Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

ZIKIR DALAM THAREQAT (Bag 2)

Macam-Macam Dzikir

Dari segi materi lafalnya, dzikir ada 3 macam

1)       Seseorang melafalkan ismu dzat Allah Allah sebanyak-banyaknya

sebagaimana firman Allah dalam surat Hamim Sajadah ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Tuhan kita adalah Allah, kemudian mereka tekun maka turunlah malaikat pada mereka, dan malaikat itu memberi kabar : gembiralah kalian dengan apa yang telah dijanjikan pada kalian.” Dan hadits Nabi diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi. Rasulullah bersabda kepada sayyidina Ali : “Ya Ali, pejamkan kedua matamu, lekatkan (rapatkan) kedua bibirmu, naikkan lidahmu dan berkatalah (berzikirlah) Allah Allah.”

                Allah berfirman :

 

Katakanlah, Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. al An’am : 91)

 

                Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله

 

Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi orang yang menyebut Allah,… Allah. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

 

Seorang yang berzikir lafal Allah Allah mesti disertai dengan ‘wukuf qalbi’ yakni waktu mengucapkan ismu dzat tersebut di hatinya, seseorang memperhatikan mengalirnya lafal itu dari hati. Wukuf qalbi adalah hadirnya Mursyid pada hati seseorang, sehingga tidak ada yang diingat kecuali lafal Allah Allah itu pada wajah sang Mursyid. Hal ini andaikata bisa diumpamakan maka keadaannya Mursyid dan Allah itu seperti air dan teh yang menyatu dan bercampur. Mana airnya mana tehnya susah dibedakan, keduanya serupa. Tetapi air tidak akan menjadi teh dan teh pun tidak akan menjadi air. Itulah perbedaan Tuhan dan hamba.

Hamba dan Tuhan diumpamakan pula sebagai kawat dan listrik. Keduanya tidak bisa dibedakan. Kawat itu menyerupai listrik dan listrik pun menyerupai kawat. Akan tetapi kawat tidak akan menjadi listrik dan listrik pun tidak akan menjadi kawat.

Dzikir yang disertai wukuf qalbi atau hadir mursyid adalah dzikir yang berada di maqam fana, yang disebut dengan fana pada mursyid yakni murid meleburkan diri pada ruhani mursyid. Dzikir fana pada mursyid merupakan pendahuluan fana kepada Allah. Dzikir yang tidak disertai wukuf qalbi atau dzikir yang tidak disertai mengingat maknanya adalah dzikir yang lupa. Hal ini serupa dengan jasad tanpa ruh. Dzikir yang demikian itu tidak mengandung pahala dan khasiat apapun.

Adapun makna lafal Allah Allah ialah antara lain : Allah adalah maksud tujuanku, Allah adalah yang aku cari, Allah adalah yang aku cintai, wahai Allah engkaulah yang aku maksud, Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah adalah zat yang ada, Allah adalah zat yang disembah dan engkau adalah Allah tidak yang lain. Akan tetapi pendapat yang paling benar menurut guru-guru thareqat Naqsyabandi, penyebutan Allah tidak disertai dengan rangkaian kata seperti tersebut di atas. Menyebut Allah cukup melirik nama zat Tuhan tanpa diembel-embeli atau dirangkai, karena tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Kalau Allah diserupakan dengan makhluknya berarti bertentangan dengan pernyataan al Qur’an.

2)       Dzikir nafi dan isbat

Dzikir nafi isbat yaitu dzikir dengan mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (Laa Ilaaha = Nafi, meniadakan Tuhan-Tuhanan lain ; Illallah = Isbat, menetapkan Allah saja sebagai Tuhan). Jadi makna kalimat tauhid itu adalah tiada Tuhan selain Allah. Jelasnya ada lima makna dari kalimat itu antara lain : Pertama, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah; Kedua, tidak ada yang dituju kecuali Allah; Ketiga, tidak ada yang dicari kecuali Allah; Keempat, tidak ada yang wujud di alam ini kecuali Allah; Kelima, tidak ada yang dicintai kecuali Allah.

Menurut Rasulullah Saw lafal dzikir yang paling utama adalah dzikir Laa Ilaha Illallah sebagaimana sabda beliau,

اَفْضَلُ مَاقُلْتُ اَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبِلِي لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Yang paling utama apa yang saya ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelum aku adalah Laa Ilaaha Illallah Wahdahuu Laa Syariikalah (Tiada Tuhan selain Allah dengan Maha Esanya dan tiada sekutu bagi-Nya).

 

Dalam hal ini juga Rasulullah bersabda,

Siapa yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallah Wahdahuu Laa Syariikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadiir’ (tiada Tuhan selain Allah dengan Esa-Nya tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu) dibaca setiap hari sebanyak seratus kali, maka kebaikannya menandingi atau sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat untuknya kebaikan seratus macam, dan seratus macam kejelekannya dihapus. Di samping itu dia bebas dari godaan syetan pagi harinya sampai sore. Dan seorang pun tidak bisa mengungguli amalannya kecuali orang yang membaca kalimat itu lebih banyak darinya.

 

Pelaksanaan dzikir Laa Ilaaha Illallah itu harus memakai cara. Adapun cara yang paling bagus adalah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada sayyidina Ali dalam sebuah hadis sebagai berikut:

Sayyidina Ali bertanya. Bagaimana aku berzikir Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab. Caranya, pejamkan kedua matamu dan dengarkanlah dari aku sebanyak tiga kali, dan ucapkanlah seperti apa yang aku ucapkan, waktu engkau mengucapkan itu, aku mendengar, maka Rasulullah mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’ sebanyak tiga kali, dengan kedua mata terpejam. Kemudian sayyidina Ali mengucapkan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.

3)       Dzikir dengan lafal nama kekasih Allah

Nama-nama kekasih Allah Swt baik yang berpangkat nabi, rasul dan berpangkat waliyullah dari kalangan shidiqin, syuhada’ dan shalihin dapat dibuat untuk berdzikir dalam rangka dzikir kepada Allah Swt. Karena mereka senantiasa dzikir kepada Allah Swt dalam keadaan apa saja. Dzikir mereka telah dibalas oleh Allah Swt. Bahkan Allah telah berdzikir kepada mereka. Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman dalam surat al Baqarah ayat 152

 

Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur akan nikmat-Ku.

 

Nama Nabi Muhammad telah diangkat derajatnya sejajar dengan nama Allah Swt. Di mana tiada orang yang membaca kalimah syahadat atau kalimah tauhid (Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah) kecuali nama Muhammad disertakan di sampingnya sehingga menjadi dua kalimah syahadat (Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah) dalam hal ini di ungkapkan pula oleh Allah dalam surat ai Insyirah ayat 4, “Dan Kami telah tinggikan sebutan namamu.

Dzikir berbalas ini juga dilakukan oleh Allah Swt terhadap khalifah Allah dan orang-orang mukmin sebagaimana tertera dalam hadits qudsi :

 

Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadits shahih, Nabi Saw bersabda :

قَالَ الله ُتَعَالَى: اَناَ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَاَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَاِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

Allah Swt berfirman, Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku padaku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia dari pada orang banyak saat ia mengingat-Ku. (HR. al Bukhari dan ahli hadits lainnya).

 

Orang-orang yang telah mencapai pangkat “didzikirkan Allah” adalah orang-orang yang dikasihi atau orang-orang yang menjadi kekasih Allah Swt seperti firman Allah dalam hadits qudsi berikut ini :

اِنَّ اَوْلِيَائِ مِنْ عِبَادِ وَاَحِبَّائِ مِنْ خَلْقِ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ بِذِكْرِ وأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ

Sesungguhnya para Wali-Ku dari golongan hamba-Ku dan para Kekasih-Ku dari golongan makhluk-Ku adalah orang-orang yang diingat apabila Aku diingat. Dan Aku diingat apabila mereka diingat. (HR. at Tabrani, al Hakim dan Abu Na’im)

 

Bapak Prof. DR. Kadirun Yahya menafsirkan tentang hadits di atas sebagai berikut: “Sebut nama Wali-Ku / Kekasih-Ku, Aku telah hadir pada sisinya. Sebut nama Muhammad dalam shalawat, Allah langsung hadir pada sisinya dan bersama Nabi Muhammad datang kepada kita untuk memberi pertolongan. Hal ini jelas Kata Allah bahwa: Nama-Ku tak bercerai dengan nama Muhammad dan nama Wali-Ku / Kekasih-Ku.”

Dari segi keras dan lembutnya: Dzikir Jahr dan Dzikir Khafi

Dzikir terbagi ke dalam dua macam : Dzikir jahr dan dzikir khafi. Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari al Qur’an dan sunah. Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf secara lantang (bersuara). Karenanya, dzikir jenis ini tidak mudah untuk dipraktekkan setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti berdzikir.

Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu dzikir dengan mengonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang melakukan dzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apapun juga

Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara

Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan

yang dikeluarkan

Dzikir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama

Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh

 

Oleh karena itulah, para pembesar thareqat naqsyabandi lebih memilih dzikir hati. Juga karena hati merupakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayam iman, tempat bersumbernya rahasia dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.

Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu juga ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.

 

 Dalil-dalil keutamaan dzikir

 Allah berfirman :

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka. (QS. al Mujadilah : 22)

Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. (QS. al Hujurat : 3)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu. (QS. al A’raf : 205)

Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? (QS. al Mujadilah : 8)

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. (QS. al A’raf : 55)

 

Hadits al Baihaqi dari Aisyah ra. :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْضُلُ الذِّكْرُ (اى الخفى) عَلَى الذِّكْرِ (اى الجهر) بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ رَجَّعَ الله ُالْخَلاَئِقَ اِلَى حِسَابِهِ وَجَائَتِ الْحَفَضَةُ بِمَا حَفَظُوْهُ وَكَتَبُوْا: قاَلَ تَعَالَى اُنْظُرُوْا هَلْ بَقِيَ لِعَبْدِى مِنْ شَيْئٍ؟ فَيَقُوْلُوْنَ مَا تَرَكْنَا شَيْئًا مِمَّا عَلِمْنَاهُ وَحَفِظْنَاهُ اِلاَّ وَقَدْ اَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ فَيَقُوْلُ الله تَعاَلَى: اِنَّ لَكَ عِنْدِى حَسَناً وَاِناَّ اَجْزِيْكَ بِهِ وَهُوَ الذِّكْرُ الْخَفِى

 

Dari Aisyah ra. beliau berkata bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Dzikir (dengan tidak bersuara) lebih unggul dari pada dzikir (dengan suara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal semua makhluk-makhluknya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka Lihatlah apakah ada amalan yang tersisa pada hamba-Ku ini? Para malaikat itu menjawab, kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya. Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), kamu mempunyai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa dzikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR. al Baihaqi)

 

Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih mereka, juga al Baihaqi di sebuah hadits berikut :

خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِى وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الذِّكْرُ لاَ تَسْمَعُهُ الْحَفْظَةُ يَزِيْدُ عَلَى الذِّكْرِ تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا

Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi, Nabi juga bersabda : “Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencatat amal (maksudnya dzikir khafi) mengungguli atas dzikir yang dapat didengar oleh mereka (dzikir jahri) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR. al Baihaqi)

 

Menurut ulama : Yang mentakhrij hadits tersebut, hadits itu dinilai sebagai hadits hasan lighairihi. Hadits-hadits lainnya yang berbicara tentang keutamaan dzikir khafi masih banyak sekali.

Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan, “Berdzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan dzikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahaya yang merongrong mereka.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”

Syaikh Abu Said al Kharraj berkata, “Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasihnya, maka dia akan membukakan pintu pengingatnya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingatnya, maka dia akan membukakan pintu keakrabannya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupinya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya.”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia keghaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hambanya, maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada dalam hatinya.”

Ahmad bin Hadrawaih juga berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebathilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.”

                Dzunnun al Mishri berkata, “Satu jam dengan hati yang baik lebih utama dari pada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk rumah yang di dalamnya terpadat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?” Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abu al Hasan al Syadzili berkata”, Sebiji atom amalan–amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriah (anggota tubuh).

 

Single Post Navigation

33 thoughts on “ZIKIR DALAM THAREQAT (Bag 2)

  1. saya seadng mencari kitab tarekat naqshabandi khalidi(kudirun yahya)

  2. Menurut saya dzikir itu ada 3 selain diucapakan secara lisan maupun di lafalkan di dalam hati. dzikir yang satu ini berhubungan langsung dengan nyawa dan inilah yang dinamakan sholat yang langgeng, dimana pun kita berada kita bisa sholat dan apabila kita putus dengan dzikir ini kita sudah dianggap oleh allah seperti hewan atau mati.

  3. Kalimat thoyibah adalah kalimat mulia dan amat besar manfa’atnya bagi penggemblengan ruhaniah menuju jalan insanulkamil.terimakasih penjabarannya pak semoga bermanfa’at dunia wal akhirat.wassalam

  4. M. Irsyad on said:

    jangan pernah melepaskan sedetik dalam lembaran harian yang memenuhi buku kehidupan kita tanpa beserta-Nya. Perbanyaklah berzikir kpd-Nya dalam keadaan apapun. Karna Rahmat yang Allah cucurkan kepada kita tdk seimbang dg amal perbuatan kita. Ya Allah sesungguhnya hamba-Mu yang hina dina itu belum dapat memuji/berzikir dan Memuji-Mu selayaknya Engkau dipuji…….

  5. izin copas kang Sufi… buat dishare di fb…

  6. Laki-laki dzikir berjamaah wajib dilakukan di masjid. Dalil QS 24:36-37 dan
    “Wa aqimish sholata lidzrikii.”
    Dan dirikanlah sholat untuk dzikir (kepada Allah)

    Ruku’ berdzikir berjama’ah.
    Sujud berdzikir berjama’ah.
    Tasyahud berdzikir berjama’ah.

    Mursyid dan jama’ah jangan mengeraskan suara saat sholawat berjama’ah.

    Meninggalkan dzikir (sholat) di waktu Ashar maka amalnya terhapus (lihat tafsir Ibnu Katsir QS 2:238)

    Bacaan Rasul-Nya seusai sholat (mengucapkan salam) adalah :
    Astaghfirulloh,
    Astaghfirulloh,
    Astaghfirulloh.
    Allohumma antas-salaam, wa minkas-salaam, tabarokta ya dzaljalali wal ikraam.
    (HR. Tirmidzi dari HR. Muslim, dari Tsauban, Aisyah, Ummu Salamah)

    Dzikir mengikuti dengan baik para Muhajirin dan Anshor radiyallohu anhum (QS 9:100) mereka diridhai Allah karena Sami’naa wa atho’naa saat dzikir sesuai dengan yang diajarkan Rasul-Nya.
    Insya Allah, masuk Jannah.

    Referensi:
    Kitab Riyadhush Shalihin bab 244 hadits ke-8, 9, 10 dan 12.

  7. abi manyun on said:

    @sufimuda
    Harap perhatikan paragraf ini :
    Hamba dan Tuhan diumpamakan pula sebagai kawat dan listrik. Keduanya tidak bisa dibedakan. Kawat itu menyerupai listrik dan listrik pun menyerupai kawat. Akan tetapi kawat tidak akan menjadi listrik dan listrik pun tidak akan menjadi kawat.

    bagi orang yang masih awam, kalimat “Kawat itu menyerupai listrik dan listrik pun menyerupai kawat” akan diterjemahkan sebagai “Allah menyerupai manusia dan manusiapun menyerupai Allah”.
    Hal ini dapat menimbulkan fiitnah, apalagi jika dibaca oleh orang yang selalu memvonis tashawuf adalah bid’ah, sesat dan syirik.
    Kalimat itu mirip dengan perkataan Syekh Siti Jenar yang paling terkenal sehingga menimbulkan kehebohan diantara para wali.
    jadi saudaraku Sufimuda, saya hanya mengingatkan agar dilain waktu artikel yang akan ditampilkan perlu di teliti kembali redaksinya, sehingga orang awam dapat menerimanya.

    Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a’thini mahabbataka wa ma’rifataka wa syafaataka laailaaha ilallaah muhammadurrosulullaah

    • Hamba Allah on said:

      Apakah dapat di ibaratkan juga hub Allah dgn hamba,seperti es batu?asalnya dari air,tapi jika dingin dinamakan es,jika keras adalah batu

      • wijaya on said:

        tidak bisa di ibaratkan seperti itu pak. karena air bisa menjadi es ketika membatau/beku dan es batu bisa menjadi air ketika mencair.nah sedangkan tuhan tidak pernah menjadi hamba dan hambah tidak pernah menjadi tuhan

        • Seluruh tamsilan tentang Tuhan itu tidak ada yang tepat. Tamsilan2 itu hanya untuk memudahkan kita dalam memahami Tuhan.
          Jadi, anda bisa mencari permisalan atau tamsilan lain yang menurut anda bisa menggambarkan dengan tepat hubungan Tuhan dengan hamba-Nya.
          demikian

  8. ashabulkahfi on said:

    bismillahirrahmaanirrahiim

    terima kasih sharenya pak, saya akan mencoba utk menghidupkan hati ini dengan dzikir khofi…

  9. sasaran dzikir adalah iman ‘ian, selanjutnya tafakur dan tadabur untuk mencapai iman haq………..dan tawadlu menjadikan kita beriman hakekat…
    syaiunlillahi lahum….al fatihah..

  10. Ping-balik: ILMU & SENI & SUFI | Sang Pengembara

  11. Ini sudah menyimpang jauh sekali. Bukan nya zikir wukuf itu bererti menghadirkan guru mursyid dalam hati kita. Zikir itu semata2 hanya lah mengingat ALLAH, memandang Tuhan dengana mata hatinya, atau mata basirah. Tugas mursyid hanya menunjuk ajar, membimbing para murid bagaimana menggunakan sifat jiwa yg tujuh itu dalam berhadap kepada Allah saja. Kalau dihadirkan wajah mursyid semasa berzikir, itu sudah MENYEKUTUKAN Allah dengan mursyid. AMana mungkin begitu. Penerangan ini amat tidak betul sekali.

  12. Ruslianto on said:

    FENOMENA KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
    Berita sebuah TV Swasta Hari Jum’at siang tanggal 25 Januari 2013, yang menghebohkan terjadi di Sukabumi disebab Jenazah dan Kain kapan terlihat utuh (terlihat jelas pada tayangan TV) setelah dibongkar kuburannya, yaitu Alm.Mhd.Syamsuri yang meninggal dunia 20 tahun yang lalu (April 1993).
    Perlu menjadi perhatian, bahwa menurut sebuah penelitian ilmiah dan ahli teknologi bahwa, jenazah manusia akan hancur dalam masa 7 bulan didalam tanah.

    Ahli waris/Keluarga alm. membongkar kuburan dengan maksud memindahkannya ke pemakaman keluarga dari pemakamam umum.
    Wartawan (TV) saat mewancarai anak dan kerabat Beliau “Belatar belakang suatu Majelis dzikir” dan Alm. Sepengetahuan penduduk setempat rajin berdzikir.

    Jadikan – lah peristiwa fenomena ini renungan bagi orang yang beriman.
    Wass.

  13. As . . . Bg SM
    Iji bg Sm, sy membaca tulisannya

  14. Izin copas sbg pengetahuan

  15. Assalamu’alaikum Sufi Muda….mohon izin share di blog saya ….

  16. Ruslianto on said:

    Ass,…Bangda Sufi Muda,..
    Saya pernah suatu hari beberapa tahun yang lalu, disuatu “Surau” mendengar dengan lirih,.. (secara sir) orang tersebut menyebut ; Ya Papaa,.. Ya Papaa,… Ya Papaa,… berkali-kali bahkan sekitar hampir satu jam,.. sengaja pada kesempatan (itu) saya tunggu ia selesai,.. begitu saya selesai,… saya tanya Beliau ; Sedang apa abang tadi ?” Oh, saya sedang berdzikir,.. katanya.
    Saya tercengang penuh heran, kala itu. Lalu ia melanjutkan ; Taukah,.. arti dzikir (itu) adalah “mengingat”.
    Saya menyebut Mursyid dalam dzikir ; dengan dalih Sang Mursyid wajahnya tak bisa diserupai oleh setan,.. (begitu pula-lah namaNya) dan Jika diri kita belum sanggup beserta dengan Allah, maka beserta-lah orang yang beserta dengan Allah,.. karena orang tersebut akan menghampirkan kita kepada Allah.
    Lalu ia melanjutkan (kata); Bagaimana daya dan upaya kita agar selalu bersama rohani Sang Mursyid,.. bukankah dikiaskan Allah SWT dalam firmanNYA ; (sampe-sampe) mujahiddu fi sabilillah,..? (menggadai nyawa-pun jadi-lah).
    Nah,..yang penting ‘kan mendekatkan diri (lahir batin) terlebih (dahulu) dengan mursyid, maka otomatis kita dekat dan menjadi haqqulyaakin bertemu kepada Allah.

    Wass: Maaf Bangda SM; bisakah menolong saya ?

  17. Mohammad Zawawi on said:

    Apakah itu yang dipandang itu Allah bila berzikir kita itu sudah menjadi satu pandangan. Yang dipandang itu dirasakannya Allah..namun tidaklah ia berbentuk yak I talk menyerupai sesuatu…dimana saja kuhadapkan pandangan ku..ku nampak Ia…

  18. SAYA MAU BELAJAR TATA CARA SOLAT YG KUZUH PADA SAAT SHOLAT. DN TATA CARA ZIKIR NAF ISBA YG BENAR.

  19. mohon djelaskan lebih jelas pada saat zikir NI Apakah majah mursyid kita sll kt bayangkan dan apa rahasia dan hikmah zikir napi isbat

  20. anda bilang diatas ”
    “wukuf qalbi’ yakni waktu mengucapkan ismu dzat tersebut di hatinya, seseorang memperhatikan mengalirnya lafal itu dari hati. Wukuf qalbi adalah hadirnya Mursyid pada hati seseorang, sehingga tidak ada yang diingat kecuali lafal Allah Allah itu pada wajah sang Mursyid. ..anda juga bilang nafi adalah menafikan segala sesuatu selain drpada Allah, dan isbat adalah meng isbatkan Allah didalam hati .

    lalu kenapa begitu wuquf yg artinya berhenti dari mengingat segala sesuatu selain daripada Allah , wajah rafi ahmad bisa masuk lagi kedalam hati ???

    • Tareqat yg menyuruh kita membayangkan wajah mursyid adalah tareqat yg BATHIL. Apa perlu nya membayangkan wajah mursyid? Tidak perlu sama sekali. Mursyid bukan nya tuhan, dan setan juga bisa menyerupai wajah mursyid. Hanya setan ga bisa menyerupai wajah Nabi.

      Wukuf bererti terhenti zikir itu kepada Allah semata-mata. Wajah rafi ahmad itu mungkin hanya lintasan yang menyelinap masuk kedalam hati tapi bagi orang yg wukuf, wajah apa saja yg selain Allah tidak memberi bekas kepadanya.

      Sebagai contoh orang yg sedang asyik menonton cerita yg sedap di TV, maka telinga nya terdengar juga orang2 bercakap disebelah nya tapi dia tidak faham apa yg mereka katakan.

      • Syekh Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barangsiapa menuntut ilmu tanpa Syekh (Guru) maka wajib setan Syekh (Guru) nya”. saya menyarankan anda berguru terlebih dulu kepada salah seorang Guru Mursyid Tarekat agar pemahaman benar, sebaiknya mengambil tarekat yang muhktabarah, belajar tarekat dari buku lebih banyak salah dari benarnya, Jadi tidak bisa hanya dengan mengira-ngira atau hanya tahap “katanya”. Syarat Wajib bertarekat adalah Rabithah kepada Guru Mursyid sebagai ulama pewaris Nabi, lewat ini hubungan rohani tersambung kepada Rasulullah SAW.
        Salah satu bentuk Rabithah adalah menghadirkan Guru Mursyid dalam dzikir. Tanpa Rabithah maka tarekat itu termasuk BATHIL!

        • Mohd. Nordin Abbas on said:

          Kamu adalah seorang yang amat terkeliru dan salah faham tentang tareqat yang benar. Saya tidak belajar dari buku. Sebab saya belajar dgn seorang Mursyid yg benar lah maka saya berani mengatakan yg sedemikian itu.

          Wasilah bererti yang menyampaikan. Yg menyampaikan kita ke hadhirat Tuhan ialah Mursyid, salasilah nya, dan Nabi Muhammad itulah yg menyampaikan.

          Rabitah pula bererti yg berkait atau berhubung. Isteri, anak2 dan kucing peliharaan Mursyid kita itu adalah semuanya Rabitah. Jika di tendang kucing Mursyid atau disakiti keluarganya maka itu akan memutuskan Rabitah.

          Syeikh Abu Yazid memang berkata benar. Jika tiada guru yg sebenarnya maka SYAITAN akan jadi guru nya. Tapi dia juga TIDAK mensyaratkan seorang murid membayangkan wajah gurunya. Jangan lah saudara cuba mengelirukan fakta.

          Tugas seorang Mursyid tadi adalah membai’at seorang murid, memberi tunjuk ajar dan mentafsirkan apa2 saja natijah dan sumrah yg kedapatan dari zikir yg dilakukan murid itu.

          Sebagai tamsil seorang coach yg mengajar main bola sepak setelah diajar segala ilmu main bola maka apabila masuk padang pemain itu terus bermain bukannya bergantung lagi pada arahan coach yg duduk diluar padang.

          Apabila seorang murid membuat zikir, hanyalah dia berhadapan dengan Tuhan nya. Segala ilmu telah dihayati dan difahami dengan jelas. Sedangkan Tuhan itu Laitha Kamithlihi Syai’un tidak sebanding dengan sesuatu. Semasa berzikir itu fikiran seharusnya lapang dari mengingati sesuatu yg selain Allah semata2 kerana hanya Allah lah tempat bergantung segala sesuatu.

          Jika seorang murid perlu membayangkan wajah Mursyid….. apa jadi pada zikir itu???? Sedangkan yg patut di tumpukan perhatian adalah pada daerah sebutan nama Allah saja yg dipacu dengan sifat2 jiwa yg hidup, berkuasa dan berkehendak.

          Semasa berzikir, fikiran sepatutnya kosong dari mengingati malahan dirinya sendiri kerana diri kita pada haqiqat nya tidak ada. Yg ada hanya Allah. Mana mungkin dalam keadaan seperti itu perlu pula membayangkan wajah Mursyid? Jika sesuatu Tareqat mengajar yg sedemikian itu maka sah lah itu dia lah Tareqat yg BATHIL, tidak benar salasilahnya.

          Yg dimaksudkan Rabitah tadi bukan lah membayang kan wajah Mursyid tapi murid yg menjaga Rabitah bererti dia menjaga hubungan dengan apa2 saja yg berhubung dengan si Mursyid seperti keluarganya, barang2 kesayangan nya, kasut, baju atau apa saja milik nya. Itu lah yg dimaksudkan Rabitah.

          • Kalau anda tidak belajar dari buku tapi langsung dari Mursyid, berarti anda belum menerima secara keseluruhan ilmu dari Mursyid anda, silahkan lanjutkan lagi belajarnya biar lebih paham dan saya yakin Guru Mursyid anda akan memberitahukan anda ilmu yang sebenarnya, syaratnya anda harus menjadi murid yang baik, hilangkan keakuan dan kesombongan, jadilah gelas yang kosong, Insya Allah ilmu Allah akan beserta anda.
            Pengamalan tarekat juga ada tingkatan, ada pemula, ada lanjutan..
            Bagi pengamal tarekat, komentar anda jadi lucu, anda membenarkan rabithah lewat keluarga Mursyid, benda2 kesayangan bahkan dengan kucing Mursyid, tapi anda tidak membenarkan rabithah melalui Wajah Mursyid?!? ini Keliru besar karena hakikat Rabithah itu pada Guru, sedangkan benda2 yang berhubungan dengan Guru adalah media untuk memudahkan rabithah.
            Bagus anda baca2 lagi tentang beda antara Wasilah, Rabithah, Tabaruk, Mursyid dan Silsilah, saya sudah banyak menulis disini, saya juga telah enulis tentang bagaimana sahabat Nabi menghadirkan wajah Nabi dalam ibadah mereka, dan itu yang diteruskan sampai sekarang.
            Atau mungkin ada perbedaan makna bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia, sehingga pemahaman jadi berbeda
            salam

  21. Ruslianto on said:

    Assalamu’a-laikum wr wbr..
    Koment meng-komentari tulisan dari Sdr.Nordin. (1)

    Para Orientalis Barat, yang berkiprah ilmu teologinya pada masa silam sudah jauh lebih pintar dan berilmu lebih dalam dan luas mempelajari ttg keislaman dengan segala hakikatnya daripada orang islam (itu sendiri) baik yg ada di Timur dan di Barat, termasuk di wilayah Asia, Malaysia dan di Indonesia, Mereka Para Orientalis telah menyelidiki akan tenaga “rahasia” (al islam mulia raya) ini sedalam-dalamnya dan “mereka” telah pula menyadari bahwa Kaum Muslimin tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun, jika pelajaran-pelajaran dan Pengamalan Ilmu Tasauf dan Tharikat (ini) berkembang dengan suburnya, …. karena dalam ilmu Tharikat terkandung metode cara pelaksanaan teknis, untuk menyalurkan Energi Maha Dahsyat dari Al Qur’an.

    Maka oleh sebab itu “mereka” berusaha mengaburkan Ilmu Tasauf dan Tharikat yang begitu halus dan tinggi ilmunya, yang hanya dapat dijelaskan dengan Ilmu Teknologi Tinggi pula, yang tidak dimiliki oleh Kaum Muslimin pada waktu itu ! Mereka kemudian mengisyukan Tharikat-Tharikat palsu – Ilmu Tasauf palsu dan inilah yang dimasukkan mereka ke dalam Pusat-pusat kajian Kebudayaan Islam di Timur Tengah, “mereka” mengaku mengamalkan tasauf dan tharekat, namun dalam mengamalkannya dengan cara syare’at yaitu membaca lafaz-lafaz kalimat toyyibah, namun tidak mengabungkan rohani kepada Sang Mursyid, Maaf mungkin ajaran tharikatnya mengharuskan “begitu” dengan catatan, mursyid tidak percaya diri bahwa rohaninya dapat bergabung dengan rohani Rasulullah s.a.w.(maaf sdr.Nordin).

    Padahal yg sebenarnya Rohani Sang Mursyid Yang Kamil Mukamil itu wajib bergandeng 24 jam non stop kepada Rohani Rasulullah S.A.W ~ dan mensafaati murid-muridnya dalam munajad kehaderat Allah SWT dalam waktu apapun dan kapanpun (Inilah sebenarnya Sang Mursyid yang dicari-cari oleh umat Muslim diseluruh jagad dunia, karena Beliau adalah Mursyid Yang Kamilmukamil).

    Insya Allah bersambung.

  22. Ruslianto on said:

    Assalamu’a-laikum wr wbr..
    Koment meng-komentari tulisan dari Sdr.Nordin. (2)

    Sejarah mencatat, bahwa Tharikat-Tharikat palsu itupun bertebaran pula ke seluruh dunia, dan berselang waktu panjang munculah masa khilafiah yang sangat fatal terjadi antara islam dengan islam, itu sendiri, (hal ini terhembus dengan aroma “nya” Sdr. Nordin) , sehingga jika dibiarkan berlarut dapat melumpuhkan kesatuan dan persatuan yang sangat bernilai itu. Dan kepada Yth. Sdr.Nordin saya sarankan agar Anda berguru kepada Mursyid Yang Kamil Mukamil. Saya yakin seyakin-yakinnya sekiranya mursyid Sdr.Nordin (itu) adalah Kamil Mukamil, Beliau akan tersenyum dan membenarkan seratus persen, apa-apa yang dimaksudkan oleh Ab.Sufi Muda (ini). Percayalah !

    YMM, Ayahanda Guru Prof.DR.Haji S.S Kadirun Yahya MA.QS (pernah) berfatwa : “Syukur Alhamdulillah dalam Zaman mutakir ini, dalam abad nuklir dan antariksa ini, kita telah mampu menguraikan Ilmu Tharikat yang begitu halus dan tinggi, serta dalam sekali, yang hanya dapat diuraikan dengan ayat-ayat yang Agung dan Tinggi pula, serta didukung oleh Al Hadits, Hadits Qudsi yang dalam, dan mutlak perlu di dukung oleh ayat-ayat Tuhan yang tertulis dalam alam yang luas ini yang dimasyurkan dengan ilmu Eksakta (QS.Yusuf,ayat 105, An-Nur ayat 35; Al-Hasyr ayat 21; Ar-Ra’ad ayat 31), barulah dapat dengan jelas kelihatan mana tharikat yang palsu dan mana tharikat yang haq, dan di Indonesia untuk pertama kali di dunia secara ilmiah di uraikan Ilmu Tasauf dan Ilmu Tharikat atas dasar “Ilmu Eksakta dan Teknologi Modern, yang tak mungkin dapat disangkal dan di bantah oleh Dunia Ilmiah di seluruh Dunia”.

    Sesuai dengan Firman Allah SWT : Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, seperti para Nabi-Nabi,Siddiqin (Ulama), Syuhada dan Sholihin (Ulama) (QS.An-Nisa ayat 69).

    YMM Ayahanda Guru, selanjutnya berfatwa : “Bagi para Ahli Silsilah yang Rohaninya telah bersatu dengan Frekwensi Rohani Rasulullah maka segala apa yang berlaku bagi Rohani Rasul berlaku pula bagi Rohani mereka, karena mereka bukan saja mengikuti Rasul dengan seksama dan teliti, atau sekedar menteladani Rasul dengan terperinci, (secara syare’at saja) bahkan mereka telah menyatukan diri Rohaninya dengan diri Rohani Rasulullah ! Sehingga semua ayat dan hadits sama-sama berlaku bagi Rohani mereka dan bagi Rohani Rasulullah !”

    (1.) Tangan Allah diatas tangan mereka,(Qs.Al-Fath, ayat 10) (Wajah Allah di atas wajah mereka)- (2).Kalau mereka melihat, Aku matanya, Kalau mereka mengambil, Aku tangannya. (3).Barang-siapa belum beserta Allah, beserta dengan orang (Ruhnya) yang telah beserta Allah,(Ruh) orang itulah (yang berisi dengan Nurun ala Nurin) yang menghubungkan Ruh engkau dengan Allah (HR.Abu Daud). (4). Mereka mensyafaati seperti Rasul men-Syafa-ati (HR.Ibnu Majjah)”.

    Jadi, sdr.Nordin,.. anda keliru besar, jika berrabithah itu anda artikan membelai-belai sandal Guru. Ala mak kasihan , kasihan,.. kasihan (kata upin dan ipin). Sekian,.. jangan marah ngaaa.

    Wass. Demikian sMoga bermanfaat.

    • Bang Rusli….
      ini yg bikin saya kangen baca komentar Abang…. dimulai dari sangat serius dan diakhiri dengan tawa terkekeh… kok bisa upin & ipin???…hahaha

      tapi Bang, unik juga komentar jiran kita ini… saya jadi ingat dulu ada kucing yg menetap di surau…padahal tidak ada yang memelihara…jangan-jangan itu kucing mursyid…hehe…maaf bung Nordin..

    • Kalau mahu berbicara tentang tareqat perlu serius kerana kita berbicara tentang jalan menuju kepada Tuhan. Bukan nya sampai berbuat jenaka pasal kucing dan sebagainya. Memang benar erti RABITAH dlm bahasa Arab itu ialah yg berkait. Apa2 saja yg berkait dgn seseorang itu adalah rabitah bagi diri nya. Jika kamu tendang kucing belaan si Mursyidin tentu lah kamu secara tk langsung telah juga menyakiti hati Mursyidin tersebut. Tiada siapa pun akan menidak kan perkara ini kan?

      Kamu semua yg keliru atau pun mungkin berkomplot utk menyesat kan org lain lantas kamu semua mengutarakan pasal rohani bergabung…. mana mungkin begitu. Sebenarnya kamu semua yg TIDAK MENGERTI.

      Pasal Tangan Allah di atas tangan mereka…. itu ada lah ayat haqiqat. Haqiqat nya memang segala galanya dari Tuhan juga. Kerana manusia pada haqiqatnya tidak punya kuasa malah utk menggerakkan jari kita juga itu semua kuasa dari Allah dari segi HAQIQAT.

      Sesuai juga apabila ALLAH berfirman, mafhomnya lebih kurang begini “Apabila kamu membaling lembing itu sesungguh nya Allah lah yg membaling” Itu dari haqiqat nya memang segala2 nya datang dari Allah. Tapi bagaimana pula dgn majaz? Haqiqinya dari Allah tapi manusia di beri kuasa utk memilih (majaz) lalu manusia itu akan disiksa atas pilihan yg salah. Jika dia memilih utk berbuat maksiat maka dia akan dipersalahkan. Walau pun kuasa utk melakukan maksiat itu juga dari Allah pada haqiqatnya.

      Sekarang ini usah lah kita berburuk sangka sesama sendiri. Jika kamu rasa kamu semua dari pihak yg benar, kamu tidak akan meremeh2 kan dan mempersenda orang lain. Kerana kamu tidak tahu siapa sebenarnya yg benar.

      Jika kamu itu benar apa buktinya dari segi kedapatan dalam zikir dan tareqat yg kamu ikut? Adakah kamu semua sudah menerjah ke alam malakut? Sudah sampai kasyaf ke Lauhil Mahfuz? Jika belum…. teruskan usaha kamu semua. Buat lah seperti apa yg kamu tahu, dengan pengertian RABITAH yg kamu faham. Buat lah sehingga roh kamu dapat melepasi pintu langit.

      • Kalau Saudara Nordin sudah pada posisi benar silahkan teruskan, tidak perlu mengajak berdebat tentang hal yg tidak dipahami.
        Karena kalau semua harus di komentari itu tidak baik, spt saya sebutkan di komentar yang lalu, perbedaan bahasa bisa salah paham, sehingga sulit membedakan antara kias dan nyata, guyon dan makna sebenarnya. Seperti tentang Kucing dari komentar bang arkana.
        Terakhir, kita semua disini sedang menikmati makan dan minum dgn senang hati bukan tahap memperdebatkan makna “makan” dan makna “minum”, kalau memperdebatkan tentang makna2 termasuk menanyakan siapa yg lebih tinggi kedudukannya, mungkin ini bukan forum yg tepat.
        Lucu rasanya menanyakan apa itu makan, apa itu minum, bagaimana bentuk meja makan, berapa jumlah kursi kepada orang yg sehari min 3 kali dia berada di meja makan tsb, makan, bukan keajaiban bagi dia tapi menjadi hal yg biasa.
        Jadi yg anda tanyakan ttg Lauhmahfudz, alam malakut dll persis spt permisalan di atas.
        Salam damai

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 15.172 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: