Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

JEJAK-JEJAK CINTA sang SUFI MUDA (Bag 1)

 

Jika aku harus meneruskan keteranganku tentang Cinta,

Walau seratus kebangkitan berlalu, belum juga purna

Oh Cinta yang memiliki seribu nama dan sebuah mangkuk

Anggur-anggur yang manis! Oh engkau diberkati seribu

Kemampuan

Maulana Jalaluddin Rumi”

 

 

Malam belum mencapai puncak. Seperti biasa, sebelum tidur kusempatkan diri untuk merenung sejenak di atas bentangan sajadah panjang. Bukan untuk meminta sesuatu yang berharga dalam hidup, tetapi sekedar ingin berbincang dengan-Nya, tentang banyak hal yang membuat manusia merasa tidak memiliki satu alasan pun untuk untuk tidak bersyukur. Terlebih lagi tentang gurauan-gurauan-Nya yang dasyat, yang seharusnya membuat orang semakin dekat dengan-Nya, dan bukan sebalik: menuduh-Nya dengan pikiran dan perasaan yang bukan-bukan. Tidak jauh beda dengan manusia, apa yang disebut sebagai Allah pun acap kali menjadi objek bagi kekecewaan dan kegagalan kita dalam memahami hidup, terutama sekali dalam memahami diri kita sendiri. Beberapa saat kemudian, dua kali ketukan pintu dan suar batuk terdengar. Pintu kubuka, dan si pengetuk pintu telah berdiri tepat di depanku. Seperti hari-hari kemaren, tidak ada yang penting bagi tamuku yang satu ini, selain membicarakan perihal perasaan cintanya. Cinta, yang katanya sangat mendalam, sayang yang katanya tidak terukur, dan kenyataan yang katanya melompat jauh dari harapan. Cinta yang tertolak! Dia tidak pernah tahu kapan derita cintanya akan berakhir, sementara disaat yang sama cintanya semakin dalam dan benar-benar tak tertahankan. “Aku mencintainya, dan hanya dialah yang bisa mengatasi semua ini,” katanya dengan suara tersekat di tenggorokan. Untuk kesekian kalinya, aku tidak punya pilihan yang lebih baik, selain mendengarkan penuturannya, sampai tidak ada lagi yang bisa dikatakan. “Siapapun yang merasakan apa yang aku rasakan, pasti akan mengalami hal yang salam sepertiku.” Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit. Ketika kuceritakan perihal sakitnya itu kepada orang yang dicintainya, dengan harapan bersedia menjenguknya, ia malah berkata: “Aku tidak akan menjenguk orang sakit yang dibuatnya sendiri” Aku terdiam. Bagaimana bisa, pembunuhan diam-diam tengah berlangsung, dan justru “dilakukan” oleh orang yang diagungkannya melebihi dewi-dewi di kahyangan.

 

Han telah mampu menikmati tubuh kekasihnya melebihi apa yang diimajinasikannya. Pada awalnya, Han hanya ingin menempatkan kekasihnya itu sebagai pengisi waktu luang yang dapat di desain seerotis mungkin. Namun, belakangan, setiap kali ia menikmati tubuhnya, Han tiba-tiba merasa kasihan, berdosa, dan mengutuki diri sendiri sebagai laki-laki yang jahat. Han bilang, bahwa perempuan itu terlalu baik kalau hanya untuk diperlakukan semacam itu. “Kali ini akulah yang kalah,” katanya. Cinta telah mengalihkan pikiran dan perasaanku dari tujuan semula: yakni hanya sekedar menikmati tubuhnya.”

 

Rumah sakit jiwa. Seorang gadis berwajah manis dengan jilbab yang menjulur menutupi pundaknya, terlihat histeris dalam kerangkeng. Ia berteriak dan memanggil-manggil dengan suara penuh harap sekelompok perawat pria dan beberapa pengunjung rumah sakit akan menghampirinya. Di antara jendelan kaca yang pecah berserakan, nasi, bungkusan-bungkusan plastik, dan onggokan baju, ia tertawa, menangis, dan sesekali mengalir deras dari bibirnya ayat-ayat suci dan lagu-lagu religius. Menyedihkan! Gadis manis ini tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan pada diri orang yang dia cintai. Ia telah ditinggalkan begitu saja. Cinta telah membuatnya menjadi gadis petualang paling liar yang lupa dengan dirinya sendiri: hidup dalam dunia asing yang tak terpahami, kecuali oleh kegilaannya. Cinta, adalah salah satu sebab yang memaksanya harus mendekam dalam kerangkeng kegilaan.

 

Mileva adalah penganut Gereja Ortodoks Yunani yang saleh. Konon, keberagamaan Einstein tidak hanya diperoleh dari pendidikannya di masa kecil, tetapi juga dari perkawinannya dengan Mileva, temannya dalam kelas fisika, Ketika mereka terpaksa bercerai, Einstein memanggil mantan istrinya dengan sapaan mesra, “Engkau akan menjadi suci bagiku, yang tidak seorang pun bisa masuk ke situ.” Ketika Einstein memenangkan hadiah Nobel (setelah enam kali diprotes oleh fisikawan yang rasis, berkat temuannya dalam efek fotoelektrik, bukan teori relativitas) ia mengirimkan hadiah uangnya kepada Mileva. 1)

 

Pada tahun 1201, ketika sedang melaksanakan Tawaf di Ka’bah, Ibn al-Arabi mengalami sebuah pengalaman yang meninggalkan pengaruh kuat dan lama terhadap dirinya, dia melihat perempuan muda bernama Nizam dikelilingi oleh cahaya dan ia menyadari bahwa perempuan yang bernama Nizam itu adalah Hikmat Ilahi. Epifani ini membuat al-Arabi sadar dan meyakini bahwa adalah mustahil baginya mencintai Tuhan jika hanya bersandar pada argumen-argumen rasional . Ia percaya bahwa imajinasi cerdik akan mampu menembus batas fisikal dan rasional sehingga seseorang bisa menangkap dan menyerap segala sesuatu sebagai bagian dari Keindahan Tuhan. Serupa dengan Ibn al-Arabi, sekitar delapan tahun kemudian, Dante Alighieri memperoleh pengalaman serupa di Florence ketika bertemu dengan Beatrice Portinari. Sontak, begitu dia menatap gadis Portinari itu, jiwanya bergetar kuat dan seakan-akan dia mendengar seruan dari dalam dirinya untuk mengagumi bentuk-bentuk kehadiran Tuhan: “Lihatlah Tuhan yang lebih kuat daripadaku yang datang untuk menaklukkan diriku.” Beatrice menjadi citra Ilahi bagi Dante. 2)

 

PANAMPAKAN

Dari sejumlah contoh di atas, tampak betapa energi yang kita sebut sebagai cinta hadir dalam berbagai bentuk. Cinta pada contoh pertama menyeret seseorang pada krisis eksistensial. Keterpusatan makna dari cinta yang lahir sendiri tanpa keterlibatan obyek cinta telah mengubah realitas objektif atau kenyataan menjadi hampir sepenuhnya subjektif. Ia sulit dan bahkan tidak bisa menerima kenyataan dari cintanya yang tertolak. Penolakan itu justru memperdalam perasaan cintanya. Ia membangun dan menciptakan orang yang dia cintai terus-menerus dan dalam keguncangan psikologis. Sehingga, pikiran, perasaan, dan dinamika di dalam cinta kemudian berkembang melampaui keberadaan dirinya. Di sini, apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai kekeliruan, kebodohan, dan kelemahan, justru dirasakan sebagai suatu kebenaran yang nyata dan tak terbantahkan. Sepuluh, dua puluh, atau bahkan seratus orang bisa saja mengatakan bahwa dia disesatkan oleh pikiran dan perasaannya sendiri, namun ia akan tetap berada dalam kesulitan untuk menyelamatkan diri dari cinta yang setiap saat menggerogoti jiwanya. Bisa jadi, ini adalah penyerapan terdalam dari kedalaman perempuan, yang barangkali tak tersingkapkan, kecuali olehnya, atau keagungan dalam diri perempuan, yang bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri.

 

Pada contoh kedua kita melihat, dimana secara diam-diam dan tanpa sadar terjadi perubahan pikiran dan perasaan dalam diri seseorang. Dari dorongan yang semata-mata seksual menjadi interaksi yang melibatkan beragam dimensi psikologis. Ada hasrat seksual, kesadaran, terbangkitkannya moralitas, rasa kasihan, dan rasa tanggung jawab. Pada kasus ini, meskipun seseorang kesulitan menerima kenyataan psikologisnya, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa sebenarnya ia mulai mencintai seseorang yang sebelumnya tidak lebih dipandang sebagai partner seksual, dan hal itu membuatnya takut, khawatir, cemas, dan tidak lagi melihat hasrat seksual sebagai kebanggaan. Ia tidak percaya dengan cintanya sendiri, di saat dia mulai mencintai, karena memang sedari awal ia tidak hendak memupuk kepercayaan terhadap cinta, kecuali cinta itu memberikan kepuasan seksual baginya. Tapi kali ini, ia mendapati perasaan cinta yang hendak menyelamatkan nilai seseorang dan dirinya sendiri.

 

Pada kasus ketiga, si gadis sudah terlanjur menempatkan orang yang dia cintai sebagai satu-satunya makna yang tak tergantikan oleh apa pun. Suatu alasan tunggal, yang karenanya hidup layak untuk dilanjutkan. Ia telah menjadi orang lain, menjadi orang yang dia cintai, sementara orang yang dia cintai tidak bisa menjadi dirinya lagi, akibatnya ia terpisah dari dirinya sendiri. Kemudian pada kasus keempat mungkin kita akan bertanya, ada apa sebenarnya di kedalaman diri seorang Mileva sehingga ilmuan besar bernama Einstein perlu menyebutnya sebagai “tempat suci”, meski keduanya telah bercerai. Ada banyak kemungkinan, di antaranya, secara riil keduanya barangkali tidak lagi menemukan kecocokan, dan karenanya hubungan keduanya dalam kehidupan nyata akan banyak diwarnai benturan-benturan yang banyak menyesakkan. Namun, cinta melampaui dan lebih dalam dari pikiran, perasaan, sikap, perbuatan, konflik, dan sejumlah perbedaan, sehingga ruang cinta, ruang keagungan, dan ruang kesucian  dalam diri Einstein akan tetap diisi oleh kehadiran dan keabadian sosok Mileva. Keduanya barang kali harus mencintai dan membangun cinta dengan cara dan jalan yang lain. Betapa pun, suatu perpisahan tidak selalu menjadi suatu tanda berakhirnya cinta, bahkan dalam kasus ini perpisahan menjadi bagian dari cinta dan mencintai itu sendiri.

 

Lebih mengejutkan lagi kehadiran cinta pada diri Ibn al-Arabi dan Dante Alighieri. Ini bukanlah cinta biasa. Wujud dari kehadiran perempuan tidak lagi menjadi keindahan atau keagungan yang menarik jiwa untuk menari dalam ekstase fisikal, tapi menjadi stimulus yang menghentakkan ruh, diri, hati, dan jiwa untuk menatap kehadiran Tuhan. Apa yang dikatakan Ibn al-Arabi mengenai peristiwa itu, jauh menembus lintas batas tempat, ruang, waktu, dan kesadaran. Di sini perlu saya garisbawahi agar tidak disalahpahami, bahwa sependapat atau tidak dengan konsep atau pengalaman yang dikemukakan Ibn al-Arabi dan Dante Alighieri tidaklah terlalu penting, karena demikianlah isi pengalaman batiniah yang menyusup di kedalaman diri seseorang. Suatu konsep pikiran dan perasaan yang agaknya tidak hanya sekadar muncul atas dasar pengalaman, akan tetapi juga tumbuh dari apa yan telah dikatakan Allah: “ Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan semesta dan makhluk-makhluk agar Aku dikenal oleh mereka”. Dan di waktu yang lain Allah juga berfirman : “ Kemanapun engkau palingkan wajahmu kau akan menemukan wajah-Ku. ” Nizam adalah epifani dari wajah Allah yang indah indah bagi Ibn al-Arabi hingga dia merasa begitu perlu untuk mengatakan, bahwa kalau engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, engkau tidak lain mencintai Allah, karena Dia adalah satu-satunya Wujud yang Indah.” Dengan demikian, kata al-Arabi , semua aspek dari objek cinta hanyalah Tuhan. Kita, lanjut al-Arabi, tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri, namun kita bisa melihatnya ketika Dia memilih mewahyukan Diri melalui makhluk-makhlukNya, seperti gadis Nizam, yang mengilhami rasa cinta di hati Ibn al-Arabi. “ Nizam, katanya, “telah menjadi objek pencarianku dan harapanku, perawan yang paling murni: banyak hal dari alam batin yang lebih mempesonaku daripada segala yang ada di dalam kehidupan aktual dan karena gadis belia ini aku mengetahui persis apa yang kumaksudkan.“ Imajinasi kreatif telah mengubah gadis Nizam menjadi avatar Tuhan.

 

Apakah keindahan akan selalu membawa pada kebesaran dan kehadiran Tuhan, adalah pertanyaan yang harus dikembalikan pada bagaimana kita melihat keindahan dan dengan apa kita melihatnya. Setiap kita memiliki penglihatan, pendengaran, dan hati, tetapi tidak setiap kita menyadari kualitasnya, dan bahwa penglihatan, pendengaran, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Dan demikianlah, penjelasan sementara dan sederhana dari sejumlah contoh di atas, yang sudah barang tentu tidaklah sesederhana itu. Yang ingin saya katakan dengan menyuguhkan sejumlah contoh di atas adalah bahwa atas nama, demi, dan oleh cinta, seseorang akan hadir dalam keberagaman pengalaman, dari perilaku unik yang masih dikendalikan kesadaran hingga kegilaan yang terus membangun dirinya sendiri. Dari pemujaan akan seks sampai penangkapan kesucian dan kesadaran. Dan dari kehadiran objektif, spiritual pribadi, yang berpusat pada manusia, sampai pada penghayatan konsepsi imajinatif sufistik tentang Tuhan yang personal. Kalau demikian, lantas apa sebenarnya yang di maksud dengan cinta?

 

 

Single Post Navigation

3 thoughts on “JEJAK-JEJAK CINTA sang SUFI MUDA (Bag 1)

  1. ckasih on said:

    ================
    ================
    NOW AVAILABLE CHRISTIANITY MADE IN MALAYSIA!!!
    ================
    ================
    EVERY CHRISTIAN NOW MUST LEARN ARABIC. THE FIRST LESSON IS SAY “ALLAH” AND NOT “GOD”.
    This is because English language not suitable anymore because the original Bible is in Arabic.

    Get the full story here: http://ckasih.blogspot.com

  2. Ganefi Intan Rumita on said:

    Cinta adalah cahaya kehidupan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 15.112 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: