Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

URAIAN RINGKAS MENGENAI ISRA’ DAN MI’RAJ RASULULLAH SAW DITINJAU DARI SUDUT ILMU METAFISIKA EKSAKTA

Hari ini tanggal 29 Juli 2008 bertepatan dengan tanggal 27 Ra’jab tahun 1429H, 14 abad yang silam telah terjadi suatu peristiwa yang luar biasa, menjadi tonggak sejarah baru ummat Islam, dimana Nabi Besar Muhammad SAW melaksanakan Isra’ dari Mesjidil Haram di Makkah ke Mesjidil Aqsa di Pelestina, kemudian melakukan Mi’raj dari Mesjidil Aqsa naik ke Sidratul Muntaha, menjumpai Allah SWT, pada saat itulah Beliau menerima perintah shalat sebagai salah satu rukun Islam.

Saya tidak mengajak pembaca sufimuda untuk menelusuri sejarah terjadinya Isra’ Mi’raj, karena kisah itu sudah sering kali diceritakan oleh para mubaligh kita, terkadang jadi membosankan, dari kecil kita sudah mendengar kisah itu. Juga saya tidak menanyakan kepada anda sekalian apakah anda percaya Isra’ Mi’raj tersebut, karena pertanyaan itu sudah dilontarkan selama 14 abad, cuma Abu Lahab, Abu Jahal dan kawan-kawannya yang tidak percaya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merengungi dan berfikir secara kritis, Bagaimana ilmiahnya sehingga Nabi SAW bisa melakukan Isra’ dan Mi’raj hanya dalam waktu semalam?

Kalau Beliau menuju Tuhan memakai Buroq sebagai kenderaan yang mempunyai kecepatan tak terhingga, apakah Saidina Abu Bakar dan sahabat-sahabat lain juga memakai Buroq?

Apakah seluruh ummat Islam untuk mencapai kehadirat Tuhan perlu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi?

Nabi mengatakan, yang tidak mencontoh aku bukanlah ummatku, selama ini yang sudah kita contoh adalah pekerjaan lahiriah Beliau, kapan kita mencontoh pekerjaan spiritual Beliau?

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, saya mengutip penjelasan yang sangat ilmiah tentang Isra’ Mi’raj oleh Prof. Dr. Saidi Syekh Khadirun Yahya MA. M.Sc dalam bukunya berjudul : CAPITA SELECTA TENTANG AGAMA, METAFISIKA ILMU EKSAKTA JILID II (hal 51-57), Penerbit Universitas Panca Budi Medan.Berikut kutipannya :

URAIAN RINGKAS MENGENAI ISRA’ DAN MI’RAJ

RASULULLAH SAW DITINJAU DARI SUDUT

ILMU METAFISIKA EKSAKTA

Saya akan mencoba untuk mengemukakan dan menguraikan suatu contoh, sebagai ilustrasi yang nyata, karena saya sendiri sebenarnya tidak pula merasa puas, kalau tak ada sekelumit gambaran , yang agak jelas, tentang apa yang dimaksud dengan kehebatan ilmiah metafisika eksakta itu. Contoh yang diambil adalah salah satu fenomena yang hebat sekali, suatu fenomena yang sampai sekarang, tetap hangat dan aktual dan menggemparkan dunia yaitu : ISRA’ dan MI’RAJ RASULULAH SAW disorot dari sudut ILMU METAFISIKA EKSAKTA!

Marilah pelan-pelan kita ikuti uraian-uraian yang sangat ilmiah ini, dengan tenang dan dimulai dengan Bismillah dan ingat akan Rahman dan Rahim serta kasih ALLAH SWT, Penguasa Semesta Alam.

Terlebih dahulu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada sesuatu yang kurang sedap dalam uraian-uraian ini, karena mungkin kurang sesuai dengan selera kita. Tetapi kita harus sadar, bahwa ada kalanya kebenaran itu adalah pahit, tetapi kalau sudah dikenal, bahwa kebenaran yang pahit itu adalah obat satu-satunya , maka kebenaran itu akan menjadi manis (Truth is bitter, but Truth is also sweet).

Seperti juga bala yang diturunkan ALLAH, tentu terasa sakit dan pedih pada awalnya, tetapi kalau kita arif dan bijaksana, pandai mengambil pelajaran daripada bala yang diturunkan ALLAH itu, maka akhirnya bala itu akan menjadi petunjuk yang sangat berharga. Sedangkan musuh yang mencari-cari kelemahan kita siang malam, adalah sebenarnya alat yang baik sekali, untuk menunjukkan kekurangan- kekurangan kita, yang kadang-kadang kita tidak sadari sama sekali.

Begitu juga saya percaya, bahwa kita semua sadar benar-benar, bahwa kita bukan hidup di zaman Galileo Galilei lagi, dimana ucapan ilmiah eksak yang benar, tetapi tidak atau belum difahami, orangnya lantas akan “dikejar-kejar”, atau difitnah seenaknya saja. Dewasa ini, kita hidup di zaman hipermodern, kurun XV H, yang sudah hampir kiamat lagi barangkali (oleh “permainan” atom, nuclear dan sinar laser dari manusia-manusia atau “ulah/tingkah” galaxy di alam semesta ruang angkasa), yang semua problema-problema ilmiah benar-benarharus diselidiki kebenarannya, dan kalau memang benar, dapat diambil manfaatnya sesuai dengan firman ALLAH yang berbunyi :

Yaa ay-yuhal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabay-yanuu an tushiibu qauman bijahaalatin fatushbihuu ‘alaa maa naadiimin.

Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila orang-orang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka periksalah lebih dahulu dengan seksama. Supaya kamu jangan sampai mencelakakan orang lain, tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu akan mrenyesal atas kecerobohanmu itu” (Surat Al-Hujurat ayat 6).

Kesimpulan :

1. Apalagi jika berita itu datangmya dari seorang Islam sejati ! Dan seorang yang benar-benar ahli pula dalam bidangnya

2. Perlu sekali diselidiki akan sesuatu hal sedalam-dalamnya dan seksama mungkin dengan ilmu yang dalam, halus dan tinggi pula yang ada pada kita, sebelum diambil keputusan-keputusan yang menentukan, apalagi yang menyangkut soal-soal Agama Islam! Sebagai proyek ALLAH TA’ALA Yang Maha Tinggi, yang sungguh-sumgguh dalam, halus, dan sangat tinggi sekali.

3. Karena, kalau kita telah mengambil keputusan, umpanya yang benar, disiarkan sebagai berita bohong, atau sebagai sesuatu yang salah, karena kurang selidik, atau kurang mampu menyelidik, alangkah celakanya kita ini, dan bukan main hebat kutuk ALLAH jatuh pada kita, karena kita telah jatuh pada fitnah yang sangat keji, menyebarkan yang haq sebagai berita bohong, yang diancam dengan neraka jahanam Dunia Akhirat!!

Demikian sebagai pendahuluan, marilah kita mulai dengan Nama ALLAH Yang Pengasih lagi Penyayang mengikuti :

Uraian ringkas ISRA’ dan MI’RAJ Rasulullah SAW

ditinjau dari sudut ILMU METAFISIKA EKSAKTA.

Maksud Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW ialah untuk sujud/hadir ke hadirat ALLAH SWT yang bersemayam di atas Arasy yang maha tinggi.

Jadi: ALLAH SWT berada di Arasy, sedangkan Rasulullah SAW berada di bumi.

Jarak antara keduanya tak terhingga jauhnya : dalam istilah ilmu pasti, jarak yang tak terhingga ditulis : S = ∞

Menurut rumus Mekanika :

1. : S = v x t

S = Spazium = distance = jarak

V = Velocitas = speed = kecepatan

T = tempo = time = waktu

2. Jadi : Jarak = kecepatan x waktu (lihat nomor 1).

3. : S = v x t; kalau jaraknya S = tak terhingga, maka ditulis : S =

4. Jadi : S = v x t;

Menurut Ilmu Aljabar :

5. Kalau : ∞ = v x t, maka v-nya harus (v = ∞).

Atau t-nya harus ( t = ∞ ).

6. Jadi : ∞ = ∞ x t atau ∞ = v x ∞

Waktu yang dipakai Rasulullah SAW berangkat sesudah Isya dan kembali sebelum subuh, katakanlah ± 6 jam pulang pergi, jadi : satu kali jalan menggunakan waktu 3 jam atau t = 3 jam.

7. Diketahui :

2t = 6

t = 3

8. : S = v x t ∞ = v x t

S = ∞

t = 3 .:. v = = ∞

3

9. Jadi : v mesti ∞ : v = ∞

∞ Artinya : Bahwa menurut ilmu rumus eksakta di atas, Rasulullah SAW wajib memakai suatu alat/”kendaraan”/faktor/frekuensi /yang berdimensi/ ber-kecepatan tak terhingga/tak terbatas, yang v-nya = ∞

Dan ini ternyata benar! Memang Rasulullah diberikan alat Bouraq = kilat, yang kecepatannya dan frekuensinya tak terhingga : v = ∞ diberikan oleh ALLAH SWT.

Betapa EKSAK-NYA ISRA’ MI’RAJ ITU !!!

KESIMPULAN :

1. Tanpa memakai faktor tak terhingga (∞) siapapun orangnya yang munajat ke hadirat ALLAH SWT tak kan sampai kepada ALLAH SWT !!!

HUKUM EKSAKTA MEMBUKTIKANNYA !

ISRA’ MI’RAJ MENUNJUKKANNYA, KEDUA-DUANYA TAK DAPAT DITAWAR-TAWAR, TAK DAPAT DITOLAK KEBENARANNYA.

2. Munajat artinya : beribadat, berdzikir, bershalat, bersamadi, beri’tikaf dan lain=lain.

3. Sampai pada ALLAH artinya masuk Syorga, karena Syorga adalah pada sisi ALLAH SWT (∞).

4. Dengan terang dan jelas kelihatannya, bahwa tidak ada satu manusiapun yang Sampai pada ALLAH SWT dengan akal apa sajapun, dengan ma’rifat apa sajapun, bagaimanapun hebatnya, karena alat tak terhingga (∞) adalah kepunyaan ALLAH, dan bukan kepunyaan manusia, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk itu. Manusia adalah BAHARU dan serba terbatas yang tak dapat menghasilkan yang tak terhingga (∞).

5. Alat yang diberikan ALLAH SWT pada Muhammad adalah hanya satu-satunya yaitu “Nur-Nya”, mau tidak mau harus dapat kita salurkan pada diri kita alat itu juga, karena tidak mungkin ada alat lain yang mencapai ALLAH SWT selain daripada Nur-Nya sendiri. Faktor tak terhingga (∞ ) tidak dimiliki oleh manusia manapun juga, karena tidak Ada manusia yang bersifat tak terhingga (∞ ), melainkan ALLAH saja, maka Faktor tak terhingga (∞ ) harus diberikan atau dimasukkan oleh ALLAH itu Sendiri pada manusia, baru manusia memilikinya dan barulah manusia itu dapat Berkomunikasi dengan ALLAH SWT (lihat uraian isra’ dan mi’raj di atas), dan Sesuai dengan firman ALLAH : Nuurun ‘alaa nuurin yahdillaahu linuurihiiman yasyaau. Artinya : “…..Nur Ilahi berdampingan Nur Muhammad itulah diberikannya kepada manusia yang di kehendaki-Nya….” (Surat An nur ayat 35)

6. Faktor tak terhingga (∞) ini tak dapat dan tak boleh bertukar, karena Nur Ilahi adalah satu , tak boleh yang lain, harus yang itu juga, karena jika yang lain, hasilnya/sampainya tidak akan sama; Harus yang di berikan pada Muhammad SAW itu juga harus kita miliki, agar terjamin tempat mendaratnya Muhammad SAW itu sama dengan tempat mendaratnya kita. Tempat mendaratnya Muhammad adalah Syorga, karena syorga adalah pada sisi ALLAH SWT.

7. Untuk mencapai frekuensi yang sama, tidak ada jalan lain, Rohani kita mutlk harus dapat kita gabungkan dengan Rohani Muhammad, yang hidup kekal dan abadi pada sisi ALLAH SWT sebagai “SATELIT” ALLAH TA’ALA di alam semesta ini, yang senantiasa langsung berkomunikasi dengan ALLAH SWT. Rohani digabung dengan rohani tidaklah ada salahnya dan tidak berdosa, asal pandai dan tahu cara pelaksanaan teknisnya, seperti juga frekuensi stasion radio Nusantara III Medan, selalu menggabungkan diri dengan frekuensi pusat jakarta, dan kita akan mendengar Langsung siaran pusat jakarta pada radio kita yang sedang distel dengan frekuensi stasion radio Nusantara III Medan. Begirtu juga, sewaktu Muhammad Ali bertinju di stadion rio de janeiro, cukup kita menstel tv kita pada stasion medan, medan menggabungkan diri dengan jakarta dan jakarta Dengan palapa dan palapa dengan rio de janeiro. Kita melihat Muhammad Ali langsung bertinju di layar tv kita di rumah kita sendiri.

Single Post Navigation

130 thoughts on “URAIAN RINGKAS MENGENAI ISRA’ DAN MI’RAJ RASULULLAH SAW DITINJAU DARI SUDUT ILMU METAFISIKA EKSAKTA

  1. sufimuda on said:

    Amin Ya Rabbal ‘Alamin ….

  2. muslem gaul on said:

    amien….

  3. Assalamuialaikum WR,WB
    BISMILLAHIRROCMANNIRROCHIM

    bapak Dono yang berbahagia mengenai pertanyaan bapak : apakah sayyidina Jibril a.s mengatakan Bismillahirrohmannirohim kepada baginda rasulallah Muhammad S.A.W sewaktu menanyakan hal rukun iman kepada Rasulallah?
    ==========================================
    Perlu di ketahui pak bahwasanya nama beliau juga banyak di antaranya ar-RUH al-AMIN/ RUHUL QUDUST dan perlu diketahui sifatnya sesuai dengan bunyi surat AL-ANBIYA’ :19,20 “Dan kepunyaan NYA lah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat malaikat di sisi NYA ,Mereka tiada mempunyai rasa ANGKUH untuk menyembah NYA dan tiada (pula) mereka letih.Mereka selalu bertasbih malam dan siang hari tiada henti hentinya” dapat anda pelajari tentang kalimat angkuh disini selalu menjaga tata krama/sopan santun jadi kalo ketika SYAYIDINA JIBRIL A.S menanyakan perihal rukun IMAN itu ya tetep HARUS mengucapkan: BISMILLAHIRROCMANNIRROCHIM kalo ndak mengucapkan berarti ndak punya sopan santun maka ndak ada berbeda dengan IFRIT masih ingat kenapa sang IFRIT di turunkan dari surga Ya karena ndak punya tata krama/sopan santun. cuma di sini yang anda tanya itu hadist yg di riwayatkan Rosululloh kepada ABU HURAIRAH RA dalam kitab (al-iman,bab su’alu jibril an-NABI wa anil iman wal ihsan wal islam) di situ Nabi bercerita pada suatu hari beliau keluar berkumpul dengan para sahabat kemudian tiba datanglah JIBRIL dan bertanya ‘apakah IMAN itu? beliau jawab” Iman adalah engkau beriman kepada Alloh,para malaikat NYA ,rosul-rosulNYA, dan engkau beriman dengan hari kebangkitan. nah sekarang seandainya saya bertamu ke rumah anda dengan mengucapkan salam aja, apakah anda juga menceritakan bagaimana cara saya membuka salam cara saya mengeser kursi dan lain-lain secara rinci khan ndak mungkin………?!? jadi kesimpulanya SYAYIDINA JIBRIL A,S tetep mengucapkan BISMILLAHIRROCMANNIRROCHIM dalam kondisi apapun penyampain beritanya, begitu penjelasan saya semoga menjadikan manfaat bagi anda

    salam FI SABILILLAH

  4. Salam Pencerahan tuk semua pengunjung setia sufi muda

    Salam kenal saya sama mas dono. Saya ingin mengajak mas dono untuk tidak berhenti dalam pencarian kebenaran. Semua pengalaman kita harus terus kita uji dengan pengalaman dan pengetahuan orang lain sebanyak mungkin. Karena semakin sering pengalaman itu kita uji maka semakin dekat dia dengan kebenaran.

    =============================================
    Anggap saja cerita saya, sebagai peringatan tentang akhir zaman yg tiada keraguan kedatangannya.
    =============================================

    Kalau saya dalam posisi mas dono saya tidak akan mengambil i’tibar seperti itu namun saya akan mencari tahu… siapa sebenarnya yang saya jumpai? Bagaimana cara mengujinya?

    Bersambung 🙂
    adam

  5. Diskusi yang menarik dalam rangka pencerahan diri. Salut.

  6. Abahselatan on said:

    ……………. 🙂

  7. Ass.wr.wb,
    Salam kenal juga untuk pak Adam,soal mencari tahu siapa yg menjumpai saya, dengan banyak kesabaran insyaAllah.

    Ass.wr.wb.pak Sufimuda,
    hari jumaat yg lalu, saya dan seorang teman sedang berbincang bagaimana Allah S.W.T menciptakan malaikat, syeitan manusia dan jin dan mengenai firman Allah s.w.t soal jin dan manusia, pada surat Adz-Dzaariyaat, ayat 56 yg berbunyi : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKU.
    Tiba-tiba hadir didepan saya suatu makhluk yg sangat indah, sapanya Assalamualaikum, lalu bertanya : kalau saya siapa?
    Saya jawab: Walaikum salam,saya tidak tahu siapa anda tetapi hanya Allah S.W.T dan diri anda sendiri tentunya yg tahu siapa anda dan sesuatu yg ghaib itu hanyalah kepunyaan Allah semata dan saya sendiri tidak mempunyai ilmu untuk itu., lantas katanya kamu benar.Dia kemudian menghilang.

    Ini adalah salah satu kisah yg menarik, InsyaAllah dengan ini kita mendapat pelajaran.

    Wassalam,Dono.

  8. pathygeni on said:

    mas sufimuda, saya domisili ada di kota BATU, Jawa Timur, dekat kota malang. Adakah seorang guru mursyid di dekat tempat tinggal saya ? mohon informasinya. trima kasih.

  9. sufimuda on said:

    Trimakasih Mas Dono atas kunjungannya,

    Tahun 2003, sekitar pertengahan bulan Mei, saya melayani orang berobat, kebetulan saya di izinkan oleh guru saya untuk mengobati orang dengan memakai metode zikir…
    Waktu itu yang berobat ada 40 orang, berapa pun banyak pasien nya di obati sekalian dengan memakai batu zikir yang diberikan guru saya…
    Salah seorang yang hadir adalah seorang ulama pimpinan sebuah pasantren yang telah berusia 72 tahun. Bahkan Beliau sudah mendirikan 4 buah pasantren di 4 kota. Beliau berobat lumpuh. Insya Allah dalam waktu 7 hari sembuh.

    Suatu hari Beliau datang kepada saya, ingin bicara 4 mata. Saya melayani Beliau secara empat mata. Kemudian Beliau menceritakan pengalamannya. Setiap membaca Al-Qur’an dan juga kitab kuning (kitab klasik), selalu datang orang berjubah putih dan tersenyum kepada Beliau. Saat itu Beliau beranggapan yang datang itu adalah malaikat. Di lain waktu datang juga orang berbaju hitam menakutkan. Dalam mimpi Beliau orang berjubah putih dan berwibawa itu tiba2 berubah menjadi sosok yang menakutkan.

    Beliau mulai ragu, setiap membaca ayat Kursi, sosok yang berjubah putih dan berjubah hitam itu tidak hilang….

    Beliau meminta saran kepada saya bagaimana bisa jauh dari gangguan makhluk tersebut, saya memberitahukan rahasianya kepada Beliau…

    2 hari kemudian Beliau datang dan memeluk saya sambil menangis, Beliau berkata, “Trimakasih Nak, 53 tahun saya mendalami agama, ternyata ilmu yang saya pelajari tidak mampu membedakan antara Jin dengan Malaikat, barulah sekarang saya terbuka hijab, ternyata syetan dalam diri saya ini lah yang selama ini saya lihat, selama ini saya menerima nasehat dari syetan dalam diri saya tersebut”

    Akhirnya Beliau berbai’at menjadi murid Guru saya…..

    Seperti yang disarankan oleh mas Adam, harus ada alat pengukur apakah yang datang kepada kita itu Nur Tuhan atau syetan kesasar 🙂

    Berbahaya sekali mendalami hal2 gaib tanpa guru karena sudah pasti disesatkan oleh syetan seperti ungkapan Syekh Abu Yazid Al Bistami,
    “BARANG SIAPA MENUNTUT ILMU TANPA BERGURU WAJIB SYETAN GURUNYA”

    Demikian Mas Dono pandangan dari saya sebagai jawaban dari pengalaman Mas Dono, juga untuk menjawab pertanyaan2 yang sama dari pengunjung sufimuda lain.
    mudah2an berkenan,

    Wasalam

  10. Achmad Yusuf on said:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Wahai Saudaraku semuanya yang berada di Blog Sufi Muda termasuk saudaraku Sufi Muda sendiri.
    Semoga Allah Swt, membukakan jalan yang lurus dan Hijabnya bagi kita semuanya yang ada disini.

    Perkenankanlah Saya untuk menyampaikan beberapa kalimat, mudah2an itu semua bisa menjadi bahan renungan bagi kita sekalian. Dan tidaklah apa yang saya sampaikan ini menurut hawa nafsu melainkan karena Allah semata yang menguasai zahir dan batinku.

    Untuk menganalisa dari masukan Mas Dono maupun teman2 semuanya termasuk saudaraku Sufi Muda tentang Kebenaran yang Hakiki, tentu kita kembali kepada yang di Firmankan Allah Swt : Bahwa kepadaKu lah semuanya kembali dan akan Kusampaikan kepada kalian apa-apa yang dahulu kalian perselisihkan.

    Disitu kita bisa menyimak bahwa Allah lah yang Maha Mengetahui tiap2 segala sesuatu, dan tidaklah manusia itu di beri Ilmu melainkan sedikit sekali.

    Jika sudah demikian, apakah yang menjadikan perselisihan? Tentu jawabannya adalah Hawa Nafsu atau menurut Fersi Saya Merasa diri paling Benar!.

    Serahkan segala sesuatu itu!!!! Milik Allah dan Hak Allah semata, tidaklah sgala sesuatu itu melainkan Fatamorgana/semu belaka.

    Jika Allah kekal adakah yang lain selain Allah tentu tidak ada!!!!

    Jika benar apa yang sudah kita yakini, sudahkah kita bertemu dengan Allah Swt yang sebenar2nya? Tentu kita semua meyakini bahwa seluruh para Nabi dan Rosul tidak ada yg pernah bertemu dengan Allah melainkan hanya Junjungan kita Muhammad Rosulullah Saw saja yang bertemu. Jika demikian adakah sebaik2 Mursyid selain Muhammad Rosulullah Saw? Keyakinan Saya mengatakan tidak ada.

    Benar dikatakan bahwa kita harus mencari GURU/MURSYID (MURSYID MUROBBI) yang membimbing kita kepada kesempurnaan Jiwa/Insan Kamil dan seterusnya sampai kepada Insan Kamil Mukamil. Akan tetapi bisakah kita memastikan bahwa yang kita ikuti itu benar MURSYID MUROBBI………..

    Hanya mereka yang dibukakan hijab oleh Allah tentang SIRR/RAHASIA yang ada pada MURSYID, itulah yang bertemu dengan MURSYID MUROBBI. Sebagaimana Wali tidak ada yang mengetahui tentang identitasnya melainkan sesama wali begitupun tidak ada yang mengetahui MURSYID MUROBBI melainkan sesama MURSYID MUROBBI.

    Baiklah….. akan saya uraikan lebih halus lagi agar bisa dipahami (Ma’afkan jika pernyataan saya tadi membingungkan).

    Begini!!!!

    Pertama :
    Kesampingkan dulu masalah apa yang dilihat! Apakah itu Malaikat, Jin, Wali, Orng Suci dll. Karena disitu terdapat Rahasia Allah Swt. Jadi janganlah membuat kita berbantah-bantahan karena Islam Indallah tidak mengajarkan berbantah-bantahan. Walau itu tidak benar sekalipun itu urusan Allah, jika itu Benar itu Hak Allah.
    ALLAH ALIMAL GHOIBI WASYHAHADAH (Allah yang mengetahui yang Gaib dan yang Nyata)

    Kedua :
    Carilah GURU/MURSYID yang bisa membimbing kita kepada kebenaran yang sejati sebagaimana yang disarankan oleh Sufi Muda dan rekan2 yang lain.

    Ketiga :
    Taatilah MURSYID itu dengan Ikhlas dan Ridho dengan keyakinan jika kita taat kepada MURSYID berarti sama halnya kita taa kepada ROSULULLAH, dengan taat kita kepada ROSULULLAH maka sama halnya kita taat kepada ALLAH SWT.

    Keempat :
    Hadirkan Keyakinan bahwa yang kita taati itu bukan Zahirnya MURSYID tapi Batinnya MURSYID

    Kelima :
    Ketahuilah bahwa Batinnya MURSYID itu adalah cermin/kenyataan dari pada ROSULULLAH

    Keenam :
    Dan Ketahuilah pula bahwa ROSULULLAH itu adalah cermin/kenyataan dari pada ALLAH

    Ketujuh :
    Ketahuilah ALLAH itu Muhitumfil Alamin (Meliputi sekalian Alam) Wafi Anfusikum afala tubsirun (juga pada dirimu, kenapa engkau tidak memperhatikan)

    Lalu disimpulkan oleh seluruh para Awliya Allah :
    Syuhudul Wahdah fil Katsroh, Syuhudul Katsroh fil Wahdah
    (Pandang yang Satu (Allah) ada pada yang banyak, pandanglah yang banyak pada yang Satu (Allah))

    Jika kita mengikuti Alur2nya demikian maka Insya Allah kita akan menemukan Kebenaran yang Sejati disuatu hari kelak.

    Mohon Ma’af saudaraku Sufi Muda dan rekan-rekan semuanya disini jika apa yang saya tulis ini tidak berkenan dihati, tidak lah saya melainkan hanyalah Hamba yang Fakir dan Yang Maha segala Maha hanya Allah SWT.

    Dan mohon ma’af juga jika kata2 saya ini membingungkan bagi yang baru menuju dunia Ma’rifat/Tasawuf. Jika ada yang mengganjal di hati Konsultasilah kepada Saudaraku Sufi Muda Insya Allah ia akan menguraikannya dengan kehendak Allah jua.

    Dan menyambut Bulan Romadhon Saya mengucapakan Marhaban ya Romadhon Mohon Ma’af Lahir dan Batin untuk semuanya.

    ALLAH ITU SATU,ROSUL ITU SATU, MURSYID ITU SATU, DIRI ITU SATU, ISLAM ITU SATU, MA’RIFAT ITU SATU,TAUHID ITU SATU, TASAWUF ITU SATU, Maka mereka yang di dalamnya bersatulah dan jangan bercerai berai dan berbantah-bantahan. Beda Pendapat Silahkan tapi satukan Tujuan untuk mencapai RIDHO Allah.

    Semoga Allah SWT memberkati kita semua dan mengampuni segala kekhilafan dan kealfaan sungguh kita semua LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ALIYYIL ADZIIM.

  11. sufimuda on said:

    Firman Allah: “Barang Siapa yang diberi petunjuk dia akan mendapat petunjuk, barang siapa yang disesatkan maka tidak ada seorang Wali Mursyid pun memberikan petunjuk”
    Bukan kah begitu saudaraku Ahmad Yusuf 🙂

    Dan dalam surat Al-Maidah-35 Allah befirman : “Hai orang-orang beriman carilah WASILAH (penghubung engkau dengan Allah), bersungguh-sungguh lah di jalan itu, mudah2an engkau mendapat kemenangan”

    Tentang penting nya menemukan seorang Guru Mursyid yang Kamil Mukamil telah banyak kami uraikan di sufi muda.

    Ya, benar apa yang dikemukakan oleh Mas Yusuf, apabila telah sampai ketahap Makrifat sesungguhnya semua itu adalah SATU, itulah hakikat TAUHID yang benar…

    Salam

  12. Achmad Yusuf on said:

    Salam juga untuk Sufi Muda,

    Salam yang tiada putus-putusnya dengan Salam dari ROBB penguasa seru sekalian Alam untuk mereka yang telah mencapai Maqom Ma’rifat yang Haq. karena SALAM itupun nama dari pada Allah SWT maka kembali pulalah kepada Allah SWT. Tiada keindahan SALAM selain SALAMUN QOULAM MIRROBBRIRROHIIM…………..

    Karena itulah Sufi Muda Saya Anggap Saudara Saya sendiri, karena intinya kita SATU baik di dalam Ilmu maupun di dalam Rasa walaupun mungkin ada pendapat yang berbeda namun itu semua bukan masalah karena Junjungan kita mengatakan perbedaan di antara umatku adalah Rahmat, itulah keindahannnya Jamal Allah Swt.

    Karena Tujuan kita adalah SATU maka akan berkumpullah kita kepada yang SATU di Alkah ROBBUL IZZATI dalam limpahan Rahmat KAsih dan Sayang NYA. Dan tidak lah Umat Nabi yang Setia itu melainkan di Alam yang Fana ini hanya untuk menjadi RAHMAT sebagai mana Nabi menjadi Rahmatan lil’Alamiin.

    Berkah untuk Sufi Muda, Berkah untuk pengunjung Sufi Muda dan berkah untuk kita semua.

    Aamiin…..Aamiin…… Aamiin Ya Robbal Alamiin.

  13. Achmad Yusuf on said:

    sufimuda

    =================================================
    Firman Allah: “Barang Siapa yang diberi petunjuk dia akan mendapat petunjuk, barang siapa yang disesatkan maka tidak ada seorang Wali Mursyid pun memberikan petunjuk”
    Bukan kah begitu saudaraku Ahmad Yusuf!
    =================================================

    Benar sekali Saudaraku……….!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  14. Achmad Yusuf on said:

    Benar sekali apa yang dikatakan itu Saudaraku tentang :

    Barang siapa yang di beri petunjuk maka dia akan mendapatkan petunjuk, barang siapa yang disesatkan maka tidak ada seorang Wali Mursyid pun yang memberikan petunjuk.

  15. sufi wanita on said:

    permisiii saya numpang lewat, sekedar meramaikan saja komentar saya jangan di tanggapi kalau di tanggapi tidak akan habis-habisnya, karena ilmu Allah ta’ala sangatlah luas kalau harus di cari tepinya kita tidak akan bisa tuk mencari tepinya. kalau laut di jadikan tinta untuk menulis ayat-ayat ALLAH MAKA TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENULISNYA.pendapat saya Allah SWT memberikan jalan agar manusia kembali untuk mengingatnya dengan jalan yang berbeda-beda. dan megenai setan, iblis, dedemit, dedengkot apalagi namanya mau apa namanya semua itu kalau menurut yang sampai pada makomnya semua itu tidak ada karena yang ada dirinya dan kekasihnya dirinya pun tidak ada yang ada cuman kekasihnya .kekasihnya akan selalu menjaga dan memelihara miliknya. orang islam belum tentu islam ,orang yang mengaku beriman belum tentu dia beriman ilmu tasauf memang sedikit rumit tetapi jika kita suda paham akan menjadi asyik dan kta lebur di dalamnya dan akan menjadi obat yang mujarab untuk sang pencinta tuhan. kalau untuk orang yang belum megenal akan diri dan tuhanya mungkin bisa saja di goda setan dalam diri (hawa nafsu). dalam istilah marifat tidak ada yang ada kecuali hannya yang satu yaitu Allah SWT.janganlah kita suuzon kepada Allah swt. Allah pernah mengatakan sesungguhnya aku menurut sangka-sangka hambaku apabila mereka menyangka baik maka akan menjadi baik , kalau mereka menyangka buruk maka akan jadi buruk juga jadinya. setan menganggu manusia juga atas seijin Allah SWT ,dalam firman Allah : tidak akan bergerak satu biji jarah pun tanpa seijin dan hendak ku. Alah yang mendatangkn cobaan dan godaan kepada manusia agar manusia kembali ketujuan hidup yang sesungguhnya. Manusia tidak terlepas dari tipu daya setan, karena syitan masuk ketubuh manusia melalui peredaran darah. hanya mereka yang ikhlas kepada Allah dan senantiasa ingat akan Allah lah yang bisa terlepas dari tipu daya syaitan, karena Allah akan memelihara mereka dan menjaga mereka. dan mursyid murobbi sebenarnya guru sejati ada pada diri sendiri.

  16. bleGug on said:

    wwooooo….w
    mau dong kopi buku2 capita selecta I & II…?
    elektronik boleh, fotokopi boleh…
    sufimuda, ditunggu email infonya yaaaa…?

  17. Buku Kapita Selekta bisa di dapat di surau2. Tentang boleh atau tidak di photo copy bisa di tanyakan kepada pengurus suraunya…
    Saya tidak punya Kapita Selekta dalam bentuk soft copy..
    Salam

    • Assalamu”alaikum.

      Salam kenal buat Abgd Sufi Muda.
      Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya nama Abgd?
      Abgd orang surau ya? Dari BKS mana ya?
      Saya di BKS Tuban JATIM bg
      Saya salut dan bangga dgn karya Abgd!!
      Sukses selalu buat Abgd Sufi Muda!!!
      HAPPINES IS THE KEY TO SUCCES.
      SELAMAT BERKARYA………!!!!

      Wassalamu”alaikum.

  18. bleGug on said:

    ehm.. kebetulan saya punya salinan ‘Teknik Munajat ke Hadirat Allah SWT’ dari guru… yang saya belum tau darimana sumber tulisannya. “Kepenasaran” saya berbuah hasil menemukan rujukan sumber tsb.. yaitu situs dan blog yang memuat tentang Asy Syaikh Prof. Khadirun Yahya (semoga Allah ‘Azza wa Jalla memeluknya mesra)

    kebetulan, di daerah saya ‘belum’ ada surau… hanya pos info saja.. nanti saya coba kunjungi langsung..
    terima kasih responsnya, semoga kita semua berhasil senantiasa bergabung dgn Arwahul Muqaddasah Rasululllah saw. dalam memandang wajah Allah SWT. Amin

  19. qarrobin on said:

    Alhamdulillah ada blog yang membahas tentang Ayah Guru, saya juga murid beliau

    Dulu saya pernah punya buku beliau yang membahas tentang energi yang dibutuhkan tongkat nabi musa untuk membelah lautan. Tapi bukunya hilang di pinjam teman

    Minta tolong nih sama Sufi Muda, tolong di bahas disini ya, kalo udah kasih tahu saya di blog saya

    wassalam, qarrobin djuti

  20. syaefullah on said:

    KRITIK HADIST TENTANG ISRA MIRAJ
    Oleh: syaefullah

    Materi ini sebagai kelanjutan dari kritik hadist dengan Al-quran sebagai pedomannya. tujuan dari pembahasan ini adalah agar seluruh ummat Islam dapat memilah sunnah-sunnah yang bisa dijadikan sandaran hukum sehingga tidak menjerumuskan ummat pada kekeliruan yang resikonya amat sangat membahayakan diri dan orang lain.

    Oleh karena itu kita perlu menelaah sunnah-sunnah yang selama ini beradar di masyarakat Islam dan sudah diyakini sebagai sesuatu yang hak karena diriwayatkan dengan sanad hadits yang oleh sebahagian besar ulama hadits sebagai hadits “sahih”, namun setelah ditelaah isi atau redaksi hadits tersebut banyak yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an.

    Mengapa harus Al-Qur’an sebagai standarisasi…? Karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena segala ucapan, perbuatan dan diamnya Rasulullah SAWW adalah wahyu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah.

    QS. 53 (An-Najm): 3 – 4
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
    Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

    Dengan tegas dan jelas Allah menyatakan melalui firman-Nya bahwa apa yang diucapkan, apa yang diperbuat serta diamnya Al-Musthofa Rasulullah SAWW bukanlah mengikuti hawa nafsu yang dipengaruhi oleh syetan, akan tetapi senantiasa didasarkan pada “Wahyu” yang disampaikan kepada Beliau.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawuud, Ahmad dan lain-lain dijelaskan sebagai berikut:

    UKTUB.! FAWALLADZII NAFSII BIYADIHI MAA KHOROJA MINNI ILLA HAQQUN.
    Artinya: Tulislah ! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya! Tidak keluar dariku melainkan kebenaran.

    Oleh karena itu kita perlu memeriksa kebenaran suatu hadits. Kita tidak menyangsikan bahwa apa yang keluar dari diri pribadi Rasulullah SAWW adalah kebenaran yang dapat dibuktikan. Dan sebagai alat pembuktinya adalah Kitab suci Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah Akhlaq Rasulullah SAWW, karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena Rasulullah SAWW adalah Al-Qur’an yang berjalan.

    Tatkala sesorang menerima dan mengimani hadits-hadits yang tidak senafas dengan Al-Qur’an maka secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak maka orang tersebut telah melakukan hal yang teramat membahayakan dirinya dan orang lain, hal yang dimaksud adalah:

    1. Menghina, memfitnah dan merendahkan Allah.
    2. Menghina, memfitnah dan merendahkan Rasulullah SAWW.
    3. Menghina, memfitnah Malaikat Allah.
    4. Menghina dan merendahkan kebenaran Kitab Suci Al-Qur’an.

    Jika sudah demikian maka Allah tidak akan meridhoi dan Rasulullah SAWW tidak akan memberikan syafa’atnya. Dan sekalian malaikat serta orang-orang yang mencintai Allah dan Rasulullah SAWW akan melaknat mereka.” Na’udzu billahi min dzalik”

    Pada materi ini kita akan menelaah sebuah hadits yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid I, Hadits no. 211 riwayat Anas bin Malik.Hadits. hadits tersebut mengkisahkan perihal Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
    dan kita akan memuat Hadist riwayat Muslim, yaitu hadits yang terdapat dalam kitab hadits “Sahih Muslim” Cetakan kelima 1997, diterbitkan oleh KLANG BOOK CENTRE Malaysia. Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.Hadits no. 137 riwayat Abu Dzar Al-Ghifaari dan hadits no. 138 riwayat Malik bin Sha’sha’ah. Ketiga hadits tersebut mengkisahkan perihal Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya yang kami kutif dalam pembahasan ini adalah hadits Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.

    Dari anas bin Malik r.a. katanya Rasulullah SAW. Bersabda: “Jibril membawakan kepadaku seekor “Buraq” yaitu sejenis hewan berwarna putih, lebih panjang dari keledai dan lebih pendek daripada baghal. Ia dapat melompat sejauh mata memandang. Hewan itu lalu kutunggangi sampai ke Baitul Makdis. Sampai di sana hewan itu kutambatkan di tambatan yang biasa digunakan para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua raka’at. Setelah aku keluar. Jibril datang membawa dua bejana , yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Aku memilih susu. Kata Jibril”Anda memilih yang benar.” Kemudian kami dibawa ke langit. Lalu Jibril meminta supaya dibukakan pintu. Jibril ditanya, “Anda siapa?” Sahut Jibril, “Aku Jibril!” Tanya “Siapa bersama Anda?” Jawab: “ Muhammad !” Tanya: “Sudah diutuskah dia (menjadi Rasul)?” Jawab: “Ya benar! Dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku berjumpa dengan Adam. Beliau mengucapkan “Selamat Datang “ kepadaku serta mendoakanku semoga beroleh kebaikan. Kemudian kami naik ke langit kedua. Jibril a.s minta dibukakan pula pintu. Lalu dia ditanya, “Siapa Anda?.” Jibril menjawab, “Aku Jibril!” Tanya: “siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jawab: “Ya , dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak dan paman , yaitu ‘Isa anak Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimas salam. Keduanya mengucapkan “Selamat Datang” kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya.” Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril!” Tanya: “ siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad Saw.!” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya sudah diutus!” Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan nabi Yusuf as. Yang kecantikannya seperdua dari kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Sesudah itu kami dibawa ke langit keempat. Jibril a.s minta supaya dibukakan pula. Dia ditanya: Siapa Anda?” Jawab; “Aku Jibril!” Tanya, “Siapa bersama Anda?” Jawab, “Muhammad Saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus.” Jawab:” ya, dia sudah diutus.” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris a.s. Dai mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Firman Allah: “Kami naikkan dia (idris) ke tempat yang tinggi” (Maryam: 57). Kemudian kami naik kelangit kelima. Jibril a.s minta dibukakan pintu. Dia ditanya, “Siapa Anda?” Jawab, “Aku Jibril!” Tanya: “Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jwab: “Ya, dia sudah diutus” Setelah itu pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Harun as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudian kami naik ke langit ke enam. Lalu Jibril minta dibukakakan pintu. Dia ditanya, “Siapa anda?” Jawab:”Aku Jibril.” Tanya: “Siapa bersaman Anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “apakah dia sudah diutus?” Jawab: ”Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Musa a.s. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudia kami naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya, “ Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril.” Tanya: “ Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu, lalu pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim a.s sedang bersandar di Baitul Ma’mur, di mana 70.000 malaikat setiap hari masuk ke dalamnya dan mereka tidak pernah kembali lagi dari situ. Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, mendapatkan sebatang pohon yang daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia tertutup dengan kehendak Allah, ia berubah sehingga tidak satupun makhluk Allah yang sanggup mengungkapkan keindahannya. Lalu Allah menurunkan wahyu kepadaku, mewajibkan shalat 50 kali sehari semalam, sesudah itu aku turun ke tampat Musa a.s. Musa bertanya, Apakah yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?” Jawabku, “Shalat 50 kali.” Kata Musa.” Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Aku sendiri telah mencoba kepada Bani Israil.” Kata Nabi saw. “ Aku kembali kepada Tuhanku, lalu kau memohon, “ Ya Tuhan ! Berilah umatku keringanan!” maka Allah menguranginya lima.” Sesudah itu aku kembali kepada Musa. Kataku, “Allah menguranginya lima.” Kata Musa, “Umatmu tidak akan sanggup menunaikannya sebanyak itu, karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.” Kata nabi saw selanjutnya, “ Aku jadi bewrulang ulang pulang pergi antara Tuhanku Tabaraka wata’ala dengan Musa, sehingga akhirnya Allah berfirman:” Kesimpulannya ialah shalat lima kali sehari semalam. Bagi tiap-tiap satu kali shalat, sama nilainya dengan sepuluh shalat; maka jum;lah nilainya 50 juga. Dan siapa yang bermaksud hendak berbuat kebajikan, tetapi tidak dilaksanakannya, dituliskan untuknya (fahala) sepuluh kebajikan. Dan siapa bermaksud hendak berbuat kejahatan, tetapi tidak dilaksanakannya , tidak akan ditulis apa-apa baginya. Tetapi jika dilaksanakannya, maka ditulis baginya balasan satu kejahatan. Sesudah itu aku turun kembali ke tempat Musa a.s, lalu ku ceritakan kepadanya apa yang difirmankan Tuhanku itu. Kata Musa, kembalilah pada Tuhanmu, dan mintalah keringanan .” Jawab Rasulullah saw., “Aku telah berulang kali kembali kepada Tuhanku meminta keringanan, sehingga aku malu kepada-Nya.

    Kita mengimani dan meyakini bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj yang dialami oleh imam suci Rasulullah SAWW adalah benar-benar telah terjadi. Dalam peristiwa tersebut Rasulullah SAWW berangkat dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha di Palestina dengan mengendarai “Buraq” dan dikawal oleh malaikat Jibril as. sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat 17 (Al-Isra’):1 : Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Kemudian Rasulullah mi’raj menuju langit pertama sampai langit ketujuh masih dengan kendaraan “Buraq” dan dikawal oleh MalaikatJIbril as. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat 70 (Al-Ma’rij): 4
    Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.

    Kunjungan Rasulullah SAWW dilanjutkan sampai “Shidrotul Muntaha” kemudian ke Arsy berjumpa dengan Allah SWT yang kemudia menerima wahyu (perintah shalat bagi ummat Rasulullah SAWW). Dan inipun dijelaskan dalam Al-Qur’an surat 53 (An-Najmi): 1 – 18 :
    1. Demi bintang ketika terbenam.
    2. Kawanmu (Muhammad Rasulullah) tidak sesat dan tidak pula keliru.
    3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
    4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
    5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
    6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
    7. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.
    8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
    9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad Rasulullah sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
    10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad Rasulullah) apa yang Telah Allah wahyukan.
    11. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya.
    12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?
    13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
    14. (yaitu) di Sidratil Muntaha.
    15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
    16. (Muhammad Rasulullah melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
    17. Penglihatannya (Muhammad Rasulullah) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
    18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

    Setelah menelaah hadits-hadits tersebut di atas yang menjelaskan tentang peristiwa ”Isra’ dan mi’raj” yang dialami Al_Musthofa Rasulullah SAWW, terdapat banyak sekali kisah-kisah yang justru menimbulkan tanda tanya besar dan tidak bisa kita terima, mengapa..? karena didalam hadits-hadits tersebut terdapat kisah-kisah yang sangat membahayakan aqidah ummat Islam. Didalam hadits-hadits tersebut terdapat kisah yang memfitnah Allah, memfitnah Rasulullah SAWW dan memfitnah malaikat Jibril, hadits-hadits tersebut dianggap benar dan diyakini oleh sebagian besar ummat Islam.

    Yang manakah kisah yang dimaksud…? Mari kita simak Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.

    Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua raka’at. Setelah aku keluar. Jibril datang membawa dua bejana , yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Aku memilih susu. Kata Jibril”Anda memilih yang benar.”

    Pertama : Setelah membaca kisah di atas timbul beberapa pertanyaan yang amat mendasar, yang pertama apakah benar Jibril membawakan Khamar dan susu kepada Muhammad Rasulullah SAWW? Yang kedudukan beliau sudah diangkat sebagai Rasul Rahmatan lil alamin, kalaupun Jibril hendak menjamu Rasulullah SAWW. Apakah layak khamar disajikan kepada Imam Suci Rasulullah SAWW, hamba pilihan Allah dan manifestasi diri Allah ta’ala sendiri..?. Jika apa yang dilakukan oleh Jibril adalah untuk menguji kebenaran Rasulullah SAWW. dalam memilih mana minuman yang terbaik bagi kesehatan manusia, apakah pantas malaikat Jibril mengetes Rasulullah SAWW yang maqom dan kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia dari Jibril..??. Apapun yang dijadikan alasan tentang mengapa Jibril as. menyediakan khamar bagi Rasulullah SAWW. adalah tidak bisa diterima.
    Bukankah jiwa rasulullah selalu terdidik oleh Allah, bahkan sebelum diutus kebumi namanya sudah diumumkan oleh Allah, juga Rasulullah adalah pemimpin nabi-nabi.

    Kedua :
    Kemudian kami dibawa ke langit. Lalu Jibril meminta supaya dibukakan pintu. Jibril ditanya, “Anda siapa?” Sahut Jibril, “Aku Jibril!” Tanya “Siapa bersama Anda?” Jawab: “ Muhammad !” Tanya: “Sudah diutuskah dia (menjadi Rasul)?” Jawab: “Ya benar! Dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku berjumpa dengan Adam. Beliau mengucapkan “Selamat Datang “ kepadaku serta mendoakanku semoga beroleh kebaikan. Kemudian kami naik ke langit kedua. Jibril a.s minta dibukakan pula pintu. Lalu dia ditanya, “Siapa Anda?.” Jibril menjawab, “Aku Jibril!” Tanya: “siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jawab: “Ya , dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak dan paman , yaitu ‘Isa anak Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimas salam. Keduanya mengucapkan “Selamat Datang” kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya.” Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril!” Tanya: “ siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad Saw.!” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya sudah diutus!” Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan nabi Yusuf as. Yang kecantikannya seperdua dari kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Sesudah itu kami dibawa ke langit keempat. Jibril a.s minta supaya dibukakan pula. Dia ditanya: Siapa Anda?” Jawab; “Aku Jibril!” Tanya, “Siapa bersama Anda?” Jawab, “Muhammad Saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus.” Jawab:” ya, dia sudah diutus.” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris a.s. Dai mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Firman Allah: “Kami naikkan dia (idris) ke tempat yang tinggi” (Maryam: 57). Kemudian kami naik kelangit kelima. Jibril a.s minta dibukakan pintu. Dia ditanya, “Siapa Anda?” Jawab, “Aku Jibril!” Tanya: “Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jwab: “Ya, dia sudah diutus” Setelah itu pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Harun as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudian kami naik ke langit ke enam. Lalu Jibril minta dibukakakan pintu. Dia ditanya, “Siapa anda?” Jawab:”Aku Jibril.” Tanya: “Siapa bersaman Anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “apakah dia sudah diutus?” Jawab: ”Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Musa a.s. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudia kami naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya, “ Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril.” Tanya: “ Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu, lalu pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim a.s sedang bersandar di Baitul Ma’mur.

    Kisah tetang naiknya Rasulullah SAWW dengan kendaraan Buraq dan dikawal oleh malaikat Jibril kemudian berjumpa dengan nabi-nabi dan berdialog dengan Rasulullah SAWW. bisa diterima dan dapat dibenarkan. Tetapi kisah yang menyatakan bahwa penjaga langit pertama sampai langit ketujuh bertanya “Siapa Anda.? Siapa yang beserta anda? Apakah dia sudah diutus ? jelas-jelas tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan, mengapa…? Argument yang dapat kita berikan adalah:

    1. Bahwa penjaga pintu langit pertama sampai ketujuh adalah para malaikat, sedangkan yang datang dan meminta dibukakan pintu adalah pimpinannya para malaikat yaitu Jibril as. apakah malaikat penjaga langit tidak mengenal siapa yang datang sehingga dia bertanya siapa anda? Lantas jibril menjawab “Aku Jibril. Hanya anak buah yang yang bodoh yang tidak mengenali pimpinannya.

    2. Kedudukan Rasulullah yang dimuliakan dan cintai oleh Allah telah dipublikasikan oleh Allah kepada seluruh makhluk diseluruh alam, baik di alam nyata maupun alam ghoib termasuk para malaikat. Dengan adanya petanyaan siapa yang beserta anda? Dijawab Jibril:’Muhammad SAW.” Apakah dia sudah diutuas menjadi rasul ? dijawab Jibril: “Ya, dia sudah diutus” hal ini mengisyaratkan bahwa para malaikat penjaga langit kesatu sampai ketujuh tidak mengenal Imam Suci Rasulullah SAW dan mereka belum tahu bahwa beliau sudah diangkat menjadi utusan Allah, padahal jauh sebelum peristiwa isra’ dan mi’raj berlangsung Al-Musthofa Muhammad Rasulullah SAWW telah ditetapkan sebagai pemimpin nabi-nabi dan rasul-rasul. Yang kedudukan Rasulullah lebih tinggi dari pada para semua makhluk Allah termasuk malaikat, yang namanya telah Allah Umumkan kepada semua Makhluk (termasuk Malaikat) jauh sebelum Muhammad Rasulullah diutus.

    Pertanyaan para malaikat penjaga langit tersebut mengisyaratkan bahwa Allah yang Maha Merencanakan segala sesuatu dengan jelas dan sempurna tidak melakukan koordinasi secara baik kepada para malaikat-malaikatnya, sehingga malaikat penjaga langit tidak tahu kalau Allah akan mengundang kekasih-Nya untuk berjumpa disinggasana yang agung.

    Siapakah yang salah…? Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit….?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat…? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…? Siapakah yang bodoh, Allah Swt yang mengutus Jibril …?, para malaikat penjaga langit…?, Jibril yang tidak becus mengatur anak buahnya..? Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat..? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…?.

    Allah, Rasulullah SAWW dan para malaikat tidak mungkin salah dan tidak mungkin bodoh. Jelas sekali itu semua adalah kesalahan dan kebodohan mereka yang meriwayatkan seperti itu, dan ini adalah fitnah yang telah dibuat oleh mereka yang mengaku umat Rasaulullah SAWW dan mengaku pencinta Rasulullah SAWW tetapi pada haqiqatnya mereka membeci Rasulullah SAWW. mereka telah menebarkan fitnah terhadap Allah, mereka menebarkan fitnah kepada Rasulullah SAWW dan para malaikat. Kedudukan mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka di dunia dan akhirat sudah jelas.

    Ketiga :
    Kisah tentang Rasulullah SAWW menerima perintah shalat langsung dari Allah adalah benar dan wajib diyakini. Akan tetapi tidak benar dan tidak bisa diterima apabila dikisahkan dan diriwayatkan bahwa Rasulullah menerima perintah shalat sebanyak 50 waktu dan Rasulullah SAWW dinasihati oleh nabi Musa as bahwa ummat Rasulullah SAWW. tidak akan mampu melaksanakananya, kemudian Musa as menasihati agar Rasulullah SAWW kembali untuk melakukan negosiasi kepada Allah agar perintah shalat dikurangi, Rasulullah SAWW pun melaksanakan nasihat nabi Musa as. Rasulullah SAWW beberapa kembali bernego sampai-merasa malu kepada Allah sehingga ditetapkanlah menjadi 5 waktu shalat.

    Mengapapa kita tidak boleh menerima dan tidak membenarkan riwayat tersebut.? Yang menjadi dasar penolakan kita adalah:

    1. Pada kisah dalam hadits tersebut di atas seakan-akan Allah tidak mengetahui batas kemampuan manusia, sehingga Allah memberikan perintah shalat 50 waktu. Jika demikian maka Allah telah menzhalimi manusia.
    Hal ini bertentangan dengan Firman Allah dalam Al-Qur’an surat 2 (Al-Baqarah): 286: ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

    Pada hadits tersebut di atas seakan-akan nabi Musa as lebih memamahi tentang batas kemampuan ummat Rasulullah ketimbang Rasulullah SAWW sendiri, seakan-akan martabat dan kepandaian nabi Musa as berada di atas Rasulullah SAWW sehingga berani-beraninya nabi Musa menasihati Rasulullah SAWW. bukankah Rasulullah SAWW sebagai imam/pimpinannya para nabi dan rasul-rasul…? Bagaimana mungkin nabi Musa as berani menasehati Rasulullah SAWW, sedangkan yang membenarkan ajaran nabi-nabi terdahulu termasuk nabi Musa as. adalah Rasulullah SAWW. dan memfitnah Rasulullah. Ini merupakan penghinaan terhadap pribadi Rasulullah. SAWW.

    2. Kisah yang lebih tidak bisa kita terima lagi adalah tatkala dinyatakan bahwa Rasulullah SAWW mengikuti nasihat nabi Musa as. sehingga melakukan tawar-menawar kepada Allah sehingga waktu shalat dikurangi dari 50 menjadi 5 waktu.

    Bagi mereka yang mengimani kisah ini dan masih hidup di dunia hendaknya segera bertaubat dan mohon ampun kepada Allah dan Rasulullah SAWW. karena mereka telah mengimani kisah yang keliru, tanpa sadar mereka telah memfitnah Allah seakan-akan Allah salah dalam memilih Rasulullah menjadi pemimpin nabi-nabi dan rasul-rasul dan salah dalam menetapkannya sebagai nabi penutup, karena Rasulullah masih berani tawar-menawar terhadap tugas yang harus disampaikan kepada umat. Padahal salah satu sifat Rasulullah SAWW yang dijelaskan dalam Al-qur’an surat 5 (Al-Maidah) ayat 7 adalah: ”Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang Telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).”

    Itulah sifat Rasulullah dan orang-orang yang beriman, mereka senatiasa sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati), bukan kami dengar tapi kami tawar-tawar. Hanya orang bodoh dan tidak berharaf syafaat Rasulullah yang berani menyatakan bahwa Rasulullah SAWW bolak-balik tawar menawar dengan Allah.
    yang membenarkan ajaran nabi-nabi terdahulu termasuk nabi Musa as. dan memfitnah Rasulullah SAWW.

    Siapakah yang salah…? Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit….?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat…? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…? Siapakah yang bodoh, Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit…?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat..? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…?.

    Allah, Rasulullah SAWW dan para malaikat tidak mungkin salah dan tidak mungkin bodoh. Jelas sekali itu semua adalah kesalahan dan kebodohan mereka yang meriwayatkan seperti itu, dan ini adalah fitnah yang telah dibuat oleh mereka yang mengaku umat Rasaulullah SAWW dan mengaku pencinta Rasulullah SAWW tetapi pada haqiqatnya mereka membeci Rasulullah SAWW. mereka telah menebarkan fitnah terhadap Allah, mereka menebarkan fitnah kepada Rasulullah SAWW dan para malaikat. Kedudukan mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka di dunia dan akhirat sudah jelas.

    Mungkin ada sebahagian saudara-saudara kami kaum muslimin yang merasa keberatan dengan pernyataan ini, mereka keberatan karena kami tidak sefaham dengan mereka dan kami mempersalahkan orang-orang yang meriwayatkan dan menuliskan kisah tersebut apalagi periwayat dan penulis kisah tersebut adalah ulama besar yang diakui dalam dunia Islam.

    Para ikhwan sekalian yang kami cintai bukalah mata hati dan fikiran sehat anda…!

    Bahwasanya Ulama yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulullah SAWW serta memahami Al-Qur’an secara baik dan benar tidak akan pernah berani meriwayatkan, mengkisahkan dan menulis kisah yang isinya merendahkan martabat Allah dan Rasulullah SAWW baik secara tersurat dan tersirat. Kalau memang ia benar-benar mencintai Rasulullah SAWW tidak akan mungkin berani menisbatkan kekurangan atau keburukan bagi Rasulullah SAWW. karena Rasulullah SAWW adalah sempurna, senantiasa di bimbing oleh wahyu Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan dan diamnya.

    Sungguh aneh bin ajaib…Ketika ulama yang menghina, memfitnah Allah dan Rasulullah SAWW, serta menyesatkan ummat dikritisi banyak saudara kita kaum muslimin tidak terima bahkan sibuk membela ulama tersebut. Tetapi tatkala Rasulullah SAWW yang telah mewariskan mu’jizat Al-Qur’an dan pemberi syafa’at dihina, difitnah dan dideskreditkan mereka diam saja.

    Keempat : Kedudukan Al-Quran

    Di dalam QS.Al-Baqarah/2 : 2 : ”Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

    Di dalam QS.Al-Baqarah/2 : 91
    ”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami Hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”

    Jadi dalam ayat ini jelas bahwa Alqur’an adalah kitab yang paling nyata dan tidak ada keraguan didalammnya, dan Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung berkah dan hikmah, ini merupakan isyarat bahwa kita harus benar-benar mempelajari, membahami dan mentadaburi Al-Qur’an. Dan Marilah kita meluruskan Hadist-hadist yang tidak senafas dengan Al-quran,

    Kesimpulannya, Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.Hadits no. 137 riwayat Abu Dzar Al-Ghifaari dan hadits no. 138 riwayat Malik bin Sha’sha’ah. Yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH MUSLIM” dan di dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid I, Hadits no. 211 riwayat Anas bin Malik.Hadits adalah SANGAT BERTENTANGAN DENGAN AL-QURAN, SEHINGGA HADIST INI TELAH MENGHINA, MEMFITNAH DAN MENYESATKAN UMMAT ISLAM.
    Allahumma shali ala muhammad wa ala aly muhammad

    • Salam kenal sdr. Syaefullah

      Hadits tentang Isra’ Mi’raj tsb diambil dari kitab Shahih Bukhari-Muslim, sedangkan kitab tsb adalah kitab yg paling shahih setelah Al Qur’an dan menjadi pegangan umat Islam. Kalo peristiwa Isra’ Mi’raj dlm Shahih Bukhari-Muslim tsb keliru, maka tidak tertutup kemungkinan banyak hadits-hadits yg lainnya juga keliru. Berarti banyak umat Islam telah tersesat, karena meyakini kitab Shahih Bukhari-Muslim yg tidak Shahih. Lalu yg benar itu menurut anda yg bagaimana?

      Wass. Wr. Wb.

      • bleGug on said:

        yang benar… yang saya bahas di atas (kata syaefullah) .. nah lhoooooo…

        Hati2 dengan .. ‘asumsi’… ‘seakan-akan’.. ‘menyesatkan umat islam’… umat islam yang mana? Saya kok tidak menjadi ‘disesatkan’ oleh riwayat di atas..
        Para ‘pelaku’ dalam riwayat tsb benar, alur ceritanya juga..

        Masalah ada orang yang ‘tidak suka’ kondisi Jibril as dan Rasulullah ‘ditanya-tanya’, Rasulullah ‘mesti’ bolak-balik, perintah Allah SWT ‘ditawar-tawar’.. ya sah-sah saja
        gimana kita mengartikan itu semua.. tapi inti riwayat itu bukanlah di poin2 tsb.. melainkan pada kandungan2 sains dan kemuliaan peristiwa Isra` Mi`raj nya..

        yo wis, beribadahlah dengan yakin
        yang penting itu sholat 5 waktunya..

        dan pandai2lah mengkaji hadits.. dengan nuur yang diberikan Allah SWT kepada kita melalui hamba2Nya.. kalau belum dapet, ya istirahat di tempat dulu aja… nyantai

    • Gita Kamila on said:

      syaefullah

      jadi maksudnya anda yang paling berhak diikuti pemahamannya, ya…….????

  21. @Saefullah
    Asslm
    Salam kenal dari saya…….
    Abang Saefullah yang saya hormati bisa dijelaskan pada saya tentang Hadits Shahih itu……
    Berarti Hadits Shahih itu belum tentu bisa dipercaya ya…….atau ada oknum yang sengaja merusak kandungan isi dari Hadits, kalau memang ada berarti lagi masih ada dong Hadits Shaihih yang masih murni kandungan isinya….lho kok jadi bingung ni saya…..
    Demiklian kurang lebihnya mohon maaf
    wassalam

  22. syaefullah on said:

    Semua Ulama tidak maksum, kecuali Ahlul Byt baginda Rasulullah yang maksum (QS al-ahzab 33),
    SAya hanya menyampaikan peristiwa isra Miraj berdasarkan jalurnya Al-Quran, tidak ada asumsi disitu..bukankah saya juga menyampaikan bukti/nash Qurannya???.

    saya tidk mengatakan SEMUA hadist yg diriwayatkan Bukhari Muslim tdk benar, tetapi dlm riwayat ini banyak ternyata tdk sesuai dng dalil Nash Quran, dan ITU BUKAN ASUMSI SAYA (coba buktikan asumsi yang mana??) Bukhari/muslim sudah banyak berjasa dalam syiar Islam, dan kita harus menghormatinya…namun hal tsb tetap tidak akan menutupi kemungkinan kesalahan dari apa yg disampaikan(karena mereka tdk maksum).

    saya mengajak kepada semuanya untuk dapat kembali kepada Al-Quran dan dapat selalu mengkritisi hadist-hadist ‘nyeleneh yg bertentangan dng Quran’, dari siapapun Mazhab/perawinya. dan imanilah hadist yang senapas dng Quran.
    SHALAWAT!!!

    • Berarti hadis dari kitab Shahih Bukhari-Muslim, ada hadis yg tidak shahihnya. Aneh ya kitab shahih, namun ada yg tidak shahihnya ! 😮

    • Asssalamu’alaikum saudaraku Syaefullah..
      dinginkan dulu..

      Begini,… apa-apa yg saudara Syaefullah sampaikan berupa nash-nash, adalah benar… kenyataan bahwa Al Qur’an haruslah menjadi rujukan utama, adalah benar.. dan hal tersebut bukanlah asumsi.. itu pun benar

      Tetapi, setelah menyebutkan nash tsb, ada tambahan ‘penjelasan’ dari anda.. kalau mengutip kalimat yang anda gunakan, adalah sebagai berikut : “…jelas-jelas tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan, mengapa…? Argument yang dapat kita berikan adalah:….”
      begitu pula poin-poin di bawahnya dan juga poin yang menjadi dasar-dasar penolakan..
      dan juga pada saat ‘menghubungkan’ atau ‘membenturkan’ satu nash dengan nash yang lain .. (ini anda tulis sendiri, lho..)

      Nah sekarang, kita ‘lihat’ kembali kapasitas diri kita sendiri dalam ‘mencerna’ makna suatu nash.. baik itu hadits maupun ayat Al Qur’an.

      Sejauh mana kita menguasai ilmu tafsir, asbabun nuzul atau asbabul wurud..?

      Apabila kita ini ‘biasa-biasa’ saja… maka kita akan menggunakan interpretasi umum, persepsi (sesuai wawasan dan latar belakang kita) atau pun asumsi, dalam mengejar suatu pemahaman..

      Untuk kejadian isra’ mi’raj.. kita sudah pasti tidak mengalaminya sendiri… juga tidak mendengar langsung dari lisan Rasulullah yang mulia…
      Seringkali kita membaca riwayat tsb atau mendengar dari orang lain (ulama, ustadz, da’i…dst)

      apakah itu asumsi? Belum…. (Asumsi = Anggapan)

      Pada saat kita mencoba mencerna, sesuatu yang belum/tidak pernah kita alami… maka kita akan berasumsi..
      Begitu pula, asumsi akan muncul ketika kita ‘menghadapkan’ cerita tersebut dengan data/fakta yang lain, yang juga benar…
      dan… kita akan menemukan kebenaran apabila semua sesuai dan tepat, pas… tetapi, akan meleset apabila keliru dalam menghubungkan data dgn fakta (yang tentu dalam hal ini yang sama-sama benar, lho..)

      Paham…? Sudah jelas kan, yang mana yang disebut asumsi.. ?
      Ya itu tadi, persepsi subyektif yang mendasari munculnya argumen-argumen tadi… (bukan nash nya, lho…)

      Jadi, asumsi tidaklah bertendensi negatif… bisa positif. Meski belum bisa dikategorikan sebagai kebenaran yang final atau kebenaran yang sesungguhnya…

      Nah, kalo ternyata sudah tahu, saya cuma mengingatkan kembali saja… gampang toh?

      wassalam

      • @syaefullah

        Kata anda : Semua Ulama tidak maksum, kecuali Ahlul Byt baginda Rasulullah yang maksum (QS al-ahzab 33),

        Pertanyaan saya : Bagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj menurut anda yg bersandar kepada Ahlul Byt tsb?

        • syaefullah on said:

          saya sudah menjelaskan menggunakan ayat Quran diatas,
          Intinya : jika ada yang meriwayatkan dari berbagai sumber dan berbagai mazhab/aliran. jika ada yang bertentangan /tdk senafas dengan Quran maka kita harus dapat mengkritisinya.

          • Kalo begitu kita harus curiga dan hati2 kepada kitab Shahih Bukhari-Muslim, karena tidak semuanya Shahih. Padahal kitab tsb ada disetiap majelis2 taklim dan di mesjid2, serta menjadi pegangan bagi umat Islam setelah Al Qur’an. Saya kira ada peristiwa Isra Mi’raj menurut pemahaman anda.

            Wassalam

  23. pena_Qolbu on said:

    dalam pendakian (salik) kita menuju Allah,syarat yang sangat penting dan wajib diyakini adalah tentang Kemaksuman Baginda Rasulullah Saww. karena Rasulullah adalah permata terindah/kecintaan Allah..

    Sebanyak apapun wirid/zikir/tawajuh kita, TIDAK AKAN BERGUNA TANPA SYAFAAT/WASILAH/CINTA KASIH Baginda Rasulullah Saww, dan HIMMAH para pewaris Keilmuan Baliau yang ditanamkan dalam Dada2 alwaris (ulil Albab) Rasulullah.

    mari kita mengajak untuk selalu membersihkan nama baginda Rasulullah dari fitnah/prasangka yang negatif (segala hal negatif yang disandingkan kepada Rasulullah), dengan berdasarkan Quran. walaupun ada dasar Hadist super shahih, Hadist Qudsi, atau apapun yang lainnya..kecuali ada dalil Quran yang memjelaskan ttng hal negatif Rasulullah (dan saya super yakin tidak akan ada)

    Berfanatiklah Kpad Allah, dan Rasulullah…..

  24. @syaefullah

    Nampaknya sampean pintar ngomong ya…..

    Hadits Shahih Bukhori sudah jelas bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, berdasarkan para ulama yg menggunakannya sebagai sandaran pengkajian / ajaran / sunnah Rosululloh

    Kalau uraian sampean di atas itu kan persepsi dari sampean apa sampean tahu Rahasia Allah yg sudah mengatur sedemikian rupa…

    Tunjukkan siapa yg merendahkan Allah dan Rosululloh !

    • syaefullah on said:

      @paijo
      tolong bantah dengan ayat dong mas, semua saya sampaikan ada nash nya.

      ingat tidak ada seorang pun ulama yang maksum (mereka bisa salah dan benar). menghormati ulama Wajib, tetapi tdk dengan harus berfanatik buta thd semua fatwanya.
      ingat hanya Quran yang sebagai penjelas dan tdk ada keraguan didalamnya.

      saya sudah menunjukan siapa yang merendahkan Allah dan Rasulullah dng tulisan diatas, skr saya minta mas tunjukan mana tulisan saya yg tdk sesuai berikut dalilnya??
      shalawat…

  25. syaefullah on said:

    @mbak Gita kamila,
    saya hanya mencoba untuk menjungjung tinggi dan berusaha membersihkan baginda Rasulullah saww, dari fitnah/faham yang secara sadar/tdk sadar telah menyudutkan Rasulullah saww (kecintaan dan kekasih kita)

    bukankah seharusnya kita merasa SENANG, GEMBIRA, berSUKA CITA ternyata RASULULLAH TIDAKK
    1. melawan Allah karena beliau menolak untuk melaksanakan 50 rakaat, bukankah Sifat Rasulullah selalu
    TAAT (SAYA DENGAR DAN SAYA LAKSANAKAN) surat 5 (Al-Maidah) ayat 7.
    2. dan kabar2 yang menydutkan lainnya …..

    QS. 53 (An-Najm): 3 – 4
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

    shalawat…

  26. @gunawan / @ gita kumila
    :))) seru nich

  27. @syaefullah,

    Anda membuat pernyataan::

    Kesimpulannya, Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.Hadits no. 137 riwayat Abu Dzar Al-Ghifaari dan hadits no. 138 riwayat Malik bin Sha’sha’ah. Yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH MUSLIM” dan di dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid I, Hadits no. 211 riwayat Anas bin Malik.Hadits adalah SANGAT BERTENTANGAN DENGAN AL-QURAN, SEHINGGA HADIST INI TELAH MENGHINA, MEMFITNAH DAN MENYESATKAN UMMAT ISLAM.

    Pertanyaan saya:

    Adakah nash hadits lain yg SHAHIH tentang peristiwa Isra Mi’raj?

  28. pena_Qolbu on said:

    @wawan,
    sepertinya anda tdk menyimak yang dikatakan oleh mas syaefullah,
    kesimpulan dari pola pikir dia adalah :
    :ingat tidak ada seorang pun ulama yang maksum (mereka bisa salah dan benar). menghormati ulama Wajib, tetapi tdk dengan harus berfanatik buta thd semua fatwanya.
    ingat hanya Quran yang sebagai penjelas dan tdk ada keraguan didalamnya. ”

    jadi menurut dia
    1. tidak ada istilah hadist sahih/paling benar/dijamin keabsahan sanad perawinya dll,
    2. tidak ada istilah hadist dhoif/lemah atau istilah2 kategori hadist lainnya….
    karena semuanya ditulis oleh ulama (manusia biasa yang tdk maksum) yang tidak dijamin oleh ALLAH keasliannya (hanya Quran).
    jadi peristiwa yang patut/wajib (dan pasti benar) diyakini adalah sudah ada diquran.

  29. @syaefullah

    ” Bila ada perbedaan dan pertentangan kembalilah kepada Al Qur’an dan Hadits ”

    Selanjutnya apa fungsi Hadits terhadap Al Qur’an ? lebih-lebih Hadits Shahih….

    Kalau masih meragukan dengan alasan : Tidak ada ulama yang Maksum…. saya lebih percaya Bukhori-Muslim dari pada sampean…….

    -Malaikat penjaga langit punya hak untuk bertanya siapapun yang datang tidak perduli yg datang Jibril,Nabi,syaefullah atau paijo ( seperti malaikat penjaga kubur ,siapapun yg dikubur selalu akan ditanya..)

    -Nabi Muhammad tdk pernah menawar dari perintah Allah,pd waktu menerima perintah sholat 50 kali beliau menerima dan turun kembali ke langit,

    di langit VI bertemu dengan Nabi Musa disinilah Nabi Musa memberikan saran kepada Nabi Muhammad untuk mendapatkan keringanan menjalankan sholat 50 kali itu, hingga menjadi 5 kali ( kenapa yg memberikan saran kok Nabi Musa….ya karena Allah mengingatkan Nabi Muhammad lewat Nabi Musa yg mengatakan bahwa umat Muhammad tidak akan mampu untuk menjalankan kuwajiban sholat 50 kali itu) Kalau diartikan peristiwa ini juga merupakan ujian kepatuhan Nabi Muhammad untuk menjalankan perintah Allah, yg pada akhirnya Allah memberikan keringanan agar umat Muhammad menjalankan sholatnya menjadi 5 kali, karena Allah Maha tahu dari kemampuan manusia.

    Tidak beda dg kisah Nabi Ibrahim pd waktu diperintah Allah untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail) yg pada akhirnya Allah menggantiNya dengan seekor kambing.
    Kisah inipun pasti akan dibantah oleh syaefullah…mana mungkin Allah memberikan perintah Manusia menyembelih manusia dengan alasan merendahkan Allah dan Nabi Ibrahim.

    Saya tidak menggunakan cuplikan ayat Al-Qur’an maupun kisah dari Hadits…..selain saya bodoh,paling-paling nanti dikatakan sampean lagi tidak maksum..

    ini merupakan persepsi dari saya, yg tidak suka silahkan buat persepsi lain seperti syaefullah.

  30. syaefullah on said:

    @paijo
    maaf mas, logika anda RANCU
    1. anda bil : -Nabi Muhammad tdk pernah menawar dari perintah Allah,pd waktu menerima perintah sholat 50 kali beliau menerima dan turun kembali ke langit, tetapi Kenapa Rasulullah meminta keringanan jadi 5 kali-bukankah ada tawar menawar disitu.
    2. anda bil : sama dng kisah nabi ibrahim;
    a) kisah Nabi Ibrahim
    apa yang beliau katakan ketika ALLAH memerintahkan menyembelih anaknya (dlm mimpi) = LANGSUNG BERKATA IYA, TANPA TAWAR MENAWAR.
    QS As-saffat/37 : 101-103: “maka ketika keduanya telah berserah diri ..untuk melaksankan perintah ALLAH”
    qs:2 : 131 : “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
    kesimpulan
    1. Nabi Ibrahim sudah ditinggikan derajatnya oleh ALLAH sebagai bapaknya para nabi, langsung bertindak IYA, tanpa bertanya jawab lagi kepada ALLAH / anaknya. apalagi RASULULLAH (Jendral nya para ULUL AZMI), atau anda mau MEYAKINI ketaatan Rasulullah lebih rendah dibanding Nabi Ibrahim?.
    2. saya tdk berkayakinan ANti HADIST, tapi berkeyakiNan HADIST yang senafas AL-Quran.
    3. saya berkeyakinan : sedikit atau banyak asumsi negatif thd Rasulullah, adalah sangat penting diluruskan krn kita semua berharap syafaat Rasulullah…
    shalawat

  31. aihhh…mantabbb

  32. @syaefullah

    Enak aja sampean menyalahkan persepsi orang lain…sudah sy cuplikan kalimat :

    “Bila ada perbedaan dan pertentangan kembalilah pada Al-Qur’an dan Hadits ”

    Pernah dengar ndak kalimat itu…….

    Sampean jelas-jelas meragukan Hadits Shahih Bukhori dan Muslim tentang kisah Isro Mi’roj

    Di sini sudah banyak para ikhwan yg menanyakan kebenaran fersi Isro Mi’roj yg lain menurut sampean …
    Tunjukkan kisah yg benar , kalau Hadits ..sebutkan apakah Shahih,Hasan,Doif atau Maudu , kalau Al-Quran…tunjukan surat apa
    jadi sampean jangan asal ngomong meragukan Hadits Shahih.
    Sebab bisa-bisa semua kisah dari Hadits Shahih sampean ragukan.(sekali lagi ulama meyakini bahwa Hadits Shaih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya bila dibandingkan dengan Hadits Hasan,Dhoif atau Maudu kecuali kalau syaefulloh tidak percaya dengan ulama )

    ** Menurut sampean:
    – Allah tidak akan memberikan suatu perintah atau ujian pada umatNya yg melebihi batas dari kemampuan umatNya.

    -Nabi Muhammad tidak mungin tawar menawar dengan perintah yang diberikan oleh Allah .

    SAMPEAN HARUS BISA MENUNJUKKAN KISAH ISRO MI’ROJ YG BENAR DIMANA DALAM RIWAYAT ALLAH TIDAK MEMBERIKAN PERINTAH YG BERAT DAN NABI MUHAMMAD TDK TAWAR MENAWAR DALAM MENERIMA PERINTAH SHOLAT ITU..!!!!!

    Perlu diketahui, saya pernah dengar cerita dari guru SD saya bahwa:

    Setelah Rosululloh Isro Mi’roj dan menceritakan pada Sahabat, selanjutnya Abu Bakar mengamini dan mempercayai kisah itu. Hanya kaum Qurais yg di profokatori oleh Abu Jahal dan Abu Lahab saja yg tidak mempercayainya……….

    Dan saya ingin tanya sama sampean , sehari sampean melakukan sholat fardhu/wajib berapa kali 50 kali atau 5 kali. kalau ternyata sampean melakukkan sholatnya 5 kali apa dasar sampean…. wong sampean tdk percaya kisah Isro Mi’roj yg di riwayatkan oleh Shaih Bukhori. apa sampean punya kisah sendiri……..apa sampean mungkin dengar langsung kisahnya dari Rosululloh..)

    Hati-hati mas..sampean meragukan Hadits Shaih

    Seharusnya kalau sampean menemukan sesuatu yg salah dari Hadits berarti sampean pasti punya riwayat lain dalam suatu Hadits maka tunjukkan..!!!

  33. syaefullah on said:

    MAS, SEKALI SAYA BILANG LOGIKA ANDA RANCU (dan seperti tidak paham apa yang ditulis), coba hilangkan dulu sifat fanatik buta nya itu
    Mari kita bahas satu persatu :
    satu/1) « “Bila ada perbedaan dan pertentangan kembalilah pada Al-Qur’an dan Hadits ”
    Pernah dengar ndak kalimat itu…….
    Jawab:
    Mas, hadist Kitabullah wa sunati atau ada juga kitabullah wa itrati, semuanya tetap mengurutkan Al-Quran sebagai Rujukan Utama.
    Jika ada yang bertentangan dng Quran sebagai asal tasri’ (penetapan hukum) maka batallah riwayat tsb, walaupun sesahih apapun ketegorinya.
    Kembali saya tegaskan, saya tidak anti hadist/sunnah/itrati karena tetap dalam beragama
    Tindakan, ucapan, laku baginda Rasulullah sebagai suri tauladan yang paling baik yang terangkum dalam SUNNAH, sangat diperlukan untuk memperoleh KEJELASAN Dari penetapan Quran, BUKAN SEBAGAI MEMBATALKAN/MENENTANG yang tertulis di Quran.

  34. syaefullah on said:

    dua/2) “Sampean jelas-jelas meragukan Hadits Shahih Bukhori dan Muslim tentang kisah Isro Mi’roj
    Di sini sudah banyak para ikhwan yg menanyakan kebenaran fersi Isro Mi’roj yg lain menurut sampean …
    Tunjukkan kisah yg benar , kalau Hadits ..sebutkan apakah Shahih,Hasan,Doif atau Maudu , kalau Al-Quran…tunjukan surat apa :”
    jawab:Mas, Coba anda baca berkali2 tulisan saya diatas, masihkah kurang jelas, kebenaran Isra Miraj versi Quran, bukankah saya juga sebutkan sebagian yang saya setuju dari hadist tersebut karena memang dalil Qurannya ada, dan point-point yang harus kita kritisi karena bertentangan dengan Quran, mari kita kritisi bersama dengan rujukan Al-Quran yang sudah tdk ada keraguan didalamnya.
    TETAPI sampaen hanya membabi buta membela semua redaksi hadist tersebut, meskipun saya sampaikan point yang bertentangan dengan dng Quran. Tolong bantah dengan dengan ayat dong mas, jika ingin memberikan pendapat/asumsí.

  35. syaefullah on said:

    tiga/3) “jadi sampean jangan asal ngomong meragukan Hadits Shahih.
    Sebab bisa-bisa semua kisah dari Hadits Shahih sampean ragukan.(sekali lagi ulama meyakini bahwa Hadits Shaih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya bila dibandingkan dengan Hadits Hasan,Dhoif atau Maudu kecuali kalau syaefulloh tidak percaya dengan ulama ) “,

    jawab : mas, sekali lagi saya tekankan, jarak rasulullah hidup didunia dengan Imam bukhari +- 200 tahun, disana yang meriwayatkan adalah para tabiin, ulama, yang semuanya manusia biasa yg tidak maksum, jasa2 mereka sangat kita hargai karena berusaha sebagai pembawa sunnah2 rasulullah. Tetapi kebalkah mereka terhadap semua kritikan yang dasarnya Quran

  36. syaefullah on said:

    empat/4) SAMPEAN HARUS BISA MENUNJUKKAN KISAH ISRO MI’ROJ YG BENAR DIMANA DALAM RIWAYAT ALLAH TIDAK MEMBERIKAN PERINTAH YG BERAT DAN NABI MUHAMMAD TDK TAWAR MENAWAR DALAM MENERIMA PERINTAH SHOLAT ITU..!!!!!

    jawab:mas, bukankah saya juga tuliskan dalam tulisan tersebut, bagian mana yang saya setuju dan bagian mana yang tidak setuju (karena bertentangan dengan Dalil Quran), tolong dibaca dengan tartil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: