Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Siapakah Wali Allah itu?

Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Tulisan ini saya tujukan kepada orang-orang yang ingin mencari dan bertemu dengan Kekasih Allah yang setiap zaman diturunkan oleh Allah SWT ke dunia untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tulisan ini mudah-mudahan bisa membuka hijab orang-orang yang selama ini mengingkari adanya Wali Allah. Siapakah Wali Allah itu? Dan bagaimana kita bisa mengetahui kalau seseorang mempunyai derajat Wali? Berikut pendapat para Syekh tentang Wali Allah.

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.

Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).

Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.

Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari kebatalan menuju pada ketetapan adalah kesungguhannya menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah, segala kebaikan diberikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).

Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”

Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”

Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :

Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:

Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka. Nabi bersabda :

اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ

Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Jadi, seorang Wali akan mengalami hinaan dan makian sebagaimana yang dialami oleh Para Nabi dan itu tidak akan menyurutkan langkah mereka untuk berdakwah membesarkan Nama Tuhan. Saya jadi ingat ucapan Guru dari Guru saya kepada Beliau ketika Beliau masih berguru. “Nanti suatu saat nanti sejuta orang mengatakan kau masuk neraka tidak usah kau takut, kecuali yang SATU itu”

“Cintailah yang di bumi maka yang di langit akan mencintaimu” Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Kekasih-Nya di muka bumi agar kita bisa mencintai kekasih-Nya dengan demikian maka Allah SWT pasti mencintai kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Single Post Navigation

119 thoughts on “Siapakah Wali Allah itu?

Comment navigation

  1. Saya sangat senang dan gembira (sangat), entah sebentar lagi apa

  2. Tahun 1994 : Saya sholat jum’at di masjid (istilah TN : Surau, populernya QA) bersama anak saya (ekocho) waktu itu usianya masih belasan tahun dan dia adalah jama’ah sholat jum’at “termuda” dan saya katakan padanya : “Anakku,..ingat-ingatlah sholat jum’at kali ini, adalah sholat jum’at paling bersejarah dalam hidupmu,…karena yang jadi imamnya nanti adalah seorang Wali Allah, bahkan,.. Penghulu diantara Para Wali di zaman ini,…jarang-jarang lho kebanyakkan orang sholat bersama Wali Allah. Anakku mengangguk kala itu dan aku tersenyum (ku yakin anakku belum paham benar maksud kataku tadi) . Saya berniat datang lebih awal (maklum membawa anak kecil),….Benar dalam dugaan,.. orang-orang yang ingin sholat berjama’ah banyak, berjubel,..padat merayap,..perasaanku pun wah;..apa cukup kapasitas Surau ini ? bahkan sepengetahuan-ku ada yang datang dari Pematang Siantar-Tanjung Balai-Tebing Tinggi-Brastagi-Kabanjahe-Binjai-PangkalanBrandan__yang menempuh perjalanan dengan mobil, 4 a 5 jam . Wah; rasanya betul-betul semua yg datang ingin mendapat rahmat dan sholat ber-imam kan seorang Wali,..dan dugaan selanjutnya benar lagi,…kala itu aku-lah satu-satunya jama’ah yang membawa anak kecil…………

    Suasana mengalir begitu saja, tiba-tiba ter lintas di memori-ku (dulu) pernah seorang “alim”, Dia berkata : Jika suatu saat nanti engkau ber-rezeki (berkesempatan)sholat bersama Wali Allah,… semoga engkau dapat “mengujinya” (Apakah benar Dia seorang Wali Allah atau bukan) caranya : “saat imam itu menyebut ,…Walad dholinn,…(sebelum menyebut amiin) ingat saat itu sangatlah singkatnya,….Sebutlah dalam hatimu Allahuma firlannaa,…Lalu minta hajatmu,… Kata-kata seorang “alim” itu pun masih terngiang di telingaku; Walaupun engkau mengatakannya didalam hati, pasti imam itu mendengarnya jika memang Dia Wali Allah.
    Ini betul-betul kesempatan emas,..terlebih dahulu mohon maaf dan ampun dalam hatiku,.. dan aku pun berniat melakukannya;….Sholat jum’at-pun dimulai dan benar saja pada saat raka’at pertama,..begitu imam itu membaca suraah Al Fatehah,……..pada kalimat Walad dhooliiinn,… cepat-cepat kusebut dalam hati-ku seperti itu,… dan aneh-nya Imam kala itu seperti (menunggu) selesai kumenyebut niat ku itu ,…dan niat ku itu berduarasi sekitar 2 menit-an juga. (Mungkin jama’ah lain pun saat itu merasa tertegun, karena ucapan “amin” lama baru disebut oleh Imam kala itu).
    Begitu aku selesai,..langsung Imam pun menyambutnya dengan menyebut Amiiin dan diiringi oleh seluruh jama’ah (layak-nya meng-amin-kan hajat ku itu) ,…aku tertegun sesaat (aneh) sepertinya imam ini “mengerti dan mendengar suara hatiku” ,..sambil mentasdihkan dalam hati,..Memang ini benar-benar seorang Wali Allah,… selanjutnya proses sholat berjalan sebagaimana biasa,..saat sholat mendekati raka’at kedua tiba-tiba perasaan hatiku bergetar,…muncul saja rasa haru biru (aneh) hati rasanya terrenyuh pilu engga tau apa penyebab-nya,…menjelang salam aku-pun terisak-isak menangis. Biasanya selesai sholat jum’at kami bertawajuh,..tapi tangis ku makin tak terbendung (sepertinya tangis ku mengundang perhatian jama’ah yg lain, kala itu). Saat Tawajuh akan dimulai, masing-masing jama’ah mencari posisi duduk tawaruk,…entah bagaimana saat itu,..sepertinya ada yang lewat disamping duduk ku,.. sambil lewat menepuk-nepuk bahu-ku dan mengusap-usap kepala ku,.. Dan aku-pun menoleh ternyata mereka “Petinggi” Thareqat (ini) antara lain Anak-anak dan Menantu Imam ini, Yang jika disebut nama-nama mereka maka teriring salam kesejahteraan meliputi tingkat derajat kemuliaan atas amal-amal mereka dan ketetapan istiqomah mereka pada thareqat ini. Beliau-beliau adalah : Al Mukarram alm.Drs.H.Syaikh Iskandar Zulkarnain SH.MH-Al Mukarram H.Syaikh Abdul Khalik Fajduani SH-Al Mukarram alm.H.Muhammad Jafar Ali,SH
    Beberapa saat tangisku pun mulai mereda,..dan tawajuh pun selesai pula,.. ada 2 a 3 orang jama’ah menyalami ku,..Tiba-tiba aku tersentak, teringat aku akan anakku,… aku pun segera ingin keluar mencarinya,(diantara kerumunan orang banyak)…setelah bertemu ku sapa dia: Anakku,. ini,.. adalah sholat jum’at paling bersejarah bagi kita berdua, yaitu ber-imam dengan seorang Wali Allah,….Dan itu pasti Wali Allah, karena Imam itu “dapat” mendengar suara hatiku walaupun begitu banyak-nya jama’ah sholat yang ada kala itu.
    Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Walilahi ilhamd
    Saat kutulis artikel ini, ku pun masih terharu teringat Allah SWT, berfirman :
    Innallaha ‘alimmu ghaibbissamawati wal-ardh, innahu ‘alimum bi zatis-sudur.Sungguh Allah mengetahui yang ghaib (tersembunyi) dilangit dan di bumi, sungguh,..Dia Maha Mengetahui segala isi hati.(Al Qur’an Suraah Fatir-38).
    Wassalam, Mohon maaf pada yang dimuliakan oleh orang banyak.

    • Kamu telah tertipu,karena paranormalpun bisa baca pikiran orang.Sejatinya tidak ada yang yang tahu ttg perkara gaib kecuali Allah.

      • Anda benar, Tidak usah paranormal, belajar ilmu hypnoterapi dan NLP pun anda juga bisa baca pikiran orang.
        Inti tulisan saya bukan disitu.
        Hanya ahli permata yang bisa membedakan mana permata asli mana yang palsu. Hanya Seorang yang ahli di bidangnya pula yang bisa membedakan antara ilmu yang haq dengan ilmu yang bathil.
        Benar hanya Allah yang mengetahui perkara Gaib, dan yang harus kita pahami, tidak ada yang bisa menghalangi Allah untuk memberikan ilmu termasuk kepada Nabi dan ulama penerus Nabi.

  3. salam, cuma nak tahu adakah wali wanita di akhir zaman ini?

  4. aku pernah bertemu dengan seorang daripada mereka….tapi disaat aku tanya beliau..dia mengikari bahwasanya dia seorang wali…tp akhlaqnya…keutamaan wawasan ilmu islamnya…dan dia begitu sayang padaku….cintanya kepada umat islam….dah saatnya aku bertemu dengannya lagi…untuk belajar…:)

  5. assalamu alikum, adinda mau bertanya, pa benar pada hakikatx, wali itu cuma 1 saja, trims,

  6. Ping-balik: Pentingnya Ilmu Tarekat | SUFI MUDA

  7. intinya wali allah adalah orang beriman dan bertaqwa kan ya?

  8. assalamu,alaikum wr wb . saya hamba yg do,if dan jahil , sudilah kira Tuan ustz menulis DO,A pada sa,at WALADDOOLLIIN……… atas kmurahan nya saya hanya bisa ucap
    sukron LILLAH.

  9. Semakin orang belajar sufi maka semakin bobrok dalam agama.Tidak mungkin manusia terbebas dari syari’at.

Comment navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 15.242 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: