Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Makna Bid’ah

Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Adapun maulid  walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.

Continue reading

Nasehat Guru,“Ilmu ini (Hakikat) turun dengan Kasih Sayang”

Islam adalah agama damai, sejuk, indah, memberi keselamatan kepada pemeluknya dunia dan akhirat serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Siapapun yang menyentuh Islam akan ikut bahagia lahir dan bathin. Islam adalah agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berakhlak yang baik dan bekasih sayang antara satu dengan lain. Junjungan kita Rasulullah SAW memberikan contoh akhlak yang baik itu dan membimbing para sahabat dan ummat zaman itu untuk berakhlak yang baik, saling sayang menyayangi dan saling mencintai satu sama lain. Begitu mendalam dan berbekas pengajaran akhlak dari Nabi kepada sahabat sehingga mereka bahkan lebih mencintai saudaranya dari mencintai diri sendiri.

Continue reading

Sebuah Cerita Tentang Bid’ah di Kampung Kami

Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.

“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.

Continue reading

Nasehat Guru,“Kalian Jangan Hanya Sekedar Menjadi Aksesoris!”

Suatu hari, menjelang pembukaan suluk, saya bersama 2 teman duduk menemani sambil melayani Guru makan. Hal yang menggembirakan bagi kami murid bisa menemani dan melayani Guru makan, mengatur makanan dan segela kebutuhan Beliau selama makan. Kami biasanya duduk dibawah memandang wajah Guru yang selalu memancarkan semangat. Menyenangkan karena kami diberi kesempatan untuk bisa berbuat kepada Beliau, Guru yang kami sayang dan kami cintai yang telah memberikan banyak kepada kami terutama telah mencerahkan ruhani dan pikiran kami. Seperti biasanya selesai makan Guru suka cerita dan memberikan nasehat baik mengenai Tasawuf maupun tentang kehidupan sehari-hari. Guru sering menanyakan kami satu persatu, tentang kerja, bisnis, keluarga dan lain-lain, kemudian Beliau memberikan nasehat dan jalan keluarnya.

Continue reading

Pengaruh Thareqat Naqsyabandi Di Dunia Islam

Tasawuf merupakan suatu tradisi spiritual yang paling luas dikenal dalam sejarah agama islam. Berpijak pada sumber utamanya, yakni al-Qur’an dan Hadis Nabi. Kecenderungan mistik atau tasawuf kaum muslimin telah memainkan peranan penting dalam sejarah keyakinan umat islam, baik dalam perkembangan pribadi maupun kolektif. Thareqat pada awalnya merupakan ilmu yang diajarkan khusus oleh Rasulullah adalah “thareqatussirriyah”, suatu amalan rahasia di kalangan para sahabat. Selanjutnya berkembang menjadi lembaga / organisasi peramalan dzikir. Perilaku Nabi Muhammad SAW merupakan cikal bakal dari pengamalan tasawuf / thareqat yang kemudian diteruskan oleh ‘Ahlul Bait’, Khulafaur Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus shufah, dan para salafus saleh dari zaman Tabi’in, Tabi’it tabi’in sampai dengan zaman sekarang ini.

Continue reading

Maulana Abdulmalik Israel: Yahudi Penyebar Islam Tanah Jawa

Yahudi. Satu kata itu menjadi satu makian konspiratif bagi muslim, tidak hanya kalangan fundamentalis, tetapi juga tradisionalis. Setiap ada budaya yang dilihat sebagai sesuatu yang menggerogoti tradisi keislaman selalu dikaitkan dengan upaya Yahudi dalam melemahkan iman masyarakat muslim. Demikian, ungkap Martin Van Bruinessen dalam sebuah ceramah yang disampaikan pada Institut Dialog Antar Iman (DIAN), Yogjakarta tahun 1993.

Tetapi, tahukah kita, bahwa ada seorang etnis Yahudi kelahiran Andalusia pada abad kelima belas masehi adalah salah satu penyebar Islam di pulau Jawa. Dialah Maulana Abdulmalik Israel yang semula seorang Yahudi yang konversi menjadi muslim, demikian dituliskan oleh Kyai Haji Muhammad Solikhin, seorang ulama yang mengasuh pesantren di Boyolali, dalam triloginya tentang Syeikh Siti Jenarnya. Bahkan, dalam buku yang ditulis oleh Ibnu Batutah, konon Maulana Malik Israel adalah salah satu anggota dari dewan Wali Sanga angkatan pertama, selain Syeikh Subakir, Syeikh Hassanuddin dan beberapa penyebar Islam pertama di Jawa. Maulana Malik Israel adalah seorang sufi yang meninggalkan tradisi Andalusia, tempat kelahirannya, sehingga tidak melulu mengandalkan rasionalisme yang telah menyebabkan kejatuhan Andalusia.

Continue reading

Potensi Manusia Yang Luar Biasa

Pada suatu hari, seorang anak menangis tersedu-sedu saat pulang dari sekolahnya. Melihat itu, dengan penuh kasih sayang, ibunya mendatangi si bocah. Saat ditanya, apa yang terjadi, si bocah hanya diam saja, sembari tetap mengucurkan air mata. Ia kemudian hanya menyerahkan selembar surat yang menurut gurunya harus diberikan segera pada ibunya.

Continue reading

Tasawuf Tanpa Tarekat (Selesai)

Tentang Ziarah Ke Makam Wali/Ulama

 

Tasawuf adalah dunia rasa dan tidak akan pernah mengetahui tanpa merasakan dan tasawuf juga adalah dunia yang sangat halus, laksana rambut dibelah tujuh, tanpa kehati-hatian bukan Makrifat sebagai puncak tauhid yang didapat akan tetapi malah terjebak dalam kemusyrikan. Para Wali dan Sufi sudah menjadi tradisi mengunjungi makam Wali untuk mengambil berkah dan untuk mendapat petunjuk, petunjuk dan berkah hanya akan didapat kalau memenuhi rukun syaratnya. Kenapa wali atau sufi mengunjungi makam wali karena keduanya mempunyai ikatan atau ada hubungan, apakah hubungan berguru langsung atau makam tersebut salah seorang yang tercantum dalam jalur keguruannya. Sedangkan orang awam, ikut-ikutan mendatangi makam wali tanpa mempunyai ikatan apa-apa bahkan ada yang tanpa mengetahui itu makam wali atau tidak membuat sesajian atau persembahan yang mengarah kepada Musyrik. Praktek-praktek perdukunan karena berhubungan dengan gaib dihubungkan dengan tasawuf yang merupakan mistik Islam yang berhubungan juga dengan gaib. Banyak orang mencampur adukkan yang HAQ dengan yang BATHIL sehingga bukan berkah yang di dapat tapi bala!

Continue reading

Tasawuf Tanpa Tarekat (3)

Tasawuf Tanpa Tarekat = Teori

Tasawuf dari sekian banyak definisi bisa kita persingkat menjadi akhlak yang baik, dengan melaksanakan tasawuf maka akhlak manusia ikut menjadi baik. Rasulullah SAW sebagai teladan kita semua memberikan contoh akhlak yang baik dalam kehidupan Beliau, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat Akhlakul Karimah (akhlak yang baik)”. Dengan membaca karya-karya Tasawuf yang ditulis baik oleh Guru Sufi maupun orang-orang yang ahli tentang tasawuf secara teori mungkin bisa saja membuat perilaku kita berubah, suka menolong orang, rajin beribadah dan sabar dalam segala hal, akan tetapi perubahan itu tidak bersifat permanen tapi hanya sementara, selagi kita membaca dan mengingat apa yang ditulis dalam buku tasawuf saat itu kita menjadi baik namun ketika kita lupa maka semuanya akan kembali seperti semula. Akhlak manusia tidak bisa diubah hanya dengan membaca dan mempelajari buku saja. Rasulullah SAW mengubah akhlak manusia dengan menanamkan “Kalimah Allah” ke dalam qalbu para sahabatnya, membersihkan hati dengan zikir sehingga perubahan akhlak para sahabat bukan berasal dari luar akan tetapi berasal dari dalam dan itu bersifat permanen.

Continue reading

Tasawuf Tanpa Tarekat (2)

Auliya Allah (Wali Allah) sosok yang saya Idolakan sejak kecil

Saya lahir dan besar di desa, dari kecil Nenek saya cerita bahwa di gunung yang ada di desa saya itu tinggal Aulia Allah (Wali Allah). Ketika akan datang musim menanam padi, dipuncak gunung Auliya  Allah akan mengibarkan bendera putih tanda mulai musim menanam padi dan kalau bendera itu sudah dinaikkan maka biasanya hasil padi akan baik dan tidak pernah mengalami gagal panen. Nenek saya juga cerita bahwa Auliya Allah tidak hari kerjanya hanya ibadah dan zikir saya dan saat itu saya tidak pernah menanyakan apa yang dimakan Auliya Allah di hutan, apakah mereka makan nasi atau makanan makanan lain. Bahkan saya meyakini bahwa Auliya Allah itu berbeda dengan manusia seperti kita, sosok gaib seperti malaikat itulah gambaran Auliaya Allah dalam pikiran saya.

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 13.022 pengikut lainnya.