Tasawuf Tanpa Tarekat (3)

Tasawuf Tanpa Tarekat = Teori

Tasawuf dari sekian banyak definisi bisa kita persingkat menjadi akhlak yang baik, dengan melaksanakan tasawuf maka akhlak manusia ikut menjadi baik. Rasulullah SAW sebagai teladan kita semua memberikan contoh akhlak yang baik dalam kehidupan Beliau, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat Akhlakul Karimah (akhlak yang baik)”. Dengan membaca karya-karya Tasawuf yang ditulis baik oleh Guru Sufi maupun orang-orang yang ahli tentang tasawuf secara teori mungkin bisa saja membuat perilaku kita berubah, suka menolong orang, rajin beribadah dan sabar dalam segala hal, akan tetapi perubahan itu tidak bersifat permanen tapi hanya sementara, selagi kita membaca dan mengingat apa yang ditulis dalam buku tasawuf saat itu kita menjadi baik namun ketika kita lupa maka semuanya akan kembali seperti semula. Akhlak manusia tidak bisa diubah hanya dengan membaca dan mempelajari buku saja. Rasulullah SAW mengubah akhlak manusia dengan menanamkan “Kalimah Allah” ke dalam qalbu para sahabatnya, membersihkan hati dengan zikir sehingga perubahan akhlak para sahabat bukan berasal dari luar akan tetapi berasal dari dalam dan itu bersifat permanen.

Kunci belajar tasawuf secara praktek lewat amal zikir dalam tarekat tergantung dari kualitas Mursyid yang membimbingnya. Seorang Guru Mursyid haruslah berkualitas Wali Allah yang bisa membimbing muridnya 24 jam dimana saja dan kapan saja. Seorang Profesor Tasawuf yang sangat mahir tentang ilmu tasawuf belum tentu bisa menjadi seorang Guru Mursyid. Kalau anda ingin mempelajari tasawuf secara teori, anda bisa membaca buku-buku tasawuf sebagaimana yang saya lakukan dulu sebelum mengenal tarekat atau lebih serius anda bisa kuliah di IAIN dengan mengambil jurusan Tasawuf di Fakultas Ushuluddin dan anda bisa melanjutkan ke jenjang S2 dan S2 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ilmu yang anda dapat dibangku kuliah tersebut semua tergolong kepada ilmu Tasawuf secara teoritis. Apakah anda belajar Tasawuf Akhlak, Tasawuf Filsafat atau Tasawuf lain kesemua itu hanya mengisi akal pikiran anda tentang ilmu tasawuf.

Untuk bisa  mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut dalam bentuk nyata, dalam bentuk praktek maka diperlukan “bengkel” bernama Tarekat dibawah bimbingan montir ahli bernama “Mursyid”. Untuk bisa mempraktekkan ilmu dibengkel sebenarnya anda tidak harus menyelesaikan semua teori-teori tasawuf, bahkan orang yang tidak pernah membaca buku tasawufpun bisa mempraktekkannya dalam tarekat. Seorang yang sudah menjadi Sufi terkadang tidak menyadari dia sufi, tidak menyadari bahwa dia telah melewati semua maqam-maqam yang harus dilewati oleh para pencari Tuhan sebagaimana yang tertuang dalam kitab tasawuf. Karena kepatuhannya pada Guru Mursyid yang sangat ahli, tanpa disadari dia sudah sangat mahir mempraktekkan segala maca teori yang tertulis dalam buku.

Itulah sebabnya kenapa seringkali orang yang menekuni tarekat tanpa membaca buku tasawuf terkadang bingung dengan istilah-istilah tasawuf dan kalau kita jelaskan dengan detail makna dari istilah itu dia langsung paham dan tersenyum dan dia menganggap hal tersebut biasa-biasa saja karena sudah sering dilakukan.

Dalam praktek terkadang apa yang menjadi hal rumit secara terori akan menjadi mudah dan sederhana bahkan sangat mudah karena memang dibimbing oleh Sang Ahli, saya mengambil contoh sederhana, dalam pengajian yang dilaksanakan oleh lambaga Tasawuf Tauhid yang membahas tasawuf secara teori, ketika membahasa masalah UBUDIYAH, diperlukan waktu lama dengan berbagai dalil baik Al-Qur’an, Al-Hadist maupun ucapan-ucapan para ulama untuk menerangkan makna dari ubdiyah tersebut. Saya pernah mengikuti pengajian seperti itu dan saya yang sudah menekuni tarekatpun bukan tembah terang dan jelas akan tetapi bertambah bingung dengan teori-teori tersebut. Dalam prakteknya Ubudiyah atau menghambakan diri kepada Allah itu tidak sesulit dan serumit dalam teori. Guru saya, ketika ada orang ingin berubudiyah atau mengetahui makna ubidyah, maka Beliau cukup mewakilkan dengan satu kalimat, “Ambil cangkul dan cangkul tanah itu”, atau kalau sedang pembangunan Mesjid beliau cuma berkata, “Kalau kamu bisa aduk semen, silahkan aduk semen, itulah ubudiyahmu kepada Allah”. Singkat, jelas dan sederhana namun bagi yang melakukan bukan hanya memahami tapi juga merasakan karena telah mempraktekkan langsung makna ubidiyah tersebut.

Bisa jadi makna ubdiyah tidak langsung didapat dalam sehari hanya dengan sekali cangkul, mungkin seminggu, sebulan atau setahun baru dia memahami hakikat dari Ubudiyah. Barulah dia akan paham bagaimana posisi hamba dan bagai mana posisi Allah dalam kesehariannya. Karena ilmu praktek maka akan tunduk pada aturan-aturan dan hukum alam yang sudah berlaku. Kalau menanam bayam harus menunggu 21 hari, walaupun dipaksa tidak akan mungkin bisa panen dalam 1 hari. Begitu juga ilmu tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat, diperlukan kesabaran untuk bisa mencapai hasil-hasilnya. Hasil yang dimaksud adalah mencapai tahap Makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenarnya.

Seringkali orang yang tidak berhasil dalam tarekat bukan karena dia tidak sungguh-sungguh, akan tetapi tidak sabar di dalam perjalanannya. Seperti Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir, diperlukan kesungguhan dan kesabaran sehingga bisa selamat sampai ke tempat tujuan.

Tarekat berasal dari kata Thariqatullah artinya jalan kepada Allah, memerlukan proses, kesungguhan dan keyakinan penuh bagi si pejalan agar sampai kepada tempat tujuan. Dan yang lebih penting lagi diperlukan pembimbing sebagai sahabat rohani yang senantiasa memberikan petunjuk dan arahan agar tidak tersesat di jalan. Tasawuf yang tidak disertai tarekat tidak menghasilkan apa-apa selain hanya berupa teori semata. Tidak ada bedanya dengan orang belajar fiqih, belajar syariat yang semula adalah ilmu hakikat karena tidak ada pembimbing akan menjadi ilmu syariat, berupa teori semata.

Lebih berbahaya lagi orang mempraktekkan ilmu zikir dalam tasawuf tapi tanpa memiliki Mursyid, hanya berdasarkan apa yang tertulis dalam buku kemudian dipraktekkannya maka akan melahirkan kesesatan yang tanpa disadarinya. Istilah “kemasukan atau kerasukan wali” di datangi oleh Syekh Abdul Qadir Jailani atau Wali lain, berguru secara gaib kepada nabi Khidir atau berguru secara rohani kepada Wali Songo adalah istilah yang berasal dari orang yang mempraktekkan ilmu tanpa Guru Mursyid. Manusia suka cepat dan suka yang instan, tanpa harus zikir dan menuntut ilmu kepada Wali ingin langsung mencapai makrifat sehingga sekarang ada aliran Makrifat, langsung mencapai makrifat tanpa melalui tarekat dan hakekat. Apakah bisa mencapai makrifat langsung? Bisa! Inilah makrifat secara teori. Hakikat makrifat tidak bisa dipelajari lewat akal, ketika rohani kita diantar kehadirat Allah dan menyaksikan langsung SANG MAHA SEGALANYA disaat itulah kita mencapai tahap makrifat yang sebenarnya.

Bersambung

20 Tanggapan

  1. masih banyak saudara2 kita yang salah paham dgn ini abangbda ana minta ijin untuk membagikan ke teman2 ana ……terimakasih …

    • Silahkan, mudah-mudahan akan banyak orang yang sadar akan pentingnya tasawuf..

      • seperti cerita anda sufi muda……kisah guru sufi yang anda ikuti lewat cerita nenek, sebanyak inikah tulisan yang dia bisa buat seperti anda merangkai banyak kata2 hikmah?

      • Anda benar tapi gak 100% sahabatku masih ingat Uwais al qarany beliau Wali agung bahkan Sahabat umar R.A dan Ali K.W Di suruh baginda Rosul untuk meminta doa nya Setau saya beliau tdk punya guru bang hanya Ahlak nya Mulia beliau juga tidak tersesat dan di puji baginda Rosul nah itu bagaimana bang saya juga gak punya guru Insya Alloh saya tau mana bisikan Iblis sama bisikan Sang Maha Tinggi

  2. Ass Wr Wb maaf bila ikut mengomentari saudara Iyan , bahwa Uwais Al Qarny RA tidak mempunyai guru, secara lahiriah beliau memang kelihatan tidak mempunyai guru, karena kehidupannya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan ibu beliau, akan tetapi secara ruhani beliau dibimbing oleh Rasulullah SAW, karena Uwais selalu kepingin bertemu dengan Rasulullah akan tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan, seperti Rasulullah yang secara lahiriah kelihatannya tidak mempunyai Guru akan tetapi Malaikat jibril dan Alloh Sendiri yang menuntun beliau, maka pada dikemudian hari Uwais Al Qorny bergabung dengan Pasukan Sayyidina Ali KW sebagai pasukan Alloh SWT di muka bumi. Mudah2an bermanfaat

  3. Lebih berbahaya lagi orang mempraktekkan ilmu zikir dalam tasawuf tapi tanpa memiliki Mursyid, benar kah demikian…………………

    • Benar, akan tersesat di alam tanpa batas…

      • Ha.ha.ha terima kasih atas perhatiannya dan kasih sayang nya Alloh itu maha adil dan bijaksana juga maha tahu dia Tuhan bagi semua,maaf saa ini bukan ahli tarkat juga tasawuf boro2 ilmu tingginya cuman sampai mata kaki hahaha tapi saya yakin Alloh baik sama saya dan kalian semua syariat normal meskipun banyak yg bilang syariat kosong Tapi Dia tak pernah bilang begitu sama saya tdk prnah mencela manusia yang mau berbakti kepadanya thx bro

  4. Qur’an Suraah Al-Baqarah – 208 :
    Yaa ayyuhallazina aamanudhulu fis-silmi kaaffataw wa la tattabi’u khutuwaatisy-syaitan, innahuu lakum ‘aduwwum-mubiin.

    Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguhnya, ia musuh yang nyata bagimu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda :
    Perbandingan orang yang (tahqiq) ingat akan Allah, dengan orang yang tidak ingat (tidak ada hubungan) akan Allah, adalah seperti orang hidup dengan orang mati.
    (HR.Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

  5. Salam bung Sufi Muda,
    saya sangat sepakat dengan teori tasawuf tanpa tarekat yang ada bahas. Namun demikian ijinkan saya menambahkan sedikit, bahwa mungkin yang dimaksud tasawuf anda adalah tanpa tarekat dan ritual dzikir yang mengacu pada aliran tertentu. Dzikir para pencari jalan Allah dengan cara ini adalah dengan melayani makhluk Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir yang dilakukannya adalah meniatkan seluruh pekerjaan dia di dunia sebagai penghambaan diri kepada Allah, Dzikirnya built in dalam perbuatan sehari-hari. inilah masukan saya tentang Tasawuf

  6. ijin belajar kang

  7. Biar tau aja,…Yang benar 100 % itu hanya Sdr.iyan, karena (katanya) ia pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, Lalu bertemu Sayi dina Ali KW dan dalam mimpi diberikan kitab (ghoib) Syech Abdul Qodir jaelani dan bisa merasa sangat dekat dengan Allah.
    Makanya komentar-komentarnya hebat, dan hebatnya mengomentari komentar orang lain.
    Itulah sifat “arief”nya Sdr.iyan dapat menilai pendapat orang dengan “persen-persen” karena sangat dekat dengan Allah.
    Hebat dia ‘kan ?
    Nah kalu udah “tamat” mbaca kitab Syech Abdul Qodir jaelani (itu) Sdr.iyan boleeeh dong meng informasikan nya, agar orang-orang tambah ilmu dan iman nya di blog ini?
    Wass, ditunggu yaa.

  8. Mohon bergabung

  9. Mohon izin kakanda…menurut tema diatas sufi(tasawuf)…menurut saya dari pada kaka memperdebatkan sesuatu lebih baik kita istighfar…kebenaran hanyalah milik alloh swt…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 11.506 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: