Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

TIDAK ADA DERITA ATAS NAMA CINTA

Oleh : Abu Hafidzh Al Faruq

 

Pembaca yang budiman, berapa lamakah anda sebagai anak dibesarkan, diasuh, dididik, dibiayai… oleh orang tua anda? Apakah pernah terpikir betapa berat derita orang tua anda untuk membesarkan anda, berkorban perasaan, harta bahkan bersabung nyawa. Sebagai orang tua atau suami sudah berapa lamakah anda menanggung beban atas istri dan anak anak anda? Menafkahi lahir bathin…  Saya mencoba mengambil hanya satu item menafkahi dari sekian banyak pengorbanan yang telah anda lakukan. Kepada para pembaca yang sudah mempunyai pengalaman sebagai suami atau orang tua (parents, not old man ; red), dari sekian lama menafkahi istri dan anak anak anda apakah terasa berat selama ini? Bagaimana kalau persepsi anda terhadap istri dan anak anak anda saya ganti sejenak, anda adalah budak istri dan budak anak anak anda yang harus banting tulang dan wajib setor gaji tiap bulan dan penghasilan apapun untuk mereka, bagaimana perasaan anda? Padahal apa yang anda berikan untuk istri dan anak anak anda tidak ada bedanya apakah sebelum atau sesudah persepsi anda diganti, tapi mengapa perasaan anda begitu sangat bertolak belakang ketika persepsi itu dibedakan? Sesungguhnya apa yang anda perjuangkan demi istri dan anak anak anda adalah sangat berat sebagaimana anda membayangkan beban orang tua anda ketika membesarkan anda, bahkan sebagian dari anda tidak mampu melakukannya, seberapa berat? Andalah yang paling mengetahuinya karena andalah yang menjalankannya. Tapi sampai sejauh ini mengapa anda sanggup melakukannya?

Para pembaca yang budiman, saya berfikir tentang hal ini setelah Guru saya yang sangat bersahaja berkata ‘tidak ada derita atas nama cinta’. …ya, selama ini anda sanggup melakukannya karena cinta, cinta yang anda berikan kepada istri dan anak anak anda. Contoh yang saya ambil tentang pengorbanan atas nama cinta kepada keluarga adalah analogi saya sendiri supaya saya yang bebal ini mudah memahami makna petuah Guru saya. Lalu apa sesungguhnya maksud Guru saya?

Pembaca budiman, saya membaca kisah kisah kesabaran Nabi Ayub Alaihissalam yang penuh penderitaan ketika saya kelas 3 SD, yang dimulai dari musnahnya seluruh harta benda, kehilangan seluruh anak dengan cara yang tragis, diterpa penyakit kronis yang tak berkesudahan, dicemooh dan dikucilkan dari masyarakatnya, hingga ditinggalkan oleh semua istrinya. Berdasarkan analogi yang telah saya jalani di atas, saya jadi ragu apakah Ayub benar benar menderita ketika itu. Lho kenapa? Dalam persepsi saya tidak ada satu manusiapun yang sanggup menahan derita seperti itu termasuk Ayub sekalipun! Lalu kenapa Dia mampu menghadapinya? Ayub mampu melewatinya karena Ayub beserta … (menurut anda?). Derita apa yang bisa dirasakan hamba bila telah beserta yang MAHA KASIH? Pembaca budiman, betapa dalam dan luas makna ucapan Guru saya sehingga anda bebas menafsirkan menurut anda sendiri berdasar kemampuan anda untuk diri anda sendiri. Lalu bagaimana pula beratnya bila tanpa yang MAHA KASIH? Saya kira inilah yang menjadi penyebab pada sebagian orang apabila putus cinta lalu minum baygon, tidak sanggup bayar hutang lalu tidur di rel kereta yang melintas,  atau ditagih uang 20 ribu perak lalu membunuh sampe mutilasi segala. Kedengarannya sepele memang tapi bagi sebagian orang hal tersebut sudah merupakan masalah yang maha berat sehingga bunuh diri atau membunuh orang adalah jalan keluar yang sangat membahagiakan. Bagi saya itulah arti ‘beserta-Nya’ dengan ‘tanpa beserta-Nya’. …yang terbungkus balut, yang terikat simpul kuat, yang menyatu bersetubuh menyeluruh dengan CINTA, CINTA kepada TUHAN. Anda tidak akan sampai pada maqam cinta bila anda belum kenal Tuhan anda. Perlu anda renungi, bagaimana anda mencintai seseorang atau sesuatu yang belum anda kenal?

Pembaca sekalian, baru baru ini seorang teman mengirim email ke saya. Rupanya masalah ‘besertaNYA’ dan ‘tanpa besertaNYA’ ini pernah di gugat di kampus, apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Berikut petikannya yang konon berupa kisah nyata..

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan  menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali  lagi.

“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

 Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip Kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi Bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.  Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”

Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga Tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan .Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.” …

 

kuanyam tikar ku jalin rata

panjangnya depa kuukur hasta

ku kira benar dulu Ayub menderita

rupanya tiada jikalau TUHAN beserta

pucuk rebung si tunas buluh

masak di kuali ku bawa berlabuh

biar bersabung nyawa tercerai tubuh

tak ku perduli asal CINTA kekal bersetubuh

 

                                                                                    Kutaraja, 26 oktober ‘08

Single Post Navigation

8 thoughts on “TIDAK ADA DERITA ATAS NAMA CINTA

  1. Sufi Gila on said:

    “jangan engkau mengaku beriman sebelum engkau Kucoba”
    keyakinan sempurna atau haqqul yaqin hanya akan kita dapatkan apabila kita telah melewati serangkaian cobaan dari Allah …. sehingga hanya Allah lah yg berhak untuk menyematkan pangkat beriman pada hambaNya … semakin tinggi cobaan yg menerpamu maka akan semakin sempurna tingkat keyakinanmu pada Allah ….

    ya Allah Yang Maha Pengampun … ampunilah sekalian dosa-dosa kami yang dzalim ini yaaa Allah

    akuilah bahwa diri kita adalah yg paling dzalim jauh dari kesempurnaan …. maka orang2 yang telah mencapai kedudukan seperti ini adalah orang2 yang menjauhkan diri dari perdebatan masalah keyakinan … karena dia tahu bahwa semua pemahaman dan kedudukan keruhanian bukan didapat dari hasil kerja kerasnya melainkan dari kasih sayang Allah semata … kita hanya sekedar memohon dan mengemis di hadapan Allah dan semoga Allah berkenan dengan segala kasih sayangnya

  2. @sufi gila

    perkataan anda benar sesuai nama anda GILA (gila mencari kebenaran meskipun kebenaran milik ALLAH tp penyampaian kebenaran itulah datangnya dari anda dan kita yg sudah merasainya dan melakukan berbagai proses kerohanian menurut aturan dan syarat yg benar yg diperoleh oleh guru besar saat ini (WALI QUTUB)………slamat berjuang para sufi……..

    SALAM BUAT PARA SUFI DISEANTERO DUNIA……
    TIADA GURU YG MAMPU MEMBAWA KITA KEHADIRATNYA MELAINKAN PARA WALI ALLAH TERUTAMA WALI QUTUB

    WASALLAM

  3. Siapakan abu hafizd al faruq ini? pantunnya mantap benar :-)

  4. Sufi Gila on said:

    salam cinta dan damai untukmu semua yg telah merasai keindahan dan keagungan Allah dan segala tentang Allah … bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu …

    kata Guru ada 70.000 dinding pemisah antara kita dengan Allah … maka merasakan segala sesuatu tentang Allah harus kita lewati … murka Nya adalah indah …. ngambek Nya adalah indah …. Kasih Nya adalah indah …. dan segala tentang Nya adalah indah

    kata Once … aku mau mendampingi dirimu … aku mau cintai kekuranganmu … selalu bersedia bahagiakanmu apapun terjadi ….
    begitu indah tapi susah tuk dilaksanakan … ada kata2 Guru yang selalu terngiang bahwa “sesungguhnya ujian yang terberat adalah yang berasal dari sisi sang Guru”
    benar dan benar semua yg dikatakan sang Guru ….

    ampuni aku ya Allah … jauhkan aku dari perbuatan hati yang menyakitkan Guru …. dan matikan aku sebelum aku durhaka pada Guru … sungguh mencintai Guru adalah tanda mencintai Mu dan menyakitinya adalah sama dengan menyakiti Mu … semoga damai selalu menyertai pertemuanku dengan para Kekasih Mu di alam keabadian

  5. lebih baik jika derita yg kudapatkan asalkan aku bisa tetap menatap indahmu wahai kesempurnaan, tak apa bila bala yg kau berikan asalkan kau msh sudi menganggapku… tapi kumohon jgn diami aku.. krn itu lebih buruk dr kmatian.. krn aku sangat butuh padamu melebihi udara yg kubutuhkan untuk bernafas .. bahkan marahmu padaku adalah keindahan yg membuatku makin bersemangat untuk terus berbuat kepadamu, bila boleh ku memohon… walau tak mungkin kudapatkan cinta izinkan aku menjadi jin yg selalu kau gunakan untuk mengabdi kepadamu.. krn itu lbh baik drpada aku kau jadikan malaikat yg tak berguna ,dan hanya jd pelengkap d kerajaanmu… asalkan kau tak diam padaku tuhan…krn ku tak kan mampu bertahan..lbh baik terus kau berikan derita,asalkan bersamamu..pasti smua akan baik baik saja.

  6. yudistira on said:

    postingannya luar biasa:-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.886 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: