Setelah Shalat Subuh (3)

Berkunjung atau mendatangi Guru Mursyid walaupun Beliau masih hidup disebut ber ziarah atau sering disebut berziarah kepada Guru Mursyid. Di Awal saya menekuni tarekat, kata ziarah digunakan untuk Guru yang masih hidup terasa mengganggu, bukankah ziarah itu mengunjungi kuburan atau mendatangi tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai spiritual. Kemudian baru saya ketahui bahwa sebenarnya ketika berkunjung kepada Guru Mursyid atau seorang Syekh Tarekat sebenarnya yang dikunjungi bukan sekedar zahir atau fisiknya tapi yang lebih penting adalah mengunjungi rohaninya, itulah sebabnya disebut berziarah. Dalam diri seorang Guru Mursyid tersimpan Nur Muhammad sebagai wasilah bagi seluruh ummat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Continue reading

Setelah Shalat Subuh (2)

Pagi ini badan saya terasa sudah membaik dan segar kembali setelah selama seminggu lebih kondisinya kurang stabil. Saya merasakan kondisi yang benar-benar segar, setelah selesai shalat shubuh tadi saya teringat untuk mencoba menulis karena sudah sekian lama saya tidak menulis. Tentang shalat subuh saya teringat nasehat Guru, “Tidak ada hakikat untuk orang yang meninggalkan shalat maghrib dan subuh” dan saya belum pernah melihat Guru meninggalkan shalat dalam kondisi sakit sekalipun terutama  shalat subuh dan magrib. Tentang menulis, bagi saya menuangkan apa yang saya ketahui dalam bentuk tulisan sudah menjadi kebutuhan dan memberikan perasaan bahagia tersendiri bagi saya. Tanggal 20 Juni lalu saya memaksakan diri dalam kondisi sakit untuk berziarah ke makam Guru dalam rangka mengikuti sebuah acara yang menurut saya wajib di hadiri oleh murid yang sudah menemukan kesadarannya sebagai seorang murid.

Continue reading

Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (Selesai)

Makrifat bukan merupakan ilmu tapi sebuah anugerah, sebuah pencapaian hasil dari mujahadah hamba sehingga Allah berkenan memperlihatkan keindahan wajah-Nya kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh karena itu makrifat tidak bisa diperoleh dengan hasil diskusi apalagi perdebatan. Makrifat tidak akan pernah bisa diperoleh dengan membaca buku dan meneliti kitab-kitab tasawuf bahkan semakin banyak akan semakin sulit untuk mencapainya.

Continue reading

Sabar, Tunggu Waktunya Tiba! (1)

Agama adalah sarana bagi manusia untuk mencapai sebuah tujuan yaitu makrifatullah atau mengenal Allah. Ketika Makrifat kepada Allah dicapai maka manusia akan lebih sempurna melakukan pengabdian kepada Allah lewat ibadah dan amal-amal kebaikan yang diperintahkan Allah di dalam agama. Dengan agama manusia akan lebih memahami hakikat hidup dan ketika makrifat dicapai maka tindakan-tindakannya secara otomatis akan selaras dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan dalam agama. Sayangnya orang terlalu fokus kepada Agama sebagai sarana atau wadah dan melupakan tujuan dari agama itu sendiri yaitu Tuhan.

Continue reading

Berdamai dengan Diri Melalui Thariqah Menuju Kedamaian Hakiki

al_habib_luthfi_bin_yahyaThariqah adalah pertama, untuk meningkatkan kedudukan atau maqamatil ‘ubudiyyah secara individu, sehingga sadar dan meningkatkan kesadaran apa saja kewajiban-kewajiban yang diperintah oleh Allah dalam meningkatkan taat kepada syari’atillah yang disertai khidmah (pengabdian) kepada Allah Ta’ala. Kedua, meningkatkan ketaatan dan khidmahnya kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang disertai mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ketiga, mengetahui dan mengerti thariqah sebagai pengantar menuju jalan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, thariqah adalah menghasilkan buah bernama tasawwuf dalam rangka tashfiyatul quluub (membersihkan hati) wa tazkiyatun nufus (menyucikan jiwa). Penyakit hati diantaranya dengki atau hasad, sombong (takabbur), riya’, dan lupa kepada Allah serta lupa kepada Rasul-Nya. Sehingga, menyebabkan individu tidak mencapai maqamatil ihsan karena iman yang ada di qalbu (hati) cahayanya (yang sebenarnya mampu menerangi rongga-rongga hati, kedua mata, kedua telinga, mulut, tutur kata, kedua tangan, dan kedua kakinya, serta membersihkan darah yang banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik organ tubuh dari sebab darah yang kotor tersebut mampu mempengaruhi kejernihan pola pikir), menjadi gelap atau keruh yang akhirnya bisa berpengaruh dan menjadi sebab terjadinya kesempitan dan ketidak jernihan dalam menafsirkan Al Quran, Hadits, dan perkataan salafuna ash-shalihin (dalam nasehat atau kitabnya).

Continue reading

Menguak Kembali Definisi Tasawuf

berguruDalam sejarah perkembangan nya, Sufi dan Tasawuf beriringan. Beberapa sumber dari kitab-kitab yang berkait dengan sejarah Tasawuf memunculkan berbagai definisi. Definisi ini pun juga berkait dengan para tokoh Sufi setiap zaman, disamping pertumbuhan akademi Islam ketika itu. Namun Reinold Nicholson, salah satu guru para orientalis, membuat telaah yang terlalu empirik dan sosiologik mengenai Tasawuf atau Sufi ini, sehingga definisinya menjadi sangat historik, dan  terjebak oleh paradigma akademik-filosufis. Pandangan Nicolson tentu diikuti oleh para orientalis berikutnya yang mencoba menyibak khazanah esoterisme dalam dunia Islam, seperti J Arbery,  atau pun Louis Massignon. Walaupun sejumlah penelitian mereka harus diakui cukup berharga untuk menyibak sisi lain yang selama ini terpendam.

Continue reading

Nama SUFI Sudah Dikenal Zaman Pra Islam

Bantahan Terhadap Orang Yang Berkata : “Kami Tidak Pernah Mendengar Nama Sufi Sebelumnya dan Nama Itu Tentu Nama Baru Diciptakan”

Jika ada seseorang bertanya, “Kami tidak pernah mendengar istilah ash-Shufiyah dikalangan sahabat Rasulullah saw., tidak juga di kalangan kaum setelah mereka (tabi’in). Sedangkan yang kami ketahui hanyalah sebutan ‘Ubbad (Ahli Ibadah), Zuhhad (Ahli Zuhud), Sayyihin (para pengembara) dan fuqara’ (orang-orang fakir). Tidak pernah ada riwayat yang menuturkan, bahwa salah seorang di antara para sahabat dipanggil dengan sebutan Sufi”.

Continue reading

Wishal, Puasa 3 Hari 3 Malam

Secara umum kita mengetahui tentang definisi puasa sebagai menahan lapar dan dahaga serta dari yang membatalkan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Seluruh puasa, baik Puasa Ramdhan dan puasa sunnat yang lain merujuk kepada definisi itu yaitu berpuasa sehari dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Lalu apakah ada puasa yang lebih dari satu hari yang pernah dilakukan Rasulullah?

Continue reading

Taqwa Dalam Pandangan Guru Sufi-2

nangis juga1Zaman dulu, Guru Sufi sangat ketat dalam menyeleksi calon murid, bahkan adalah calon murid yang harus mengemis selama 3 tahun dijalanan kemudian baru diterima menjadi murid. Sunan Kalijaga harus menjaga tongkat dari sang Guru dalam jangka waktu yang sangat lama sebagai ujian awal kemudian baru diterima menjadi murid.

Continue reading

Taqwa Dalam Pandangan Guru Sufi-1

ya AllahAnda bisa mencari definisi Taqwa lewat buku-buku atau bisa search di Google, disana akan banyak pembahasan tentang taqwa. Kali ini saya tidak focus membahas denisifi-difinisi itu karena saya yakin anda sudah sangat paham dan memiliki referensi yang sangat lengkap. Saya ingin mengajak anda memaknai taqwa dari pandangan Guru Sufi.

Guru Sufi mengatakan, “Orang yang telah mencapai tahap Taqwa, tidak ada perasaan berat baginya dalam melakukan ibadah yang diperintahkan Allah”. Berarti taqwa bisa didenisikan sebagai kondisi dimana seorang hamba melakukan perintah Allah dengan senang hati bahkan memiliki gairah dalam ibadah tersebut.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.029 pengikut lainnya.