Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sekilas Tentang Makrifat

Saya pernah menulis status di Facebook tentang beda ilmu dan makrifat, “ilmu mengenalkan kita tentang Allah sedangkan makrifat mengantarkan kita kepada-Nya”. Mungkin banyak  yang penasaran dimana beda ilmu dan makrifat padahal buku-buku tentang tasawuf/tarekat banyak membahas masalah makrifat sebagai ilmu dan bahkan ada buku dengan judul “ilmu makrifat” atau “Pengantar ilmu makrifat”.

Untuk lebih mudah memahami beda antara makrifat dengan ilmu saya kemukakan beberapa ucapan sahabat dan tokoh sufi. Saidina Ali ketika ditanya tentang makrifat, Beliau berkata, “Aku mengenal Allah dengan Allah dan aku mengenal selain Allah dengan cahaya-Nya”. Abu Yazid berkata, “tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku tentang Allah”. Makrifat berdasarkan ucapan diatas adalah pengalaman seorang hamba ketika berjumpa dengan Tuhannya. Makrifat khusus tentang bagaimana cara berhubungan dengan Allah dan orang yang telah mencapai tahap makrifat disebut dengan ‘Arif. Dalam keseharian kita sering mendengar istilah ‘Arif yang digabungkan dengan kata “bijaksana” sehingga menjadi Arif Bijaksana walaupun orang yang disebut Arif Bijaksana tersebut belum tentu benar-benar telah mencapai tahap makrifat.

Di dalam Kasful Mahjub kitab tasawuf klasik karya Imam Al-Qusyairi dijelaskan bahwa syarat untuk mencapai makrifat itu bukan pandai atau luas pengetahuannya karena kalau itu sebagai syarat maka semakin pandai seseorang maka semakin dia bermakrifat kepada Allah, kenyataan semakin pandai manusia semakin dia bingung dengan keberadaan Tuhan. Ilmu diperoleh dari panca indera sedangkan makrifat diperoleh lewat Qalbu (hati).

Makrifat tidak diperoleh dengan membaca dan mendengar, itulah sebabnya walaupun belajar banyak dari buku-buku tasawuf atau mengambil jurusan master tasawuf di universitas tidak akan menjamin untuk mencapai tahap makrifat. Pengetahuan tasawuf yang membahas tentang makrifat yang merupakan pengalaman dari Para Guru Sufi hanya bisa menjelaskan kita tentang apa itu makrifat tapi tidak akan pernah bisa membawa kita kepada pengalaman bermakrifat.

Makrifat adalah kondisi dimana seorang hamba sangat dekat dan akrab dengan Tuhannya tanpa keraguan sedikitpun yang sedang disembah dan sedang dipuja tersebut adalah Allah bukan yang lainnya, bukan sajadah atau dinding mesjid dan bukan pula ka’bah. Bahkan Imam Junaidi Al-Baghdadi ketika ditanya apakah Beliau melihat Tuhan yang disembah dalam ibadah, Beliau menjawab, “Kami tidak menyembah Tuhan yang tidak kami lihat”.

Pengalaman-pengalaman ruhani para sufi hanya bisa dicapai lewat mujahadah, berperang melawan diri sendiri, melawan setan yang bersemayam dalam dada setiap manusia tanpa kecuali. Mujahadah berupa zikir, puasa dan berbagai kegiatan yang bersifat ubudiyah kepada Allah, lewat itulah Allah berkenan memberikan karunia berupa Makrifat yaitu mengenal Dzat Allah yang Maha Agung. Jadi makrifat itu bukan hasil pencarian tapi merupakan karunia dari Allah SWT.

Sebelum mencapai tahap makrifat, seorang salik (murid penempuh jalan kepada Tuhan) terlebih dahulu mengenal dan mahir dengan Muraqabah, sehingga dia sangat mudah mengenal yang mana malaikat dan yang mana pula setan. Dia akan mudah mendeteksi bisikan-bisikan halus yang menyusup ke dalam dada dan pikiran manusia, bisikan setan atau bisikan malaikat, godaan iblis atau ilham dari Allah.

Banyak orang terjebak di alam rohani, menuntut ilmu hanya dengan membaca atau melakukan ritual tanpa bimbingan sehingga dia merasa sudah mencapai tahap makrifat. Dengan bangga kemudian meneriakkan apa yang diteriakkan tokoh sufi, karena merasa suci kemudian meninggalkan ibadah-ibadah yang sudah jelas-jelas di wajibkan oleh agama. Di zaman sekarang kita semakin sulit membedakan antara Hamba Allah atau Hamba Setan, ulama yang merupakan pembawa cahaya Allah atau dukun sebagai duta setan karena keduanya sudah bercampur aduk. Seorang dukun pun sangat mahir dalam berbicara tentang makrifat dan seolah-olah dia telah mencapai tahap makrifat, padahal apa yang disampaikan hanya sekedar teori dan hasil dari bacaan di buku-buku gaib. Karena itu Abu Yazid al-Bistami mengingatkan kita semua lewat ucapan Beliau, “Barangsiapa yang menuntut ilmu Tanpa Syekh (Guru) maka wajib setan Syekh (Guru) nya”.

Sulit memang membedakan ilmu yang benar dan ilmu yang keliru karena apa yang kita sebut sebagai ilmu benar itu bisa jadi keliru. Standar untuk mengukur apakah ilmu yang kita pelajari itu sah atau tidak bukan pada bentuk ilmunya. Semua orang mengklaim memperoleh ilmu dari Al-Qur’an dan Hadist. Sah atau tidaknya tergantung kepada Guru Mursyid tempat dia memperoleh ilmu tersebut. Dalam dunia tarekat Silsilah atau Rantai Emas yang merupakan menyambung antara Guru satu dengan Guru sebelumnya sampai kepada Rasulullah SAW adalah alat pengukur apakah ilmu yang diajarkan itu sah atau tidak. Kalau ilmu yang diperoleh dari Guru yang Silsilah Keguruannya tidak bersambung kepada Rasulullah SAW maka ilmu tersebut wajib diragukan keasliannya.

Seorang Guru Mursyid akan mengajarkan ilmu kepada para murid baik syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat dalam satu paket sebagai warisan dari Rasulullah SAW. Hadist yang disampaikan Guru Mursyid benar-benar dijamin keasliannya karena memang disampaikan lewat jalur yang sah, jalur yang bersambung yang terjamin keasliannya. Seluruh ajaran Guru Mursyid tidak akan terlepas dari apa yang di firmankan oleh Allah SWT dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tidak berubah dan tidak akan diubah sampai akhir zaman.

Satu hal yang harus diingat bahwa yang langka di dunia ini bukan ilmu berhubungan dengan Allah, bukan ilmu tarekat, bukan juga ilmu syariat karena semua ilmu itu bisa diperoleh dimana saja, dibuku, pasantren, universitas Islam, yang langka adalah Guru Mursyidnya, Grand Masternya yang menumpahkan ilmu lewat dada Beliau kepada para murid dimana saja si murid berada dan kapan saja. Ilmu yang ditumpahkan lewat dada ini lah yang benar-benar murni berasal dari Rasulullah SAW. Ucapan Nabi, “Tidak ada yang tersisa di dadaku ini kecuali aku tumpahkan ke dada Abu Bakar”.

Hamzah paman Nabi ingin sekali belajar Al-Qur’an dan ingin sekali paham tentang Al-Qur’an. Ketika Hamzah mengemukakan keinginannya kepada Nabi, kemudian Nabi memeluk paman Beliau dan sejak saat itu Hamzah langsung paham tentang Al-Qur’an. Nabi telah mentransfer Nur Al-Qur’an yang murni dari dada Beliau kepada dada paman Beliau.

Akhirnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT karena Allah dengan Rahman dan Rahimnya berkenan memperkenalkan kepada kita Auliya-Nya, Kekasih-Nya yang lewat Kakasih-Na itu kita dibawa berkenalan dengan Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Suci sehingga ibadah yang kita lakukan benar-benar tanpa keraguan sedikitpun. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa bermanfaat untuk kita semua, Amin ya Rabbal ‘Alamin!

Single Post Navigation

85 thoughts on “Sekilas Tentang Makrifat

Comment navigation

  1. apakah perempuan juga boleh mempelajari?

  2. kenapa mesti dngan guru ,sementara guru kita yang mutlak mutlak adalah rosulaullah,

  3. nurgaha sulaeman on said:

    assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
    Salam kenal.
    Apa saudaraku pernah masuk
    ke “pintu“ itu,
    ada apa di balik “pintu“ itu?
    wassalam. Terimakasih

    • Wa’alaikum salam wr wb.
      saya sudah lupa dengan “pintu” itu karena 15 tahun yang lalu saya sudah didalam “rumah” dan belum berminat untuk keluar walau hanya untuk melihat pintu :)
      Pemilik rumah berkata, “Jangan pernah kau ceritakan apa yang kau lihat di dalam, nanti mereka bingung dan tidak percaya”..
      Salam

  4. khusna khair on said:

    bukankah tauladan kita adalah rosululloh? bagaimana kita tau bhw guru kita adalah banar? tak menyimpang dari quran dan hadits?

  5. zulkipli on said:

    sufimuda saya mau berguru pda anda, tapi sya mau tes guru sya dulu. Apa mula2 yg di ciptakan oleh allah1. 2, knapa org di larang menggambar dan meujutkan nabi muhamad swm? Mun penjelasanya sya tunggu.

    • Salam kenal dari saya
      Saya hanya seorang murid yang sedang dibimbing dan akan terus dibimbing oleh Guru saya hingga akhir hayat, jadi saya bukanlah seorang Guru.
      Karena saya bukan seorang Guru maka saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda yg ditujukan untuk orang yg mempunyai kapasitas sebagai seorang Guru.
      Saya menjawab pertanyaan anda sebagai seorang sahabat yg masih sama2 belajar.
      1. Menurut yg saya baca dan saya dengar, pertama kali yg diciptakan Allah adalah Nur Muhammad. Tapi itu hanya dugaan saja, yg sebenarnya hanya Allah yang tahu.

      2. Wajah Nabi Muhammad hanya berhak di hadirkan oleh para sahabat dan orang2 yg kenal Beliau semasa hidup, zaman setelahnya orang harus berwasilah kepada penerus nabi. Kalau wajah Nabi di lukis/digambar, khawatir nanti orang akan menjadikannya sebagai sesembahan spt orang kristen memuja Yesus.
      Nur Muhammad itu tidak hanya ada dalam diri Muhammad bin Abdullah saja, tapi ada dlm Ulama pewaris nabi sampai saat ini, itulah sbg wasilah ummat kepada nabi dan kepada Allah.

      Demikian

  6. syamsul arif on said:

    Kenapa ilmu syariat banyak bersebrangan dengan marifat?

    • Arjuna on said:

      assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
      Izinkan saya menjawab pertanyaan anda.. Ilmu syariat berisi tata cara, adab dalam beribadah(seperti shalat, zakat, puasa, dll) yang bertujuan untuk menjalin hubungan antara sang hamba kepada Sang Khaliq,,sedang Makrifat adalah mengenal Allah ta’ala seutuhnya baik Dzat, sifat, Asma, Af’al…kenal dan memang sudah diakui oleh Allah ta’ala bukan sekadar mengaku-ngaku.. untuk menjawab pertanyaan anda saya analogikan sbb: “Apabila anda hendak menemui seorang katakanlah seorang presiden tentu anda harus melalui serangkaian protokoler yg sudah dibuat oleh sang presiden untuk dapat menemuinya, namun apabila anda sudah kenal akrab dengan sang presiden tentunya anda tidak harus melalui serangkaian protokol kepresidenan hanya untuk menemui presiden karena anda sudah istimewa bagi sang presiden”….,dan mengapa antara ilmu syariat dan makrifat berseberangan??itu dikarenakan mereka yang masih pada maqam syariat (fiqih) melihat orang yang sudah pada maqam makrifat melangkahi aturan syariat yg berlaku pada umumnya, dikarenakan mereka sudah memiliki hubungan keakraban dgn Allah Ta’ala,sehingga mereka yg tak paham akan condong mengkafirkan / menentang mereka yang sdh makrifat,,sbg contoh semisal Syeikh Siti Jenar, Mansyur Al-Hallaj,dll..dan terkadang perilaku orang yg ada pada maqam makrifat sering kita dapati dalam keadaan majzub..seperti yang terjadi pada Syeikh Abdul Qadir Jailani disaat hendak sakratul maut…
      semoga jawaban saya bermanfaat bagi anda sekian terima kasih

  7. benarkah rosul mengajari makrifat pda sahabatnya?siapa yg bilang..apa riwayat/hadis itu asli atau buatan sekutu iblis?kalau makrifat itu benar..knpa tdk di ajar umum untk umat?apa nabi pilih kasih?atau nabi hanya di fitnah di pakai namanya untuk menyebarkan makrifat?hati2 saudaraku..jgn lupa ada makhluk yg sudah bersumpah menyesatkan manusia hingga kiamat-dia mencampur aduk yg haq dan yg batil dan akan terlihat baik di hati manusia yg iman nya galau.

  8. ass..
    mas senopati sebnarnya ilmu makrifat itu tentang rasa….tidak ada yg tau tntang rasa kcuali ALLAH..makanya ilmu makrifat itu tdak diajarkan secara umum..hnya bagi hamba yg mncarinya..ilmu umum itu dberikan…ilmu rasa itu dicari..knpa sariat itu diaharkan secara umum karena syariat itu peraturan lahiriah..dan untuk mnguatn syariat itu btuh ilmu hakikat..obaratnya gni..syariat itu tubuh sedangkn hakikat itu nywa…jika ilmu dhohir n ilmu batin bersatu maka akn sampai k makrifat..setiap ilmu pengetahuan ato dalil itu mengajak mnusia dari kgelapan k kpad yg terang benderang..ilmu tasawuf/torikot itu ilmu yg diajarkn rosul secara perbuatan nabi langsung…ilmu tasawwuf itu bersumber dari perilaku nabi…bersambung….

  9. Muhammad Hilman on said:

    Mau sedikit berkomentar
    Ma’rifath itu artinya mengenal ALLAH, bukan mengenal dari segi nama tapi juga wajib mengenal wujudnya, coba kalian baca kitab tauhid yg mnerangkan sifat2 wajib bagi ALLAH -Wujud artinya ada mustahil tiada- stiap yg bernama pasti ada bendanya (zhat nya).
    1 lagi, ma’rifat itu adalah sbenar benarnya taubat (kembali)
    Kalau ada yg biingung dgn komentar saya jgn dpikirkan maknanya, tpi jdikan lah renungan utk segera mungkin mncari guru (pembimbing) yg pahm betul dgn ilmu ma’rifath karena teori dan praktek itu jauh beda

  10. Sodikin on said:

    Memang benar saran anda alat untuk bertemu alloh dengan ilmu ma’rifat.kajian untuk mengimankan hati bahwa alloh maujud yg kita sembah benar 2 kita melihat dengan mata hati kita..apa pakai laporan sama sang mursid..sedang guru itu hanya kasih petunjuk dan alatnya aja.sedang alloh sendiri hanya menampakan wujudnya pd yg dikhendaki .yaitu hmba yg benar 2 mencintai dirinya.d dan memasrahkan rogo jowo lan sukmane..dlm arti mensirnakan kehidupan dunia.trus bagaimana menurut anda….

  11. ilon khanani on said:

    Assalamu ‘alaikum…

    Saya ingin berbagi pengetahuan saya tentang perbedaan Ilmu Syariat dan Ilmu Hakikat (Tashawwuf). Bahwa analoginya seperti ini “Seringkali kita temukan di kehidupan kita tenang seorang ‘Alim (Berilmu syariat seperti fiqh dll) yang ilmunya sangat mendalam akan tetapi ilmunya itu tidak diamalkan”. Seorang ‘Alim tersebut hanya mengajarkan ilmu kepda muridnya tapi bagi dirinya sendiri nihil. Dia menyuruh berbuat kebaikan tapi dirinya tidak, diapun mencegah kemungkaran tapi dirinya sendiri melakukan kemungkaran. Bukankah kabar ini telah ada pada Nash, nahh dari analogi diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa antara ilmu syariat dan hakikat mustinya saling melengkapi. Karena hakikatnya ilmu syariat itu adalah ilmu yang sesuai dengan kebutuhan manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain. Sedagkan hakikatnya ilmu hakikat itu adalah ilmu yang sesuai dengan nurani manusia untuk dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa ilmu hakikat (Tashawwuf) itu adalah ilmu yang pasti dibutuhkan oleh seorang hamba mnuju kepda Tuhannya. Ilmu ini telah di isyaratkan dalam hadits Jibril AS ketika bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ihsan. Cobalah renungi makna ihsan itu untuk diketahui oleh banyak orang atau untuk diketahui antara dirinya dengn Tuhannya.

    wallahu a’lam bish shouab
    wassalamu ‘alaikum

  12. cahaya hikmah on said:

    Ka,apakah sebelum mengenal Allah lewat secangkir kopi anda telah mengenal nya terlebih dahulu lewat mati suri?

Comment navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 15.029 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: