisabillah melawan orang kafir, akan tiba saatnya Islam kembali bersinar dengan cahaya al LatiefNya itulah jln sufi.

    wassalam

  29. Siliwangi on said:

    Cintailah sesama janganlah saling membenci karena kebenaran yg mutlak hanyalah milik gusti Allah SWT. Salam damai untuk saudaraku semua.

  30. @ Siliwangi
    Salamlekum…
    Salam kenal

    Salam damai juga untuk anda, setuju banget …Insya Allah
    Semoga kalbu terbakar dicinta
    semoga kau masuk janah firdausNya

    Salam al-Fakir

    Pengemisiman yang fakir iman

  31. tidak terbatas lautan cinta Allah

    Bismillah nurin ala nur
    Bismillahi khoiri Asmai, bismillahi robi ardi wa samaai, bismillahilazi ismuhu barokatun syifaaun, bismillahilazi hisy syifa, bismillahi hiladzi laa yadhuru ma asmihi samun wala daaun, bismillahiladzhi laa yadhuru am asmihi syain fil ardi wa samai wahuwal sami’ul Alim….
    Bismillah awal wal akhir
    Bismillahirohmanirohim…
    Allhuma sholi ala sayyidina Muhammad, nabiyil umiyi wa ‘ala alihi wa shobihi wa salam

    semoga dijaga dari salah semoga nur menerangi wajahmu semoga cahaya masuk hatimu semoga hati merasa pesona semoga allh meilinguimu …Insya Allah
    semoga setiap hari jadi hari raya semoga kalbu terbakar dicinta
    Semoga kau layak akan maafNyya

  32. Siliwangi on said:

    Waalaikumsalam..wahai pengemis iman..semoga engkau selalu berada dlm lindunganNYA , dan smoga engkau selalu berada d jalanNYA .

  33. Wuua wuuaiai..hahha..hahha.. saalaaaaa….m lelele kum bulatan2 mata mau mata zhohir kek mata kaki aya lah
    Salam paling gokil buat kangggg Asep, Palianggg cucuek
    Buat Pengemis iman……. minta dong iman apa adanya,,,,,

    Buat sufi muada salaaaaaaam dammmai slalu numpppang fana dalam baqaNya di diskotik……sufimuda……

  34. Salam wa rohmah untuk pengunjung2 disufi muda
    salam serta solawat tetep tercurah kehadirat rosululloh beserta keluarga serta umat muslim semua serta semoga arrahman dan arrahimnya gusti alloh tetep menjadi kedamaian untuk seluruh makhluk amin

    hehehe memang tuduhan hanya bisa diucapkan oleh orang2 yang persepsinya masih dari kaca mata syariat ya seperti itu mas sufimuda. Dan itu hrs kita maklumi karena alloh blum membuka tabir qolbunya dan mudah2an hari ini sedikit demi sedikit alloh memberi ilmu hikmah pada kita semua.

    kami dulu juga pernah dianggap kafir sama saudara2 kami karena kami pernah melontarkan wacana bahwa sholat tdk wajib bagi orang2 yang telah menempuh jalan hakikat dan ma’rifat lalu mereka semua memusuhi kami tanpa ada yang mau meminta jawaban atas wacana kami yg ada dlm pikiran mereka kami penganut ajaran kejawen yg penuh kekafiran.
    Akhirnya kami berinisiatif untuk meluruskan permasalahan dng mengajak dialog lagi, lalu kami jelaskan tentang bab tidak wajibnya sholat bagi kaum sufi. pada mereka yg mengaku salafy,
    1): sholat wajib bg muslim/ah yang masih dalam tahapan sariat seperti kami tapi tidak wajib lagi bagi kaum hakikat apalagi yg telah sampai pada tingkatan makrifatillah lebih tidak wajib lagi dikarnakan:
    sholatnya kaum hakika.t bukan kewajiban tapi suatu sholat yang sudah dilandasi dengan suatu hukum kebutuhan. jadi kalau masih menganggap wajib berarti dalam pandangan kaum hakikat masih ada rasa paksaan yg mana hal itu dpt menjadi penghalang tertutupnya hati terhadap gusti alloh. Jadi mereka semua menganggap sholat merupakan kebutuhan yg harus dikerjakan dng seluruh jiwa raga yang hadir dalam nuansa sakral dan rendah diri akan kelemahannya tuk menuju jalan manisnya bertemu gusti alloh

    lalu sholatnya kaum sufi yg telah mencapai makrifatillah bukan kewajiban dan juga bukan kebutuhan melainkan tassakyur yang mana sholat merupakan rasa syukur hamba yang telah menerima kenikmatan2 hidup, sholat merupakan rasa syukur hamba terhadap gusti alloh yang mana tanpa daya dan kuasanya mereka tidak mungkin dpt melakukannya,dan sholat merupakan tanda syukur yang paling dalam karena di dalam gerakan ritual sholat mereka telah hanyut dalam kekosongan jiwa,hati yang ada hanyalah alloh yang maha suci, mereka dpt merasakan kehadiran alloh yang tiada jarak apapun yang ada dihati mereka hanyalah alloh alloh dan alloh

    wassalam

  35. Siliwangi on said:

    Untuk mas puntodewo saya berpikir tidak ada yg salah dgn apa yang ahli syareat lontarkan karena mereka berpendapat berdasarkan apa yg terlihat..justru yg seharusnya d lakukan oleh orang2x sufi adalah jalan ahlussunah waljamaah yaitu melaksanakan yg umum dan menyimpan yg khusus hanya untuk dirinya pribadi atau kalaupun harus d bicarakan maka bicarakanlah dgn orang2x yg setingkat dgn anda. Hindari fitnah dan janganlah mengundang fitnah. Salam semoga kita semua selalu berada didalam lindunganNYA.

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan ke sanggardewa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: